Demi kebergunaan karya2 siswa SMP yang pernah saya ajar (Yapan Indonesia, Budhaya St Agustinus, Cakra Buana, dan Yadika 12), blog ini diupayakan sebagai sarana pendokumentasian. Ke depan karya2 yang terkumpul berupa cerpen, drama, puisi, atau apapun akan diupload di blog ini. Semoga berguna demi pembelajaran siswa-siswa lainnya.
Tampilkan postingan dengan label Angkatan 6 SMP Cakra Buana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkatan 6 SMP Cakra Buana. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Januari 2012
We Are Not The Best by Ririn Gupita Sari
“Tet-teret-tet…”, bunyi suara terompet yang ditiup oleh kedua orang pemain yang sedang duet di tengah lapangan. Terlihat pula sebuah barisan yang berbentuk “L”, berjalan ke samping dan membuat sebuah display.
Siang itu, aku, Jesi, Annita, Faiz, dan yang lainnya sedang berlatih Marching Band di Bogor yang diadakan setiap tahun, dalam rangka memperingati ulang tahun kota Bogor.
Keesokan harinya, kami berangkat ke Bogor. Sesampainya disana, kami beristirahat di sebuah mes kesehatan yang tidak jauh dari GOR, tempat dimana kami berlomba. Tidak lama kemudian, kami latihan di lapangan yang berada tepat di depan me situ. Waktu itu, kami bermain dengan lembut dan bagus sekali. Pelatihku pun sudah mempercayai kami untuk dapat memenangkan kejuaraan, akan tetapi masih sedikit ragu pada kerapihan barisan kami, karena kita berlatih baris-berbaris hanya dalam satu minggu saja.
Setelah kami berlatih, kami beranjak ke GOR (Gelanggang Olah Raga) untuk memberi semangat tim Junior GPCB(Gita Paricara Cakra Buana) yaitu adik-adik kelas kami, yang kebetulan juga ikut dalam kejuaraan itu. Kami menyemangati mereka dengan meneriakkan yel-yel, dan terus bersorak-sorak.
Tidak lama setelah itu, kami kembali ke mes untuk bersiap-siap, karena giliran kami tampil sebentar lagi. Setelah semua siap, kami berangkat ke GOR. Sebelumnya, tentu saja kami berdo’a terlebih dahulu, agar semuanya berjalan dengan lancar, sehingga kami dapat menjuarai kejuaraan tersebut.
Saat itu kami melihat penampilan GSP yang memukau dan menakjubkan. GSP adalah juara bertahan yang telah memenangkan 7 kali kejuaraan ini, Gita Suara Pakuan, yang biasa disebut GSP ini adalah Marching Band gabungan dari wilayah Bogor. Mungkin saat ini, lawan terberat kami adalah GSP. Karena kita sudah berfikir negative, dan takut terkalahkan, kami merasa putus asa. Tetapi, setelah adanya dorongan dari pelatih dan orang tua murid, kamipun mulai bersemangat kembali. Setelah itu pelatihku, kak Rico menyuruhku dan teman-temanku untuk memeriksa kembali alat-alatnya. Ternyata, toots fluegel Jesi agak sulit untuk ditekan. Jesi sangat panik saat itu. Karena, untuk memperbaikinya, dibutuhkan eaktu yang cukup lama. Pelatihku berusaha menenangkan Jesi agar dia tidak panik dan tetap tenang. Tetapi, apa daya, Jesi pun harus bermain dengan fluegel yang rusak. Llu, hal yang sama terjadi pada Annita, mouthphice-nya hilang !..
“ Gimana nih ?!, gw sama sekali ga bisa main dong, kalo mouthphice gw hilang !?, padahal kan, itu penting banget ! entar, gw niup apa ?”, seru Annita kepadaku.
“ Ya udah, lo tenang dulu, jangan panik ! cari moutphice yang lai aja !, mungkin masih ada mouthphice cadangan di box-nya Jesi, ! ”, usulku kepada Annita.
Lalu, Annita mulai mencari mouthphice cadangan di box fluegel Jesi.
“Alhamdulillah, ternyata masih ada ! makasih banget ya Rin, Je ! ”
“Iya, sama-sama ! “, kataku dan Jesi bersamaan.
Lalu, waktu tampil pun tiba. Aku pun mulai tegang dan deg-degan. Diwaktu kita akan memasuki area tampil, seniorku, kak Fauzi membuat lelucon, dan aku pun tertawa sehingga mengurangi rasa tegangku.
Dan masuklah kami ke dalam arena itu. Saat pemanasan, ternyata terompet kak Fauzi tidak bisa ditiup. Ia menyuruhku meniup lebih keras untuk menggantikannya memainkan suara satu, yang seharusnya ia mainkan. Untunglah aku sudah bisa memainkannya, dan aku pun meniup labih keras. Karena terompetku tidak rusak, aku bermaksud untuk menukar terompetku dengan terompet kak Fauzi, tetapi aku lupa menukarnya. Kak Fauzi harus berduet di depan juri dengan terompet yang tidak bisa ditiup, jadi yang meniup untuk berduet saat itu hanya Rizal. Alhasil, suara yang dihasilkan kurang memuaskan. Setelah kita mmainkan semua lagu, kita kembali membentuk barisan untuk keluar dari arena. Kemudian, kami kembali berdo’a agar semua usaha kita membuahkan hasil yang maksimal.
Setelah semua peserta Marching Band selesai, kami menunggu pengumuman pemenang. Lalu, 10 orang perwakilan dari setiap unit,termasuk aku yang mewakili tim GPCB mewakili unitnya untuk pemberian piala. Waktu itu pukul 20.00 WIB, saat pengumuman pemenang diumumkan. Untuk juara kategori, sebagian besar dimenangkan oleh GSP, sedangkan kami berada ditempat ke-2. Danm ternyata dugaanku benar, GSP kembali meraih juara pertama, dan kami meraih juara ke-2. Walaupun kami tidak dapat meraih juara umum, juara II tidaklah buruk, karena kami telah mengalahkan 5 tim lainnya, yang anggotanya sebagian besar bukanlah siswa SMP dan SMA. Saat itu kak Fauzi merasa sangat bersalah, karena ia fakir akibat kesalahannyalah, kami tidak dapat meraih apa yang kita harapkan,. Yaitu menjadi pemenang dalam kejuaraan itu.
Saat kami semua berkumpul di arena tampil untuk memegang piala dan bersorak-sorai, tiba-tiba terjadi. Salah seorang personil GSP lari dan menabrak piala juara terbaik ke-2, yang sedang dipegang olehku, piala itu patah, dan orang itu berpura-pura tidak tahu dan tidak bertanggung jawab. “ Hei !! tanggung jawab dong ! ”, teriakku kepadanya. Lalu teman-temanku juga geram akan hal itu. Semua kesal .
“ Gak gitu dong caranya kalau gak suka !! “, gerutu Faiz. Akhirnya pelatih kami memerintahkan agar segera keluar gedung dan bersiao kembali ke Depok..
Sekarang aku belajar dari pengalaman itu. Bahwa kemenangan itu tidak akan kita dapat tanpa adanya usaa, pengorbanan, dan do’a. Janganlah menyesal berlarut-larut dan beranggap bahwa, kitalah penyebab masalah itu, karena kita tidak tahu apa yang terjadi dengan yang lainnya. Pemenang sejati bukanlah orang yang selalu meninggikan hati dan menganggap rendah yang lain, tapi pemenang sejati adalah orang yang rendah hati , menghargai yang lain dan tetap menjaga wibawanya.
Kali ini, kami memang bukanlah yang terbaik, tetapi kami selangkah lebih maju dari mereka.
WE ARE NOT THE BEST, BUT WE ARE ALWAYS STEP AHEAD !!
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Aku, Pena, dan Dia by Kamelia Rizki
saat di cafe,”tiara di panggil fira icha tuh..” dino berlari dari UKS ke
cafe.”hahh? Ada apa si? Gw tu lagi makan tau g sii ..”. “ tapi ra,ktanya dia sakit tuh,sampe mu sekarat”.”hah?serius lo? Yaudah buruan kita ke UKS”. Dino dan Tiara berlarti ke arah UKS. Ternyata di sana sudah menunggu seorang cowok yang sedang menunggu tiara, dia adalah Bian. Cowok yang dari dulu sangat suka denga tiara,namun dia ragu-ragu jika ingin menembaknya,tapi sekarang adalah saat yang tepat untuk mengatakannya.
“Mana-mana fira?” teriak tiara dari luar UKS. Ia sangat terkejut ketika
ada bian disana dengan membawa bunga dan sebuah cokelat kesukaannya. “ bi..bian? Ngapain lo disini? Tumben banget lo kesini?” tanya tiara denga bingung.” gw ke sini mau ngomong sesuatu sama lo! Tir,gw selama ini sebenarnya suka sama lo,lo mau terima gw jd cowok lo?”kata Bian.”hah?apa? G salah lo? Bian,gw g bisa,gw lagui mencari seseorang”.
Kata tiara kepada bian. “ jadi gitu ra? Yaudah, SELAMAT MENEMUKAN ORANG ITU!! bian mengatakan itu dengan perasaan kesal.”ehh,no,mana?katanya fira sakit?itu enggak?” tanya tiara. “Hehehe.. kita be 2 cuma di suruh sama bian buwa manggil lo”. Kata dino.
“jadi lo be 2 boongin gw?rese emang yaa!!” keluh tiara kepada 2 sahabatnya itu.
“tapi tir,cowok yang lo maksud tadi tuh siapa si?” tanya fira.” ohh,lo taukan pena warna gold punya gw? Waktu gw tau pena itu ada di tas gw,ada suratnya ,dia bilang bahwa aku akan kirim bunga ke rumah kamu setiap hari dan itu bener,sampe sekarang tu orang masi kirimin gw bunga,dan gw rasa gw jadi suka sama dia,dan pena yang dia kasih ke gw itu adalah pena yang selama ini gw inginkan”.kata tiara.
2 bulan telah berlalu setelah tiara menceritakan kejadian itu.
Libur telah tiba,saat tiara liburan ke lembang yaitu boshia( teropong bintang), iya, bertemu dengan seorang cowok yang sedang memotret di daerah sekitar situ,ia sangat tampan,samapai-sampai saat tiara di panggil ke 2 orang tuanya ia tidak mendengar.
Sebenarnya cowok itu sudah tau bahwa ia sedang di perhatikan oleh tiara. Yuph, dika . dia adalah si pengirim misterius,pengirim yang mengirimkan tiara bunga dan memberikan tiara pena tersebut. Dengan sengaja cowok itu memotret tiara.
“hai,boleh kenalan?”kata dika. Dengan terkejut dan tak percaya tiara mengulurkan tangannya.”emm,boleh,gw tiara”tiara memprkenalkan diri.” kenalin aku dika, kamu tinggal di dekat sini?”tanya dika kepada tiara.”iya,aku tinggal di sekitar sini,kamu?”
iya,aku ksni lagi ada tugas buwat pelajaran sekolah” jawabnya.
“Nanti malam kamu ada acara g? Kalo boleh aku ngajak kamu nanti malam buwat liat bintang?”. Tanya dika. Emm.boleh si tapi kamu tunggu aku di depan gerbang yaa,aku mau keluar diam-diam karena aku g boleh keluar malem-malem.jawabnya.
“iya-iya aku tunggu kamu di depan gerbang nanti malem jam 9 yaa..” dengan senang dika menjawabnya.
malam pun tiba,waktu menunjukan pukul 20.30 wib, tiara mulai
bersiap-siap diri untuk bertemu dika,cowok tampan yang ia lihat tadi siang. Saat waktu menunjukan pukul 9,ia langsung bergegas keluar dari jendela rumahnya,dan berlari menuju pintu gerbang dimana tempat mereka akan bertemu. Dika sudah menunggu dengan cemas apakh tiara bisa bertemu dengannay atau tidak. Dari ke jauhan iya melihat orang berlari dan iya tau pasti itu tiara,langsung iya menemuinya.
Setelah mereka ber 2 bertemu langsung mereka menuju tempat di mana mereka akan melihat bintang,yaitu” boshia”.” wah, ternyata tempat ini indah sekali!” seru tiara.
“ gimana? Indah bukan? Aku sengaja bawa kamu kesini karena aku tau kamu suka melihat langit,dan ada yang ingin aku boicarakan ke kamu”. Kata dika kepada tiara. “ kok kamu tau aku suka melihat langit,dan apa yang kamu mau omongin ke aku? Kayak serius banget padahal kita kan baru kenal?” tanya tiara dengan penasaran.” tiara kamu tau pena emas yang yang kamu punya? Da kiriman bunga setiap hari ke rumah kamu? Semua itu yang mengirim adalah aku,aku sudah mengenal mu sejak aku pindah rumah,aku tinggal 3 rumah dari rumah mu,setiap hari aku memperhatikan kamu,aku tau di mana kamu sekolah,kamu suka jaln bareng dengan teman-teman mu,semuanya aku tau,semua itu aku lakukan karena aku suka sama kamu,apakah kamu mau menerima aku jadi orang yang ngejagain kamu di mana pun dan kapan pun? Aku sayang banget sama kamu ra ..”
tiara hanya bisa diam,dan tak tau apa yang ingin ia katakan pada dika,hatinya pun campur aduk antara senang,kaget dan .... huuaaahh,pokokknya bingung!!
namun iya menjawabnay. “ dika,sebenarnay aku juga suka sama kamu,kamu orangnya perhatian dan aku rasa kamu sungguh-sungguh,aku mau trima kamu jadi cowok aku. Maksi,atas perhatian kamu selama ini,karena perhatian kamu itu g sia-sia,makasi juga udah bawah aku ke tempat yang indah ini”.
Akhirnaya,dika dan tiara bertemu di tempat yang indah,dan tiara telah mengetahui semuanya. Mereka ber 2 sangat senang telah bertemu. Dan tiara akan selalu menyimpan pena itu sampai kapan pun!
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Rumah Hantu di Sebelah Rumahku by Triaji Nugroho
Pada waktu istirahat sekolah Hendra, Hari, dan Alvin sedang membicarakan sesuatu. “Eh tau gak, katanya disamping tumahku ka nada rumah kosong yang angker”, kata Hendra. “Ah, yang benar?”, Hari dan Alvin tampak kaget. “Iya serius”, tegas Hendra. “Soalnya kemarin tetanggaku ada yang melihat bayangan gelap di jendela rumah itu”, kata Hendra. “Wah, seram juga ya” Kata Hari dan Alvin. Setelah bercerita, bel pun berbunyi dan mereka pun masuk kelas. Saat pulang sekolah mereka berjalan bersama. “Eh, kalian berdua nginep dirumahku yuk! Mumpung besok libur” kata Hendra. “Kalau aku sih bias-bisa aja”, Kata Hari. “Kalau kamu vin?” Tanya Hendra. “Siiip!” kata Alvin. Mereka akhirnya pulang dan bersiap-siap untuk menginap di rumah hendra. Pada malam hari Hendra, Hari, dan Alvin sedang bermain Playstation di rumah Hendra. “Ah, bosan nih!” kata Henrda. “Iya, aku juga bosen” kata Alvin. “Eh bagaimana kalau kita ke rumah angker di sebelah rumahku?” kata Hendra. “Hah? Serius? Gila kamu hen” kata Alvin. “Ayolah kita buktikan apakan rumah itu angker atau tidak” kata Hendra, “Yaudahlah, ayo pergi” kata Hari dan Alvin. “Nah gitu dong” kata Hendra. Akhirnya mereka pun masuk ke rumah angker itu.
Saat di rumah angker itu mereka merasa deg-degan, karena suasana yang begitu mencekam. “Wah, seram sekali disini”, kata Alvin. Mereka pun mencoba menaiki tangga di rumah itu. Ketika sedang menaiki tangga, mereka melihat bayangan seseorang yang sedang berdiri. “Ndra, bayangan apa itu?” Tanya Hari dengan takut. “Aku juga gak tau!” Kata Hendra. Setelah dilihat dengan seksama, bayangan itu tiba-tiba mendekat. Mereka bertiga pun lari terbirit-birit karena ketakutan. Malam itu pun berlalu, esoknya mereka pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari senin, mereka pun membicarakan kejadian yang menyeramkan itu di sekolah. “Eh, aku masih kepikiran loh sama kejadian yang itu”. “Iya aku juga!” Kata Hendra dan Alvin. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Mereka akhirnya pulang bersama. “Teman-teman! Bagaimana kalau kita ke rumah kosong itu lagi?” Ajak Hendra. “Ah, aku masih takut Hen!” Kata Alvin dan Hari. “Ayolah kita lihat lagi! Kita buktikan kalau rumah itu memang ada hantunya. Kan kemarin kita baru melihat bayangannya doang!” Kata Hendra. “Oh iya benar juga ya”, kata Hari. “Oke! Siapa takut!” Tegas Alvin. Akhirnya mereka memutuskan untuk main ke rumah Hendra dan bersiap-siap untuk mengunjungi rumah angker itu. “Woi ayo kita berangkat!” Kata Hendra. Mereka pun berjalan ke rumah itu dan berpapasan dengan Pak RT. “Eh ada anak-anak, mau kemana nih?” Tanya Pak RT “Mmmm….mmm…. Kita mau jalan-jalan aja kok pak”, gugup Hendra. “I….ii..iya benar kok pak!. Kata Alvin dan Hari. Pak RT pun merasa curiga, tapi ia langsung pergi. “Oooh ya sudah saya pergi dulu ya” kata Pak RT. “Oke Pak!” Jawab mereka. Mereka akhirnya masuk ke rumah itu dan naik ke lantai atas. “Seram sekali disini” kata Alvin. Saat mereka masuk, mereka melihat bayangan hitam itu lagi. Mereka pun lari terbirit-birit dan tersandung. Mereka bertiga pun akhirnya jatuh. Saat bayangan hitam itu mendekati mereka, ternyata bayangan itu adalah seorang kakek tua yang sedang memegang senter.
“Ada apa kalian kesini?” Tanya kakek itu. “Kami hanya ingin tau pak, apakah rumah ini angker atau tidak” kata Hendra “Hmmm ada-ada saja kalian ini. Dirumah ini tidak ada hantunya nak”. “Terus kakek ngapain disini?” Tanya Hendra. “Kakek tinggal di rumah kosong ini karena rumah ini sudah tidak terawatt”. “Oooh…. Kalau begitu kami minta maaf kek karena sudah tidak sopan”. “Tidak apa-apa kok nak”. “Kalau begitu kami pulang dulu ya kek!” Kata Hendra. “Oh iya!” Jawab kakek itu.
Setelah kejadian itu, mereka pun merasa malu dan takkan pernah melupakan kejadian tersebut.
Saat di rumah angker itu mereka merasa deg-degan, karena suasana yang begitu mencekam. “Wah, seram sekali disini”, kata Alvin. Mereka pun mencoba menaiki tangga di rumah itu. Ketika sedang menaiki tangga, mereka melihat bayangan seseorang yang sedang berdiri. “Ndra, bayangan apa itu?” Tanya Hari dengan takut. “Aku juga gak tau!” Kata Hendra. Setelah dilihat dengan seksama, bayangan itu tiba-tiba mendekat. Mereka bertiga pun lari terbirit-birit karena ketakutan. Malam itu pun berlalu, esoknya mereka pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari senin, mereka pun membicarakan kejadian yang menyeramkan itu di sekolah. “Eh, aku masih kepikiran loh sama kejadian yang itu”. “Iya aku juga!” Kata Hendra dan Alvin. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Mereka akhirnya pulang bersama. “Teman-teman! Bagaimana kalau kita ke rumah kosong itu lagi?” Ajak Hendra. “Ah, aku masih takut Hen!” Kata Alvin dan Hari. “Ayolah kita lihat lagi! Kita buktikan kalau rumah itu memang ada hantunya. Kan kemarin kita baru melihat bayangannya doang!” Kata Hendra. “Oh iya benar juga ya”, kata Hari. “Oke! Siapa takut!” Tegas Alvin. Akhirnya mereka memutuskan untuk main ke rumah Hendra dan bersiap-siap untuk mengunjungi rumah angker itu. “Woi ayo kita berangkat!” Kata Hendra. Mereka pun berjalan ke rumah itu dan berpapasan dengan Pak RT. “Eh ada anak-anak, mau kemana nih?” Tanya Pak RT “Mmmm….mmm…. Kita mau jalan-jalan aja kok pak”, gugup Hendra. “I….ii..iya benar kok pak!. Kata Alvin dan Hari. Pak RT pun merasa curiga, tapi ia langsung pergi. “Oooh ya sudah saya pergi dulu ya” kata Pak RT. “Oke Pak!” Jawab mereka. Mereka akhirnya masuk ke rumah itu dan naik ke lantai atas. “Seram sekali disini” kata Alvin. Saat mereka masuk, mereka melihat bayangan hitam itu lagi. Mereka pun lari terbirit-birit dan tersandung. Mereka bertiga pun akhirnya jatuh. Saat bayangan hitam itu mendekati mereka, ternyata bayangan itu adalah seorang kakek tua yang sedang memegang senter.
“Ada apa kalian kesini?” Tanya kakek itu. “Kami hanya ingin tau pak, apakah rumah ini angker atau tidak” kata Hendra “Hmmm ada-ada saja kalian ini. Dirumah ini tidak ada hantunya nak”. “Terus kakek ngapain disini?” Tanya Hendra. “Kakek tinggal di rumah kosong ini karena rumah ini sudah tidak terawatt”. “Oooh…. Kalau begitu kami minta maaf kek karena sudah tidak sopan”. “Tidak apa-apa kok nak”. “Kalau begitu kami pulang dulu ya kek!” Kata Hendra. “Oh iya!” Jawab kakek itu.
Setelah kejadian itu, mereka pun merasa malu dan takkan pernah melupakan kejadian tersebut.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Rabu, 26 Januari 2011
Lebaran di Kampung Halaman Ibuku by Kusumo Jati Nur Wicaksono
LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN IBUKU
Lima hari menjelang idul Fitri, Mas-mas dan Mbak-mbak yang bekerja di rumahku mulai sibuk belanja dan menyiapkan oleh-oleh untuk keluarganya di kampung. Nuansa mudik sudah begitu hangat meliputi angan mereka. Pembicaraan mereka hampir semuanya mengenai perjalanan mudik, mulai dari mencari karcis angkutan lebaran, mencari tas untuk membawa pakaian baru, dan janjian akan ketemu dihari Lebaran bagi mereka yang sekampung.
Bagiku, mudik terasa biasa-biasa saja, seperti tahun-tahun yang lalu. Liburan di desa, bertemu dengan saudara-saudara Ibu, makan makanan yang sama dengan tahun yang lalu, ketupat dan opor ayam. Perjalanan mengunjungi keluarga untuk halal bihalal, kadang-kadang ke luar kota dengan kepadatan lalu lintas bahkan sering terjebak kemacetan.
Kampung halaman Ibu yang jauh dari keramaian kota, dan rumah nenek dimana kami menginap masih terhampar sawah dan ladang disekitarnya, bila malam hari terasa sepi dan gelap. Sejak hari pertama kami bermalam di kampung, kegiatanku hanya nonton televisi sambil menyelesaikan Puasa Ramadhan.
Walaupun terasa sepi namun terasa suasana agama yang kuat. Setiap waktu sholat, warga desa baik laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan sholat wajib berjama’ah. Apalagi bila malam tiba, menjelang maghrib, anak-anak sudah ramai bermain disekitar masjid, beberapa keluarga bergantian menyediakan ta’jil untuk mereka yang berbuka puasa di masjid. Pas diwaktu Maghrib tiba, dari menara masjid terdengar sirine yang dapat didengar sampai jauh kerumah-rumah desa seberang, disusul suara beduk dan adzan. Setelah sholat Magrib jama’ah pulang kerumah masing-masing untuk melanjutkan makan buka puasa. Dari waktu Isya sampai tengah malam , masjid diramaikan lagi dengan sholat taraweh dan tadarusan.
1 Syawal 1429 H, sejak pukul enam pagi warga masyarakat, bapak-ibu dan anak-anaknya sudah memadati masjid sampai ke halaman dan jalanan disekitar masjid. Saya perhatikan kaum pria nya tidak ada yang memakai celana panjang, semuanya bersarung. Setelah sholat Id dan kotbah Idul Fitri, jama’ah pria saling bersalaman sambil bersholawat dan mengucapkan minal aidin wal faidin. Ada beberapa keluarga yang melestarikan kebiasaan membawa makanan opor ke masjid untuk disantap bersama.
Hari-hari berikutnya kami disibukkan bersilaturahmi ke saudara-saudara yang lebih tua, baik yang dikota yang sama maupun yang di kota lain. Disatu malam, kami kemalaman di jalan, kami harus tidur dimobil karena tidak berhasil mendapatkan kamar hotel yang kosong. Di hari raya Idul Fitri , tempat wisata dan hotel panen raya.
Lima hari menjelang idul Fitri, Mas-mas dan Mbak-mbak yang bekerja di rumahku mulai sibuk belanja dan menyiapkan oleh-oleh untuk keluarganya di kampung. Nuansa mudik sudah begitu hangat meliputi angan mereka. Pembicaraan mereka hampir semuanya mengenai perjalanan mudik, mulai dari mencari karcis angkutan lebaran, mencari tas untuk membawa pakaian baru, dan janjian akan ketemu dihari Lebaran bagi mereka yang sekampung.
Bagiku, mudik terasa biasa-biasa saja, seperti tahun-tahun yang lalu. Liburan di desa, bertemu dengan saudara-saudara Ibu, makan makanan yang sama dengan tahun yang lalu, ketupat dan opor ayam. Perjalanan mengunjungi keluarga untuk halal bihalal, kadang-kadang ke luar kota dengan kepadatan lalu lintas bahkan sering terjebak kemacetan.
Kampung halaman Ibu yang jauh dari keramaian kota, dan rumah nenek dimana kami menginap masih terhampar sawah dan ladang disekitarnya, bila malam hari terasa sepi dan gelap. Sejak hari pertama kami bermalam di kampung, kegiatanku hanya nonton televisi sambil menyelesaikan Puasa Ramadhan.
Walaupun terasa sepi namun terasa suasana agama yang kuat. Setiap waktu sholat, warga desa baik laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan sholat wajib berjama’ah. Apalagi bila malam tiba, menjelang maghrib, anak-anak sudah ramai bermain disekitar masjid, beberapa keluarga bergantian menyediakan ta’jil untuk mereka yang berbuka puasa di masjid. Pas diwaktu Maghrib tiba, dari menara masjid terdengar sirine yang dapat didengar sampai jauh kerumah-rumah desa seberang, disusul suara beduk dan adzan. Setelah sholat Magrib jama’ah pulang kerumah masing-masing untuk melanjutkan makan buka puasa. Dari waktu Isya sampai tengah malam , masjid diramaikan lagi dengan sholat taraweh dan tadarusan.
1 Syawal 1429 H, sejak pukul enam pagi warga masyarakat, bapak-ibu dan anak-anaknya sudah memadati masjid sampai ke halaman dan jalanan disekitar masjid. Saya perhatikan kaum pria nya tidak ada yang memakai celana panjang, semuanya bersarung. Setelah sholat Id dan kotbah Idul Fitri, jama’ah pria saling bersalaman sambil bersholawat dan mengucapkan minal aidin wal faidin. Ada beberapa keluarga yang melestarikan kebiasaan membawa makanan opor ke masjid untuk disantap bersama.
