Dikha curiga akan tetangganya yang baru pindah itu. Rumah kosong yang ada didepan rumahnya itu sekarang sudah terisi. Menurut Anton, gerak-gerik tetangganya itu sangatlah mencurigakan. Contohnya, pada suatu malam ia pernah melihat bayangan alien dari jendela tetangganya itu. “Apakah menurutmu tetangga baru itu tidak menyeramkan? Maksudku, lihatlah rumahnya, penuh dengan barang aneh!”, kata Dikha kepada adiknya. “Aneh?aneh bagaimana?” , Tanya Surya bingung. Dikha pun melanjutkan, “Apakah kau belum pernah melihat ruang tamunya? Aku pernah melihat seekor serigala di ruang tamunya.” Surya pun tertawa terbahak-bahak “Kau ini terlalu banyak menonton film horror, Dikha.”. Esok harinya, Dikha menceritakan tetangganya itu kepada temannya, Eugene. “kau tahu kan tetangga baruku yang tinggal di depan rumahku itu?” , Tanya Dikha penasaran.
“ Hoo..hohoo.. aku tahu, pak Anton kan?”
“Ya, betul. Dia sangat mencurigakan.”
“Hah? mencurigakan?, apa iya?”
“Apakah mungkin dia seorang buronan polisi?”
“hahaha kau ini, Dikha. Tak mungkin ia seorang buronan, tampang mukanya saja begitu membosankan hahaha.”
“Tapi, aku pernah melihat seperti sosok alien di jendela dapurnya. Walaupun hanya bayangan, tapi aku yakin alien itu asli.”
“Ahh masa?”
“Iya benar!”
“Hmm.. Baiklah, bagaimana kalau kita selidiki?”
“Oke, bisakah kau menginap dirumahku?”
“tentu.”
Sepulang sekolah, Dikha pun langsung duduk di sofa dekat jendela dan memerhatikan rumah tetangganya itu. Ketika dia sedang melihat jendela rumah pak Anton, Pak Anton pun langsung melihat Dikha dengan tatapan muka yang sangar. Jantung Dikha berdebar-debar dengan sangat kencang. Ia tak pernah merasa setegang ini dalam hidupnya. Ketika Dikha sedang bersembunyi, telepon rumahnya berdering.
“Halo, dengan siapa?” kata Dikha dengan suara seperti sedang ketakutan.
“Yaa haloo.. Ini saya, Pak Anton.”
Ketika mendengar pernyataan itu, urat Dikha rasanya seperti putus.
“Y-y-yyaa ada a-apaa?”
“Betul, ini dengan Dikha?”
“ya, ini aku.”
“Saya merasa diawasi denganmu, atau itu hanya perasaanku saja?”
“Eehhmm.. Sebenrnya memang aku kebetulan tadi sedang melihat jendela bapak.”
“Oh begitu?tetapi saya merasa sedang diawasi ketat denganmu.”
“Oh kalau begitu maaf.”
“Baiklah, semoga tak terulang lagi.”
Setelah menutup telepon, Dikha langsung berbaring di kamarnya. “Apakah dia akan membunuhku?”, pikir Dikha. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu depan. Dikha kaget bukan main. Ia takut bahwa Pak Anton datang untuk membunuhnya. Ketukan itu semakin keras. Dikha pun berteriak dari depan pintu “Siapa itu?”. Suara dari luar pintu terdengar “Aku akan membunuhmu, Dikha”. Dengan tanpa ragu Dikha membuka pintu, Ia mengenal suara itu, suara Eugene. “lucu sekali, Eugene” ejek Dikha. “Hey, aku hanya bercanda kan?”, balas Eugene. “Ya..ya... masuklah.”.
Ketika makan malam, Dikha dan Eugene berencana untuk menyusup ke rumah Pak Anton. Kebetulan, Pak Anton pun sedang ada acara jadi, rumahnya kosong. Jam di kamar Dikha menunjukkan pukul 20.00. “Ayo berangkat Eugene. Sebelum terlalu malam.”