Hari-hari berikutnya kami disibukkan bersilaturahmi ke saudara-saudara yang lebih tua, baik yang dikota yang sama maupun yang di kota lain. Disatu malam, kami kemalaman di jalan, kami harus tidur dimobil karena tidak berhasil mendapatkan kamar hotel yang kosong. Di hari raya Idul Fitri , tempat wisata dan hotel panen raya.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Seorang Nelayan by Ladeo Hurizal Anugerah
Ada seorang nelayan, sering mencari ikan di laut hanya itu mata pencaharian Bapak Asep,begitu panggilanya. Bapak Asep mempunyai istri dan kedua anaknya yang masih kecil itu. Mereka itu sangat bersyukur atas semua yang diberikan kepada Allah SWT. Keadaan ekonomi mereka sangat memperhatinkan, tetapi dengan keadaan seperti itu tidak membuat keluarga Pak Asep gentar untuk beribadah dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka selalu bekerja keras di laut. Mereka tinggal di sebuah pesisir pantai, rumah kayu itu tempat tinggal mereka.
Keesokan hari Bapak Asep mulai berlayar dengan perahu tua itu, Pak Asep mulai mendayung-dayung ke tengah laut, lalu Pak Asep melemparkan jaring itu ke dalam air laut, beberapa menit kemudian ia mengangkat jaring itu ternyata Pak Asep hanya mendapatkan tiga ekor ikan, Pak Asep berkata “alhamdulilah memang ini bukan rezeki saya”. Hari sudah mulai gelap ia kembali dengan mendayung perahu tua itu. Istri dan kedua anaknya menunggu kedatangan Bapak Asep, kemudian pak Asep datang “assalamualaikum bu,” kata pak Asep. “waalaikumsalam pak,” kata ibu dan kedua anaknya. Lalu pak Asep memberikan ikan itu ke istrinya, pak hanya dapat tiga ekor??. Hanya itu yang Bapak dapat memang kali ini bukan rezeki kita bu, kita harus tetap bersyukur, sabar ya bu.
Waktu tetap berjalan tapi bapak Asep dan keluaraga selalu bersabar dengan cobaan yang diberikan kepada Allah SWT. Dengan penuh kesabaran dan berlapang dada, akhirnya pak asep dan keluarga mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Tiba-tiba ada seorang saudagar kaya dan darmawan memberi sebuah pekerjaan untuk pak Asep. Pak Asep sangat gembira, ia berkata “saudagar saya bekerja apa??”. Saudagar itu menjawab “membantu saya berlayar untuk mengambil ikan di laut”. Mulai besok pak Asep sudah bisa bekerja.
Besoknya pak Asep pergi ke tempat saudagar kaya itu, mereka berdua lekas bergegas ke pantai untuk berlayar. Dengan menggunakan kapal milik saudagar itu, mereka sudah berjalan ke tengah laut pak Asep dan anak buahnya mulai melemparkan jaring ke dalam air, beberapa kemudian jaring itu bergerak-gerak lalu pak Asep mengangkat jaring itu, “masyaallah banyak sekali ikan-ikan ini dan besar-besar” kata pak Asep. Saudagar itu sangat gembira dengan pak Asep. Hari sudah gelap mereka kembali ke pesisir pantai pak Asep di panggil oleh saudagar itu. Saudagr itu memberi upah ke pak Asep lumayan banyak, pak Asep sangat berterima kasih kepada saudagar itu. Pak Asep berkata “terima kasih ya Allah engkau telah memberi rezeki melewati saudagar itu”.
Pak Asep kembali ke rumah dengan hati yang gembira, lalu pak Asep memberikan uang itu kepada istrinya, “alhamdulilah pak, ini semua uang dari mana ??”,kata istrinya. Pak Asep berkata “ini semua rezeki dari Allah melalui tangan sadagar”. Ini dia berkat kita selalu bersyukur dan bersabar dan beribadah niscaya Allah akan memberi rezeki yang cukup dan halal .
Keesokan hari Bapak Asep mulai berlayar dengan perahu tua itu, Pak Asep mulai mendayung-dayung ke tengah laut, lalu Pak Asep melemparkan jaring itu ke dalam air laut, beberapa menit kemudian ia mengangkat jaring itu ternyata Pak Asep hanya mendapatkan tiga ekor ikan, Pak Asep berkata “alhamdulilah memang ini bukan rezeki saya”. Hari sudah mulai gelap ia kembali dengan mendayung perahu tua itu. Istri dan kedua anaknya menunggu kedatangan Bapak Asep, kemudian pak Asep datang “assalamualaikum bu,” kata pak Asep. “waalaikumsalam pak,” kata ibu dan kedua anaknya. Lalu pak Asep memberikan ikan itu ke istrinya, pak hanya dapat tiga ekor??. Hanya itu yang Bapak dapat memang kali ini bukan rezeki kita bu, kita harus tetap bersyukur, sabar ya bu.
Waktu tetap berjalan tapi bapak Asep dan keluaraga selalu bersabar dengan cobaan yang diberikan kepada Allah SWT. Dengan penuh kesabaran dan berlapang dada, akhirnya pak asep dan keluarga mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Tiba-tiba ada seorang saudagar kaya dan darmawan memberi sebuah pekerjaan untuk pak Asep. Pak Asep sangat gembira, ia berkata “saudagar saya bekerja apa??”. Saudagar itu menjawab “membantu saya berlayar untuk mengambil ikan di laut”. Mulai besok pak Asep sudah bisa bekerja.
Besoknya pak Asep pergi ke tempat saudagar kaya itu, mereka berdua lekas bergegas ke pantai untuk berlayar. Dengan menggunakan kapal milik saudagar itu, mereka sudah berjalan ke tengah laut pak Asep dan anak buahnya mulai melemparkan jaring ke dalam air, beberapa kemudian jaring itu bergerak-gerak lalu pak Asep mengangkat jaring itu, “masyaallah banyak sekali ikan-ikan ini dan besar-besar” kata pak Asep. Saudagar itu sangat gembira dengan pak Asep. Hari sudah gelap mereka kembali ke pesisir pantai pak Asep di panggil oleh saudagar itu. Saudagr itu memberi upah ke pak Asep lumayan banyak, pak Asep sangat berterima kasih kepada saudagar itu. Pak Asep berkata “terima kasih ya Allah engkau telah memberi rezeki melewati saudagar itu”.
Pak Asep kembali ke rumah dengan hati yang gembira, lalu pak Asep memberikan uang itu kepada istrinya, “alhamdulilah pak, ini semua uang dari mana ??”,kata istrinya. Pak Asep berkata “ini semua rezeki dari Allah melalui tangan sadagar”. Ini dia berkat kita selalu bersyukur dan bersabar dan beribadah niscaya Allah akan memberi rezeki yang cukup dan halal .
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Kecanduan Main by Sandhi Ahsani Taqwin
Kecanduan main
Dulu Hilmy adalah anak yang pintar dan rajin belajar, tapi sejak dia mengenal game-online dia mulai melupakan kewajibannya. Ini adalah cerita bagaimana Hilmy kecanduan main.
Hilmy sedang main komputer di rumahnya. “akhirnya gue level 50”. Seru Hilmy. “Hilmy main udahan dulu, ayo belajar “ teriak bapaknya Hilmy.”Ntaran dulu pi, lagi seru nih”. Kata Hilmy. “yaudah, tapi ingat setelah main jangan lupa belajar, papi berangkat kerja dulu”. Kata bapaknya Hilmy, lalu bapaknya keluar. Ring-ring, handphonenya Hilmy berbunyi tapi Hilmy tidak menghiraukannya, “ah, paling Mahendra mau ngajak gue ke rumahnya Raka”. Kata Hilmy dalam hati. Jadi Hilmy terus bermain.
Tanpa terasa sudah maghrib dan bapaknya Hilmy pun sudah pulang. Ding-dong, Hilmy berhenti main sebentar dan membuka pintu. Hilmy terkejut melihat bapaknya di depan pintu. “kok papi sudah pulang?” tanya Hilmy “papi kan dari dulu pulang jam 6” kata bapaknya. “loh emang sudah jam 6 ?” tanya Hilmy. Akhirnya bapaknya Hilmy pun masuk dan terkejut melihat komputernya masih nyala. “Hilmy, kamu masih main ya !”. teriak bapaknya. Dengan santainya Hilmy mejawab “ini baru main lagi kok pi, tadi setelah papi berangkat aku berhenti main dan belajar”. “ ooh, kalu begitu kamu boleh lanjutin mainya”. Kata bapaknya. Dengan senangnya Hilmy lanjutin main.
Esok harinya, “Hilmy ayo bangun, sudah pagi”. Teriak bapaknya. “Enggak mau, masih ngantuk”. Jawab Hilmy. “ayo dong, nanti telat sekolah. Ingat minggu depan ujian semester”. Kata bapaknya. “yaudah pi, Hilmy mau mandi dulu. Jawab Hilmy. “ kalu gitu papi berangkat dulu ya.” Kata bapaknya. Hilmy sudah selsai mandi dan mau pakai baju, habis itu Hilmy merasa ngantuk karena habis main seharian kemarin, jadi Hilmy bolos sekolah dan tidur lagi.
Ding-dong, Hilmy terbangun “aduh udah maghrib nih” kata Hilmy dalam hati. Ding-dong, bel berbunyi untuk kedua kalinya. “ iya-iya sebentar”. teriak Hilmy. Hilmy membuka pintu, bapaknya Hilmy menatap matanya Hilmy. “Hilmy tadi papi di telpon sama kepala sekolah, katanya, kamu tadi bolos sekolah”. Kata bapaknya. “ngak kok pi” kata Hilmy. “kamu sudah beraninya bohong kepada bapak mu sendiri, jadi muali sekarang kamu tidak boleh main komputer dan papi tidak akan memberi mu uang jajan sampai kamu lulus kelas 9”. Kata bapaknya dengan tegasnya.
Sejak hari ini Hilmy belajar terus dan tidak melupakan perannya sebagai pelajar tapi akhirnya dia tidak lulus dan sangat menyesal.
Dulu Hilmy adalah anak yang pintar dan rajin belajar, tapi sejak dia mengenal game-online dia mulai melupakan kewajibannya. Ini adalah cerita bagaimana Hilmy kecanduan main.
Hilmy sedang main komputer di rumahnya. “akhirnya gue level 50”. Seru Hilmy. “Hilmy main udahan dulu, ayo belajar “ teriak bapaknya Hilmy.”Ntaran dulu pi, lagi seru nih”. Kata Hilmy. “yaudah, tapi ingat setelah main jangan lupa belajar, papi berangkat kerja dulu”. Kata bapaknya Hilmy, lalu bapaknya keluar. Ring-ring, handphonenya Hilmy berbunyi tapi Hilmy tidak menghiraukannya, “ah, paling Mahendra mau ngajak gue ke rumahnya Raka”. Kata Hilmy dalam hati. Jadi Hilmy terus bermain.
Tanpa terasa sudah maghrib dan bapaknya Hilmy pun sudah pulang. Ding-dong, Hilmy berhenti main sebentar dan membuka pintu. Hilmy terkejut melihat bapaknya di depan pintu. “kok papi sudah pulang?” tanya Hilmy “papi kan dari dulu pulang jam 6” kata bapaknya. “loh emang sudah jam 6 ?” tanya Hilmy. Akhirnya bapaknya Hilmy pun masuk dan terkejut melihat komputernya masih nyala. “Hilmy, kamu masih main ya !”. teriak bapaknya. Dengan santainya Hilmy mejawab “ini baru main lagi kok pi, tadi setelah papi berangkat aku berhenti main dan belajar”. “ ooh, kalu begitu kamu boleh lanjutin mainya”. Kata bapaknya. Dengan senangnya Hilmy lanjutin main.
Esok harinya, “Hilmy ayo bangun, sudah pagi”. Teriak bapaknya. “Enggak mau, masih ngantuk”. Jawab Hilmy. “ayo dong, nanti telat sekolah. Ingat minggu depan ujian semester”. Kata bapaknya. “yaudah pi, Hilmy mau mandi dulu. Jawab Hilmy. “ kalu gitu papi berangkat dulu ya.” Kata bapaknya. Hilmy sudah selsai mandi dan mau pakai baju, habis itu Hilmy merasa ngantuk karena habis main seharian kemarin, jadi Hilmy bolos sekolah dan tidur lagi.
Ding-dong, Hilmy terbangun “aduh udah maghrib nih” kata Hilmy dalam hati. Ding-dong, bel berbunyi untuk kedua kalinya. “ iya-iya sebentar”. teriak Hilmy. Hilmy membuka pintu, bapaknya Hilmy menatap matanya Hilmy. “Hilmy tadi papi di telpon sama kepala sekolah, katanya, kamu tadi bolos sekolah”. Kata bapaknya. “ngak kok pi” kata Hilmy. “kamu sudah beraninya bohong kepada bapak mu sendiri, jadi muali sekarang kamu tidak boleh main komputer dan papi tidak akan memberi mu uang jajan sampai kamu lulus kelas 9”. Kata bapaknya dengan tegasnya.
Sejak hari ini Hilmy belajar terus dan tidak melupakan perannya sebagai pelajar tapi akhirnya dia tidak lulus dan sangat menyesal.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Mobil Warisan Kakek by Rizkyan Akbar Pratama
Suatu hari di rumah Ridho, Ridho dengan teman sekolahnya sedang bermain karambol. Lalu kakek Ridho datang menemuinya.”cu, sedang apa?” kata kakek.”sedang bermain karambol, kek!” kata Ridho. Saat sedang bermain kakek memanggil Ridho.”dho, sini sebentar.” Kata kakek.”iya, kek!” jawab Ridho.
Akhirnya Ridho datang ke dapur untuk menimui kakeknya.”ada apa, kek?”.”cu, kakek ingin memberimu warisan berharga.”.”apa itu, kek?”.”mobil tahun 90-an.”. Akhirnya kakek memberi Ridho mobil.”terima kasih, kek!”.”tapi ada masalah, kek.”.”apa itu, cu?”.”Ridho tidak bisa mengendarai mobil.”.”tapi kan kamu bisa belajar.”. Akhirnya besok paginya, Ridho belajar mobil di komplek rumahnya. Dengan mobil barunya, Ridho merasa nyaman. Walaupun, mobil yang diberikan kakek sudah tua, tapi Ridho merasa senang dia bisa mengendarai mobil.
Setelah beberapa minggu, Ridho belajar mobil, akhirnya Ridho bisa mengendarai mobilnya.”bagaimana, cu?”.”sudah, kek. Aku sudah bisa mengendarai mobil itu.”. Akhirnya, sekarang Ridho bisa pergi kemana-mana dengan mobil tua itu.
Besoknya, teman Ridho datang ke rumahnya.Dika dan Fadhil mengajak Ridho untuk berjalan-jalan di Mall di Jakarta dengan mobil tuanya.
Setelah Ridho dan temannya selesai menonton, dia mendapat telpon dari rumahnya. Ternyata yang menelpon dia adalah tetangga rumahnya. Dia bilang bahwa kakeknya kecelakaan saat sedang ke pasar. Akhirnya, Ridho bergegas pulang. Setelah sampai di rumah, Ridho sudah melihat bendera kuning di pintu pagar rumahnya. Setelah Ridho masuk rumah, ternyata kakek Ridho sudah pergi untuk selamanya. Akhirnya, Ridho menangis di depan jenazah kakeknya.
Keesokan harinya, Ridho ikut untuk memakamkan kakeknya. Di pemakaman Ridho menangis di depan makam kakeknya. Akhirnya, Ridho diajak pulang oleh Dika dan Fadhil, tetapi Ridho masih ingin bersama kakeknya.
Akhirnya, Dika dan Fadhil pulang duluan dan meninggalkan Ridho di pemakaman. Sore harinya, Ridho pulang ke rumah.
Pagi harinya, Diak dan Fadhil datang ke rumah Ridho. Mereka mengajak Ridho untuk bermain kelereng. Tapi Ridho tidak mau, karena dia masih sedih dengan kepergian kakeknya.
Akhirnya, Dika berusaha membujuk Ridho untuka melupakan kakeknya. Tapi Ridho tidak bisa. Akhirnya Ridho berusaha melupakan kakeknya.
Besok paginya, Ridho berhasil melupakan kakeknya. Akhirnya, Ridho merawat mobil peniggalan kakeknya. Ridho sangat menyesal karena tidak menjaga kakeknya. Ridho saat ini memang bisa melupakan kakeknya, tapi dia tidak bisa melupakan kenangan bersama kakeknya.
Akhirnya, Ridho sudah bosan dengan mobil tua yang diberikan oleh kakeknya. Dia harus menjual mobil tua itu dan diganti dengan mobil yang baru. Tapi Ridho tidak rela, karena jika dia sedang mengendarai mobil itu dia mengkhayal bahwa ada kakeknya yang mendampingi dia.
Besoknya, Ridho menjual mobil tua itu dan dig anti mobil yang baru. Setelah beberapa saat, mobil Ridho akhirnya terjual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan akhirnya, dia membeli mobil baru yang lebih bagus dari sebelumnya.
Akhirnya Ridho datang ke dapur untuk menimui kakeknya.”ada apa, kek?”.”cu, kakek ingin memberimu warisan berharga.”.”apa itu, kek?”.”mobil tahun 90-an.”. Akhirnya kakek memberi Ridho mobil.”terima kasih, kek!”.”tapi ada masalah, kek.”.”apa itu, cu?”.”Ridho tidak bisa mengendarai mobil.”.”tapi kan kamu bisa belajar.”. Akhirnya besok paginya, Ridho belajar mobil di komplek rumahnya. Dengan mobil barunya, Ridho merasa nyaman. Walaupun, mobil yang diberikan kakek sudah tua, tapi Ridho merasa senang dia bisa mengendarai mobil.
Setelah beberapa minggu, Ridho belajar mobil, akhirnya Ridho bisa mengendarai mobilnya.”bagaimana, cu?”.”sudah, kek. Aku sudah bisa mengendarai mobil itu.”. Akhirnya, sekarang Ridho bisa pergi kemana-mana dengan mobil tua itu.
Besoknya, teman Ridho datang ke rumahnya.Dika dan Fadhil mengajak Ridho untuk berjalan-jalan di Mall di Jakarta dengan mobil tuanya.
Setelah Ridho dan temannya selesai menonton, dia mendapat telpon dari rumahnya. Ternyata yang menelpon dia adalah tetangga rumahnya. Dia bilang bahwa kakeknya kecelakaan saat sedang ke pasar. Akhirnya, Ridho bergegas pulang. Setelah sampai di rumah, Ridho sudah melihat bendera kuning di pintu pagar rumahnya. Setelah Ridho masuk rumah, ternyata kakek Ridho sudah pergi untuk selamanya. Akhirnya, Ridho menangis di depan jenazah kakeknya.
Keesokan harinya, Ridho ikut untuk memakamkan kakeknya. Di pemakaman Ridho menangis di depan makam kakeknya. Akhirnya, Ridho diajak pulang oleh Dika dan Fadhil, tetapi Ridho masih ingin bersama kakeknya.
Akhirnya, Dika dan Fadhil pulang duluan dan meninggalkan Ridho di pemakaman. Sore harinya, Ridho pulang ke rumah.
Pagi harinya, Diak dan Fadhil datang ke rumah Ridho. Mereka mengajak Ridho untuk bermain kelereng. Tapi Ridho tidak mau, karena dia masih sedih dengan kepergian kakeknya.
Akhirnya, Dika berusaha membujuk Ridho untuka melupakan kakeknya. Tapi Ridho tidak bisa. Akhirnya Ridho berusaha melupakan kakeknya.
Besok paginya, Ridho berhasil melupakan kakeknya. Akhirnya, Ridho merawat mobil peniggalan kakeknya. Ridho sangat menyesal karena tidak menjaga kakeknya. Ridho saat ini memang bisa melupakan kakeknya, tapi dia tidak bisa melupakan kenangan bersama kakeknya.
Akhirnya, Ridho sudah bosan dengan mobil tua yang diberikan oleh kakeknya. Dia harus menjual mobil tua itu dan diganti dengan mobil yang baru. Tapi Ridho tidak rela, karena jika dia sedang mengendarai mobil itu dia mengkhayal bahwa ada kakeknya yang mendampingi dia.
Besoknya, Ridho menjual mobil tua itu dan dig anti mobil yang baru. Setelah beberapa saat, mobil Ridho akhirnya terjual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan akhirnya, dia membeli mobil baru yang lebih bagus dari sebelumnya.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Jalan-jalan ke Mal dan Berbuka Puasa by Rify Fadlin
Jalan-jalan ke mol dan berbuka puasa
ANDY BERBICARA KEPADA HENRY,ANDY bERKATA Henry LO MAU IKUT BUKA puasa di mol bareng saya.henry pun menjawab yah sudah saya ikut .henry menelepon wira .wira pun juga ikut bersama andy dan henry .andy ingin ketemuan hari minggu di depan pintu mol jam 05.00 Sore.akhirnya mereka ketemu andy pun berkata;kita jalan jalan dulu yuk untuk mengulur waktu. Henry dan wira menerima ajakannya.waktu di depan toko baju mereka ketemu dengan pak guru.mereka menyapa gurunya.Andy pun berkata ;pak gru mau ga berbuka puasa bareng sama saya.pak guru berkata;maaf andy pak guru tidak bisa soalnya soalnya sudah ada janji berbuka puasa bersama keluarga.
Akhirya mereka bertiga salim kepada pak guru . mereka bertiga pun kembali keliling mol.tetapi wira melihat icha dan tiwie di depan toko buku gramedia.wira pun berkata kepada icha .kamu mau buka puasa bareng sama kita bertiga .Icha berkata;maaf aku ga lagi enggak punya uang.andy pun berkata ;yah sudah aku yang teraktir makan.tiwie berkata;makasih atas teraktir makannya waktu buka puasa.
ANDY BERBICARA KEPADA HENRY,ANDY bERKATA Henry LO MAU IKUT BUKA puasa di mol bareng saya.henry pun menjawab yah sudah saya ikut .henry menelepon wira .wira pun juga ikut bersama andy dan henry .andy ingin ketemuan hari minggu di depan pintu mol jam 05.00 Sore.akhirnya mereka ketemu andy pun berkata;kita jalan jalan dulu yuk untuk mengulur waktu. Henry dan wira menerima ajakannya.waktu di depan toko baju mereka ketemu dengan pak guru.mereka menyapa gurunya.Andy pun berkata ;pak gru mau ga berbuka puasa bareng sama saya.pak guru berkata;maaf andy pak guru tidak bisa soalnya soalnya sudah ada janji berbuka puasa bersama keluarga.
Akhirya mereka bertiga salim kepada pak guru . mereka bertiga pun kembali keliling mol.tetapi wira melihat icha dan tiwie di depan toko buku gramedia.wira pun berkata kepada icha .kamu mau buka puasa bareng sama kita bertiga .Icha berkata;maaf aku ga lagi enggak punya uang.andy pun berkata ;yah sudah aku yang teraktir makan.tiwie berkata;makasih atas teraktir makannya waktu buka puasa.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Gila Lu! by Muhammad Sindhu Priastomo
Ada seorang anak pemuda bernaama Bimo Vedder. Dia tinggal di LA(Lenteng Agung) Jakata Selatan. Usianya 16 tahun dia duduk di kelas 2 SMA dia bersekolah di salah satu SMA negri di LA. Dia tinggal bersama ayahnya yang sakit sakitan. Dia termaksud orang yng tidak mampu. Dia sangat hobi mendengarkan musik. Setiap hari dia selalu mendengarkan lagu lagu di mp3 bututya. Dan bila di rumah dia suka mendengarkan lagu lewat VCD player murahan pemberian pamanya. Aliran musik kesukaanya adalah Grunge, terutama grub band Nirvana. Terutama dia menyukai sang vokalis Kurt Cobain yang sudah mati karena bunuh diri.
Bimo mempunyi cita cita, yaitu menjadi musisi terkenal seperti tokoh idolanya Kurt Cobain. Dan membuat band sesukses Nirvana. Setiap hari dia rajn berdoa supaya cit citanya terwujud . Tetapi karena dia miskin kesempataya mewujudkan cita citanya itu agak sulit.
“Koran Koran.. koranya pak, koranya bu….” Setiap pagi sebelum sekolah Bimo menjual Koran di jalanan. Suatu hari dir uh bimo. “Bim, belikan bapak obat, obat bapk sudah habis.” Kata ayahnya. “yasudah yah, mana duitnya.” Kata Bimo. “duit ayah habis, pake duit kamu saja nak.” Tapi yah, saya gak punya duit. Akhirnya ayah bimo ak jadi beli obat.
Hari demi hari kesehatan ayah bimo makin buruk, Bimo yng bingung langsung membawa ayahnya ke rumah sakit. Ayah Bimo lalu di rawat di sana. Bimo sbenarnya bingung bagaimnana cara membayar uang perawatan ayahnya.
Suatu malam di rumahnya, Bimo sedih dan bingung memikirkan ayahnya yang tak kunjung sembuh walaupun di rawat dirumah sakit sambil mencuci piring dirumah. Bimo lalu menyanyi. “come as you are.” Tiba tiba ada yang menyaut “as you were.” Bimo kaget dan bicara dalam hati “siapa yang menyaut ya?.” Lalu o menganggap itu hanya perasaannya saja. Lalu bimo beryanyi lagi. “I needed an easy friend.” Lalu ad yang menybimaut lagi “ I do… Bimo lalu lari dan kabur. Lalu suara itu bilang “stop! Jangan takut.” Bimo lalu berkata “siapa kamu?.” Orang itu akhirnya menjawab dia adalah Kurt Cobain dan Bimo bertanya mengapa dia ada disini dan mengapa dia masih hidup. Lalurt menjawab “sudahlah jangan banyak tanya.. aku disini untuk membantu kamu.” Bimo akhirnya mengerti dan menjelaskan masalahnya dan cita-cita nya. Lalu Kurt memberikan sebuah surat dan pergi ambil berkata “ selamat tinggal! Sampai jumpa ! maafya aku tidak bisa lama lama.”
Bimo terkejut, ternyata tadi hanya mimpi. Bimo memang kelelahan karna dia hanya duduk disamping ayahnya. Bimo terkejut saat melihat di genggamany ada surat yang ada di dalam mimpinya. Ternyata didalamnya terdapat peta sebuah lokasi dengan tulisan di pinggir kertas. Tulisan itu berbunyi ‘ini ada sedikit hadiah untuk fans sejatiku, pergilah ke tempat tersebut.” Bimo lalu pergi ke tempat yang di tujukanoleh peta. Tempat itu tidak terlalu jauh tepatnya di samping rel kereta dekat stasiun LA. Lalu bimo menggali dan akhirnya Bimo menemukan sebuah kotak sangat besar berukuran 3 X 5 m. Lalu dibawanya ke rumah. Setelah di buka kotak itu berisi 1 buah gitar fender jagstag milik Cobain, Buku berisi cara bermain gitar, dan cek berisi 10 miliar rupiah.
Lalu Bimo membayar uang pengobatan ayahnya, akhirnya ayah bimo sembuh. Bimo akhirnya berlatih bermain gitar setengah uang pemberian Cobain ia sumbangkan untuk yang membutuhkan. Sekarang bimo dan ayahnyatelah menjadi kaya.
Suatu hari Bimo mendapat surat dari AS. Surat itu ternyata dari Krist Novoselic, mantan pemain bas Nirvana. Suratnya berisi agar Bimo mau ke AS untuk membuat band. Lalu Bimo dan ayahnya ke AS dan bertemu Krist. Krist menjelaskan bahwa dia mendapat mimpi dari Cobain untuk mengajak Bimo Bermain band.
Akhirnya Krist dan Bimo mebuat band bernama Heaven. Krist bertanya ke bimo siapa yang bermain drum/? . Bimo berkata “kita panggil saja Grohl.” Lalu Krist setuju dan Grohl juga mau menjadi pemain drum. Akhirnya band mereka sudah jadi dengan formasi Bimo vocal gitar,Krist bas ,Grohl drum vocal. Heaven akhirnya sukss dan terkenal. Ereka bertig membut lagu baru dan terkdang membawaan lagu Nirvana. Akhirnya cita cita Bimo berhasil
Bimo mempunyi cita cita, yaitu menjadi musisi terkenal seperti tokoh idolanya Kurt Cobain. Dan membuat band sesukses Nirvana. Setiap hari dia rajn berdoa supaya cit citanya terwujud . Tetapi karena dia miskin kesempataya mewujudkan cita citanya itu agak sulit.
“Koran Koran.. koranya pak, koranya bu….” Setiap pagi sebelum sekolah Bimo menjual Koran di jalanan. Suatu hari dir uh bimo. “Bim, belikan bapak obat, obat bapk sudah habis.” Kata ayahnya. “yasudah yah, mana duitnya.” Kata Bimo. “duit ayah habis, pake duit kamu saja nak.” Tapi yah, saya gak punya duit. Akhirnya ayah bimo ak jadi beli obat.
Hari demi hari kesehatan ayah bimo makin buruk, Bimo yng bingung langsung membawa ayahnya ke rumah sakit. Ayah Bimo lalu di rawat di sana. Bimo sbenarnya bingung bagaimnana cara membayar uang perawatan ayahnya.
Suatu malam di rumahnya, Bimo sedih dan bingung memikirkan ayahnya yang tak kunjung sembuh walaupun di rawat dirumah sakit sambil mencuci piring dirumah. Bimo lalu menyanyi. “come as you are.” Tiba tiba ada yang menyaut “as you were.” Bimo kaget dan bicara dalam hati “siapa yang menyaut ya?.” Lalu o menganggap itu hanya perasaannya saja. Lalu bimo beryanyi lagi. “I needed an easy friend.” Lalu ad yang menybimaut lagi “ I do… Bimo lalu lari dan kabur. Lalu suara itu bilang “stop! Jangan takut.” Bimo lalu berkata “siapa kamu?.” Orang itu akhirnya menjawab dia adalah Kurt Cobain dan Bimo bertanya mengapa dia ada disini dan mengapa dia masih hidup. Lalurt menjawab “sudahlah jangan banyak tanya.. aku disini untuk membantu kamu.” Bimo akhirnya mengerti dan menjelaskan masalahnya dan cita-cita nya. Lalu Kurt memberikan sebuah surat dan pergi ambil berkata “ selamat tinggal! Sampai jumpa ! maafya aku tidak bisa lama lama.”
Bimo terkejut, ternyata tadi hanya mimpi. Bimo memang kelelahan karna dia hanya duduk disamping ayahnya. Bimo terkejut saat melihat di genggamany ada surat yang ada di dalam mimpinya. Ternyata didalamnya terdapat peta sebuah lokasi dengan tulisan di pinggir kertas. Tulisan itu berbunyi ‘ini ada sedikit hadiah untuk fans sejatiku, pergilah ke tempat tersebut.” Bimo lalu pergi ke tempat yang di tujukanoleh peta. Tempat itu tidak terlalu jauh tepatnya di samping rel kereta dekat stasiun LA. Lalu bimo menggali dan akhirnya Bimo menemukan sebuah kotak sangat besar berukuran 3 X 5 m. Lalu dibawanya ke rumah. Setelah di buka kotak itu berisi 1 buah gitar fender jagstag milik Cobain, Buku berisi cara bermain gitar, dan cek berisi 10 miliar rupiah.
Lalu Bimo membayar uang pengobatan ayahnya, akhirnya ayah bimo sembuh. Bimo akhirnya berlatih bermain gitar setengah uang pemberian Cobain ia sumbangkan untuk yang membutuhkan. Sekarang bimo dan ayahnyatelah menjadi kaya.
Suatu hari Bimo mendapat surat dari AS. Surat itu ternyata dari Krist Novoselic, mantan pemain bas Nirvana. Suratnya berisi agar Bimo mau ke AS untuk membuat band. Lalu Bimo dan ayahnya ke AS dan bertemu Krist. Krist menjelaskan bahwa dia mendapat mimpi dari Cobain untuk mengajak Bimo Bermain band.
Akhirnya Krist dan Bimo mebuat band bernama Heaven. Krist bertanya ke bimo siapa yang bermain drum/? . Bimo berkata “kita panggil saja Grohl.” Lalu Krist setuju dan Grohl juga mau menjadi pemain drum. Akhirnya band mereka sudah jadi dengan formasi Bimo vocal gitar,Krist bas ,Grohl drum vocal. Heaven akhirnya sukss dan terkenal. Ereka bertig membut lagu baru dan terkdang membawaan lagu Nirvana. Akhirnya cita cita Bimo berhasil
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Antara Cinta dan Sahabat by Reynaldi Rachmat
“Risaaa…. Kecilkan suaranya!!!” teriak Kak Dyo dari dalam kamarnya.
“Iya, iya,” jawab Risa dengan sedikit ketus. Risa mengecilkan volume suara Astrid yang terdengar seperti erangan lagu yang menyakitkan. Yup!!! Risa memang sedang sedih yang bercampur kesal dan mengerang di dalam hatinya. “Teganya!!!” teriak Risa dalam hati dengan air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Bayangkan saja, Ocha, Sahabat karibnya yang sudah lama begitu dekat, terlihat sedang asyik berduaan dengan Andi di depan sekolah tadi siang. Risa memang sangat menyukai Andi sejak awal mereka bertemu. Tinggi, tegap, tampan, dan pintar pula. Siapapun akan tertarik untuk lebih dekat dengannya. Termasuk Risa yang sudah lama menyimpan rapat perasaannya. “Apakah selama ini Ocha tidak memperhatikan wajahku yang selalu merona jika melihat Andi lewat dihadapanku?? Atau Ocha memang tak peduli padaku??” Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam otak Risa.
Awalnnya ia memang tidak pernah menduga semua ini, karena Ocha telah memiliki kekasih yang setahu Risa sebagai The only one love bagi sahabatnya itu. Tapi, begitu ia melihat kejadian yang terjadi sewaktu Risa pulang sekolah tadi. Oh..Entah kemana kesetiaan yang selama ini diagungkan oleh Ocha tarhadap kekasihnya. Risa pun terlarut dengan kesedihannya itu hingga ia tertidur dan lupa mematikan tape recorder yang dari tadi mengalun lembut menemani kesendiriannya.
“Ris..Risa!! Kamu dari mana aja sich?? Aku cariin kamu kemana-mana,” tanya Ocha pada sahabatnya itu di depan kelas.
“Emang gue biasanya kemana kalo pagi-pagi begini?? Ya ke kantinlah buat sarapan!!!” jawab Risa dengan ketus dan membuat kaget sahabatnya itu.
“Kamu kenapa? Kok kayaknya aneh banget??” Ocha keheranan.
Tanpa basa-basi keluarlah kata-kata yang penuh makna dari mulut Risa kapada sahabatnya itu.
“Cinta kadang menyakitkan bila tanpa kesetiaan dan cinta kadang sangat melelahkan bila tanpa kesetiaan.” Dengan wajah cueknya Risa berlalu dari hadapan Ocha yang masih terdiam kebingungan akan ucapan sahabatnya tadi.
Dan selama jam pelajaran hingga waktunya pulang, mereka tidak saling bicara. Risa dengan seribu diamnya yang menyimpan sesak di dada dan Ocha yang masih tak mengerti, memilih diam tanpa komentar apapun.
Sambil menunggu taksi yang datang, Risa duduk di taman depan sekolahnya. Namun, pikirannya terus melayang dan tak berhenti memikirkan Andi. Sebenarnya Andi dan Risa pernah dekat. Mereka sering saling sapa hingga telpon-telponan hampir tiap malam. Tapi, entah mengapa atau mungkin Andi maupun Risa sama-sama memiliki kesibukan yang sangat padat. Hingga mereka lupa untuk saling bertanya kabar. Begitu classmeeting tiba, barulah Risa mulai mencari-cari kepingan hatinya itu lagi. Dan selanjutnya, tiba-tiba Ia melihat Ocha dan Andi saling canda di depan sekolah dengan akrabnya. Jelas saja Risa naik pitam. Setahu Risa, Sahabatnya itu tidak pernah mengenal Andi dengan akrab. Tapi, mengapa???
“Aku memang cemburu!!! Terus kenapa??” Bisik dalam hati Risa.
Risa tertunduk, menangis di atas kasurnya dan kecewa kepada sahabat karibnya. Tiba-tiba, Ia menemukan sebuah buku merah yang terdapat di bawah bantalnya. Ternyata, buku itu tertulis nama Kak Dyo. Dan judulnya cukup menarik Risa yang sedang gundah gulana. “Seberapa Pantas Dia Untukku??” Dengan judul itu dapat menggelitik Risa untuk membukanya. Selembar demi selembar terlewati. Wajahnya yang tadi pucat dan lesu, kini mulai memudar. Ternyata, isi buku menjelaskan tentang kekuatan hati untuk menahan segala rasa yang sebenarnya hanya membuang waktu.
“Aku memang suka, tapi entah ini cinta?” pikirnya dalam hati.
“Cemburu?? Itu normal kan???” tanyanya lagi dalam hati.
“Ocha sahabatku?? Dari dulu memang begitu kan???” batinnya terus bertanya sekaligus memikirkan nasib cinta dan sahabatnya.
Ditutupnya buku merah itu. Dalam hatinya, Ia tahu bahwa isi buku itu memberinya sebuah pemikiran, kalau perasaannya pada Andi dan rasa marahnya pada sahabatnya, Ocha, hanya membuang waktunya saja. Sesuatu yang belum jelas, malah menjadi hal yang terus dipikirkannya dari tadi.
Aku bukannya mengalah
Aku tidak menyerah
Aku punya rasa, punya cinta
Aku merasa bahagia
Bukannya Aku ingin lupakan semua cerita
Tapi, cukup sudah!!!
Aku tak mau tersesat tanpamu
Sahabatku…
Aku akan biarkan ini mengalir
Hingga noda menghilang dari hatiku
Maafkan Aku, wahai sahabatku..
Yang sudah mengacuhkanmu karena cemburuku.
Dilipatnya secarik puisi yang telah ditulisnya tadi. Dan berharap Ocha, sahabat karibnya akan mengerti apa yang telah terjadi. Dan berjanji dalam hatinya untuk menjelaskan semua kata-katanya yang pernah ditujukannya kepada sehabatnya itu besok dan mulai berjalan lagi tanpa ada rasa yang mencoba mempermainkan kesetiaannya akan sebuah persahabatan yang sangat dijunjungnya itu.
“Maafkankan aku wahai Sahabatku,” kata maaf itu mengalir bersama dengan senyuman yang tenang di wajah Risa.
“Iya, iya,” jawab Risa dengan sedikit ketus. Risa mengecilkan volume suara Astrid yang terdengar seperti erangan lagu yang menyakitkan. Yup!!! Risa memang sedang sedih yang bercampur kesal dan mengerang di dalam hatinya. “Teganya!!!” teriak Risa dalam hati dengan air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Bayangkan saja, Ocha, Sahabat karibnya yang sudah lama begitu dekat, terlihat sedang asyik berduaan dengan Andi di depan sekolah tadi siang. Risa memang sangat menyukai Andi sejak awal mereka bertemu. Tinggi, tegap, tampan, dan pintar pula. Siapapun akan tertarik untuk lebih dekat dengannya. Termasuk Risa yang sudah lama menyimpan rapat perasaannya. “Apakah selama ini Ocha tidak memperhatikan wajahku yang selalu merona jika melihat Andi lewat dihadapanku?? Atau Ocha memang tak peduli padaku??” Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam otak Risa.
Awalnnya ia memang tidak pernah menduga semua ini, karena Ocha telah memiliki kekasih yang setahu Risa sebagai The only one love bagi sahabatnya itu. Tapi, begitu ia melihat kejadian yang terjadi sewaktu Risa pulang sekolah tadi. Oh..Entah kemana kesetiaan yang selama ini diagungkan oleh Ocha tarhadap kekasihnya. Risa pun terlarut dengan kesedihannya itu hingga ia tertidur dan lupa mematikan tape recorder yang dari tadi mengalun lembut menemani kesendiriannya.
“Ris..Risa!! Kamu dari mana aja sich?? Aku cariin kamu kemana-mana,” tanya Ocha pada sahabatnya itu di depan kelas.
“Emang gue biasanya kemana kalo pagi-pagi begini?? Ya ke kantinlah buat sarapan!!!” jawab Risa dengan ketus dan membuat kaget sahabatnya itu.
“Kamu kenapa? Kok kayaknya aneh banget??” Ocha keheranan.
Tanpa basa-basi keluarlah kata-kata yang penuh makna dari mulut Risa kapada sahabatnya itu.
“Cinta kadang menyakitkan bila tanpa kesetiaan dan cinta kadang sangat melelahkan bila tanpa kesetiaan.” Dengan wajah cueknya Risa berlalu dari hadapan Ocha yang masih terdiam kebingungan akan ucapan sahabatnya tadi.
Dan selama jam pelajaran hingga waktunya pulang, mereka tidak saling bicara. Risa dengan seribu diamnya yang menyimpan sesak di dada dan Ocha yang masih tak mengerti, memilih diam tanpa komentar apapun.
Sambil menunggu taksi yang datang, Risa duduk di taman depan sekolahnya. Namun, pikirannya terus melayang dan tak berhenti memikirkan Andi. Sebenarnya Andi dan Risa pernah dekat. Mereka sering saling sapa hingga telpon-telponan hampir tiap malam. Tapi, entah mengapa atau mungkin Andi maupun Risa sama-sama memiliki kesibukan yang sangat padat. Hingga mereka lupa untuk saling bertanya kabar. Begitu classmeeting tiba, barulah Risa mulai mencari-cari kepingan hatinya itu lagi. Dan selanjutnya, tiba-tiba Ia melihat Ocha dan Andi saling canda di depan sekolah dengan akrabnya. Jelas saja Risa naik pitam. Setahu Risa, Sahabatnya itu tidak pernah mengenal Andi dengan akrab. Tapi, mengapa???
“Aku memang cemburu!!! Terus kenapa??” Bisik dalam hati Risa.
Risa tertunduk, menangis di atas kasurnya dan kecewa kepada sahabat karibnya. Tiba-tiba, Ia menemukan sebuah buku merah yang terdapat di bawah bantalnya. Ternyata, buku itu tertulis nama Kak Dyo. Dan judulnya cukup menarik Risa yang sedang gundah gulana. “Seberapa Pantas Dia Untukku??” Dengan judul itu dapat menggelitik Risa untuk membukanya. Selembar demi selembar terlewati. Wajahnya yang tadi pucat dan lesu, kini mulai memudar. Ternyata, isi buku menjelaskan tentang kekuatan hati untuk menahan segala rasa yang sebenarnya hanya membuang waktu.
“Aku memang suka, tapi entah ini cinta?” pikirnya dalam hati.
“Cemburu?? Itu normal kan???” tanyanya lagi dalam hati.
“Ocha sahabatku?? Dari dulu memang begitu kan???” batinnya terus bertanya sekaligus memikirkan nasib cinta dan sahabatnya.
Ditutupnya buku merah itu. Dalam hatinya, Ia tahu bahwa isi buku itu memberinya sebuah pemikiran, kalau perasaannya pada Andi dan rasa marahnya pada sahabatnya, Ocha, hanya membuang waktunya saja. Sesuatu yang belum jelas, malah menjadi hal yang terus dipikirkannya dari tadi.
Aku bukannya mengalah
Aku tidak menyerah
Aku punya rasa, punya cinta
Aku merasa bahagia
Bukannya Aku ingin lupakan semua cerita
Tapi, cukup sudah!!!
Aku tak mau tersesat tanpamu
Sahabatku…
Aku akan biarkan ini mengalir
Hingga noda menghilang dari hatiku
Maafkan Aku, wahai sahabatku..
Yang sudah mengacuhkanmu karena cemburuku.
Dilipatnya secarik puisi yang telah ditulisnya tadi. Dan berharap Ocha, sahabat karibnya akan mengerti apa yang telah terjadi. Dan berjanji dalam hatinya untuk menjelaskan semua kata-katanya yang pernah ditujukannya kepada sehabatnya itu besok dan mulai berjalan lagi tanpa ada rasa yang mencoba mempermainkan kesetiaannya akan sebuah persahabatan yang sangat dijunjungnya itu.
“Maafkankan aku wahai Sahabatku,” kata maaf itu mengalir bersama dengan senyuman yang tenang di wajah Risa.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
OMG by Ni Luh Novy Sajjana Wedhana
Wfuih! Hari ini memang hari yang cerah banget. Seakan-akan matahari tuh lagi bahagia banget. Tapi belum tentu 4 sekawan yang sering latah OMG!!! ini juga bahagia. Lihat aja tampang-tampang kocak bin ajaib mereka yang tegang (deg-degan), penasaran, plus kepanasan. Wajar aja mereka tegang soalnya hari ini adalah hari penentuan siswa-siswi baru di SMA DONALD. ”Ya ampun Lola, kita lagi pada deg-degan kayak gini lu malah dandan gimana seh!!!” kesal Rain (sebenarnya sih namanya Rainy Ananda Putri tapi dia lebih suka dipanggil Rain ketimbang Rainy atau Ananda apa lagi Putri). ”ihh... ni kan gara-gara Rain pake acara jemput jam 6 pagi segala, kan jadinya lola nggak sempet dandan!” saut lola. ”ya emangnya lu mau di jemput jam berapa?! Lu mau kita nggak diterima di sekolah ini cuma gara-gara telat?”saut Rain. ”OMG!!! woi udah dunk, kalian berdua tuh tambah bikin otak gue mumet tau nggak sih!!!” seruduk keryn. ”OMG! ihh... Keryn ngebet banget sich, bisa sekolah di sini! Lola aja nggak segitunya!! jangan dibikin pusing deh, tuh kan otaknya jadi mumet,hahaha!!!. Biasanya nih kalau lemotnya si Lola udah keluar Keryn sama Rain kompakan aja ngomong: ”terserah lo!” ucap Keryn dan Rain barengan (tuh kan bener, hehehe....). Kalo Gladish sih udah biasa dengerin lemotnya Lola, secara Lola adalah temen curhatnya gladish ya walaupun sering bukan lagi sering tapi always gak nyambung. Makanya gladish dari tadi diam aja. ”Dish (sapaan akrab gladish) tuh ada guru yang lagi masang pengumuman, kita liat yuk siapa tau itu pengumuman siswa yang di terima!”ajak Keryn. ”ya udah yok, Lola ayo udah dulu dunk dandannya!!” seru Gladish. ”eeh..... ntar dulu gue mau ngomong, pokoknya kalau diantara kita ada yang terpisah kita musti plus and kudu tetap sohiban, okey? ucap Gladish. Sejenak suasana menjadi hening, lalu semuanya serentak mengangguk. Semuanya melihat namanya masing-masing di papan pengumuman. Yang pertama kali berteriak adalah Rain ”yehhhh..... nannnannanna!!!” kemudian dilanjuti oleh teriakan Lola dan Gladish. ”OMG!!!! asiiiik................. lola masih bisa bareng-bareng sama Gladish, Keryn sama Rain!!!” dari teriakan mereka bertiga lalu terdengar isakan tangisan Keryn. ”lu kenapa Rin?” tanya Gladish. ”gu..g..gue gak bisa bareng kalian lagi!” saut Keryn sedih. ”kenapa? tanya Gladish sabar. ”ya karena nama gua gak ada Dish!!! Teriak keryn. ”hah..... e-n-g-g-a mungkin!!! Lu kan yang paling pinter diantara kita masa Lola aja ada, koq lu nggak ada sih Rin!” ucap Rain kesal. ”i..iya, malahan kan Keryn yang udah bantuin Lola” tambah lola. ”emm.. ya udah kita lihat sekali lagi dulu terus kalo nggak ada kita tanya sama guru-guru di sini gimana? ”okey!!!”tanpa perlu menunggu dengan hitungan menit semuanya pun setuju. Bebrapa menit kemudian, ”Yah kok nggak ada sih, ya udah La temenin gue ke ruang guru yok!!” ajak Gladish. Sementara Gladish dan Lola ke ruang guru. Rain nemenin Keryn yang masih sedih. Tiba-tiba Rain melihat ”kertas aneh” yang tergeletak di lantai.. ”ini kan kertas nama siswa yang diterima kok ada di sini ya??? Coba gue lihat namanya Keryn ah, siapa tau ada, kasian Keryn” pikir Rain dalam hati. ”OMG!!!!!” teriak rain dalam hati. Lalu dengan jelas matanya melihat nama sobatnya Keryn Santadirius, bahkan ada dalam urutan pertama yang berarti nilainya adalah nilai yang paling tinggi diantara siswa-siswi lainnya. Lalu Rain langsung menyusul Gladish dan Lola yang tidak jauh darinya untuk memberi tahu tentang apa yang dia lihat. Keryn sama sekali tidak mengerti dengan tingkah laku sobatnya yang tomboy ini. Ketika Gladish dan Lola melihat apa yang diberikan oleh Rain mereka langsung berteriak ”OMG!!!” berbarengan. Keryn tambah tidak mengerti ketika ketiga sobatnya senyum-senyum yang menurutnya ”aneh” banget. ”OMG!!! lu pada kenapa senyum-senyum kayak gitu? Abiz kesambet ye? Hhahha” tanya Keryn bingung. Ngga tau kenapa ketiga sobatnya langsung memeluk Keryn sambil menangis terharu. ”Eeeeh.... kenapa sih nih bocah pada? Tanya keryn tambah bingung. ”nih, mending lu lihat sendiri aja yah! perintah gladish. ”hah.... OMG!!! O... my god, are you sure??? ye...... akhirnya gue bisa 1 sekolahan lagi sama kalian smua” seru Keryn tak percaya. ”gue yakin koq Rin lu bisa masuk sekolah ini, kita seneng karena lu bisa dapat nilai yang paling tinggi!” ucap Gladish. ”iya... donk Keryn geto loh!!!” saut Keryn bangga. Lalu ketiga sobatnya kompak berteriak ”Huuuuuuuuuuu... tadi aja mewek!!!!. ”ye biarin aja, ya udah yuk kita jalan-jalan gue traktir makan deh!” ucap Keryn girang. Tanpa hitungan jam mereka sudah sampai di mall tempat mereka biasanya hang-out bareng. ”ayoo pesen donk terserah kalian, mumpung gue lagi baek neh!!” seru keryn. ”ngga usah dipaksa gue juga udah mesen koq Rin! Saut rain. ”teman-teman nanti temenin Lola ke salon bentar yaaa....”pinta lola. ”iye deh La, soalnya gue lagi happy nich jadi gw turutin deh semua mau lo!! Gak pa-pa kan Rain? Tanya Keryn. ”ya udah deh kayaknya kalian lagi pada happy gw ngga mau ngerusak kebahagiaan kalian cuma gara-gara gue kagak setuju” jawab Rain polos. Setelah perut mereka kenyang mereka langsung beranjak, menuju ke salon langganan mereka. Belum sempat masuk mereka sudah disambut oleh mbak Mince (pegawai salon yang paling akrab dengan mereka), ”eh... mbak-mbak dateng juga udah lama gak nyalon, mince jadi kangen sama kalian! Sapa mbak mince. ”iya nih mbak abis ujian sibuk banget, nih baru sekarang bisa nyalon buat ngilangin stress!” saut gladish. ya elah gitu aja pakek stress..... dasar anak muda jaman sekarang. Eh ada mbak Rain toh tumben mbak, Sinih biar eke permak abiz si mbak Rain.... ini” celetuk si Mince. “Ou-em-ji!!! tuh kan gene neh gua paling ngga suka kalo ke salon ini” saut Rain dengan tampang melasnya. ”h....hahhahhhaaahaha......hhaha...OMG donnngg!!!” tawa mereka karena tingkah lahu kocaknya Rain.
TAMAT.
TAMAT.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Kisah Nila by Norisa Kurniani
Waktu Nila berumur 3 tahun, papa dan mamanya berpisah. Saat itu Nila tinggal bersama papanya, sedangkan mamanya pergi menghilang setelah pisah dengan Nila dan juga papanya. Kini Nila dirawat oleh Mba Ratna ( baby siter Nila yang baru ).
Waktu Nila berumur 5 tahun papanya menikah dengan sahabat mamanya yang bernama tante Rifa. Menurut papa Nila tante Rifa sangat cocok untuk menjadi mama untuk anak tersayangnya yaitu Nila. Setelah menikah mama Rifa tinggal bersama Nila dan juga papanya, mama Rifa dan Nila pun semakin hari semakin dekat. Saat itu Nila sedang belajar mama Rifa menghampirinya
“ Nila sayang kita makan yuk? “ Tanya mama Rifa
Lalu Nila menjawab “ baik mama “.
Saat mama Rifa mendengar ucapan yang baru saja Nila katakan, tiba-tiba saja mama Rifa memeluk Nila, karena baru kali ini mama Rifa mendengar kata mama dari Nila.
Selesai makan mama Rifa menemani Nila tidur dikamarnya sambil membacakan dongeng.
Beberapa bulan kemudian Nila dan papanya terlihat sangat senang sekali karna akhirnya Nila akan mendapatkan adik dari mama Rifa begitupun dengan papa Nila. Setelah mendapat anggota baru dikeluarganya Nila pun jadi mempunyai rasa tanggung jawab sebagai kakak. Nila pun selalu menjaga adiknya dengan baik, mama dan papa pun senang melihat Nila menjaga adiknya.
“ papa ternyata menjaga adik susah ya “ ujar Nila
“ ya, memang seperti itu tanggung jawab Nila sebagai kakak “ kata papa
“ tapi Nila senang punya adik “ ucap Nila, dengan senyum manisnya.
Kini Nila sudah duduk dibangku SMP dan semenjak Nila masuk SMP ia jadi mempunyai banyak teman. Tapi Nila dekat sekali dengan temannya Mita karena Mita salah satu teman Nila dari TK. Sepertinya Nila sangat senang masuk SMP, tapi ia jadi tidak punya banyak waktu untuk menjaga adiknya ataupun bermain dengan adiknya.
Sepulang sekolah Nila mencari sesuatu di gudang bersama mba Ratna, lalu ia menemukan foto album saat ia masih kecil. Tapi ia tidak mengetahui foto seorang wanita yang duduk bersama papa dan dirinya, lalu ia bertanya kepada mba ratna.
“ mba ini siapa? “ tanya Nila
Mba Ratna menjawab “ maaf mba Nila, mba Ratna juga tidak tahu “.
“ ehm… gitu ya mba “. Ujar Nila sambil berfikir.
Saat ia bertanya pada mama Rifa, mama hanya menjawab tidak tahu. Karena Nila ingin tahu ia pun bertanya pada papa
“ papa ini siapa? “ ujar Nila
Papa hanya menjawab “ bukan siapa-siapa “.
“ lebih baik kamu pikirkan sekolah mu saja, nak ”. kata mama Rifa
Dua minggu kemudian papanya Nila mengalami kecelakaan sehingga kehilangan nyawanya. Sebelum papanya kehilangan nyawanya, papa hanya bilang bahwa wanita itu adalah ibu kandungku sekarang kamu cari dia dan ini alamat rumahnya yang sekarang.
Lalu Nila meminta bantuan pada Mita saat sampai dirumah mama kandungnya, ia bertanya pada satpam mengenai ibu Ila yaitu mama kandungnya dan ternyata benar mamanya tinggal dirumah itu tapi mamanya bukan pemilik rumah itu melainkan bekerja sebagai pembantu dirumah itu. Pak satpam pun memanggil Bu Ila lalu wanita itu keluar dari pintu belakang dan saat bertemu
Nila berkata “ Bu Ila kan? “
“iya, saya Ila. Ada keperluan apa ya? “ tanya Bu Ila dengan nada bingung.
“ s..sa...saya anak Ibu “ Nila mengucapkan itu sambil menangis
Lalu Bu Ila menjawab “ terima kasih Tuhan telah mempertemukan aku dengan anakku “.