Dikha dan Eugene masuk rumah Pak Anton lewat jendela yang tak pernah ditutup oleh Pak Anton itu. Mereka cukup kecil untuk memasukinya. Di dalam ruang tamunya mereka melihat berbagai jenis mahluk, dipajang. YA, DIPAJANG! “Mungkin Pak Anton membunuh mahluk-mahluk ini lalu memajangnya.” kata Eugene. Di salah satu monster-monster itu, terdapat alien yang dilihat Dikha. Mereka berdua takut setengah mati. “Dikha, bagaimana kalo kita pulang saja?aku mulai mengantuk.” kata Eugene takut, dan berbohong. “Hey! Kau kan sudah setuju, jangan cengeng dong!” tegur Dikha.
Mereka beranjak pergi ke kamar Pak Anton. Mereka terkejut melihat kamar itu. Banyak sekali poster-poster film horror yang ditempel. Poster-poster yang sangat menakutkan!
“Aku masih mau hidup, Dikha! Ayo pulang sekarang!”
“tunggu sebentar! Aku belum selesai melihat rumah ini!
“kalau begitu bolehkah aku pulang?”
“kau sudah berjanji untuk menemaniku, Eugene!”
“huufff, baiklah.”
Tiba-tiba, terdengar suara pintu membuka. “DIKHA! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB BILA AKU MATI!”, jerit Eugene ketakutan. “sssttt. Kau akan membuat kita terbunuh! Sembunyi!”
Pak Anton memasuki kamarnya. “Hey, aku tahu kalian ada disini! Keluarlah” kata Pak Anton mantap. “Aku menyerah tapi tolong jangan laporkan kami atau membunuh kami”, teriak Eugene “BODOH!”, Dikha berkata dalam hati.
Setelah kejadian itupun, Dikha dan Eugene pulang. Ibu Dikha mendapat telepon dari Pak Anton yang mengatakan bahwa anak mereka telah menyusup kedalam rumah Pak Anton. Ibu Dikha kecewa mendengar anaknya bertingkah seperti itu.
“Untuk apa kau menyusup ke dalam rumah pak Anton?” bentak ibu Dikha.
“Aku hanya ingin memastikan apakah dia memang aneh, atau hanya pikiranku saja. Aku berhasil membuktikannya, aku dan Eugene melihat banyak monster-monster dipajang.”
“Monster? Jangan bercanda, Dikha!”
“Aku serius bu, Eugene saja melihatnya.”
“Aku tak peduli. Tidurlah, sudah malam.”
Dikha pun menurut saja dan langsung tidur. “bodoh!kalau saja kau tidak mengatakan ‘menyerah’ kepada Pak Anton, kita tidak akan begini!” bentak Dikha kepada Eugene. “Maaf, aku terlalu tegang untuk tetap bersembunyi.”. “Kau ini! Yasudahlah, kau tidur saja”. Tengah malam pun sudah lewat. Dikha masih tetap membuka matanya, sedangkan Eugene sudah tertidur pulas. Ia sedang memikirkan bagaimana cara untuk meyakinkan ibunya tentang monster-monster itu. Bila iya melapor polisi pun, para polisi tak akan mempercayainya bahkan mungkin Dikha akan dikira gila!
Pagi telah menyambut mereka berdua. Burung berkicauan, ayam berkokok. Dikha semalaman tidak tidur dan sekarang matanya merah dan berkantung. “Kau kenapa, Dikha?”, Tanya ibu. “Aku tidak kenapa-kenapa. Hanya sedikit lelah saja.”, jawab Dikha. “Oh begitu, yasudah, makanlah sarapanmu.” balas ibu.
Tak lama kemudian, Eugene datang dengan muka acak-acakan. “hooaaaaaamm… sarapan sudah siap ya?” Tanya Eugene. “Ya, makanlah. Hey Eugene, bagaimana kalo siang ini kita pergi ke bermai bola?” Tanya Dikha. “Baiklah. Wow aku lapar sekali! Kau kenapa? Kau kelihatan seperti orang kurang tidur.”, Eugene heran. “Tak apa-apa kok. Aku baikbaik saja.”
Selesai sarapan, Dhika dan Eugene mengajak teman-temannya untuk bermain bola. Sementara ibu sedang menerima telepon dari Pak Anton. Mendengar pernyataan Pak Anton, ibu tertawa terbahak-bahak. Ibu tak sabar untuk menyapaikan kabar ini kepada Dikha.
Sepulang bermain bola, Ibu berkata, “Dikha, Eugene, duduklah, ibu ingin bicara dengan kalian.” Mereka pun menurut saja dan duduk. “Ini tentang Pak Anton.”
“Hah? Pak Anton? Ada apa dengannya?”
“Ibu setuju denganmu, Pak Anton menyembunyikan sesuatu, Dhika.”
“HA! Kubilang juga apa! Dan kau mempercayainya.”
“Ada apa dengan Pak Deni?”, Tanya Eugene penasaran.
“HAHAHAHAHA”, ibu tertawa terbahak-bahak. “Sebenarnya dia tak aneh, ibu hanya bercanda dengan kalian haha”
“bercanda? Bercanda bagaimana?”, Tanya Dhika kesal.
“monster-monster yang kalian lihat itu, itu adalah koleksi pajangannya ketika ia masih muda dulu. Dia dulu adalah seorang sutradara, monster-monster dan poster-poster yang kalian lihat adalah kenangan-kenangan karirnya bersutradara.”
Mendengar ibu berkata begitu, Dhika merasa lega. Seperti semua beban yang dipikulnya hilang. Dhika pun kapok menyusupi rumah orang. Ia tahu ia bersalah. Dikha meminta maaf kepada semua orang ibu, Eugene, dan pastinya Pak Anton. Mulai sekarang, Dikha berjanji tak akan menuduh orang tanpa bukti.
TAMAT
Demi kebergunaan karya2 siswa SMP yang pernah saya ajar (Yapan Indonesia, Budhaya St Agustinus, Cakra Buana, dan Yadika 12), blog ini diupayakan sebagai sarana pendokumentasian. Ke depan karya2 yang terkumpul berupa cerpen, drama, puisi, atau apapun akan diupload di blog ini. Semoga berguna demi pembelajaran siswa-siswa lainnya.
Rabu, 26 Januari 2011
Enam Serdadu by Andy Wirawan
Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya.
"Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."
Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,
"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?"
"Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,
"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya.
"Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?"
"Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut."
"Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"
Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak.
"Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu.
"Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?"
"Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar."
"Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya.
"Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu.
"Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang."
"Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja.
"Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh."
"Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."
Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut.
"Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."
Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari.
"Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."
Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.
"Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi.
"Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba.
"Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"
Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama.
"Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan.
"Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.
Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka.
"Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."
Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,
"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau."
"Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.
"Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan.
"Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh.
"Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya.
"Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong.
"Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.
Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.
Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh.
"Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,
"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
"Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."
Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,
"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?"
"Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,
"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya.
"Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?"
"Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut."
"Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"
Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak.
"Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu.
"Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?"
"Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar."
"Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya.
"Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu.
"Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang."
"Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja.
"Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh."
"Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."
Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut.
"Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."
Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari.
"Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."
Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.
"Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi.
"Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba.
"Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"
Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama.
"Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan.
"Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.
Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka.
"Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."
Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,
"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau."
"Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.
"Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan.
"Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh.
"Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya.
"Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong.
"Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.
Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.
Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh.
"Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,
"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
Label:
Angkatan 7 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Pengalaman ke BaIi by Andhika Satryo
Waktu liburan tahun lalu saya beserta keluarga berliburan ke Bali.Disana kami awalnya mencari hotel,akhirnya kami mendapatkan hotel setelah itu kami beristirahat disana sebelum melakukan kunjungan wisata ke esokkan harinya.Kegiatan pertama adalah melihat sunrise di pantai kuta karena kata orang sunrise dan sunset disana sangat bagus ditambah dengan ombak yang indah .Kemudian kami kembali ke hotel dan sarapan.