Dan akhirnya Bu Ila berhenti bekerja da tinggal bersama Nila, mama Rifa dan adiknya.
Waktu Nila berumur 5 tahun papanya menikah dengan sahabat mamanya yang bernama tante Rifa. Menurut papa Nila tante Rifa sangat cocok untuk menjadi mama untuk anak tersayangnya yaitu Nila. Setelah menikah mama Rifa tinggal bersama Nila dan juga papanya, mama Rifa dan Nila pun semakin hari semakin dekat. Saat itu Nila sedang belajar mama Rifa menghampirinya
“ Nila sayang kita makan yuk? “ Tanya mama Rifa
Lalu Nila menjawab “ baik mama “.
Saat mama Rifa mendengar ucapan yang baru saja Nila katakan, tiba-tiba saja mama Rifa memeluk Nila, karena baru kali ini mama Rifa mendengar kata mama dari Nila.
Selesai makan mama Rifa menemani Nila tidur dikamarnya sambil membacakan dongeng.
Beberapa bulan kemudian Nila dan papanya terlihat sangat senang sekali karna akhirnya Nila akan mendapatkan adik dari mama Rifa begitupun dengan papa Nila. Setelah mendapat anggota baru dikeluarganya Nila pun jadi mempunyai rasa tanggung jawab sebagai kakak. Nila pun selalu menjaga adiknya dengan baik, mama dan papa pun senang melihat Nila menjaga adiknya.
“ papa ternyata menjaga adik susah ya “ ujar Nila
“ ya, memang seperti itu tanggung jawab Nila sebagai kakak “ kata papa
“ tapi Nila senang punya adik “ ucap Nila, dengan senyum manisnya.
Kini Nila sudah duduk dibangku SMP dan semenjak Nila masuk SMP ia jadi mempunyai banyak teman. Tapi Nila dekat sekali dengan temannya Mita karena Mita salah satu teman Nila dari TK. Sepertinya Nila sangat senang masuk SMP, tapi ia jadi tidak punya banyak waktu untuk menjaga adiknya ataupun bermain dengan adiknya.
Sepulang sekolah Nila mencari sesuatu di gudang bersama mba Ratna, lalu ia menemukan foto album saat ia masih kecil. Tapi ia tidak mengetahui foto seorang wanita yang duduk bersama papa dan dirinya, lalu ia bertanya kepada mba ratna.
“ mba ini siapa? “ tanya Nila
Mba Ratna menjawab “ maaf mba Nila, mba Ratna juga tidak tahu “.
“ ehm… gitu ya mba “. Ujar Nila sambil berfikir.
Saat ia bertanya pada mama Rifa, mama hanya menjawab tidak tahu. Karena Nila ingin tahu ia pun bertanya pada papa
“ papa ini siapa? “ ujar Nila
Papa hanya menjawab “ bukan siapa-siapa “.
“ lebih baik kamu pikirkan sekolah mu saja, nak ”. kata mama Rifa
Dua minggu kemudian papanya Nila mengalami kecelakaan sehingga kehilangan nyawanya. Sebelum papanya kehilangan nyawanya, papa hanya bilang bahwa wanita itu adalah ibu kandungku sekarang kamu cari dia dan ini alamat rumahnya yang sekarang.
Lalu Nila meminta bantuan pada Mita saat sampai dirumah mama kandungnya, ia bertanya pada satpam mengenai ibu Ila yaitu mama kandungnya dan ternyata benar mamanya tinggal dirumah itu tapi mamanya bukan pemilik rumah itu melainkan bekerja sebagai pembantu dirumah itu. Pak satpam pun memanggil Bu Ila lalu wanita itu keluar dari pintu belakang dan saat bertemu
Nila berkata “ Bu Ila kan? “
“iya, saya Ila. Ada keperluan apa ya? “ tanya Bu Ila dengan nada bingung.
“ s..sa...saya anak Ibu “ Nila mengucapkan itu sambil menangis
Lalu Bu Ila menjawab “ terima kasih Tuhan telah mempertemukan aku dengan anakku “.
Dan akhirnya Bu Ila berhenti bekerja da tinggal bersama Nila, mama Rifa dan adiknya.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Gara-gara Salah Alamat by Adli Fariz Bonaputra
GARA – GARA SALAH ALAMAT
Ting – tong !! (bel rumah berbunyi)
“selamat pagi, ada orang?” Ryan memanggil.
Kemudian seseorang datang menghampirinya.”Ada apa ya Dek, pagi – pagi sekali datang kesini?” Bibi itu bertanya.
”Ada bapaknya, saya lagi perlu sama beliau.” Ryan menjawab.
”Oh...... sebentar ya Dek, saya panggil dulu.”
Kemudian bibi itu memanggil Beliau dan Bibi itu menyuruh Ryan menunggu didepan. Setelah dipanggil, Beliau menyuruh Ryan masuk dan menyuruhnya duduk.
”Ada apa datang kesini pagi – pagi?” Beliau bertanya
”Oh...... saya kesinikan pengen les sama bapak.”
”Les? Emang saya pernah bilang sama kamu?” Beliau terlihat kaget
”loh..... kan Bapak sendiri yang bilang sama orang tua saya.” Ryan kaget
”Tidak pernah !! saya tidak pernah bilang kepada orang tua kamu !!” Beliau marah
”Berarti saya salah alamat dong ???” (Ryan berbicara dalam hati)
”Oiya.... waktu itu saya dikasih alamat sama ibu saya, Apakah benar ini alamatnya ?”
”Mana coba saya lihat dulu ?” beliau melait alamatnya
”Benar tidak Pak alamatnya ?” Ryan bertanya
”Oooo.... Adek salah alamat.” Beliau menjawab
Kemudian Beliau Menyambung lagi ”Alamat rumah saya bukan ini.” Beliau memberitahu.
”Jadi yang benar dimana Pak ?” Ryan kaget
”Disini tertulis Perumahan Puri Anggrek Mas bukan Puri Depok Mas, Perumahan sayan itu puri depok mas .”Beliau sambil tersenyum
Ryan terkejut ”Masya Allah .”
”Kenapa ?” Beliau bertanya
”Perumahan yang saya cari itu Puri Anggrek Mas .” Ryan menjawab
”Ya sudah Pak saya pergi dulu, maaf telah mengganggu pagi – pagi sekali, sekali lagi saya minta maaf ya Pak .” Ryan minta maaf
Akhirnya Ryan pun pergi menuju perumahan itu dan tanpa dia sadari dia melihat jam tangannya lalu Ryan kaget , jam tangannya sudah jam 8.50 padahal jam selesai les itu jam 9. Ryan nggak tau lagimau kemana padahal jalan menuju perumahan itu masih jauh. Akhirnya Ryan menuju kesana. Akhirnya Ryan sampai juga di perumahan itu.
“Akhirnya sampai juga .” Ryan menghela nafas
“Yang mana ya rumahnya ??” Ryan kebingungan
Ryan pun mencarinya dan akhirnya Ryan menemukan rumahnya.
“Selamat siang .” kata Ryan
“Selamat siang !! kamu kalo nggak salah yang les sama saya kan” Sambil marah.
“Iya, Pak .” Ryan kaget
“Kamu tidak usah les ! jamnya sudah habis, lagi pula saya ingin pergi bersama keluarga !” Beliau Marah
“Ya sudah Pak, saya pulang dulu .” Ryan merasa sedih
Kemudian Beliau memanggilnya “Tunggu !”
“Ada apa Pak ?” Ryan menjawab
“Ya…… Kamu les sama saya sekarang, Ayo .” Beliau menjawab
“Terus, bukanya Bapak ingin pergi ?” Ryan bertanya lagi
“Nanti saja, sekarang kamu pikirin buat ujian nanti .”
“Baik, Pak .” Ryan tersenyum
Akhirnya Ryan pun les dengan Beliau . Sejak itu dia tidak pernah salah alamat lagi . gara – gara salah alamat dia menjadi orang yang sukses yang berkerja di toko kue di kota itu.
~ TAMAT ~
Ting – tong !! (bel rumah berbunyi)
“selamat pagi, ada orang?” Ryan memanggil.
Kemudian seseorang datang menghampirinya.”Ada apa ya Dek, pagi – pagi sekali datang kesini?” Bibi itu bertanya.
”Ada bapaknya, saya lagi perlu sama beliau.” Ryan menjawab.
”Oh...... sebentar ya Dek, saya panggil dulu.”
Kemudian bibi itu memanggil Beliau dan Bibi itu menyuruh Ryan menunggu didepan. Setelah dipanggil, Beliau menyuruh Ryan masuk dan menyuruhnya duduk.
”Ada apa datang kesini pagi – pagi?” Beliau bertanya
”Oh...... saya kesinikan pengen les sama bapak.”
”Les? Emang saya pernah bilang sama kamu?” Beliau terlihat kaget
”loh..... kan Bapak sendiri yang bilang sama orang tua saya.” Ryan kaget
”Tidak pernah !! saya tidak pernah bilang kepada orang tua kamu !!” Beliau marah
”Berarti saya salah alamat dong ???” (Ryan berbicara dalam hati)
”Oiya.... waktu itu saya dikasih alamat sama ibu saya, Apakah benar ini alamatnya ?”
”Mana coba saya lihat dulu ?” beliau melait alamatnya
”Benar tidak Pak alamatnya ?” Ryan bertanya
”Oooo.... Adek salah alamat.” Beliau menjawab
Kemudian Beliau Menyambung lagi ”Alamat rumah saya bukan ini.” Beliau memberitahu.
”Jadi yang benar dimana Pak ?” Ryan kaget
”Disini tertulis Perumahan Puri Anggrek Mas bukan Puri Depok Mas, Perumahan sayan itu puri depok mas .”Beliau sambil tersenyum
Ryan terkejut ”Masya Allah .”
”Kenapa ?” Beliau bertanya
”Perumahan yang saya cari itu Puri Anggrek Mas .” Ryan menjawab
”Ya sudah Pak saya pergi dulu, maaf telah mengganggu pagi – pagi sekali, sekali lagi saya minta maaf ya Pak .” Ryan minta maaf
Akhirnya Ryan pun pergi menuju perumahan itu dan tanpa dia sadari dia melihat jam tangannya lalu Ryan kaget , jam tangannya sudah jam 8.50 padahal jam selesai les itu jam 9. Ryan nggak tau lagimau kemana padahal jalan menuju perumahan itu masih jauh. Akhirnya Ryan menuju kesana. Akhirnya Ryan sampai juga di perumahan itu.
“Akhirnya sampai juga .” Ryan menghela nafas
“Yang mana ya rumahnya ??” Ryan kebingungan
Ryan pun mencarinya dan akhirnya Ryan menemukan rumahnya.
“Selamat siang .” kata Ryan
“Selamat siang !! kamu kalo nggak salah yang les sama saya kan” Sambil marah.
“Iya, Pak .” Ryan kaget
“Kamu tidak usah les ! jamnya sudah habis, lagi pula saya ingin pergi bersama keluarga !” Beliau Marah
“Ya sudah Pak, saya pulang dulu .” Ryan merasa sedih
Kemudian Beliau memanggilnya “Tunggu !”
“Ada apa Pak ?” Ryan menjawab
“Ya…… Kamu les sama saya sekarang, Ayo .” Beliau menjawab
“Terus, bukanya Bapak ingin pergi ?” Ryan bertanya lagi
“Nanti saja, sekarang kamu pikirin buat ujian nanti .”
“Baik, Pak .” Ryan tersenyum
Akhirnya Ryan pun les dengan Beliau . Sejak itu dia tidak pernah salah alamat lagi . gara – gara salah alamat dia menjadi orang yang sukses yang berkerja di toko kue di kota itu.
~ TAMAT ~
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Aku dan Dia by Ghita Aghesi Putri
Hari baru di Jakarta
Balik ke Jakarta setelah lama tinggal di New york membuat
Mischa Renata yang masih berumur 16 tahun dan memiliki satu kakak laki-laki dan adik perempuan ini merasa prihatin sekali. Bukannya ia lebih memilih tinggal di negari orang dan mencemooh negaranya sendiri yang makin hari makin jorok, banyak polusi, dan tingkat kriminalnya sangat tinggi, tapi ia berharap pemandangan yang ia temui pertama kali bukanlah banjir. Dan ia tahu, bencana alam seperti ini adalah perbuatan dari orang yang tidak menghargai lingkungan tempat tinggalnya sebagaimana mestinya.
Pada saat kembali ke Jakarta bukan berarti ia tidak beradaptasi lingkungannya lagi. Ia harus tetap mencoba beradaptasi kembali dengan lingkungannya, teman-teman, dan kondisi tempat ia sekarang. Dibandingkan tempatnya yang dulu memang berbeda sekali dari yang sekarang, bahkan berbeda jauh.
Ibu Mischa menghampiri Mischa yang sedang mengeluarkan barang-barangnya dalam kardus.
“Mischa, hari ini kamu sudah siap-siap untuk persiapan masuk besok?”Ibu Mischa bertanya.
“iya,ma. Udah, ko”Mischa menjawab.
“yaudah, sekarang udah malem, Mischa. Kamu tidur aja, ntar, ini biar bibi yang beresin”
“yauda, Mischa tidur dulu yah”
Mischa pun masuk ke kamar sambil melentangkan badannya di tempat tidur dan memikirkan apa yang terjadi esok nanti.
“hhm, gimana ya besok. Kok gue jadi deg-deg kan kayak gini ya.”mischa khawatir.
Waktu menunjukkan pukul 21.30 malam. Mischa pun akhirnya tertidur dengan perasaan khawatir apa yang akan terjadi besok nanti.
Krriingg,,,krringg,,,,
“adohh,berisik amet sih.gue kan ngantuk tau!!”mischa mengomel.
Tib-tiba pintu terbuka dan …
“mischa,ayo bangun !. bangun donk. Tau gak sih sekarang jam berapa,mischa?”
Adam berkata.
“emang,, jam berapa sih kak!” .
“jam tujuuh,mischa!!” .
“apaah,,???. Kok kaka dam ga bilang dari tadi seh.akgh”. mischa langsung terbangun dan bergegas menuju kamar mandi.
Setelah itu Mischa mengambil sepatu di rak sepatu miliknya.
“aduhh, sial banget gue hari ini. Ini kan pertama kali gue masuk sekolah masa udah telat. Ikh,,”mischa mengomel sambil memakai sepatunya.
“mischa, ayo, buruan nak !. pak sopir udah nunguin kamu tuh. Ntar, tambah kesiangan lagi.”mama mischa berkata.
“iya,mah. Mischa berangkat yah. Papa Mischa berangkat loh . dah, mama, papa!.”mischa berteriak.
Sesampainya, Mischa di sekolah .
Mischa mencari nama nya di sebuah lembaran kertas yang terpajang di papan pengumuman untuk mencari kelasnya .
Teng..teng..tengg
Bel masuk sekolah pun berbunyi.
Saat dimana Mischa harus bertemu dengan teman-teman baru dan guru-guru baru.
Mischa berjalan untuk mencari dimana letak kelasnya tersebut sambil membawa buku-buku di pelukannya.
Bruuukk,,
Buku yang di bawa Mischa berceceran di lantai.
“aduhh,.”kata seorang laki-laki yang menabraknya
“akh. Kalo jalan liat-liat donk!.” Mischa mengeluh.
Namun laki-laki itu berdiri dan menatap
“lo tuh yang jalan gak liat-liat!”.
“yeh, yang ada lo tuh yang nggak liat-liat”
“lo tuh!.”
“elo?”
“sekalinya gue bilang elo, ya, elo!!”
“enak ajah. Lo tuh yang jalan nggak liat-liat”
“bodo!. Pokoknya elo!”
Tiba-tiba Mischa terdiam dan menyadari kalau dia sudah telat.
Dia langsung berlari dan mencari kelas itu.
Mischa telah menemukan kelasnya dan memasuki kelas tersebut
“permisi,,”Mischa berkata.
“ohh,kamu murid pindahan yah!. Ayo, silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu,”wali kelas itu menjawab.Mischa pun memasuki kelas tersebut. Anak-anak di kelasnya langsung saling berbisik-bisik. Entah apa yang mereka katakan itu membuat perasaan Mischa menjadi cemas.
“hhm,, nama saya Mischa Renata Kenesya . Saya murid pindahan dari Cambrige Senior High School, New York. Saya Tinggal di Bintaro Lakeside. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Demikian perkenalan saya tadi. Terima kasih.”Mischa menyelesaikan perkenalannya
Mischa pun langsung di persilahkan duduk oleh wali kelas tersebut. Mischa duduk dengan perasaan tak nyaman karena ia belum mengenal siapa-siapa di kelasnya tersebut.
Seorang laki-laki datang sambil membawa sebuah buku tebal yang di bawa dalam pelukannya. Mischa menyadari bahwa laki-laki itu dalah orang yang menabraknya tadi. Tapi Mischa tidak terlalu mempedulikannya..
“maaf ,bu saya terlambat lagi” Kevin berkata sambil menggarukan kepalanya.
“Kevin!. Kamu itu terlambat terus. Kapan kamu ngak terlambat?”
“Maaf,deh bu. Saya janji nggak bakal ngulangin lagi. Beneran deh bu!”
“Sekali lagi kamu mgulangin lagi. Ibu panggil orang tua kamu!!. Mengerti Kevin Andrea”bu guru membentak.
“Iya,bu!. Janji”.
Guru tersebut mempersilahkan Kevin duduk di sebelah Mischa.
Mischa langsung sebal melihat dia yang ternyata adalah teman sebangkunya.
Kevin melirik, siapa yang ada di sebelahnya dan ternyata,
“eh,lo lagi, lo lagi!”
“heh, lo pikir gue gak sebel ngeliat muka lo mulu!”
“dih, sama!. Ogah gue”
“yei. Lo ngapain sih duduk di sini!.”
“enak, aja justru gue tuh yang mestinya nanya ke lo?. Ngapain lo duduk di bangku gue.”
“gue di suruh sama gurunya tao!!!.”
“adohh, ini cewek bawel amat yah?!.”
“elo tuh yang bawel orang lo yang mulai ngoceh duluan!.”
“eh,eh kalian ini baru dateng aja sudah ribut. Kamu juga nih, Kevin!. Ngalah dikit kenapa sih sama cewek!!.” Bu guru pun memotong pembicaraan mereka.
Kevin yang pada saat itu hanya bisa mengganggukan kepala saja di saat ia di nasehatkan.
Bel istirahat pun tiba, Mischa bingung mesti kemana karena dia masih belum kenal dengan teman-teman yang lain. Kecuali, yang bernama Kevin Andrea.
“hai, Mischa!. Kenalin gue Nanda”
“hai,juga”
“hhm,kok lo udah kenal sama Kevin sih?. Dia kan cowok Super Special di sekolah ini”
“hah,dia?. Di bilang kayak gitu??. Gak salah?”
“Beneran!. Masih gak percaya?. Dia itu anak basket ditambah dia ketua Osis pula.”
“ikh,orang kayak dia jadi ketua Osis. Idih Amit gue”
“hahaha. Santai,neng!. Yaudah mau ikut gue ke Kantin?”
“wuah, boleh banget”
Disaat Mischa keluar dari kelas, lagi-lagi Kevin menabraknya.
“aduhh, lo lagi, lo lagi. Kenapa sih lo nabrak gue mulu?”
“eh, cerewet yang ada juga lo yang nabrak gue!.”
“heh. Lo tuh yang nabrak gue makanya mata jangan taro di lutut!.”
“lo tuh yang taro di lutut”
Nanda segera memotong pembicaraan mereka.
“aduh,, udah donk, udah. Malu di liatin orang, mischa”
“ikh. Awas, aja lo ya,vin” Mischa mengancam Kevin
“idih, bodo amat”
Sesampainya, di Kantin
Suasana yang ramai dengan murid-murid yang ingin membeli makanan.
Kevin yang datang bersama teman se-gang nya itu, melihat perempuan bernama Dara Amelia,Yaitu perempuan yang terobsesi kepadanya. Sampai-sampai Kevin malas dekat-dekat dengannya. Kevin langsung menghampiri Mischa yang sedang duduk dengan temanya untuk memancing emosi Dara.
“eh, Mischa. Soal tadi, maaf, banget ya. Gue tadi bener-bener gak sengaja kok”
“idih, apaan sih lo. Tadi aja ngomel-ngomelin gue sekarang malah baik-baikin gue. Aneh lo?”
“akh, masa sih gue kayak gitu. Perasaan enggak deh.”
“eh, apain sih lo?”
Lalu , Kevin berbisik kepada Mischa sambil memegang pundak Mischa.
“ssst, gue lagi manas-manasin temen gue. Please bantuin gue. Gue gak bakal ngomel-ngomel lagi deh sama lo. I’m promise.”
Mischa akhirnya mengerti mengapa Kevin seperti itu kepadanya dan ia mengikuti apa yang di katakana Kevin.
Di sisi lain kelompok Dara yang dari tadi memperhatikan tingkah laku Kevin dengan Mischa amat lah kesal. Apalagi Dara yang mengganggap Kevin adalah gebetannya yang tak pernah boleh di rebut oleh siapapun.
“eh, Dara, anak pindahan itu kok bisa deket sama Kevin?”
“Gila ya ini cewek!. Belom tau gue apah, main ngerebut gebetan orang”
“udah, labrak aja tuh anak pindahan. Nyolot banget sih tingkahnya”
“Tapi tenang aja ini belom seberapa yang penting Kevin gak suka kan sama itu cewe dan lagi pula dia kan anak baru. Nggak mungkin Kevin bisa suka sama anak baru itu . ”
“iya,sih tapi yasudah lah, terserah lo aja”
Bel masuk kelas berbunyi.
Mischa serta temannya, Nanda segera berjalan menuju kelas mereka.
Dan mengikuti pelajaran selanjutnya.
Mischa yang duduk sebangku dengan Kevin, merasa tidak nyaman, karena sejak Kevin dekat-dekat nya, ia merasa terus di awasi oleh seseorang yang waktu itu sempat di pancing emosinya oleh Kevin. Ia jadi tidak merasa nyaman sekali.
Nanda melihat Mischa sendirian. Nanda pun menghampirinya.
“eh, Mischa lo kenapa?. Kok bengong gitu sih!
“Nggak, Nggak apa-apa kok”
“beneran?”
“iya, Beneran”
“ohh, iya gila yah si Kevin bisa kayak gitu sama lo. Ikh… Pengen deh. Belum ada tuh cewek yang didekettin sama dia kecuali lo. Padahal lo masih anak baru. Tapi, Aduh, dia itu bisik-bisik ke lo gitu”
“idih, apaan sih lebay beneer lo?”
“aduh, Mischa. Lo itu nggak bisa ngeliat cowo cakep apa?”
“hah, Kevin di bilang cakep. Gila lo. Udah, akh, gue mau baca. Lagian yang punya tempat duduk udah dateng”
Nanda kembali ke tempat duduknya.
Kevin datang dan duduk di bangkunya.
Sekaligus menyapa Mischa.
“Mischa, thanks yah. Tadi lo udah mau nolongin gue”
“iya, sama-sama.”
“hhm, By the way lo lagi ngapain?”
“menurut lo gue lagi apa?
“baca!”
“nah, itu tau!”
“yaampun, mba. Galak amet”
“makanya, lo diem.”
Kevin langsung diam dan tetap mengarahkan pandangannya pada Mischa, yang sedang serius membaca. Mischa meyelesaikan membaca buku itu dan ia ingin meminjam sebuah pembatas buku. Pada saat ia memalingkan kepalanya dan ingin meminjam pembatas buku itu dan berkata ,
“Kevin gue,,.” Mischa langsung terdiam, karena pada saat ia menatap nya Kevin juga menatapnya lebih dulu sambil tersenyum..
“heh. Ngapain lo ngeliatin gue sambil senyum-senyum gitu?”
“sapa yang ngeliatin lo coba?!”
“alah. Jangan boong, emang tadi gue gak liat apa?”
“emang, iya gue gak ngeliatin lo kok. Makanya, jadi cewek jangan kepedean”
“lo tuh yang gak mau ngaku”
“dasar bawel”
“yei,, tukang nabrak”
Dara yang dari tadi mengawasi Kevin dengan Mischa hanya bisa berkesal hati
Melihat Mischa dekat dengan Kevin. I a merasa iri melihat itu.
Di samping itu, Mischa sudah mengetahui kalau perempuan yang tidak dia kenal itu dari tadi memperhatikannya. Mischa tetap menghiraukannya.
Bel pulang sekolah pun tiba
Mischa segera pulang cepat-cepat karena ia ingin menyelesaikan tugasnya.
Seminggu kemudian
Malam harinya
Kevin merenungkan diri di pinggir kolam renang miliknya sambil menatapi langit.
Kevin bingung apa yang telah terjadi dengannya. Kenapa ia terus menatapi Mischa yang hanya seorang anak baru di kelasnya dan kenapa setiap ia dekat dengannya perasaan lain itu muncul dalam benaknya. Apa ia menyukai Mischa?. Ternyata tanpa berfikir panjang
Ia akan berusaha untuk mendekati Mischa .
Esoknya,ia menghampiri Mischa di kelas yang sedang asyik membaca seperti biasa.
“Hai, Mischa!.”
“Hai!. Juga”
“serius amat bacanya”
“ya, iya donk”
“hahahaha. Kocak lo?”
“kocak apaan?”
“Habis katany lagi serius tapi malah jawab pertanyaan gue.hahaha”
“eh, iyah. Ugh,, Kevin resek banget nih”
“yei, lo tuh yang resek!”
“enak aja”
“udah,udah gue capek.hehehe.
Oh, iya lo uda punya pacar?”
“ada angina apa lo nanya kayak gitu”
“kagak isenk aja”
“hhm,, belom. Mank kenapa?”
“nggak nanya aja.”
“oh,iya. Lo itu ketua tim basket ya?”
“iya. Itu impian gue dari kecil. Dari dulu gue pengen banget jadi ketua dalam Tim basket.”
“oh,gitu”
Berhari-hari Kevin melakukan pendekatan dengan Mischa, Mischa terlihat memberi kesempatan kepada Kevin. Namun, masalah tiba. Dara datang dan menghampiri Mischa yang sedang bersama Nanda.
“heh, anak baru!. Ngapain sih lo deket-deket sama gebetan gue?”
“siapa juga yang deket-deket sama gebetan lo?”
“ya, lo lah. Kan gue ngomong nya sama lo!”
“maksud lo? Apa sih dateng-dateng uda cari ribut ajas ama orang. Lo ituh tau malu donk!”
“heh, jangan kurang ajar ya lo sama gue. Baru anak baru aja uda nyolot lo?”
“suka-suka gue donk. Lo pikir lo itu siapa.?. Lo tuh yang kurang ajar?”
Teng..Teng.Teng
Bel pulang sekolah berbunyi.
Dara segera mengakhiri pertengkaran itu.
“eh, awas aja lo kalo lo sampe deket-deket sama dia. Gue bakal terus ganggu lo dan satu lagi, kebetulan bokap gue adalah kepala sekolah di sekolah ini, jadi gue bakal nyuruh bokap gue buat mecat Kevin sebagai Ketua Tim Basket. Cam, kan kata gue itu, Mischa”
Dara berkata.
Nanda berusaha menenang kan perasaan Mischa.
“Mischa, udah ya. Dara itu emang begitu.”
“tapi salah gue apa sih?”
“dia itu suka sama Kevin. Tapi Kevin suka sama lo, Mischa”
“iyah, gue tau. Jujur, nda. Entah kenapa gue jadi punya feeling sama Kevin. Gue itu jadi saying banget sama dia”
“Yaampun, mischa. Sampe segitunya”
“gue gak ngerti gimana. Gue takut buat ngejauh dari dia”
“Udahlah,yang sabar yah”
Esoknya, tiba .