Setelah itu kami punya masalah yang cukup besar. Kami ingin berkeliling sekitar Kuta yang indah ini tetapi kami tidak tau jalan di sana. Lalu kami pun nekat untuk berkeliling-keliling sekitar Kuta ini. Rupanya tidak di sangka kami semua tersesat di Kuta yang cukup membingungkan ini bagi yang belum terbiasa mungkin cukup membingungkan tetapi bagi yang sudah sering ke Kuta itu sudah bukan masalah lagi. Tetapi kami pun tidak ingat jalan kembali lagi untuk ke Hotel tempat kami menginap ini. Wah… bagaimana ini ???? kami sempat terdiam dan berpikir cara untuk kembali tetapi akhirnya…. Untunglah kami punya kerabat di Bali dan dia pun saat ini sedang tidak jauh dari Kuta namanya adalah Mas Boy dia adalah teman ayah saya yang dulunya sempat banting tulang juga di Jakarta. Ayah saya pun menelpon Mas Boy dan untungnya Mas Boy pun masih mengenali suara ayah saya dan setelah percakapan itu selesai ayah saya pun meminta bantuan Mas Boy untuk memberi arah untuk kembali ke hotel. TERIMA KASIH YA MAS…..
Kesokan harinya kami lalu mencari rental mobil dan seorang pemandu wisata untuk menunjukkan jalan di Bali karena kami takut tersesat lagi,nama Pemandu wisata itu mas Made setiap perjalanan yang kami lalui selalu saja ayah saya bercerita kepada pemandu kami tentang apapun untuk memeriahkan adik saya Karena kami hanya diam dan melamun memandangi pemandangan alam Bali.Dan tujuan kami sekarang adalah Bedugul.
Ketika kami tiba di Bedugul,kami singgah di sebuah rumah makan untuk makan siang setelah itu kami memasuki wilayah pariwisata Bedugul,ternyata sedang ada upacara adat disana tapi sayangnya kami tidak bisa masuk ke tempat adat tersebut.
Akhirnya kami hanya pergi ke pantai kuta,jalan legian,Monumen Ground Zero,dan Orang dewasa pergi ke pasar Sukowati,dan kami anak kecil hanya disekeliling kuta.Walaupun tidak bisa menikmati seluruh objek wisata di Bali.
Saya ingin bercerita sedikit tentang tempat-tempat yang saya kunjungi di sana seperti pantai Sanur,Kuta,jalan-jalan di Legian,dan beberapa tempat-tempat indah lainnya di Bali dan beginilah ceritanya ketika saya ke pantai sanur dan sebelumnya saya mau bercerita tentang sejarah pantai Sanur.
Sejarah pantai Sanur :
Pantai Sanur terletak di Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan Kotamadya Dati II Denpasar. Pantai ini terletak di sebelah Timur dan Selatan desa Sanur, yang merupakan tepi Samudra Indonesia sebelah Selatan Pulau Bali. Tempat itu terkenal sejak dahulu kala, terutama ketika terjadi perang Puputan Badung pada tanggal 20 September 1906 dimana Belanda mendaratkan tentaranya di sana. Dalam sejarah Bali Kuno pantai Sanur juga terkenal, dan masdih ada tugu batu tertulis yang merupakan Prasasti Raja Kasari Warmadewa yang berkeraton di Singhadwala tahun 917, dimana sekarang terdapat di Blanjong Bagian Selatan Pantai Sanur.
Di kalangan Pariwisata, pantai Sanur pertama kali diperkenalkan oleh pelukis Belgia bernama A.J.Le Mayeur bersama istrinya Ni Polok yang menetap di sana sejak tahun 1937 dan mengadakan pameran lukisan karyanya sendiri. Daya tarik pantai Sanur sebelah Utaranya melingkar seperti setengah lingkaran dan bagian Selatannya berbelok dari Timur ke Barat, dimana gelombang air lautnya tak begitu besar dan bila airnya surut terlihatlah batu karang yang membentang berwarna-warni. Pada hari mendekati bulan mati air lautnya naik dan gelombangnya agak besar. Di sebelah Tenggara terlihatlah gugusan pulau Nusa Penida di seberang laut dan di sebelah Timur kelihatan panorama pantai Selatan Pulau Bali dengan gunungnya.
Lokasi :
Pantai Sanur jaraknya 6 Km dari pusat kota Denpasar, dapat dicapai dengan mobil, sepeda motor atau kendaraan umum yang menghubungkan pantai Sanur dengan Kota Denoasar. Kendaraan umum sangat ramai mondar-mandir antara Sanur-Denpasar, sehingga tidak ada kesulitan masalah angkutan. Pantai Sanur sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan Mancanegara oleh wisatawan Mancanegara maupun Nusantara.
Hari Minggu dan hari libur, tempat itu menjadi pilihan penduduk kota Denpasar untuk rekreasi sambil mandi di laut. Pada hari bulan Purnama malamnya banyak orang datang santai dan mandi ke sana, sambil melihat keindahan pantai di malam hari. Selain pantainya Museum Le Mayeur juga banyak menari minat wisatawan.
Selain ke pantai Sanur saya juga mengunjungi monument Ground Zero monumen ini di buat untuk mengenang korban-korban ledakan Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Seperti yang telah dijelaskan oleh saya ini bahwa monumen ini untuk mengenang 199-202 korban Bom Bali I dari Sari Club dan Paddy’s Cafe di Jalan Legian.
Monumen ground zero ini mudah sekali untuk di kunjungi. Monumen ini berada di Jalan Legian daerah Kuta yang ramai oleh Cafe-Cafe, Club serta toko-toko dan hotel-hotel yang berbintang. Dan jalan Legian merupakan daerah yang sangat ramai di malam harinya. Dan di malam hari mungkin merupakan daerah terpadat oleh turis-turis baik itu yang mengunjungi club maupun cafe ataupun hanya berbelanja di sepanjang jalan Legian tersebut.
Dan akhirnya saya sampai juga di pantai Kuta , pantai yang indah ini pun memiliki sejarah yang sangat menarik untuk saya ceritakan dan berikut ini adalah sejarah pantai Kuta
Sejarah pantai Kuta :
300 tahun yang lalu telah dibangun sebuah konco di pinggir "Tukad Mati" dimana sungai tersebut, dahulu dapat dilayari. Perahu masuk ke pedalaman Kuta, sehingga Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang. Mads Longe seorang pedagang Denmark abad ke 19, mendirikan markas dagangnya di pinggir sungai tersebut.Selama tinggal di Bali dia sering menjadi perantara antara Raja-Raja Bali dan Belanda. Mads Longe meninggal secara misterius. Kuburan Mads Longe terletak di sebelah konco di pinggir sungai tersebut. Dahulu Kuta adalah sebuah desa nelayan yang sunyi, sekarang telah berubah menjadi kota kecil lengkap dengan kantor pos, kantor polisi, pasar, apotik, photo centre dan lain-lain. Sepanjang pantai pasir putih yang berbentuk bulan sabit tersebut terhampat banyak hotel mewah.
Lokasi Pantai Kuta :
11 Kilometer sebelah selatan Denpasar dan dapat dicapai dengan mudah menggunakan transportasi umum dari terminal bus Tegal dengan perjalanan kira-kira 15 menit.
Senja yang indah di pantai Kuta
Setelah kami dari pantai Kuta kami pun berkunjung ke Pura Uluwatu ,di sana saya melihat sebuah keindahan yang tak ternilai. Karena Pura tersebut berada di atas tebing yang berada di tengah-tengah pantai dan berdiri kokoh di atas tebing di tengah pantai ini membuat pura ini menjadi lebih enak di lihat. Berikut ini adalah informasi tentang pura Uluwatu
Sejarah pura Uluwatu :
Bongkahan batu karang di lokasi pura tersebut menurut legenda merupakan metamorphose dari Dewi Danu dan Dewi Air. Lingkungan Pura Luhur Uluwatu diperkirakan didirikan sekitar abad ke 11, sejaman dengan Empu Kuturan mendirikan Pelinggih lingkungan Pura Besakih. Tempat ini dipilih oleh Pendeta Danghyang Nirarta untuk mencapai moksa (menyatu dengan Sang Hyang Pencipta). Semak-semak di sekitar lingkungan Pura dijaga oleh kera-kera jinak yang dilindungi oleh masyarakat.