Seharian Mischa terus menjauh dari Kevin. Teus, terus dan terus.
Kevin merasa aneh dengan ini semua. Akhirnya, pulang sekolah Kevin memutuskan untuk menemui Mischa.
“Mischa, lo itu kenapa sih sama gue?”
“nggak, kenapa-napa. Udah, gue mau pulang”
“Mischa tunggu. Jawab pertanyaan gue dulu?”
“gue enggak kenapa-napa,Kevin”
“Mischa jawab pertanyaan gue”Kevin berteriak.
Mischa hanya bisa menutupi telinganya, dan berkata
“gue mohon Kevin. Lo jangan pernah deket-deket gue lagi. Gue nggak mau lo ada di deket gue”
“tapi kenapa?”Kevin menjawab.
“Karena gue benci sama lo”Mischa berteriak dan pergi menggalkan Kevin
Kevin langsung terdiam dan menatapi Mischa yang berlari untuk pergi dari nya. Kevin merasa kesal, sedih karena itu. Ia merasa seperti di permainkan oleh Mischa.. Padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah itu.
Hari-hari pun di lalui olehnya dengan bersama Nanda tanpa seorang Kevin yang biasanya bersamanya. Setelah kejadian itu Kevin tidak pernah dekat lagi dengan Mischa dan ia tak duduk sebangku lagi dengannya. Mischa sedih melihat Kevin benar-benar menjauh darinya. Tapi harus bagaimana lagi, Mischa tidak mau kehidupannya di ganggu oleh seorang perempuan yang terobsesi dengan Kevin, yaitu Dara dan Mischa melakukan ini semata-mata juga demi Kevin. Mischa tidak ingin gara-gara dia, ia di pecat atau malah di keluarkan dari Tim Basket. Mischa tidak ingin impian Kevin dari kecil itu hancur karena Kevin dekat dengannya.
Sebulan berlalu Kevin tetap belum menyadari apapun.
Kevin tetap bersikap benci pada Mischa. Kevin hari ini harus sudah bersiap-siap dalam pertandingan basketnya. Ia serta teman-temannya berkumpul di sebuah ruangan. Begitu juga dengan Mischa yang menjadi Cheerleaders untuk meberikan support kepada Tim Basket sekolahnya, berada di sebuah ruangan dekat dengan ruangan Tim Basket. Dara pun menghampirinya
“Hai, Mischa!”
“mau apa lagi lo disini?”
“enggak ada apa-apa?”
“gue cumin pengen bilang thanks, karena lo udah ngejauh dari Kevin dan Kevin benci sama lo.hahaha”
“udah, puas kan lo!. Sekarang, lo harus keluar dari ruangan ini. Karena gue udah muak sama lo.”
“okey, okey . sebelum lo ngusir gue, gue juga udah pengen keluar kok”
Dara pun keluar.
Pertandingan di mulai
Mischa hanya bisa melihat Kevin dengan tatapan kosong dan meneteskan air mata
Nanda yang saat itu berada di sampingnya hanya bisa menenangkan Mischa.
Kevin yang pada saaat itu ingin mengoper bola, tiba-tiba melihat Mischa yang meneteskan air matanya dalam rangkulan Nanda, disampingnya. Bola yang ingin Kevin di oper kepada teman satu Timnya pun di rebut oleh lawan. Sejak itu Kevin menjadi tak konsentrasi dengan pertandingannya. Disaat itu juga Nanda membawa Mischa ke ruang UKS, karena tiba-tiba Mischa sakit.
Bel pun berbunyi
Tanda bahwa babak pertama selesai. Kevin langsung keluar dari area lapangan dan mencari Mischa dan mengatakan bahwa ia harus pergi. Semuanya di serahkan kepada teman-temannya dalam pertandingan ini. Namun, pada saat Kevin berjalan melewati toilet, terdengarlah suara Dara yang berbicara dengan teman satu gang nya.
“hahhahaha. Gila gue seneng banget Mischa ngejauhin Kevin”
“ berarti lo masih punya kesempatan buat ngedapetin Kevin donk,ra”
“oh,tentu donk. Untung aja, kemaren gue ngancem dia. Sampai Kevin deket-deket dia lagi atau sebaliknya. Gue bakal nyuruh bokap gue buat keluarin Kevin dari jabatan impiannya itu”
“tapi, Dara kenapa dia mau nurutin kata-kata lo ya?”
“kalo setau gue. Mischa itu sayang sama Kevin jadi dia rela buat ngejauh dari Kevin supaya Kevin nggak di keluarin dari Tim Basket itu.”
Kevin terkaget mendengar apa yang di katakan Dara tadi.
Ia langsung pergi menuju ruang UKS untuk menjelaskan semuanya.
Namun, Kevin terlambat Mischa baru saja pergi dari UKS dan pulang ke rumah bersama Mischa yang mendampinginya. Tanpa pikir panjang Kevin berlari mengejar Mischa.
Mischa yang memasuki mobil dengan Nanda yang sebentar lagi ia akan pergi.
Kevin yang mengejarnya dan menggedor-gedor jendela mobil Mischa
“Mischa. Tolong dengerin gue dulu. Mischa, Mischa gue mohon. Gue pengen ngomong sama lo”sambil mengejar mobil Mischa.
Tapi Mischa yang pada saat itu berada di dekat jendela hanya bisa berkata.
“Pak, saya pengen secepatnya pulang”
Mobil Mischa pun pergi. Nanda menatap Mischa dengan penuh keheranan.
Namun, Kevin berhenti berlari dan berteriak mengatakan,
“Mischa, gue sayang sama lo.”
Tak disangka cuaca saat itu tidak mendukung. Petir menyambar dan hujan.
Kevin tak peduli kalau ia kehujanan. Ia hanya ingin menjelaskan semuanya. Tak peduli apa yang terjadi dengannya.
Mischa yang mendengar perkataan itu langsung menatap Nanda.
“udah, pergilah. Kejar dia. Mumpung dia belum pergi. Ayo,,”
“iyah” Mischa dengan tersenyum walau dia masih terlihat sakit.
Mischa pun keluar sambil membawa payung agar ia tak kehujanan.
Kevin pada saat itu memalingkan badannya dan hanya bisa termenung di jalan itu.
Mischa datang dan memayungkan Kevin yang sedang kehujanan. Kevin pun langsung tersadar dan memalingkan badan kembali.
“Mischa!.”
“ya”
“Maafin, gue selama ini. Gue sadar dan gue tau yang sebenarnya terjadi. Maafin, gue, gue tau gue yang salah”
Mischa memotong pembicaraan Kevin.“udahlah., itu nggak usah di bahas lagi. Gue udah maavin lo kok”
“Serius?”Kevin bertanya
“iya, serius”Mischa menjawab dengan tersenyum.
Kevin langsung memeluk Mischa. Tapi Mischa yang sedang sakit itu tiba-tiba pingsan dalam pelukannya.
“Mischa, Mischa, Mischa”Kevin berteriak.
Nanda yang menyadari apa yang terjadi lagsung menghampiri Mischa dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya, di Rumah Sakit
Mischa yang terbaring di tempat tidur dengan keadaan tangan di infus.
Terbangun dan melihat Kevin yang tertidur di kursi sebelah tempat tidurnya.
Nanda yang pada saat itu sedang membuatkan sebuah minuman untuk Kevin dan Mischa.
Mischa hanya tersenyum melihat Kevin tertidur pulas untuk menemaninya.Kevin terbangun karena sebuah telepon genggam miliknya berbunyi. Kevin pun mengangkatnya.
“wooiii, kita menang,vin!”
“apa!. Kita menang. Serius lo?”
“iya. Gila deh pokoknya tadi. Seru abis pertandingannya. Kita ngalahin mereka dengan skor 22-14.”
“hahahaha. Selamat deh buat lo semua”.
Kevin mengakhiri pembicaraannya dan menghampiri Mischa.
“Mischa, sekolah kita menang loh?”
“oh,ya. Seneng deh”
Esoknya, Mischa di perbolehkan pulang oleh dokter. Mischa pun di jemput oleh orang tuanya. Mischa memperkenalkan Kevin dan Nanda kepada kedua orang tuanya.
Sore harinya, Menerima Kevin sebagai pacarnya.
Kevin sangat senang sekali. Kecuali, Dara yang pada saat itu hanya menangis mendengarnya.
Hari-hari meraka pun di jalani dengan penuh kebahagiaan.
Balik ke Jakarta setelah lama tinggal di New york membuat
Mischa Renata yang masih berumur 16 tahun dan memiliki satu kakak laki-laki dan adik perempuan ini merasa prihatin sekali. Bukannya ia lebih memilih tinggal di negari orang dan mencemooh negaranya sendiri yang makin hari makin jorok, banyak polusi, dan tingkat kriminalnya sangat tinggi, tapi ia berharap pemandangan yang ia temui pertama kali bukanlah banjir. Dan ia tahu, bencana alam seperti ini adalah perbuatan dari orang yang tidak menghargai lingkungan tempat tinggalnya sebagaimana mestinya.
Pada saat kembali ke Jakarta bukan berarti ia tidak beradaptasi lingkungannya lagi. Ia harus tetap mencoba beradaptasi kembali dengan lingkungannya, teman-teman, dan kondisi tempat ia sekarang. Dibandingkan tempatnya yang dulu memang berbeda sekali dari yang sekarang, bahkan berbeda jauh.
Ibu Mischa menghampiri Mischa yang sedang mengeluarkan barang-barangnya dalam kardus.
“Mischa, hari ini kamu sudah siap-siap untuk persiapan masuk besok?”Ibu Mischa bertanya.
“iya,ma. Udah, ko”Mischa menjawab.
“yaudah, sekarang udah malem, Mischa. Kamu tidur aja, ntar, ini biar bibi yang beresin”
“yauda, Mischa tidur dulu yah”
Mischa pun masuk ke kamar sambil melentangkan badannya di tempat tidur dan memikirkan apa yang terjadi esok nanti.
“hhm, gimana ya besok. Kok gue jadi deg-deg kan kayak gini ya.”mischa khawatir.
Waktu menunjukkan pukul 21.30 malam. Mischa pun akhirnya tertidur dengan perasaan khawatir apa yang akan terjadi besok nanti.
Krriingg,,,krringg,,,,
“adohh,berisik amet sih.gue kan ngantuk tau!!”mischa mengomel.
Tib-tiba pintu terbuka dan …
“mischa,ayo bangun !. bangun donk. Tau gak sih sekarang jam berapa,mischa?”
Adam berkata.
“emang,, jam berapa sih kak!” .
“jam tujuuh,mischa!!” .
“apaah,,???. Kok kaka dam ga bilang dari tadi seh.akgh”. mischa langsung terbangun dan bergegas menuju kamar mandi.
Setelah itu Mischa mengambil sepatu di rak sepatu miliknya.
“aduhh, sial banget gue hari ini. Ini kan pertama kali gue masuk sekolah masa udah telat. Ikh,,”mischa mengomel sambil memakai sepatunya.
“mischa, ayo, buruan nak !. pak sopir udah nunguin kamu tuh. Ntar, tambah kesiangan lagi.”mama mischa berkata.
“iya,mah. Mischa berangkat yah. Papa Mischa berangkat loh . dah, mama, papa!.”mischa berteriak.
Sesampainya, Mischa di sekolah .
Mischa mencari nama nya di sebuah lembaran kertas yang terpajang di papan pengumuman untuk mencari kelasnya .
Teng..teng..tengg
Bel masuk sekolah pun berbunyi.
Saat dimana Mischa harus bertemu dengan teman-teman baru dan guru-guru baru.
Mischa berjalan untuk mencari dimana letak kelasnya tersebut sambil membawa buku-buku di pelukannya.
Bruuukk,,
Buku yang di bawa Mischa berceceran di lantai.
“aduhh,.”kata seorang laki-laki yang menabraknya
“akh. Kalo jalan liat-liat donk!.” Mischa mengeluh.
Namun laki-laki itu berdiri dan menatap
“lo tuh yang jalan gak liat-liat!”.
“yeh, yang ada lo tuh yang nggak liat-liat”
“lo tuh!.”
“elo?”
“sekalinya gue bilang elo, ya, elo!!”
“enak ajah. Lo tuh yang jalan nggak liat-liat”
“bodo!. Pokoknya elo!”
Tiba-tiba Mischa terdiam dan menyadari kalau dia sudah telat.
Dia langsung berlari dan mencari kelas itu.
Mischa telah menemukan kelasnya dan memasuki kelas tersebut
“permisi,,”Mischa berkata.
“ohh,kamu murid pindahan yah!. Ayo, silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu,”wali kelas itu menjawab.Mischa pun memasuki kelas tersebut. Anak-anak di kelasnya langsung saling berbisik-bisik. Entah apa yang mereka katakan itu membuat perasaan Mischa menjadi cemas.
“hhm,, nama saya Mischa Renata Kenesya . Saya murid pindahan dari Cambrige Senior High School, New York. Saya Tinggal di Bintaro Lakeside. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Demikian perkenalan saya tadi. Terima kasih.”Mischa menyelesaikan perkenalannya
Mischa pun langsung di persilahkan duduk oleh wali kelas tersebut. Mischa duduk dengan perasaan tak nyaman karena ia belum mengenal siapa-siapa di kelasnya tersebut.
Seorang laki-laki datang sambil membawa sebuah buku tebal yang di bawa dalam pelukannya. Mischa menyadari bahwa laki-laki itu dalah orang yang menabraknya tadi. Tapi Mischa tidak terlalu mempedulikannya..
“maaf ,bu saya terlambat lagi” Kevin berkata sambil menggarukan kepalanya.
“Kevin!. Kamu itu terlambat terus. Kapan kamu ngak terlambat?”
“Maaf,deh bu. Saya janji nggak bakal ngulangin lagi. Beneran deh bu!”
“Sekali lagi kamu mgulangin lagi. Ibu panggil orang tua kamu!!. Mengerti Kevin Andrea”bu guru membentak.
“Iya,bu!. Janji”.
Guru tersebut mempersilahkan Kevin duduk di sebelah Mischa.
Mischa langsung sebal melihat dia yang ternyata adalah teman sebangkunya.
Kevin melirik, siapa yang ada di sebelahnya dan ternyata,
“eh,lo lagi, lo lagi!”
“heh, lo pikir gue gak sebel ngeliat muka lo mulu!”
“dih, sama!. Ogah gue”
“yei. Lo ngapain sih duduk di sini!.”
“enak, aja justru gue tuh yang mestinya nanya ke lo?. Ngapain lo duduk di bangku gue.”
“gue di suruh sama gurunya tao!!!.”
“adohh, ini cewek bawel amat yah?!.”
“elo tuh yang bawel orang lo yang mulai ngoceh duluan!.”
“eh,eh kalian ini baru dateng aja sudah ribut. Kamu juga nih, Kevin!. Ngalah dikit kenapa sih sama cewek!!.” Bu guru pun memotong pembicaraan mereka.
Kevin yang pada saat itu hanya bisa mengganggukan kepala saja di saat ia di nasehatkan.
Bel istirahat pun tiba, Mischa bingung mesti kemana karena dia masih belum kenal dengan teman-teman yang lain. Kecuali, yang bernama Kevin Andrea.
“hai, Mischa!. Kenalin gue Nanda”
“hai,juga”
“hhm,kok lo udah kenal sama Kevin sih?. Dia kan cowok Super Special di sekolah ini”
“hah,dia?. Di bilang kayak gitu??. Gak salah?”
“Beneran!. Masih gak percaya?. Dia itu anak basket ditambah dia ketua Osis pula.”
“ikh,orang kayak dia jadi ketua Osis. Idih Amit gue”
“hahaha. Santai,neng!. Yaudah mau ikut gue ke Kantin?”
“wuah, boleh banget”
Disaat Mischa keluar dari kelas, lagi-lagi Kevin menabraknya.
“aduhh, lo lagi, lo lagi. Kenapa sih lo nabrak gue mulu?”
“eh, cerewet yang ada juga lo yang nabrak gue!.”
“heh. Lo tuh yang nabrak gue makanya mata jangan taro di lutut!.”
“lo tuh yang taro di lutut”
Nanda segera memotong pembicaraan mereka.
“aduh,, udah donk, udah. Malu di liatin orang, mischa”
“ikh. Awas, aja lo ya,vin” Mischa mengancam Kevin
“idih, bodo amat”
Sesampainya, di Kantin
Suasana yang ramai dengan murid-murid yang ingin membeli makanan.
Kevin yang datang bersama teman se-gang nya itu, melihat perempuan bernama Dara Amelia,Yaitu perempuan yang terobsesi kepadanya. Sampai-sampai Kevin malas dekat-dekat dengannya. Kevin langsung menghampiri Mischa yang sedang duduk dengan temanya untuk memancing emosi Dara.
“eh, Mischa. Soal tadi, maaf, banget ya. Gue tadi bener-bener gak sengaja kok”
“idih, apaan sih lo. Tadi aja ngomel-ngomelin gue sekarang malah baik-baikin gue. Aneh lo?”
“akh, masa sih gue kayak gitu. Perasaan enggak deh.”
“eh, apain sih lo?”
Lalu , Kevin berbisik kepada Mischa sambil memegang pundak Mischa.
“ssst, gue lagi manas-manasin temen gue. Please bantuin gue. Gue gak bakal ngomel-ngomel lagi deh sama lo. I’m promise.”
Mischa akhirnya mengerti mengapa Kevin seperti itu kepadanya dan ia mengikuti apa yang di katakana Kevin.
Di sisi lain kelompok Dara yang dari tadi memperhatikan tingkah laku Kevin dengan Mischa amat lah kesal. Apalagi Dara yang mengganggap Kevin adalah gebetannya yang tak pernah boleh di rebut oleh siapapun.
“eh, Dara, anak pindahan itu kok bisa deket sama Kevin?”
“Gila ya ini cewek!. Belom tau gue apah, main ngerebut gebetan orang”
“udah, labrak aja tuh anak pindahan. Nyolot banget sih tingkahnya”
“Tapi tenang aja ini belom seberapa yang penting Kevin gak suka kan sama itu cewe dan lagi pula dia kan anak baru. Nggak mungkin Kevin bisa suka sama anak baru itu . ”
“iya,sih tapi yasudah lah, terserah lo aja”
Bel masuk kelas berbunyi.
Mischa serta temannya, Nanda segera berjalan menuju kelas mereka.
Dan mengikuti pelajaran selanjutnya.
Mischa yang duduk sebangku dengan Kevin, merasa tidak nyaman, karena sejak Kevin dekat-dekat nya, ia merasa terus di awasi oleh seseorang yang waktu itu sempat di pancing emosinya oleh Kevin. Ia jadi tidak merasa nyaman sekali.
Nanda melihat Mischa sendirian. Nanda pun menghampirinya.
“eh, Mischa lo kenapa?. Kok bengong gitu sih!
“Nggak, Nggak apa-apa kok”
“beneran?”
“iya, Beneran”
“ohh, iya gila yah si Kevin bisa kayak gitu sama lo. Ikh… Pengen deh. Belum ada tuh cewek yang didekettin sama dia kecuali lo. Padahal lo masih anak baru. Tapi, Aduh, dia itu bisik-bisik ke lo gitu”
“idih, apaan sih lebay beneer lo?”
“aduh, Mischa. Lo itu nggak bisa ngeliat cowo cakep apa?”
“hah, Kevin di bilang cakep. Gila lo. Udah, akh, gue mau baca. Lagian yang punya tempat duduk udah dateng”
Nanda kembali ke tempat duduknya.
Kevin datang dan duduk di bangkunya.
Sekaligus menyapa Mischa.
“Mischa, thanks yah. Tadi lo udah mau nolongin gue”
“iya, sama-sama.”
“hhm, By the way lo lagi ngapain?”
“menurut lo gue lagi apa?
“baca!”
“nah, itu tau!”
“yaampun, mba. Galak amet”
“makanya, lo diem.”
Kevin langsung diam dan tetap mengarahkan pandangannya pada Mischa, yang sedang serius membaca. Mischa meyelesaikan membaca buku itu dan ia ingin meminjam sebuah pembatas buku. Pada saat ia memalingkan kepalanya dan ingin meminjam pembatas buku itu dan berkata ,
“Kevin gue,,.” Mischa langsung terdiam, karena pada saat ia menatap nya Kevin juga menatapnya lebih dulu sambil tersenyum..
“heh. Ngapain lo ngeliatin gue sambil senyum-senyum gitu?”
“sapa yang ngeliatin lo coba?!”
“alah. Jangan boong, emang tadi gue gak liat apa?”
“emang, iya gue gak ngeliatin lo kok. Makanya, jadi cewek jangan kepedean”
“lo tuh yang gak mau ngaku”
“dasar bawel”
“yei,, tukang nabrak”
Dara yang dari tadi mengawasi Kevin dengan Mischa hanya bisa berkesal hati
Melihat Mischa dekat dengan Kevin. I a merasa iri melihat itu.
Di samping itu, Mischa sudah mengetahui kalau perempuan yang tidak dia kenal itu dari tadi memperhatikannya. Mischa tetap menghiraukannya.
Bel pulang sekolah pun tiba
Mischa segera pulang cepat-cepat karena ia ingin menyelesaikan tugasnya.
Seminggu kemudian
Malam harinya
Kevin merenungkan diri di pinggir kolam renang miliknya sambil menatapi langit.
Kevin bingung apa yang telah terjadi dengannya. Kenapa ia terus menatapi Mischa yang hanya seorang anak baru di kelasnya dan kenapa setiap ia dekat dengannya perasaan lain itu muncul dalam benaknya. Apa ia menyukai Mischa?. Ternyata tanpa berfikir panjang
Ia akan berusaha untuk mendekati Mischa .
Esoknya,ia menghampiri Mischa di kelas yang sedang asyik membaca seperti biasa.
“Hai, Mischa!.”
“Hai!. Juga”
“serius amat bacanya”
“ya, iya donk”
“hahahaha. Kocak lo?”
“kocak apaan?”
“Habis katany lagi serius tapi malah jawab pertanyaan gue.hahaha”
“eh, iyah. Ugh,, Kevin resek banget nih”
“yei, lo tuh yang resek!”
“enak aja”
“udah,udah gue capek.hehehe.
Oh, iya lo uda punya pacar?”
“ada angina apa lo nanya kayak gitu”
“kagak isenk aja”
“hhm,, belom. Mank kenapa?”
“nggak nanya aja.”
“oh,iya. Lo itu ketua tim basket ya?”
“iya. Itu impian gue dari kecil. Dari dulu gue pengen banget jadi ketua dalam Tim basket.”
“oh,gitu”
Berhari-hari Kevin melakukan pendekatan dengan Mischa, Mischa terlihat memberi kesempatan kepada Kevin. Namun, masalah tiba. Dara datang dan menghampiri Mischa yang sedang bersama Nanda.
“heh, anak baru!. Ngapain sih lo deket-deket sama gebetan gue?”
“siapa juga yang deket-deket sama gebetan lo?”
“ya, lo lah. Kan gue ngomong nya sama lo!”
“maksud lo? Apa sih dateng-dateng uda cari ribut ajas ama orang. Lo ituh tau malu donk!”
“heh, jangan kurang ajar ya lo sama gue. Baru anak baru aja uda nyolot lo?”
“suka-suka gue donk. Lo pikir lo itu siapa.?. Lo tuh yang kurang ajar?”
Teng..Teng.Teng
Bel pulang sekolah berbunyi.
Dara segera mengakhiri pertengkaran itu.
“eh, awas aja lo kalo lo sampe deket-deket sama dia. Gue bakal terus ganggu lo dan satu lagi, kebetulan bokap gue adalah kepala sekolah di sekolah ini, jadi gue bakal nyuruh bokap gue buat mecat Kevin sebagai Ketua Tim Basket. Cam, kan kata gue itu, Mischa”
Dara berkata.
Nanda berusaha menenang kan perasaan Mischa.
“Mischa, udah ya. Dara itu emang begitu.”
“tapi salah gue apa sih?”
“dia itu suka sama Kevin. Tapi Kevin suka sama lo, Mischa”
“iyah, gue tau. Jujur, nda. Entah kenapa gue jadi punya feeling sama Kevin. Gue itu jadi saying banget sama dia”
“Yaampun, mischa. Sampe segitunya”
“gue gak ngerti gimana. Gue takut buat ngejauh dari dia”
“Udahlah,yang sabar yah”
Esoknya, tiba .
Seharian Mischa terus menjauh dari Kevin. Teus, terus dan terus.
Kevin merasa aneh dengan ini semua. Akhirnya, pulang sekolah Kevin memutuskan untuk menemui Mischa.
“Mischa, lo itu kenapa sih sama gue?”
“nggak, kenapa-napa. Udah, gue mau pulang”
“Mischa tunggu. Jawab pertanyaan gue dulu?”
“gue enggak kenapa-napa,Kevin”
“Mischa jawab pertanyaan gue”Kevin berteriak.
Mischa hanya bisa menutupi telinganya, dan berkata
“gue mohon Kevin. Lo jangan pernah deket-deket gue lagi. Gue nggak mau lo ada di deket gue”
“tapi kenapa?”Kevin menjawab.
“Karena gue benci sama lo”Mischa berteriak dan pergi menggalkan Kevin
Kevin langsung terdiam dan menatapi Mischa yang berlari untuk pergi dari nya. Kevin merasa kesal, sedih karena itu. Ia merasa seperti di permainkan oleh Mischa.. Padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah itu.
Hari-hari pun di lalui olehnya dengan bersama Nanda tanpa seorang Kevin yang biasanya bersamanya. Setelah kejadian itu Kevin tidak pernah dekat lagi dengan Mischa dan ia tak duduk sebangku lagi dengannya. Mischa sedih melihat Kevin benar-benar menjauh darinya. Tapi harus bagaimana lagi, Mischa tidak mau kehidupannya di ganggu oleh seorang perempuan yang terobsesi dengan Kevin, yaitu Dara dan Mischa melakukan ini semata-mata juga demi Kevin. Mischa tidak ingin gara-gara dia, ia di pecat atau malah di keluarkan dari Tim Basket. Mischa tidak ingin impian Kevin dari kecil itu hancur karena Kevin dekat dengannya.
Sebulan berlalu Kevin tetap belum menyadari apapun.
Kevin tetap bersikap benci pada Mischa. Kevin hari ini harus sudah bersiap-siap dalam pertandingan basketnya. Ia serta teman-temannya berkumpul di sebuah ruangan. Begitu juga dengan Mischa yang menjadi Cheerleaders untuk meberikan support kepada Tim Basket sekolahnya, berada di sebuah ruangan dekat dengan ruangan Tim Basket. Dara pun menghampirinya
“Hai, Mischa!”
“mau apa lagi lo disini?”
“enggak ada apa-apa?”
“gue cumin pengen bilang thanks, karena lo udah ngejauh dari Kevin dan Kevin benci sama lo.hahaha”
“udah, puas kan lo!. Sekarang, lo harus keluar dari ruangan ini. Karena gue udah muak sama lo.”
“okey, okey . sebelum lo ngusir gue, gue juga udah pengen keluar kok”
Dara pun keluar.
Pertandingan di mulai
Mischa hanya bisa melihat Kevin dengan tatapan kosong dan meneteskan air mata
Nanda yang saat itu berada di sampingnya hanya bisa menenangkan Mischa.
Kevin yang pada saaat itu ingin mengoper bola, tiba-tiba melihat Mischa yang meneteskan air matanya dalam rangkulan Nanda, disampingnya. Bola yang ingin Kevin di oper kepada teman satu Timnya pun di rebut oleh lawan. Sejak itu Kevin menjadi tak konsentrasi dengan pertandingannya. Disaat itu juga Nanda membawa Mischa ke ruang UKS, karena tiba-tiba Mischa sakit.
Bel pun berbunyi
Tanda bahwa babak pertama selesai. Kevin langsung keluar dari area lapangan dan mencari Mischa dan mengatakan bahwa ia harus pergi. Semuanya di serahkan kepada teman-temannya dalam pertandingan ini. Namun, pada saat Kevin berjalan melewati toilet, terdengarlah suara Dara yang berbicara dengan teman satu gang nya.
“hahhahaha. Gila gue seneng banget Mischa ngejauhin Kevin”
“ berarti lo masih punya kesempatan buat ngedapetin Kevin donk,ra”
“oh,tentu donk. Untung aja, kemaren gue ngancem dia. Sampai Kevin deket-deket dia lagi atau sebaliknya. Gue bakal nyuruh bokap gue buat keluarin Kevin dari jabatan impiannya itu”
“tapi, Dara kenapa dia mau nurutin kata-kata lo ya?”
“kalo setau gue. Mischa itu sayang sama Kevin jadi dia rela buat ngejauh dari Kevin supaya Kevin nggak di keluarin dari Tim Basket itu.”
Kevin terkaget mendengar apa yang di katakan Dara tadi.
Ia langsung pergi menuju ruang UKS untuk menjelaskan semuanya.
Namun, Kevin terlambat Mischa baru saja pergi dari UKS dan pulang ke rumah bersama Mischa yang mendampinginya. Tanpa pikir panjang Kevin berlari mengejar Mischa.
Mischa yang memasuki mobil dengan Nanda yang sebentar lagi ia akan pergi.
Kevin yang mengejarnya dan menggedor-gedor jendela mobil Mischa
“Mischa. Tolong dengerin gue dulu. Mischa, Mischa gue mohon. Gue pengen ngomong sama lo”sambil mengejar mobil Mischa.
Tapi Mischa yang pada saat itu berada di dekat jendela hanya bisa berkata.
“Pak, saya pengen secepatnya pulang”
Mobil Mischa pun pergi. Nanda menatap Mischa dengan penuh keheranan.
Namun, Kevin berhenti berlari dan berteriak mengatakan,
“Mischa, gue sayang sama lo.”
Tak disangka cuaca saat itu tidak mendukung. Petir menyambar dan hujan.
Kevin tak peduli kalau ia kehujanan. Ia hanya ingin menjelaskan semuanya. Tak peduli apa yang terjadi dengannya.
Mischa yang mendengar perkataan itu langsung menatap Nanda.
“udah, pergilah. Kejar dia. Mumpung dia belum pergi. Ayo,,”
“iyah” Mischa dengan tersenyum walau dia masih terlihat sakit.
Mischa pun keluar sambil membawa payung agar ia tak kehujanan.
Kevin pada saat itu memalingkan badannya dan hanya bisa termenung di jalan itu.
Mischa datang dan memayungkan Kevin yang sedang kehujanan. Kevin pun langsung tersadar dan memalingkan badan kembali.
“Mischa!.”
“ya”
“Maafin, gue selama ini. Gue sadar dan gue tau yang sebenarnya terjadi. Maafin, gue, gue tau gue yang salah”
Mischa memotong pembicaraan Kevin.“udahlah., itu nggak usah di bahas lagi. Gue udah maavin lo kok”
“Serius?”Kevin bertanya
“iya, serius”Mischa menjawab dengan tersenyum.
Kevin langsung memeluk Mischa. Tapi Mischa yang sedang sakit itu tiba-tiba pingsan dalam pelukannya.
“Mischa, Mischa, Mischa”Kevin berteriak.
Nanda yang menyadari apa yang terjadi lagsung menghampiri Mischa dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya, di Rumah Sakit
Mischa yang terbaring di tempat tidur dengan keadaan tangan di infus.
Terbangun dan melihat Kevin yang tertidur di kursi sebelah tempat tidurnya.
Nanda yang pada saat itu sedang membuatkan sebuah minuman untuk Kevin dan Mischa.
Mischa hanya tersenyum melihat Kevin tertidur pulas untuk menemaninya.Kevin terbangun karena sebuah telepon genggam miliknya berbunyi. Kevin pun mengangkatnya.
“wooiii, kita menang,vin!”
“apa!. Kita menang. Serius lo?”
“iya. Gila deh pokoknya tadi. Seru abis pertandingannya. Kita ngalahin mereka dengan skor 22-14.”
“hahahaha. Selamat deh buat lo semua”.
Kevin mengakhiri pembicaraannya dan menghampiri Mischa.
“Mischa, sekolah kita menang loh?”
“oh,ya. Seneng deh”
Esoknya, Mischa di perbolehkan pulang oleh dokter. Mischa pun di jemput oleh orang tuanya. Mischa memperkenalkan Kevin dan Nanda kepada kedua orang tuanya.
Sore harinya, Menerima Kevin sebagai pacarnya.
Kevin sangat senang sekali. Kecuali, Dara yang pada saat itu hanya menangis mendengarnya.
Hari-hari meraka pun di jalani dengan penuh kebahagiaan.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
“JO” by Lembah Jawi Baranadhan
Malam semaki larut, namun ia tetap bertahan ditaman.Ia adalah remaja yang sebatang kara dari kecil.Ia dapat bertahan hidup karena dia diasuh oleh suatu panti asuhan.Lalu iapun dikeluarkan karena membuat onar, yaitu berkelahi.Dia bernama Jo, Josaphant Bravely.Jo sangat frustasi karena tidak ada lagi yang bisa peduli padanya.
Malam itu pun menjadi malam yang tak bisa dilupakan.Jo didatangi oleh preman setempat dan langsung mengeroyok Jo.Seseorang melihat kejadian itu,dan orang itu sangat terkesan melihat seorang remaja dapat menghabisi lawan yang berjumlah 4 orang sendirian.Orang tersebut langsung mengajak Jo berbicara dan menawarkan Jo untuk malakoni olah raga tinju sebagai pengisi hidupnya.Pria itu bernama Vincent.Pria berusia 46 tahun itu bersedia menjadi manajer Jo.Alasan lain Jo menerima tawaran tersebut juga karena ia ingin mencari orang tuanya.Pertandingan pertama pun dimulai,Jo mendapat lawan yang seimbang bila dilihat dari tubuhnya.Hari itu adalah hari dimana Jo mengejutkan dunia pertinjuan,karena dalam debut pertandingan pertamanya ia mengalahkan lawannya dengan tiga ronde KO!.Debut yang sangat gemilang bagi remaja berusia 19 tahun ini.
Dalam sekejap,JO telah menjadi superstar.Karir gemilang,materi cukup mapan,berumur muda,dan mempunyai wajah yang cukup tampan.Ini membuat jutaan gadis di dunia bermimpi untuk mendampingi dirinya.Menurut banyak orang,Jo sudah menjadi orang yang paling bahagia,tetapi tidak untuk Jo pribadi.Ia sangat kesepian,jika ia sangat membutuhkan orang tua dan ingat akan halnya.Tetapi,Vincent selalu ada saat Jo sedang sedih dan membuat Jo bersemangat.Pada saat pergelaran turnamen tinju yang bernama “No Mercy” itu,Jo merasa orang tuanya hadir dan melihatnya bertarung.Pada saat final,perasaan Jo akan Kedatangan orang tuanya tersebut datang lagi,dan ini menjadi hal yang sangat menyakitkan dalam kehidupannya.Ternyata mereka bukanlah orang tua Jo,tetapi orang tua dari lawan yang akan bertarung dengan Jo saat final ini.Walaupun Jo menjadi pemenang dan menjadi juara I,tetapi kepedihan masih terasa mendalam dilubuk hati Jo.Dia ingin segera menemui orang tuanya.Lalu, ia berlatih tinju untuk menantang petinju dunia, yaitu Bondo Ali.Saat hari itu tiba,ia disambut bak seseorang yang sangat dipuja-puja.Hatinya sangat senang karena ia benar-benar disenangi oleh orang banyak.Hari itu Jo hanya mampu menahan diri sampai Ronde ke lima belas dimana saat itu Jo terjatuh KO!.Itu membuat hati Jo sangat sedih.Tak lama kemudian,pada saat Jo merenung denganVincent di taman tempat mereka bertemu,muncul seorang gadis mengatakan bahwa orang tua kandung Jo sedang mencarinya.Lalu,pada saat diceritakan bahwa ayah kandung Jo adalah John Bravely,Vincent sangat terkejut,Jo bertanya-tanya,”Hei! Mengapa kau begitu terkejut?”.”Apakah kamu tidak tahu? Dia adalah pengusaha terkaya se -Asia!”jawab Vincent.
Setelah dipertemukannya Jo,Vincent dengan John,Jo bertanya”Ayah, kenapa waktu itu kau meninggalkan aku?”.John menjawab”Maaf anakku,waktu itu aku sedang terlilit hutang dan ayah takut jika kamu nanti terseret juga.Jadi ayah memutuskan untuk menitipkan mu”tutur John.”Sekarang ayah sudah tua,ayah ingin menyerahkan warisan ayah kepada kamu!”tambah John.Akhirnya Kehidupan Jo semakin lengkap dengan keluarga yang juga lengkap.
Malam itu pun menjadi malam yang tak bisa dilupakan.Jo didatangi oleh preman setempat dan langsung mengeroyok Jo.Seseorang melihat kejadian itu,dan orang itu sangat terkesan melihat seorang remaja dapat menghabisi lawan yang berjumlah 4 orang sendirian.Orang tersebut langsung mengajak Jo berbicara dan menawarkan Jo untuk malakoni olah raga tinju sebagai pengisi hidupnya.Pria itu bernama Vincent.Pria berusia 46 tahun itu bersedia menjadi manajer Jo.Alasan lain Jo menerima tawaran tersebut juga karena ia ingin mencari orang tuanya.Pertandingan pertama pun dimulai,Jo mendapat lawan yang seimbang bila dilihat dari tubuhnya.Hari itu adalah hari dimana Jo mengejutkan dunia pertinjuan,karena dalam debut pertandingan pertamanya ia mengalahkan lawannya dengan tiga ronde KO!.Debut yang sangat gemilang bagi remaja berusia 19 tahun ini.
Dalam sekejap,JO telah menjadi superstar.Karir gemilang,materi cukup mapan,berumur muda,dan mempunyai wajah yang cukup tampan.Ini membuat jutaan gadis di dunia bermimpi untuk mendampingi dirinya.Menurut banyak orang,Jo sudah menjadi orang yang paling bahagia,tetapi tidak untuk Jo pribadi.Ia sangat kesepian,jika ia sangat membutuhkan orang tua dan ingat akan halnya.Tetapi,Vincent selalu ada saat Jo sedang sedih dan membuat Jo bersemangat.Pada saat pergelaran turnamen tinju yang bernama “No Mercy” itu,Jo merasa orang tuanya hadir dan melihatnya bertarung.Pada saat final,perasaan Jo akan Kedatangan orang tuanya tersebut datang lagi,dan ini menjadi hal yang sangat menyakitkan dalam kehidupannya.Ternyata mereka bukanlah orang tua Jo,tetapi orang tua dari lawan yang akan bertarung dengan Jo saat final ini.Walaupun Jo menjadi pemenang dan menjadi juara I,tetapi kepedihan masih terasa mendalam dilubuk hati Jo.Dia ingin segera menemui orang tuanya.Lalu, ia berlatih tinju untuk menantang petinju dunia, yaitu Bondo Ali.Saat hari itu tiba,ia disambut bak seseorang yang sangat dipuja-puja.Hatinya sangat senang karena ia benar-benar disenangi oleh orang banyak.Hari itu Jo hanya mampu menahan diri sampai Ronde ke lima belas dimana saat itu Jo terjatuh KO!.Itu membuat hati Jo sangat sedih.Tak lama kemudian,pada saat Jo merenung denganVincent di taman tempat mereka bertemu,muncul seorang gadis mengatakan bahwa orang tua kandung Jo sedang mencarinya.Lalu,pada saat diceritakan bahwa ayah kandung Jo adalah John Bravely,Vincent sangat terkejut,Jo bertanya-tanya,”Hei! Mengapa kau begitu terkejut?”.”Apakah kamu tidak tahu? Dia adalah pengusaha terkaya se -Asia!”jawab Vincent.
Setelah dipertemukannya Jo,Vincent dengan John,Jo bertanya”Ayah, kenapa waktu itu kau meninggalkan aku?”.John menjawab”Maaf anakku,waktu itu aku sedang terlilit hutang dan ayah takut jika kamu nanti terseret juga.Jadi ayah memutuskan untuk menitipkan mu”tutur John.”Sekarang ayah sudah tua,ayah ingin menyerahkan warisan ayah kepada kamu!”tambah John.Akhirnya Kehidupan Jo semakin lengkap dengan keluarga yang juga lengkap.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Belajar atau Hobi? by Ario Prasetia Kusumah
“aldoo,maen bola yuk!?” ujar beberapa anak kecil di perumahan kahyangan. Itu adalah nama tempat yang di tinggali oleh seorang anak yang bernama aldo.Lalu setelah beberapa lama anak yang bernama aldo itupun keluar.”iya,nanti gw nyusul..” kata aldo.lalu anak-anak kecil itupun berkata”oke deh jangan lama-lama ya!”,”iya,Cuma mau sholat kok.”kata aldo.lalu setelah itu aldo pun segera menuju kamar mandi untuk wudhu,dan anak-anak kecil itupun pergi ke tempat mereka biasa bermain sepakbola.
Setelah selesai sholat aldo pun pamit kepada ibunya,”bu,aldo pergi main bola dulu ya?”,lalu ibunya berkata “iya,udah sholat belum?”,”udah kok” kata aldo,lalu ibunya berkata “ya sudah hati-hati ya!”.lalu saat itupun aldo pergi ke taman tempat ia dan teman-temannya main bola,aldo main bola dengan anak-anak kecil di tempat tinggalnya,mereka bermain bola sampai sebelum maghrib.Lalu di malam harinya aldo pun tertidur karena kelelahan,ia lupa dengan belajar..
”do,kemarin nonton persija ga?”kata abdul,dia adalah teman aldo “seorang the jak mania”.”engga,kemarin gue pergi ke jakarta,ada undangan.”kata aldo.”ih gila aliyudin jago banget!”.lalu aldo berkata “emang jagonya gimana?”,”iya,dia golin 2,pokoknya keren deh!”kata abdul.lalu aldo berkata ”ah masih kerenan ronaldo lagi..hahaha!”.”ah,elu mah ronaldo mulu..” ”iya donk,secara gitu ronaldo kalau ronnya di ilangin jadi aldo,hahaha..”kata aldo.”ah dasar..”.lalu mereka berduapun masuk ke kelas.lalu di kelas ada tomo dan tejo.”do,ntar lu latihan ga?”kata tomo.”iyalah,lu ma tejo latihan ga?” kata aldo.lalu tejopun berkata “gue ga bisa do soalnnya mobil gw harus di bawa ke bengkel,emang edan tuh mobil..!”.”ya udah ga apa-apa nanti gw bilangin pak karto..lu latihan kan mo?”kata aldo.lalu tomopun berkata”iya gue nanti latihan..” lalu setelah itu bel istirahat pun berbunyi,mereka ber empat masuk ke kelas.mereka ber empat adalah teman sekelas.
“teng-teng” Bel pulang pun berbunyi,para anggota tim sepak bola SMA 7 depok pun langsung memulai berlatih.setelah semuanya berkumpul pak karto memberikan informasi.”selamat sore anak-anak..” kata pak karto,dia adalah pelatih tim SMA 7.lalu anak-anak SMA 7 pun berkata “sore pak..”.”anak-anak,nati 2 minggu lagi kita akan ikut “coca cola soccer cup” pertandingannya akan di gelar 1 bualn lagi di stadion utama gelora bung karno.gimana pada mau ikut ga?” kata pak karto.”hadiahnnya apaan pa?”kata abdul,”hadiahnnya laptop buat masing-masing anak..”kata pa karto.”oke deh ikut!”kata anak-anak.”ya sudah,sekarang mulai pemanasan!”kata pak karto.”bentar pa,si tejo mobilnya rusak,dia harus ke bengkel hari ini..!”kata aldo,”ya sudah ga apa-apa..”Lalu anak-anak pun mulai pemanasan.saat bermain game,mereka melakukan formasi seperti biasa,aldo bermain di sayap kiri,lalu abdul menjadi striker dibantu oleh sandy.hafiz dan bima main di gelandang,lalu deden bermain di sayap kanan,dan haris,vino,kiki dan andre menjadi pemain belakang.seharusnya kiki menjadi pemain cadangan,namun hari ini tejo tidak datang,jadi digantikan oleh kiki.mereka pun berlatih dengan sungguh-sungguh.
Setelah selesai latihan pun aldo segera pulang.”do,kamu mandi sana!terus makan malam,nih ibu bikinin sayur bayem!” kata ibunya aldo.”iya,nanti aldo ada coca cola cup bu,aldo ikut ya?”kata aldo.”ga usah,kamu ini udah kelas 3,bentar lagi ujian juga jadi ga usah ikut gitu-gituan..”kata ibu.lalu aldo berkata “ga apa-apa kok bu,ujian kan masih lama,masih 2 bulan lagi..”,”dua bulan lagi itu sebentar lagi aldo!kalau kemarin-kemarin kamu sering belajar sih gak apa-apa,tapi setiap sore main bola dan kalau malem ga pernah belajar tapi malah tidur sih ibu udah pasti ga izinin lah!”kata ibu.”yah bu,kan kejuaraannya cuman 3hari,hadiahnya laptop lagi,sayang banget kalau ga ikut,gimana?..”,”tetep ga ibu izinin..”kata ibu,lalu aldo pun masuk ke kamar mandi,setelah itu ia makan malam dan tidur,kelakuannya masih belum berubah.
“eh fiz,gue ga boleh ikut nih sama ibu gw..”kata aldo.”emang kenapa?”kata hafiz.”katanya gara-gara gue ga pernah belajar..tapi lu jangan bilang pak karto kalau gw ga bisa ikut” “iya,nah elu sih ga pernah belajar!makanya jangan terlalu mikirin bola mulu,lu mesti mikirin belajar juga,udah kelas 3 nih kita!bentar lagi mau UN,hayoo..!?”kata hafiz.lalu aldo pun berkata “bentar lagi pra UN 1 kan?” “iya,emang kenapa?” “gue mau ajak iu gue taruhan,dah ye gue ke kelas dulu,daah..!”,aldo pun pergi ke kelasnya.
Setelah bel pulang berbunyi aldopun langsung pulang ke rumah,saat itu ia tidak ikut main bola dengan anak-anak kecil di dekat rumahnya,biasanya ia tidak pulang dulu,tetapi sekarang ia langsung pulang.”ka ibu ada ga?”kata aldo,lalu reva kakanya aldo pun berkata “ada di dapur,lu ga main bola do?” “engga gw lagi ada kerjaan..” “so sibuk lo!”kata reva,lalu ald langsung pergi ke dapur.”bu aldo ada usul!” “usul apa do?”kata ibu,”gimana kalu nilai pra UN aldo gak ada yang di bawah 8 aldo ikut lomba yang kemarin,gimana?”kata aldo. “ ah kamu ini,mana mungkin setiap malem ga pernah belajar mau nilai di ga ada di bawah 8!ngaco aja kamu ini..!”kata ibu “tapi kalau aldo bisa,aldo boleh ikut kejuaraan itu ya!?” “oke,kalau ga bisa kamu harus ada di rumah jam 5 terus kamu belajar sampai jam 8 malem!gimana?” “aduh lama banget.”kata aldo “jadi gimana,ga jadi nih?” “jadi lah,ga apa-apa!” “oke” kata ibu aldo sambil tersenyum.saat itu ayahnya aldo sedang bertugas di singapura,ayahnya adalah seorang pengusaha restaurant indonesia di singapura.UN akan di mulai dalam 2 hari lagi,aldo pun belajar dengan sungguh-sungguh,setiap sore dan malam ia menghabiskan waktunya untuk belajar.saat ibunya aldo mengintip,aldo selalu sedang belajar.akhirnya muncul perubahan dari aldo,ia mulai sadar bahwa yang palin penting adalah belajar.
Sudah seminggu latihan sepak bola diliburkan,dan sudah 2 minggu setelah aldo dilarang untuk ikut kejuaraan sepak bola,aldo tidak pernah latihan dengan teman-temannya,padahal saat ini ia adalah kapten tim.berkali-kali ia menjadi penentu kemenangan tim dalam liga sepak bola depok U-17,saat ini posisi SMA 7 ada di peringkat 3,SMA 7 masih tertinggal dengan SMA Madania yang ada di puncak klasemen dan SMA 2 yang ada di peringkat 2.mereka adalah 3 papan atas liga depok.
2 hari telah berlalu,sudah 2 hari pula aldo full belajar.saat Pra UN ia mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh dan hasilnya sangat baik,aldo menjadi siswa terbaik dalam pra UN ini,ia mendapatkan nilai 9 dan ia tidak mendapatkan nilai yang di bawah 8.saat aldo pulang ia memperlihatkan hasil pekerjaannya kepada keluarganya,ayahnya yang baru saja pulang dari singapura bangga melihat anaknya mendapatkan nilai yang terbaik,”bagus aldo,kamu memang hebat.!”kata ayah “iya makasih yah..!”kata aldo,lalu aldo berbicara pada ibunya “gimana bu?” “karena hasilnya seperti ini jadi kamu boleh ikut kejuaraan itu,tetapi setelah kejuaraan kamu harus lebih giat belajar!” “oke deh bu!” lalu setelah itu aldo pun pergi ke kamarnya dan segera tidur.
Keesokan harinya ia ikut berlatih dengan teman-temannya,”bagus aldo sekarang kamu sudah bisa latihan lagi” loh,jadi bapak tau saya ga bisa ikt latihan kenapa?” “iya,makanya kamu harus lebih giat belajarnya!” “iya pak,bapak tau dari hafiz ya?” “haha engga,bapak nanya ke ibu kamu.” “oh,gitu”.setelah itu aldo dan teman-temannya memulai latihan.
Sudah 1 bulan aldo dan teman-temannya menyiapkan diri,dan sekarang mereka semua sudah siap.mereka berangkat ke stadion utama gelora bung karno dengan penuh semangat!di pertandingan pertama sampai ke tiga tim SMA 7 selalu menang,mereka lolos dari fase grup,dengan nilai penuh.
Di per delapan final tim SMA 7 menang telak dengan skor cukup emuaskan 5-1.di pertandingan selanjutnya perempat final tim SMA 7 lagi-lagi di selamatkan aldo oleh gol tunggalnya,mereka menang dengan skor 1-0.mereka melaju ke babak semi final.
Di semi final mereka bertemu dengan villa2000,mereka menang 2-1.dan mereka pun masuk final bertemu dengan jawara dari jakarta,SSI arsenal.mereka menurunkan pemai regulernya.pertandingan sempat berlangsung sengit,di akhir babak pertama striker SSI mencetak gol,skor berubah 1-0. Setelah itu di menit 70 hafidz memberikan umpan crossing pada abdul dan ia mngubahnya enjadi gol,lalu tidak lama setelah itu aldo pun mencetak gol,da di akhir babak ke dua sandy mencetak gol.skor akhir berakhir dengan kemenangan untuk SMA 7.dan kami pun mendapatkan piala serta laptop untuk masing-masing peserta lomba tersebut.
Setelah kejuaraan itu aldo makin giat belajar.dan ia sudah siap untuk ikut ujian nasional,setelah 1 bulan aldo pun ikut ujian nasional.dan di akhit bulan mei aldo dan teman-temannya lulus dari SMA 7.
~SELESAI ~
Setelah selesai sholat aldo pun pamit kepada ibunya,”bu,aldo pergi main bola dulu ya?”,lalu ibunya berkata “iya,udah sholat belum?”,”udah kok” kata aldo,lalu ibunya berkata “ya sudah hati-hati ya!”.lalu saat itupun aldo pergi ke taman tempat ia dan teman-temannya main bola,aldo main bola dengan anak-anak kecil di tempat tinggalnya,mereka bermain bola sampai sebelum maghrib.Lalu di malam harinya aldo pun tertidur karena kelelahan,ia lupa dengan belajar..
”do,kemarin nonton persija ga?”kata abdul,dia adalah teman aldo “seorang the jak mania”.”engga,kemarin gue pergi ke jakarta,ada undangan.”kata aldo.”ih gila aliyudin jago banget!”.lalu aldo berkata “emang jagonya gimana?”,”iya,dia golin 2,pokoknya keren deh!”kata abdul.lalu aldo berkata ”ah masih kerenan ronaldo lagi..hahaha!”.”ah,elu mah ronaldo mulu..” ”iya donk,secara gitu ronaldo kalau ronnya di ilangin jadi aldo,hahaha..”kata aldo.”ah dasar..”.lalu mereka berduapun masuk ke kelas.lalu di kelas ada tomo dan tejo.”do,ntar lu latihan ga?”kata tomo.”iyalah,lu ma tejo latihan ga?” kata aldo.lalu tejopun berkata “gue ga bisa do soalnnya mobil gw harus di bawa ke bengkel,emang edan tuh mobil..!”.”ya udah ga apa-apa nanti gw bilangin pak karto..lu latihan kan mo?”kata aldo.lalu tomopun berkata”iya gue nanti latihan..” lalu setelah itu bel istirahat pun berbunyi,mereka ber empat masuk ke kelas.mereka ber empat adalah teman sekelas.
“teng-teng” Bel pulang pun berbunyi,para anggota tim sepak bola SMA 7 depok pun langsung memulai berlatih.setelah semuanya berkumpul pak karto memberikan informasi.”selamat sore anak-anak..” kata pak karto,dia adalah pelatih tim SMA 7.lalu anak-anak SMA 7 pun berkata “sore pak..”.”anak-anak,nati 2 minggu lagi kita akan ikut “coca cola soccer cup” pertandingannya akan di gelar 1 bualn lagi di stadion utama gelora bung karno.gimana pada mau ikut ga?” kata pak karto.”hadiahnnya apaan pa?”kata abdul,”hadiahnnya laptop buat masing-masing anak..”kata pa karto.”oke deh ikut!”kata anak-anak.”ya sudah,sekarang mulai pemanasan!”kata pak karto.”bentar pa,si tejo mobilnya rusak,dia harus ke bengkel hari ini..!”kata aldo,”ya sudah ga apa-apa..”Lalu anak-anak pun mulai pemanasan.saat bermain game,mereka melakukan formasi seperti biasa,aldo bermain di sayap kiri,lalu abdul menjadi striker dibantu oleh sandy.hafiz dan bima main di gelandang,lalu deden bermain di sayap kanan,dan haris,vino,kiki dan andre menjadi pemain belakang.seharusnya kiki menjadi pemain cadangan,namun hari ini tejo tidak datang,jadi digantikan oleh kiki.mereka pun berlatih dengan sungguh-sungguh.
Setelah selesai latihan pun aldo segera pulang.”do,kamu mandi sana!terus makan malam,nih ibu bikinin sayur bayem!” kata ibunya aldo.”iya,nanti aldo ada coca cola cup bu,aldo ikut ya?”kata aldo.”ga usah,kamu ini udah kelas 3,bentar lagi ujian juga jadi ga usah ikut gitu-gituan..”kata ibu.lalu aldo berkata “ga apa-apa kok bu,ujian kan masih lama,masih 2 bulan lagi..”,”dua bulan lagi itu sebentar lagi aldo!kalau kemarin-kemarin kamu sering belajar sih gak apa-apa,tapi setiap sore main bola dan kalau malem ga pernah belajar tapi malah tidur sih ibu udah pasti ga izinin lah!”kata ibu.”yah bu,kan kejuaraannya cuman 3hari,hadiahnya laptop lagi,sayang banget kalau ga ikut,gimana?..”,”tetep ga ibu izinin..”kata ibu,lalu aldo pun masuk ke kamar mandi,setelah itu ia makan malam dan tidur,kelakuannya masih belum berubah.