Lokasi Pura Uluwatu :
Uluwatu terletak di daerah perbukitan batu karang di sebelah selatan Pulau Bali. Termasuk wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabuaten Badung. Untuk mencapai Uluwatu dari kota Denpasar berjarak kurang lebih 30 km ke arah Selatan melalui kawasan pariwisata Kuta, Bandara Ngurah Rai Tuban dan Desa Jimbaran. Tempat ini sangat baik untuk berolahraga papan selancar sepanjang tahun. Lingkungan di sekitar Uluwatu sangat kering sehingga air sangat sulit didapatkan.
Setelah puas dengan keindahan pantai Kuta,pantai Sanur,jalan-jalan di legian dan melihat monumen gound zero kini saatnya untuk membeli oleh-oleh di pasar sukawati. Pasar ini sangat terkenal di bali karena di pasar inilah kita dapat membeli berbagai macam pernak-pernik dan oleh-oleh khas Bali. Dan ini sekilas tentang pasar Sukawati.
Pasar Sukawati :
Pasar Seni Sukawati terletak di kabupaten Gianyar, Pasar ini merupakan tempat tujuan utama bagi para pencari barang kesenian baik Domestik maupun Mancanegara. Pasar Seni Sukawati letaknya sekitar 20 km dari jantung kota Denpasar. Walaupun jaraknya 20 Km, waktu yang ditempuh hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.
Di Pasar Seni Sukawati terdapat berbagai macam barang hasil kesenian tangan asli dari bali, bisa berupa baju, kain, pernak-pernik, kerajinan bambu, lukisan dan juga lain-lainnya. Harga yang ditawarkan di Pasar Seni Sukawati juga sangat bervariasi malah saya menilainya sangat murah jika kita bandingkan dengan barang - barang yang dijual di Denpasarnya karena saya pun sebelumnya telah bertanya-tanya terlebih dahulu di Denpasar.
Dan begitulah cerita saya di Bali pulau yang nan indah ini setelah itu pun saya kembali ke Jakarta. Pagi-pagi sekali kami semua menuju bandara dan pada akhirnya kami pun tiba di Jakarta lagi dan melakukan aktivitas sehari-hari kembali setelah liburan yang cukup panjang ini.
Setelah itu kami punya masalah yang cukup besar. Kami ingin berkeliling sekitar Kuta yang indah ini tetapi kami tidak tau jalan di sana. Lalu kami pun nekat untuk berkeliling-keliling sekitar Kuta ini. Rupanya tidak di sangka kami semua tersesat di Kuta yang cukup membingungkan ini bagi yang belum terbiasa mungkin cukup membingungkan tetapi bagi yang sudah sering ke Kuta itu sudah bukan masalah lagi. Tetapi kami pun tidak ingat jalan kembali lagi untuk ke Hotel tempat kami menginap ini. Wah… bagaimana ini ???? kami sempat terdiam dan berpikir cara untuk kembali tetapi akhirnya…. Untunglah kami punya kerabat di Bali dan dia pun saat ini sedang tidak jauh dari Kuta namanya adalah Mas Boy dia adalah teman ayah saya yang dulunya sempat banting tulang juga di Jakarta. Ayah saya pun menelpon Mas Boy dan untungnya Mas Boy pun masih mengenali suara ayah saya dan setelah percakapan itu selesai ayah saya pun meminta bantuan Mas Boy untuk memberi arah untuk kembali ke hotel. TERIMA KASIH YA MAS…..