“eh fiz,gue ga boleh ikut nih sama ibu gw..”kata aldo.”emang kenapa?”kata hafiz.”katanya gara-gara gue ga pernah belajar..tapi lu jangan bilang pak karto kalau gw ga bisa ikut” “iya,nah elu sih ga pernah belajar!makanya jangan terlalu mikirin bola mulu,lu mesti mikirin belajar juga,udah kelas 3 nih kita!bentar lagi mau UN,hayoo..!?”kata hafiz.lalu aldo pun berkata “bentar lagi pra UN 1 kan?” “iya,emang kenapa?” “gue mau ajak iu gue taruhan,dah ye gue ke kelas dulu,daah..!”,aldo pun pergi ke kelasnya.
Setelah bel pulang berbunyi aldopun langsung pulang ke rumah,saat itu ia tidak ikut main bola dengan anak-anak kecil di dekat rumahnya,biasanya ia tidak pulang dulu,tetapi sekarang ia langsung pulang.”ka ibu ada ga?”kata aldo,lalu reva kakanya aldo pun berkata “ada di dapur,lu ga main bola do?” “engga gw lagi ada kerjaan..” “so sibuk lo!”kata reva,lalu ald langsung pergi ke dapur.”bu aldo ada usul!” “usul apa do?”kata ibu,”gimana kalu nilai pra UN aldo gak ada yang di bawah 8 aldo ikut lomba yang kemarin,gimana?”kata aldo. “ ah kamu ini,mana mungkin setiap malem ga pernah belajar mau nilai di ga ada di bawah 8!ngaco aja kamu ini..!”kata ibu “tapi kalau aldo bisa,aldo boleh ikut kejuaraan itu ya!?” “oke,kalau ga bisa kamu harus ada di rumah jam 5 terus kamu belajar sampai jam 8 malem!gimana?” “aduh lama banget.”kata aldo “jadi gimana,ga jadi nih?” “jadi lah,ga apa-apa!” “oke” kata ibu aldo sambil tersenyum.saat itu ayahnya aldo sedang bertugas di singapura,ayahnya adalah seorang pengusaha restaurant indonesia di singapura.UN akan di mulai dalam 2 hari lagi,aldo pun belajar dengan sungguh-sungguh,setiap sore dan malam ia menghabiskan waktunya untuk belajar.saat ibunya aldo mengintip,aldo selalu sedang belajar.akhirnya muncul perubahan dari aldo,ia mulai sadar bahwa yang palin penting adalah belajar.
Sudah seminggu latihan sepak bola diliburkan,dan sudah 2 minggu setelah aldo dilarang untuk ikut kejuaraan sepak bola,aldo tidak pernah latihan dengan teman-temannya,padahal saat ini ia adalah kapten tim.berkali-kali ia menjadi penentu kemenangan tim dalam liga sepak bola depok U-17,saat ini posisi SMA 7 ada di peringkat 3,SMA 7 masih tertinggal dengan SMA Madania yang ada di puncak klasemen dan SMA 2 yang ada di peringkat 2.mereka adalah 3 papan atas liga depok.
2 hari telah berlalu,sudah 2 hari pula aldo full belajar.saat Pra UN ia mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh dan hasilnya sangat baik,aldo menjadi siswa terbaik dalam pra UN ini,ia mendapatkan nilai 9 dan ia tidak mendapatkan nilai yang di bawah 8.saat aldo pulang ia memperlihatkan hasil pekerjaannya kepada keluarganya,ayahnya yang baru saja pulang dari singapura bangga melihat anaknya mendapatkan nilai yang terbaik,”bagus aldo,kamu memang hebat.!”kata ayah “iya makasih yah..!”kata aldo,lalu aldo berbicara pada ibunya “gimana bu?” “karena hasilnya seperti ini jadi kamu boleh ikut kejuaraan itu,tetapi setelah kejuaraan kamu harus lebih giat belajar!” “oke deh bu!” lalu setelah itu aldo pun pergi ke kamarnya dan segera tidur.
Keesokan harinya ia ikut berlatih dengan teman-temannya,”bagus aldo sekarang kamu sudah bisa latihan lagi” loh,jadi bapak tau saya ga bisa ikt latihan kenapa?” “iya,makanya kamu harus lebih giat belajarnya!” “iya pak,bapak tau dari hafiz ya?” “haha engga,bapak nanya ke ibu kamu.” “oh,gitu”.setelah itu aldo dan teman-temannya memulai latihan.
Sudah 1 bulan aldo dan teman-temannya menyiapkan diri,dan sekarang mereka semua sudah siap.mereka berangkat ke stadion utama gelora bung karno dengan penuh semangat!di pertandingan pertama sampai ke tiga tim SMA 7 selalu menang,mereka lolos dari fase grup,dengan nilai penuh.
Di per delapan final tim SMA 7 menang telak dengan skor cukup emuaskan 5-1.di pertandingan selanjutnya perempat final tim SMA 7 lagi-lagi di selamatkan aldo oleh gol tunggalnya,mereka menang dengan skor 1-0.mereka melaju ke babak semi final.
Di semi final mereka bertemu dengan villa2000,mereka menang 2-1.dan mereka pun masuk final bertemu dengan jawara dari jakarta,SSI arsenal.mereka menurunkan pemai regulernya.pertandingan sempat berlangsung sengit,di akhir babak pertama striker SSI mencetak gol,skor berubah 1-0. Setelah itu di menit 70 hafidz memberikan umpan crossing pada abdul dan ia mngubahnya enjadi gol,lalu tidak lama setelah itu aldo pun mencetak gol,da di akhir babak ke dua sandy mencetak gol.skor akhir berakhir dengan kemenangan untuk SMA 7.dan kami pun mendapatkan piala serta laptop untuk masing-masing peserta lomba tersebut.
Setelah kejuaraan itu aldo makin giat belajar.dan ia sudah siap untuk ikut ujian nasional,setelah 1 bulan aldo pun ikut ujian nasional.dan di akhit bulan mei aldo dan teman-temannya lulus dari SMA 7.
~SELESAI ~
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Gara–gara Kecelakaan by Amanda Audira Wirinhayu
Gara – gara Kecelakaan Gedubbrraakk!! Andi terjatuh dari sepeda motornya saat menbrak 2 orang bertampang sangar di tikungan dekat rumahnya. “Woi hati-hati dong lo kalo naik motor!”,omel si pengendara motor yang ditbrak oleh Andi. “Mmaaff bbaanng,saya ga sengaja”, kata Andi dengan wajah ketakutan. “Lo kalo ga bias naek motor,ga usah naek motor!”, omel yang diboncengi mengomeli Andi. “Mmaaff sekali lagi bang,saya ga sengaja”,kata Andi lagi. “Awas lo kalo ktemu lagi ma kita berdua!”, kata si pengendara galak sambil mendirikan motornya. Saat ingin pulang, Andi melihat sebuah dompet terjatuh,”punya tu orang kali ni”, kata Andi bergumam sendiri. Ia berniat membawa dompet itu ke kantor polisi besok setelah pulang sekolah. Setelah sampai rumah dan mandi, ia teringat untuk belajar karena besok ada ulangan Matematika. Setelah jenuh belajar, Andi langsung tidur karena lelah belajar Matematika. Esok paginya, tepatnya saat ia mau berangkat ke sekolah, sekilas ia melihat ayahnya sedang membaca Koran, dan ia juga melihat kedua foto orang yang di tabraknya kemarin. “Tu orang dua kan yang gue tabrak kemaren”, kata Andi. Saat ulangan Matematika sedang berlangsung, ia tidak dapat berkonsentrasi dengan ulangan yang dihadapinya. “Knapa lo Ndi?”, tanya Riko bingung. “Ntar aja gue jelasin di rumah gue, lo mau kerumah gue ga?ntar pas pulang sekolah?”, tanya Andi pada Riko. “Boleh tu Ndi, ntar abis pulang sekolah gue kerumah lo”, kata Riko. Sehabis pulang sekolah, mereka berdua langsung pergi kerumah Andi. Saat sampai dirumah Andi, Riko bertanya, knapa sih Ndi?”, tanya Riko penasaran.
“Lo samain ni foto di KTP ma yang di koran”, kata Andi sambil menyerahkan KTP dan koran yang tadi pagi dibaca oleh ayahnya.” Ko mirip sih Ndi?”, tanya Riko takjub. “ Emang itu orangnya bego!” kata Andi setengah emosi. “Lo dapet ni dompet dari mana Ndi?”, Tanya Riko,”gue dapet kemaren,pas kecelakaan”, kata Andi menjelaskan. “Ko,lo mau temenin gue ke kantor polisi ga?”, tanya Andi. “Boleh tu Ndi, tapi gue dapet komisi ye?”, tanya Riko sambil tersenyum.” Komisi apaan Ko?”, tanya Andi bingung.” Lo baca tulisannya yang lengkap deh”, kata Riko sambil menunjuk tulisan di bawah berita itu.” Bagi yang dapat memberikan informasi penting tentang para perampok itu akan diberi imbalan sebesar Rp.500.000,00”, baca Andi sambil tersenyum penuh arti. “ Gue minta setengah ya Ndi”, kata Riko,”ga, lo dapet 10%”, kata Andi kalem.” 20% lah Ndi”, kata Riko lagi,” 10%, ambil apa engga?”, tanya Andi santai.” Dikit amat Ndi, emang duitnya buat apaan lo?”, tanya Riko.” Buat ama cewe gue lah!”, kata Andi dengan santai. Tiba- tiba HP Andi berbunyi tanda ada yang melepon, ”Ndi, kamu mau temenin aku ke mall ga? aku mau beli kado buat kakak aku”, kata pacarnya Andi lewat telepon,” yaudah, nanti aku jemput”, kata Andi sambil tersenyum. “
Yaudah, tapi nanti kamu jemput yah?”, tanya pacar Andi lagi,”ya, nanti aku jemput”, kata Andi sambil ingin menutup telponnya. “Dari cewe lo Ndi?”, tanya Riko,” yoa”, jawab Andi santai.” Ayo Ko cepet, kasian cewe gue nunggu”, kata Andi sambil menyalakan motornya. Sesampainya di kantor polisi, Andi mengutarakan maksudnya,”siang pak”, sapa Andi.” Siang juga dik,ada perlu apa ya adik dating kemari?”, tanya opsir polisi dengan ramah.” Ini pak, saya mau memberikan informasi tentang si perampok bank pak”, kata Andi.” Informasi apa dik?”, tanya si opsir polisi.” Ini pak”, kata Andi sambil menyerahkan dompet si perampok yang di tabraknya kemarin.” Dapat dari mana ini dik?”, tanya opsir polisi heran dan takjub.” Saya dapat kemarin pak, setelah tabrakan saya kemarin dengan perampok itu pak”, kata Andi menjelaskan.” Adik beruntung sekali, hanya kecelakaan kecil saja berhasil mendapatkan informasi tentang perampok ini”, kata opsir polisi sambil tersenyum. “Cuma gara- gara kecelakaan dapat uang Rp.500.000,00”, kata opsir polisi lagi.” Rezeki saya kali pak”, kata Andi sambil tersenyum,” kelas berapa dik?”, tanya opsir polisi lagi.” “Saya kelas XI pak”, kat Andi.” Ooohh”, kata opsir polisi sambil menuliskan sesuatu di selembar cek.” Serahkan ini di bank depan jalan sana, dan adik akan mendapatkan imbalan atas informasi adik yang sangat penting ini”, kata opsir polisi lagi.” terima kasih banyak pak”, kata Andi sambil tersenyum, “ sama-sama dik”, kata opsir polisi.” Ayo Ko cepet, kasian cewe gue nunggu kelamaan”, kata Andi sambil menyalakan sepeda motornya. Setelah mengambil uang hadiah dan membagi 10%-nya kepada Riko, Andi langsung pergi kerumah pacarnya dengan senang.” Udah punya cewe, gue ditinggalin”, kata Riko kecil. Esoknya, tepatnya disurat kabar yang sama,” misteri detail si perampok bank terungkap berkat kecelakaan yang dialami oleh seorang anak SMA”, baca Andi sambil tersenyum.” Memang benar gara-gara kecelakaan gue dapet rezeki nomplok”, kata Andi pelan tapi dengan tersenyum.
“Lo samain ni foto di KTP ma yang di koran”, kata Andi sambil menyerahkan KTP dan koran yang tadi pagi dibaca oleh ayahnya.” Ko mirip sih Ndi?”, tanya Riko takjub. “ Emang itu orangnya bego!” kata Andi setengah emosi. “Lo dapet ni dompet dari mana Ndi?”, Tanya Riko,”gue dapet kemaren,pas kecelakaan”, kata Andi menjelaskan. “Ko,lo mau temenin gue ke kantor polisi ga?”, tanya Andi. “Boleh tu Ndi, tapi gue dapet komisi ye?”, tanya Riko sambil tersenyum.” Komisi apaan Ko?”, tanya Andi bingung.” Lo baca tulisannya yang lengkap deh”, kata Riko sambil menunjuk tulisan di bawah berita itu.” Bagi yang dapat memberikan informasi penting tentang para perampok itu akan diberi imbalan sebesar Rp.500.000,00”, baca Andi sambil tersenyum penuh arti. “ Gue minta setengah ya Ndi”, kata Riko,”ga, lo dapet 10%”, kata Andi kalem.” 20% lah Ndi”, kata Riko lagi,” 10%, ambil apa engga?”, tanya Andi santai.” Dikit amat Ndi, emang duitnya buat apaan lo?”, tanya Riko.” Buat ama cewe gue lah!”, kata Andi dengan santai. Tiba- tiba HP Andi berbunyi tanda ada yang melepon, ”Ndi, kamu mau temenin aku ke mall ga? aku mau beli kado buat kakak aku”, kata pacarnya Andi lewat telepon,” yaudah, nanti aku jemput”, kata Andi sambil tersenyum. “
Yaudah, tapi nanti kamu jemput yah?”, tanya pacar Andi lagi,”ya, nanti aku jemput”, kata Andi sambil ingin menutup telponnya. “Dari cewe lo Ndi?”, tanya Riko,” yoa”, jawab Andi santai.” Ayo Ko cepet, kasian cewe gue nunggu”, kata Andi sambil menyalakan motornya. Sesampainya di kantor polisi, Andi mengutarakan maksudnya,”siang pak”, sapa Andi.” Siang juga dik,ada perlu apa ya adik dating kemari?”, tanya opsir polisi dengan ramah.” Ini pak, saya mau memberikan informasi tentang si perampok bank pak”, kata Andi.” Informasi apa dik?”, tanya si opsir polisi.” Ini pak”, kata Andi sambil menyerahkan dompet si perampok yang di tabraknya kemarin.” Dapat dari mana ini dik?”, tanya opsir polisi heran dan takjub.” Saya dapat kemarin pak, setelah tabrakan saya kemarin dengan perampok itu pak”, kata Andi menjelaskan.” Adik beruntung sekali, hanya kecelakaan kecil saja berhasil mendapatkan informasi tentang perampok ini”, kata opsir polisi sambil tersenyum. “Cuma gara- gara kecelakaan dapat uang Rp.500.000,00”, kata opsir polisi lagi.” Rezeki saya kali pak”, kata Andi sambil tersenyum,” kelas berapa dik?”, tanya opsir polisi lagi.” “Saya kelas XI pak”, kat Andi.” Ooohh”, kata opsir polisi sambil menuliskan sesuatu di selembar cek.” Serahkan ini di bank depan jalan sana, dan adik akan mendapatkan imbalan atas informasi adik yang sangat penting ini”, kata opsir polisi lagi.” terima kasih banyak pak”, kata Andi sambil tersenyum, “ sama-sama dik”, kata opsir polisi.” Ayo Ko cepet, kasian cewe gue nunggu kelamaan”, kata Andi sambil menyalakan sepeda motornya. Setelah mengambil uang hadiah dan membagi 10%-nya kepada Riko, Andi langsung pergi kerumah pacarnya dengan senang.” Udah punya cewe, gue ditinggalin”, kata Riko kecil. Esoknya, tepatnya disurat kabar yang sama,” misteri detail si perampok bank terungkap berkat kecelakaan yang dialami oleh seorang anak SMA”, baca Andi sambil tersenyum.” Memang benar gara-gara kecelakaan gue dapet rezeki nomplok”, kata Andi pelan tapi dengan tersenyum.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Rabu, 21 Oktober 2009
Karma... by Jesi Ayu Puspita Ningrum
Dari kelas 7 aku mempunyai 3 orang sahabat yang sangat baik yaitu Ririn, Annita ,dan Faiz. Kemana-mana kita selalu bersama-sama,pulang ke rumah pun selalu bersama-sama. Dan kalau ada masalah kita selalu menyelesaikanya bersama dan secara baik-baik.
Sewaktu aku naik ke kelas 8 kita semua tidak sekelas lagi, aku dikelas 8.1 ,faiz dikelas 8.4 ,ririn dan anita dikelas 8.3. Waktu itu hubungan kita masih sangat baik sekali. Lama kelamaan mereka menjauh dari aku. Aku pun sangat bingung mengapa mereka seperti itu kepada aku. Dan mereka pun tidak mau lagi pulang bareng denganku. Karena masalah yang tidak jelas itu, aku berteman dengan teman-teman kelasku saja. Setiap aku bertemu mereka di sekolah tampang mereka itu sangat jutek sekali dan sombong kepadaku.
Aku sempat merenung, punya salah apa yah aku ,sama mereka ?. Sampai-sampai mereka tiba-tiba berubah dan menjauhi aku . Dan aku pun sangat bingung sekali saat itu.
Sewaktu bel istirahat berbunyi, aku bertemu dengan ririn dan annita, “ Lo …semua tuh kenapa sih jadi berubah banget ma gw…?“.tanyaku.
“oh …ya … !, mereka serentak menjawab.
“ga ..ah biasa aja …perasaan lo aja kali,“sembari tertawa.
“ga mungkin banget tau ga kalo lo semua tuh ga ada apa-apaan” kataku.
Mereka menjawab.” eh,lo sotoi banget sih kaya dukun dah tau ga ada apa-apaan malah ga percaya ma kita.”
“tapii emang bener kan ..?, lo tolong jujur donk ma gw.”
Please …“
“piker aja sendiri ,punya otakkan?
“taaaapp … , halah ga usah banyak mulut lo.“
Sebelum aku menyelesaikan pembicaraan mereka memotong pembicaraan aku itu . Dan mereka langsung pergi meninggalkan aku.
Di pertengahan semester tiba-tiba hubungan aku dengan sahabatku itu mulai membaik.
Dan aku pun pulang bareng lagi dengan mereka seperti dulu .
Saat pulang dari sekolah ,”Rin … , aku memanggilnya kenapah jes ..?, jawab ririn.
“mmm …gw mau main kerumah lo yah? boleh kan?
dah lama ga ke rumah lo nih ..?
Ternyata annita mendengar pembicaraan aku dan ririn.
“ ehhh …ehh .. sombong banget ga ngajak-ngajak tuan putri," kata annita.
Aku dan ririn pun tertawa terbahak-bahak karena mendengar omongannya tadi. Kita pun sepakat untuk bermain kerumah ririn. Tetapi faiz tidak ikut, alasannya sudah sore.
Saat diperjalan kerumah ririn ,ririn dan annita bercerita mengapa mereka tiba-tiba menjauhi aku.
“kata faiz ..” udah ngapain sih… kita temenan ma jesi lagi,” dia kan udah punya temen baru dan dia juga udah punya cowok kan ! “jadi ngapain kita deket ma dia lagi.“
cerita annita.
“Padahal, gw ma ririn masih mau nungguin lo untuk pulang bareng jes .. “, sembari bicara dengan ku.
tapi kata faiz “yaelah …penting yah nungguin dia ?, dah tinggalin aja..!”
Gw ma ririn ,ikut aja deh apa kata dia , cerita annita.
Setelah tau ternyata faiz seperti itu, aku sangat kaget sekali . Aku ga nyangka aja bisa sejahat itu sama aku. Padahal aku sering menolong dan membantu dia setiap ada masalah dengan keluarga ataupun dengan cowoknya.! “ maafin …kita yah jes ,please !,
“Waktu itu, mungkin kita ga sadar dan ga tau siapa yang bener-bener sahabat ..”
“ maafin kita, yah …yah … “ kata mereka sambil memohon .
“ iyahh … tenang aja gw dah maafin kalian dari kapan tau kali," kataku sembari tertawa.
Semenjak kejadian dan masalah itu, aku, ririn, dan annita pun putus hubungan dengan faiz sampai terakhir kelas 8.
Sempat kita berkomunikasi, tapi itu hanya sekedar mengobrol biasa saja , dan itu pun sangat singkat sekali.
Aku, ririn, dan annita pun sadar bahwa sahabat itu adalah seseorang yang bisa mengetahui saat kita merasa kesepian, kesusahan ,bahkan membutuhkan seseorang sebagai tempat curahan hati kita.
Dan seorang sahabat rela melakukan apa saja asalkan sahabatnya itu bisa senang dan bahagia.
Dan yang terpenting seorang sahabat itu tidak memandang/menilai seseorang dari sifat luarnya saja, tetapi seorang sahabat menilai seseorang itu setelah tau bagaimana sifat sebenarnya orang tersebut ***
Sewaktu aku naik ke kelas 8 kita semua tidak sekelas lagi, aku dikelas 8.1 ,faiz dikelas 8.4 ,ririn dan anita dikelas 8.3. Waktu itu hubungan kita masih sangat baik sekali. Lama kelamaan mereka menjauh dari aku. Aku pun sangat bingung mengapa mereka seperti itu kepada aku. Dan mereka pun tidak mau lagi pulang bareng denganku. Karena masalah yang tidak jelas itu, aku berteman dengan teman-teman kelasku saja. Setiap aku bertemu mereka di sekolah tampang mereka itu sangat jutek sekali dan sombong kepadaku.
Aku sempat merenung, punya salah apa yah aku ,sama mereka ?. Sampai-sampai mereka tiba-tiba berubah dan menjauhi aku . Dan aku pun sangat bingung sekali saat itu.
Sewaktu bel istirahat berbunyi, aku bertemu dengan ririn dan annita, “ Lo …semua tuh kenapa sih jadi berubah banget ma gw…?“.tanyaku.
“oh …ya … !, mereka serentak menjawab.
“ga ..ah biasa aja …perasaan lo aja kali,“sembari tertawa.
“ga mungkin banget tau ga kalo lo semua tuh ga ada apa-apaan” kataku.
Mereka menjawab.” eh,lo sotoi banget sih kaya dukun dah tau ga ada apa-apaan malah ga percaya ma kita.”
“tapii emang bener kan ..?, lo tolong jujur donk ma gw.”
Please …“
“piker aja sendiri ,punya otakkan?
“taaaapp … , halah ga usah banyak mulut lo.“
Sebelum aku menyelesaikan pembicaraan mereka memotong pembicaraan aku itu . Dan mereka langsung pergi meninggalkan aku.
Di pertengahan semester tiba-tiba hubungan aku dengan sahabatku itu mulai membaik.
Dan aku pun pulang bareng lagi dengan mereka seperti dulu .
Saat pulang dari sekolah ,”Rin … , aku memanggilnya kenapah jes ..?, jawab ririn.
“mmm …gw mau main kerumah lo yah? boleh kan?
dah lama ga ke rumah lo nih ..?
Ternyata annita mendengar pembicaraan aku dan ririn.
“ ehhh …ehh .. sombong banget ga ngajak-ngajak tuan putri," kata annita.
Aku dan ririn pun tertawa terbahak-bahak karena mendengar omongannya tadi. Kita pun sepakat untuk bermain kerumah ririn. Tetapi faiz tidak ikut, alasannya sudah sore.
Saat diperjalan kerumah ririn ,ririn dan annita bercerita mengapa mereka tiba-tiba menjauhi aku.
“kata faiz ..” udah ngapain sih… kita temenan ma jesi lagi,” dia kan udah punya temen baru dan dia juga udah punya cowok kan ! “jadi ngapain kita deket ma dia lagi.“
cerita annita.
“Padahal, gw ma ririn masih mau nungguin lo untuk pulang bareng jes .. “, sembari bicara dengan ku.
tapi kata faiz “yaelah …penting yah nungguin dia ?, dah tinggalin aja..!”
Gw ma ririn ,ikut aja deh apa kata dia , cerita annita.
Setelah tau ternyata faiz seperti itu, aku sangat kaget sekali . Aku ga nyangka aja bisa sejahat itu sama aku. Padahal aku sering menolong dan membantu dia setiap ada masalah dengan keluarga ataupun dengan cowoknya.! “ maafin …kita yah jes ,please !,
“Waktu itu, mungkin kita ga sadar dan ga tau siapa yang bener-bener sahabat ..”
“ maafin kita, yah …yah … “ kata mereka sambil memohon .
“ iyahh … tenang aja gw dah maafin kalian dari kapan tau kali," kataku sembari tertawa.
Semenjak kejadian dan masalah itu, aku, ririn, dan annita pun putus hubungan dengan faiz sampai terakhir kelas 8.
Sempat kita berkomunikasi, tapi itu hanya sekedar mengobrol biasa saja , dan itu pun sangat singkat sekali.
Aku, ririn, dan annita pun sadar bahwa sahabat itu adalah seseorang yang bisa mengetahui saat kita merasa kesepian, kesusahan ,bahkan membutuhkan seseorang sebagai tempat curahan hati kita.
Dan seorang sahabat rela melakukan apa saja asalkan sahabatnya itu bisa senang dan bahagia.
Dan yang terpenting seorang sahabat itu tidak memandang/menilai seseorang dari sifat luarnya saja, tetapi seorang sahabat menilai seseorang itu setelah tau bagaimana sifat sebenarnya orang tersebut ***
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Piano Kematian by Nur Amany Burhan
Kuberjalan menuju tempat yang paling kusukai didunia,sekaligus tempat yang pernah menjadi TKP kasus pembunuhan,tempat les piano. Ya… tempat les piano tempat aku belajar piano memang pernah terjadi kasus pembunuhan.
Pembunuhan itu berawal pada tahun 2007. Korban pembunuhan itu adalah guru les ku yang bernama Andi Moreno,beliau ditemukan sudah tidak bernyawa di ruangannya .Saat itu beliau sedang memainkan lagu yang setiap pagi hari beliau mainkan yaitu piano kematian,lagu itu beliau ciptakan sendiri,lagu yang betul-betul sangat indah, walaupun judulnya sendiri menyeramkan.
Kak Andi begitulah aku memanggilnya, beliau masih muda,baik,tampan pula,tetapi sayang beliau mati muda. Setahun sudah ku melewati TKP pembunuhan itu. Aku sering menyebut ruangan itu “Ruang piano kematian”, bisa dipikirkan sendiri aku menyebutnya begitu.
Sewaktu aku mengetahui siapa yang membunuh kak Andi, aku betul-betul terkejut begitu pun semua orang yang mengetahuinya, betapa benar-benar tidak diduga dan disangka,yang membunuh kak Andi adalah kekasihnya sendiri,yang bernama Serenia Merani atau biasa kupanggil kak Nia.
Kak Nia menjelaskan kepada polisi mengapa dia membunuh kekasihnya itu. Setelah ku dengar-dengar dari bu Riska ibu dari tersangka ,benar-benar tragis alasan yang dibuatnya.Sebenarnya sebelum kak Nia menjadi kekasih korban,dia mempunyai kekasih bernama Toni, dia adalah mantan guru ditempat les ini, sebelum dia meninggal karena bunuh diri.
Pada saat itu kak Toni akan mengikuti perlombaan pemain piano seluruh Indonesia. Saat hari pertandingan dia tak sengaja meninggalkan catatan notasi lagu, yang akan dimainkannya diruangan lesnya, karena begitu terburu-buru dia pun tertabrak mobil hingga mengakibatkan jarinya patah, karena hal itu dia pun tidak bisa mengikuti perlombaan itu.
Setelah hal itu terjadi, dia begitu putus asa karenanya,lalu dia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dehgan bunuh diri. Sang kekasih betul-betul terkejut akan hal yang dilakukannya itu. Saat kak Nia sedang dirundung duka, akibat kepergian kekasihnya itu, kak Andi pun datang menghibur sehingga hati kak Nia pun luluh dibuatnya.
Perasaan cinta yang selama ini kak Nia tunjukkan kepada kak Andi. Berubah begitu saja, saat dia mengetahui bahwa yang menyembunyikan catatan notasi yang dibutuhkan kak Toni untuk pertandingan, adalah kak Andi sendiri. Kak Nia mendengar pernyataan itu dari mulut nya.
Kak Nia mendengar pernyataan tersebut, ketika kak Andi berbicara sambil menangis kepada bu Rina,pemilik tempat les piano ini. Beliau sangat menyesalkan perbuatannya itu. Saat itu beliau memang iri dengan keberhasilan kak Toni. Beliau menganggap bahwa dia adalah orang yang paling beruntung didunia,selain berhasil dalam pekerjaan sebagai pianis,dia juga telah berhasil merebut hati orang yang paling dicintainya. Setelah mendengar hal itu, tersirat dalam pikiran kak Nia untuk membalaskan dendam kekasih lamanya, dengan cara membunuh. Betapa sadis caranya membunuh sang korban, dia menancapkan pisau ke punggungnya, saat beliau sedang bermain piano.
Karena pembunuhan itu pun dia dihukum penjara selama beberapa tahun lamanya. Sungguh tragis kisah ketiga orang tersebut, dan mungkin ini adalah kisah yang tidak akan kulupakan seumur hidupku.
Pembunuhan itu berawal pada tahun 2007. Korban pembunuhan itu adalah guru les ku yang bernama Andi Moreno,beliau ditemukan sudah tidak bernyawa di ruangannya .Saat itu beliau sedang memainkan lagu yang setiap pagi hari beliau mainkan yaitu piano kematian,lagu itu beliau ciptakan sendiri,lagu yang betul-betul sangat indah, walaupun judulnya sendiri menyeramkan.
Kak Andi begitulah aku memanggilnya, beliau masih muda,baik,tampan pula,tetapi sayang beliau mati muda. Setahun sudah ku melewati TKP pembunuhan itu. Aku sering menyebut ruangan itu “Ruang piano kematian”, bisa dipikirkan sendiri aku menyebutnya begitu.
Sewaktu aku mengetahui siapa yang membunuh kak Andi, aku betul-betul terkejut begitu pun semua orang yang mengetahuinya, betapa benar-benar tidak diduga dan disangka,yang membunuh kak Andi adalah kekasihnya sendiri,yang bernama Serenia Merani atau biasa kupanggil kak Nia.
Kak Nia menjelaskan kepada polisi mengapa dia membunuh kekasihnya itu. Setelah ku dengar-dengar dari bu Riska ibu dari tersangka ,benar-benar tragis alasan yang dibuatnya.Sebenarnya sebelum kak Nia menjadi kekasih korban,dia mempunyai kekasih bernama Toni, dia adalah mantan guru ditempat les ini, sebelum dia meninggal karena bunuh diri.
Pada saat itu kak Toni akan mengikuti perlombaan pemain piano seluruh Indonesia. Saat hari pertandingan dia tak sengaja meninggalkan catatan notasi lagu, yang akan dimainkannya diruangan lesnya, karena begitu terburu-buru dia pun tertabrak mobil hingga mengakibatkan jarinya patah, karena hal itu dia pun tidak bisa mengikuti perlombaan itu.
Setelah hal itu terjadi, dia begitu putus asa karenanya,lalu dia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dehgan bunuh diri. Sang kekasih betul-betul terkejut akan hal yang dilakukannya itu. Saat kak Nia sedang dirundung duka, akibat kepergian kekasihnya itu, kak Andi pun datang menghibur sehingga hati kak Nia pun luluh dibuatnya.
Perasaan cinta yang selama ini kak Nia tunjukkan kepada kak Andi. Berubah begitu saja, saat dia mengetahui bahwa yang menyembunyikan catatan notasi yang dibutuhkan kak Toni untuk pertandingan, adalah kak Andi sendiri. Kak Nia mendengar pernyataan itu dari mulut nya.
Kak Nia mendengar pernyataan tersebut, ketika kak Andi berbicara sambil menangis kepada bu Rina,pemilik tempat les piano ini. Beliau sangat menyesalkan perbuatannya itu. Saat itu beliau memang iri dengan keberhasilan kak Toni. Beliau menganggap bahwa dia adalah orang yang paling beruntung didunia,selain berhasil dalam pekerjaan sebagai pianis,dia juga telah berhasil merebut hati orang yang paling dicintainya. Setelah mendengar hal itu, tersirat dalam pikiran kak Nia untuk membalaskan dendam kekasih lamanya, dengan cara membunuh. Betapa sadis caranya membunuh sang korban, dia menancapkan pisau ke punggungnya, saat beliau sedang bermain piano.
Karena pembunuhan itu pun dia dihukum penjara selama beberapa tahun lamanya. Sungguh tragis kisah ketiga orang tersebut, dan mungkin ini adalah kisah yang tidak akan kulupakan seumur hidupku.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Kode Misterius by Pradivo Luigi Akbar
Sore itu Eiji, Yondaime, dan Kaito pergi ke rumah Sena. Mereka bertiga ingin bertanding game bola, yaitu Winning Eleven disana, Orang tua mereka pun mengijinkan karena mereka berempat satu komplek dan juga hari ini adalah hari Jumat. Mereka bertiga pergi ke rumah Sena dengan sepeda masing-masing.
Sesampainya di sana, Eiji pun mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Sena pun langsung datang dan membuka pintu sambil membalas salam dari Eiji. Setelah mereka masuk, Sena menyuruh pembantunya untuk mengambil minum dan cemilan untuk mereka berempat.
“Bi, tolong ambilkan minum untuk empat orang, sekalian cemilannya ya. Antarkan ke ruang bermain.”
“Iya, Mas, nanti Bibi ambilkan.” jawab bibi.
“Makasih, ya, Bi.” kata Sena.
“Bapak ibumu mana, Sen?” tanya Kaito.
“Lagi di Singapura. Katanya ada urusan pekerjaan.” jawab Sena.
Setelah itu, mereka berempat pun langsung menuju ke ruang bermain, tempat mereka bermain.
“Jadi gak mau ngadu W.E.?” tanya Sena.
“Jadi dong.” jawab mereka bertiga.
“Kalau gitu coba kalahin tim ku, Deimon Devil Bats.” kata Sena.
“Ah, mainnya pake tim bikinan sendiri. Gak seru. Pasti semuanya pemainnya punya tekhnik 99.” kata Yondaime tidak setuju.
“Gak semua sih, tapi kalau rata-rata sih tekhniknya sekitar 96-97.” kata Sena.
“96-97? Samjuhong, sama juga bohong.” kata Kaito.
“Udah, gak apa-apa. Mau 99 kek, mau bikinan kek, yang penting itu skill player-nya. Kalau timnya jago terus tekhniknya 99 tapi gak bisa main kan sama aja bohong.” kata Eiji yang dari tadi hanya diam saja.
“Betul itu.” kata Sena.
Akhirnya, mereka berempat pun bermain. Pertandingan mereka dibagi jadi 2 babak. Babak 1 Sena lawan Kaito. Babak 2 Eiji lawan Yondaime. Yang kalah di babak 1 dan 2 tanding lagi untuk dapat juara 3.
“Eh udah jam 4, nih, Sholat Asar dulu yuk.” ajak Eiji pada teman-temannya ketika PS baru dinyalakan.
“Ayo, sholat sini aja ya.” kata Sena.
Setelah mereka selesai sholat, mereka pun kembali bermain. Ternyata Kaito kalah dari Sena dengan skor 5-0. Dan Eiji menang melawan Yondaime 3-1.
“Akhirnya aku bisa balas dendam sama timmu, Internazionale Milan.” kata Sena.
“Ayo Eiji, kalahin Deimon.” kata Yondaime dan Kaito.
“Oke.” jawab Eiji dengan mantap.
Eiji pun melawan Sena. Pertandingan berjalan imbang. Skornya pun imbang 4-4. Akhirnya karena imbang mereka bermain sampai perpanjangan waktu. Akhirnya pada menit-menit terakhir, Inter berhasil mencetak gol. Ibrahimovic lah pahlawannya. Tendangan yang mantap dari Ibrahimovic gagal ditahan kiper Deimon. Pertandingan pun berakhir dengan skor 5-4. Tetapi saat mereka bermain tadi Kaito sedang menulis sesuatu, tetapi tidak ada yang memperhatikan.
Setelah 1 jam bermain, mereka pun pamit pulang. Tetapi saat mereka berada di ruang tamu terdengar teriakan bibi dari dalam rumah.
“Mas, mas, kapal-kapalan dari Venesia yang dibelikan Bapak hilang! Padahal tadi masih ada di ruang keluarga.” kata bibi dengan cemas.
“Hilang! Kok bisa? tanya Sena cemas.
“Saya juga tidak tahu, Mas. Yang ada malah surat ini.” jawab bibi.
Mereka pun langsung melihatnya dengan seksama. Surat itu berisi angka-angka yang aneh, yaitu: 147ж252486123580.
“Waduh, gimana nih?” tanya Sena.
“Udah, ini di-photocopy-in aja biar semua bisa mikir terus coba pecahin dulu sendiri di rumah. Besok kumpul di rumah Sena jam 10 pagi.” kata Eiji.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Di rumah, Eiji berpikir keras untuk memecahkan kodenya. Tidak hanya Eiji. Sena, Yondaime dan Kaito pun berpikir sangat keras. Eiji pun menyerah, jadi dia menelpon Light, teman mereka berempat yang sangat pintar dan mengaku dirinya detektif.
Keesokan harinya, mereka berkumpul di depan rumah Sena.
“Gimana, udah ada yang bisa mecahin?” tanya Sena.
“Belum.” kata Yondaime.
“Aku juga belum.” kata Kaito.
“Aku juga, blank. Tapi aku udah minta tolong Light.” kata Eiji.
“Light?” tanya yang lain.
“Iya, dia kan kayak detektif. Jadi dia mungkin bisa mecahin ini.” kata Eiji.
“Hei semuanya.” kata Light menyapa semuanya.
“Akhirnya datang juga.” kata Eiji.
“Mana kodenya?” tanya Light.
“Nih.” kata Eiji sambil memberikan photocopy kodenya.
“Ya udah masuk dulu, yuk. Kan lebih enak mikir di dalam.” kata Sena.
Setelah mereka masuk, mereka pun berpikir di kamar Sena yang luas. Setelah 10 menit Light pun berkata.
“Ini sih gampang. Kemarin waktu kejadian ada siapa aja di rumahmu, Sena?” kata Light.
“Jadi kamu udah tahu?” tanya Kaito.
“Udah, tapi arti kodenya aja. Belum tahu siapa pelakunya.” kata Light.
“Selain kita berempat ada 2 pembantu, Ryuzaki sama Near; pengurus kebun, Natsuki; supir, Itachi; 2 satpam; sama saudaraku dari Jepang, Shinichi. Emang apa arti kodenya?” kata Sena.
“Saudara? Kok waktu itu gak kelihatan?” tanya Yondaime.
“Dia lebih senang baca sendirian di kamar.” jawab Sena.
“Oooh, jadi gitu. 147ж252486123580 itu dari angka-angka di telepon. itu sebagai pemisah antara kata yang satu dengan kata yang lain. Coba aja sambungin angka-angkanya.” kata Light.
“Telepon?” tanya Sena dan Kaito.
“Sambungin?” tanya Yondaime.
“Aku juga sempet mikir kalau itu dari telepon. Cuman gak pede, takut salah. Jadinya P, O, dan T, kan?” kata Eiji.
“Iya jadinya POT. Mungkin pot bunga yang ada di rumahmu kali, Sen. Eiji, kalo jadi detektif gak boleh gak pede. Harus berani.” kata Light.
“Terus kamu udah tahu belum siapa kira-kira pelakunya?” tanya Eiji.
“Belum, tapi yang pasti ada diantara kita bersembilan. Aku gak dihitung.”
Akhirnya mereka pun berpencar untuk mencari pot yang dimaksud. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan pot yang disekitarnya terdapat kode, yaitu:
3-5-16-1-20..11-5..11-1-13-1-18-11-21. 19-8-9-14.
TITIK ADALAH TITIK. TITIK-TITIK ADALAH SPASI. CEPAT DATANG, KALAU TIDAK KAPALMU TERANCAM!!!!
“Waduh, kode lagi, nih.” kata Kaito.
“Ini sih gak begitu sulit kata Light. Ganti aja angkanya sama huruf, misalnya 1 itu A, 2 itu B, dan seterusnya.” kata Light.
“Jadinya apa dong?” kata Sena.
“Jadinya CEPAT KE KAMARKU. SHIN.” kata Light setengah berbisik.
“Shin? Masa pelakunya saudaraku?” tanya Sena.
“Bisa iya bisa nggak. Soalnya gak mungkin kan pencuri ngasih kode.” kata Eiji.
“Ya udah ayo kita ke sana.” kata Yondaime.
Mereka pun segera menuju kamar Shinichi. Lalu Sena pun bertanya padanya.
“Betul kamu yang nyuri?” kata Sena.
“Ya nggaklah. Justru aku ngasih kode supaya kalian bisa ke sini diam-diam. Pelakunya tuh Ryuzaki dan Near. Kemarin aku lihat mereka ngambil pas kalian lagi main PS, gak ngajak-ngajak lagi. Kebetulan waktu itu aku abis dari kamar mandi. Terus karena ketahuan aku di bius, terus di bawa ke kamarku. Udah gitu pas aku bangun kamarnya di kunci, tapi udah disediakan makanan dan minuman. Baru tadi pagi dibuka pas aku minta tolong sama Natsuki. Pokoknya sekarang kita kasih tahu dulu Natsuki sama Itachi terus kita tangkap 2 pencuri itu.” kata Shinichi.
“Oke.” kata mereka berlima kompak.
Mereka berenam pun segera ke kamar kedua pembantu itu. Tetapi, kamar mereka sudah kosong, sudah tidak ada apa-apa lagi. Sepertinya mereka sudah pergi. Ada sepucuk surat di atas meja yang bertuliskan:
“Mas, maaf saya dan adik saya sengaja mencuri kapal tersebut. Tetapi saya terpaksa karena saya harus melunasi hutang-hutang kami di desa. Ibu kami juga sedang sakit. Makanya setelah saya mencuri ini, saya dan adik saya akan langsung keluar dari tempat Mas Sena dan kembali ke kampung.”
“Waduh, dibawa ke kampungnya lagi.” kata Sena.
“Kita coba kejar aja karena kayaknya mereka baru pergi.” kata Shinichi.
“Tahu dari mana?” tanya Kaito.
“Tuh, mereka baru selesai manjat. Mau keluar lewat belakang kayaknya.” kata Shinichi.
“Ya udah, biar aku, Yondaime, Kaito, sama Eiji yang ngejar. Kalau Shinichi ngasih tahu satpam, penjaga kebun, sama supir. Kalau Sena telpon bapak sama ibumu, kasih tahu kalau kapalnya udah ketemu, terus udah ketahuan siapa yang nyuri.” kata Light.
Setelah itu, mereka pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Sena menelpon orang tuanya, sedangkan yang lain mengejar Ryuzaki dan Near. Setelah mereka berdua ditangkap, mereka pun di bawa ke rumah Sena.
“Apa kata orang tuamu?” tanya Light pada Sena.
“Ntar sore, bapak ibuku datang, jadi mereka berdua harus nunggu di sini, tapi harus diawasin satpam. Thanks ya udah bantuin, sekarang kalian udah boleh pulang.” kata Sena.
“Sama-sama. Salam ya buat orang tuamu. Assalammualaikum” kata Eiji, Kaito, Yondaime, dan Light.
Keesokan harinya mereka berempat bertanya nasib kedua pembantu itu pada Sena.
“Gimana akhirnya?” tanya Eiji.
“Dilepasin sama orang tuaku. Mereka juga dipinjamkan uang untuk membayar hutang dan biaya rumah sakit. Tapi gaji mereka dipotong. Padahal awalnya bapakku marah-marah sampai katanya mau di masukin ke penjara, tapi kata ibuku gak usah, kasihan kalau sampai dipenjara.” kata Sena.
“Ooohh, gitu toh.” kata mereka berempat.
Bel masuk pun berbunyi, sehingga mereka pun memasuki ruang kelas untuk belajar.
Sesampainya di sana, Eiji pun mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Sena pun langsung datang dan membuka pintu sambil membalas salam dari Eiji. Setelah mereka masuk, Sena menyuruh pembantunya untuk mengambil minum dan cemilan untuk mereka berempat.
“Bi, tolong ambilkan minum untuk empat orang, sekalian cemilannya ya. Antarkan ke ruang bermain.”
“Iya, Mas, nanti Bibi ambilkan.” jawab bibi.
“Makasih, ya, Bi.” kata Sena.
“Bapak ibumu mana, Sen?” tanya Kaito.
“Lagi di Singapura. Katanya ada urusan pekerjaan.” jawab Sena.
Setelah itu, mereka berempat pun langsung menuju ke ruang bermain, tempat mereka bermain.
“Jadi gak mau ngadu W.E.?” tanya Sena.
“Jadi dong.” jawab mereka bertiga.
“Kalau gitu coba kalahin tim ku, Deimon Devil Bats.” kata Sena.
“Ah, mainnya pake tim bikinan sendiri. Gak seru. Pasti semuanya pemainnya punya tekhnik 99.” kata Yondaime tidak setuju.
“Gak semua sih, tapi kalau rata-rata sih tekhniknya sekitar 96-97.” kata Sena.
“96-97? Samjuhong, sama juga bohong.” kata Kaito.
“Udah, gak apa-apa. Mau 99 kek, mau bikinan kek, yang penting itu skill player-nya. Kalau timnya jago terus tekhniknya 99 tapi gak bisa main kan sama aja bohong.” kata Eiji yang dari tadi hanya diam saja.
“Betul itu.” kata Sena.
Akhirnya, mereka berempat pun bermain. Pertandingan mereka dibagi jadi 2 babak. Babak 1 Sena lawan Kaito. Babak 2 Eiji lawan Yondaime. Yang kalah di babak 1 dan 2 tanding lagi untuk dapat juara 3.
“Eh udah jam 4, nih, Sholat Asar dulu yuk.” ajak Eiji pada teman-temannya ketika PS baru dinyalakan.
“Ayo, sholat sini aja ya.” kata Sena.
Setelah mereka selesai sholat, mereka pun kembali bermain. Ternyata Kaito kalah dari Sena dengan skor 5-0. Dan Eiji menang melawan Yondaime 3-1.
“Akhirnya aku bisa balas dendam sama timmu, Internazionale Milan.” kata Sena.
“Ayo Eiji, kalahin Deimon.” kata Yondaime dan Kaito.
“Oke.” jawab Eiji dengan mantap.
Eiji pun melawan Sena. Pertandingan berjalan imbang. Skornya pun imbang 4-4. Akhirnya karena imbang mereka bermain sampai perpanjangan waktu. Akhirnya pada menit-menit terakhir, Inter berhasil mencetak gol. Ibrahimovic lah pahlawannya. Tendangan yang mantap dari Ibrahimovic gagal ditahan kiper Deimon. Pertandingan pun berakhir dengan skor 5-4. Tetapi saat mereka bermain tadi Kaito sedang menulis sesuatu, tetapi tidak ada yang memperhatikan.
Setelah 1 jam bermain, mereka pun pamit pulang. Tetapi saat mereka berada di ruang tamu terdengar teriakan bibi dari dalam rumah.
“Mas, mas, kapal-kapalan dari Venesia yang dibelikan Bapak hilang! Padahal tadi masih ada di ruang keluarga.” kata bibi dengan cemas.
“Hilang! Kok bisa? tanya Sena cemas.
“Saya juga tidak tahu, Mas. Yang ada malah surat ini.” jawab bibi.
Mereka pun langsung melihatnya dengan seksama. Surat itu berisi angka-angka yang aneh, yaitu: 147ж252486123580.
“Waduh, gimana nih?” tanya Sena.
“Udah, ini di-photocopy-in aja biar semua bisa mikir terus coba pecahin dulu sendiri di rumah. Besok kumpul di rumah Sena jam 10 pagi.” kata Eiji.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Di rumah, Eiji berpikir keras untuk memecahkan kodenya. Tidak hanya Eiji. Sena, Yondaime dan Kaito pun berpikir sangat keras. Eiji pun menyerah, jadi dia menelpon Light, teman mereka berempat yang sangat pintar dan mengaku dirinya detektif.
Keesokan harinya, mereka berkumpul di depan rumah Sena.
“Gimana, udah ada yang bisa mecahin?” tanya Sena.
“Belum.” kata Yondaime.
“Aku juga belum.” kata Kaito.
“Aku juga, blank. Tapi aku udah minta tolong Light.” kata Eiji.
“Light?” tanya yang lain.
“Iya, dia kan kayak detektif. Jadi dia mungkin bisa mecahin ini.” kata Eiji.
“Hei semuanya.” kata Light menyapa semuanya.
“Akhirnya datang juga.” kata Eiji.
“Mana kodenya?” tanya Light.
“Nih.” kata Eiji sambil memberikan photocopy kodenya.
“Ya udah masuk dulu, yuk. Kan lebih enak mikir di dalam.” kata Sena.
Setelah mereka masuk, mereka pun berpikir di kamar Sena yang luas. Setelah 10 menit Light pun berkata.
“Ini sih gampang. Kemarin waktu kejadian ada siapa aja di rumahmu, Sena?” kata Light.
“Jadi kamu udah tahu?” tanya Kaito.
“Udah, tapi arti kodenya aja. Belum tahu siapa pelakunya.” kata Light.
“Selain kita berempat ada 2 pembantu, Ryuzaki sama Near; pengurus kebun, Natsuki; supir, Itachi; 2 satpam; sama saudaraku dari Jepang, Shinichi. Emang apa arti kodenya?” kata Sena.
“Saudara? Kok waktu itu gak kelihatan?” tanya Yondaime.
“Dia lebih senang baca sendirian di kamar.” jawab Sena.
“Oooh, jadi gitu. 147ж252486123580 itu dari angka-angka di telepon. itu sebagai pemisah antara kata yang satu dengan kata yang lain. Coba aja sambungin angka-angkanya.” kata Light.
“Telepon?” tanya Sena dan Kaito.
“Sambungin?” tanya Yondaime.
“Aku juga sempet mikir kalau itu dari telepon. Cuman gak pede, takut salah. Jadinya P, O, dan T, kan?” kata Eiji.
“Iya jadinya POT. Mungkin pot bunga yang ada di rumahmu kali, Sen. Eiji, kalo jadi detektif gak boleh gak pede. Harus berani.” kata Light.
“Terus kamu udah tahu belum siapa kira-kira pelakunya?” tanya Eiji.
“Belum, tapi yang pasti ada diantara kita bersembilan. Aku gak dihitung.”
Akhirnya mereka pun berpencar untuk mencari pot yang dimaksud. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan pot yang disekitarnya terdapat kode, yaitu:
3-5-16-1-20..11-5..11-1-13-1-18-11-21. 19-8-9-14.
TITIK ADALAH TITIK. TITIK-TITIK ADALAH SPASI. CEPAT DATANG, KALAU TIDAK KAPALMU TERANCAM!!!!
“Waduh, kode lagi, nih.” kata Kaito.
“Ini sih gak begitu sulit kata Light. Ganti aja angkanya sama huruf, misalnya 1 itu A, 2 itu B, dan seterusnya.” kata Light.
“Jadinya apa dong?” kata Sena.
“Jadinya CEPAT KE KAMARKU. SHIN.” kata Light setengah berbisik.
“Shin? Masa pelakunya saudaraku?” tanya Sena.
“Bisa iya bisa nggak. Soalnya gak mungkin kan pencuri ngasih kode.” kata Eiji.
“Ya udah ayo kita ke sana.” kata Yondaime.
Mereka pun segera menuju kamar Shinichi. Lalu Sena pun bertanya padanya.
“Betul kamu yang nyuri?” kata Sena.
“Ya nggaklah. Justru aku ngasih kode supaya kalian bisa ke sini diam-diam. Pelakunya tuh Ryuzaki dan Near. Kemarin aku lihat mereka ngambil pas kalian lagi main PS, gak ngajak-ngajak lagi. Kebetulan waktu itu aku abis dari kamar mandi. Terus karena ketahuan aku di bius, terus di bawa ke kamarku. Udah gitu pas aku bangun kamarnya di kunci, tapi udah disediakan makanan dan minuman. Baru tadi pagi dibuka pas aku minta tolong sama Natsuki. Pokoknya sekarang kita kasih tahu dulu Natsuki sama Itachi terus kita tangkap 2 pencuri itu.” kata Shinichi.
“Oke.” kata mereka berlima kompak.
Mereka berenam pun segera ke kamar kedua pembantu itu. Tetapi, kamar mereka sudah kosong, sudah tidak ada apa-apa lagi. Sepertinya mereka sudah pergi. Ada sepucuk surat di atas meja yang bertuliskan:
“Mas, maaf saya dan adik saya sengaja mencuri kapal tersebut. Tetapi saya terpaksa karena saya harus melunasi hutang-hutang kami di desa. Ibu kami juga sedang sakit. Makanya setelah saya mencuri ini, saya dan adik saya akan langsung keluar dari tempat Mas Sena dan kembali ke kampung.”
“Waduh, dibawa ke kampungnya lagi.” kata Sena.
“Kita coba kejar aja karena kayaknya mereka baru pergi.” kata Shinichi.
“Tahu dari mana?” tanya Kaito.
“Tuh, mereka baru selesai manjat. Mau keluar lewat belakang kayaknya.” kata Shinichi.
“Ya udah, biar aku, Yondaime, Kaito, sama Eiji yang ngejar. Kalau Shinichi ngasih tahu satpam, penjaga kebun, sama supir. Kalau Sena telpon bapak sama ibumu, kasih tahu kalau kapalnya udah ketemu, terus udah ketahuan siapa yang nyuri.” kata Light.
Setelah itu, mereka pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Sena menelpon orang tuanya, sedangkan yang lain mengejar Ryuzaki dan Near. Setelah mereka berdua ditangkap, mereka pun di bawa ke rumah Sena.
“Apa kata orang tuamu?” tanya Light pada Sena.
“Ntar sore, bapak ibuku datang, jadi mereka berdua harus nunggu di sini, tapi harus diawasin satpam. Thanks ya udah bantuin, sekarang kalian udah boleh pulang.” kata Sena.
“Sama-sama. Salam ya buat orang tuamu. Assalammualaikum” kata Eiji, Kaito, Yondaime, dan Light.
Keesokan harinya mereka berempat bertanya nasib kedua pembantu itu pada Sena.
“Gimana akhirnya?” tanya Eiji.
“Dilepasin sama orang tuaku. Mereka juga dipinjamkan uang untuk membayar hutang dan biaya rumah sakit. Tapi gaji mereka dipotong. Padahal awalnya bapakku marah-marah sampai katanya mau di masukin ke penjara, tapi kata ibuku gak usah, kasihan kalau sampai dipenjara.” kata Sena.
“Ooohh, gitu toh.” kata mereka berempat.
Bel masuk pun berbunyi, sehingga mereka pun memasuki ruang kelas untuk belajar.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Langganan:
Postingan (Atom)