Kesokan harinya kami lalu mencari rental mobil dan seorang pemandu wisata untuk menunjukkan jalan di Bali karena kami takut tersesat lagi,nama Pemandu wisata itu mas Made setiap perjalanan yang kami lalui selalu saja ayah saya bercerita kepada pemandu kami tentang apapun untuk memeriahkan adik saya Karena kami hanya diam dan melamun memandangi pemandangan alam Bali.Dan tujuan kami sekarang adalah Bedugul.
Ketika kami tiba di Bedugul,kami singgah di sebuah rumah makan untuk makan siang setelah itu kami memasuki wilayah pariwisata Bedugul,ternyata sedang ada upacara adat disana tapi sayangnya kami tidak bisa masuk ke tempat adat tersebut.
Akhirnya kami hanya pergi ke pantai kuta,jalan legian,Monumen Ground Zero,dan Orang dewasa pergi ke pasar Sukowati,dan kami anak kecil hanya disekeliling kuta.Walaupun tidak bisa menikmati seluruh objek wisata di Bali.
Saya ingin bercerita sedikit tentang tempat-tempat yang saya kunjungi di sana seperti pantai Sanur,Kuta,jalan-jalan di Legian,dan beberapa tempat-tempat indah lainnya di Bali dan beginilah ceritanya ketika saya ke pantai sanur dan sebelumnya saya mau bercerita tentang sejarah pantai Sanur.
Sejarah pantai Sanur :
Pantai Sanur terletak di Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan Kotamadya Dati II Denpasar. Pantai ini terletak di sebelah Timur dan Selatan desa Sanur, yang merupakan tepi Samudra Indonesia sebelah Selatan Pulau Bali. Tempat itu terkenal sejak dahulu kala, terutama ketika terjadi perang Puputan Badung pada tanggal 20 September 1906 dimana Belanda mendaratkan tentaranya di sana. Dalam sejarah Bali Kuno pantai Sanur juga terkenal, dan masdih ada tugu batu tertulis yang merupakan Prasasti Raja Kasari Warmadewa yang berkeraton di Singhadwala tahun 917, dimana sekarang terdapat di Blanjong Bagian Selatan Pantai Sanur.
Di kalangan Pariwisata, pantai Sanur pertama kali diperkenalkan oleh pelukis Belgia bernama A.J.Le Mayeur bersama istrinya Ni Polok yang menetap di sana sejak tahun 1937 dan mengadakan pameran lukisan karyanya sendiri. Daya tarik pantai Sanur sebelah Utaranya melingkar seperti setengah lingkaran dan bagian Selatannya berbelok dari Timur ke Barat, dimana gelombang air lautnya tak begitu besar dan bila airnya surut terlihatlah batu karang yang membentang berwarna-warni. Pada hari mendekati bulan mati air lautnya naik dan gelombangnya agak besar. Di sebelah Tenggara terlihatlah gugusan pulau Nusa Penida di seberang laut dan di sebelah Timur kelihatan panorama pantai Selatan Pulau Bali dengan gunungnya.
Lokasi :
Pantai Sanur jaraknya 6 Km dari pusat kota Denpasar, dapat dicapai dengan mobil, sepeda motor atau kendaraan umum yang menghubungkan pantai Sanur dengan Kota Denoasar. Kendaraan umum sangat ramai mondar-mandir antara Sanur-Denpasar, sehingga tidak ada kesulitan masalah angkutan. Pantai Sanur sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan Mancanegara oleh wisatawan Mancanegara maupun Nusantara.
Hari Minggu dan hari libur, tempat itu menjadi pilihan penduduk kota Denpasar untuk rekreasi sambil mandi di laut. Pada hari bulan Purnama malamnya banyak orang datang santai dan mandi ke sana, sambil melihat keindahan pantai di malam hari. Selain pantainya Museum Le Mayeur juga banyak menari minat wisatawan.
Selain ke pantai Sanur saya juga mengunjungi monument Ground Zero monumen ini di buat untuk mengenang korban-korban ledakan Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Seperti yang telah dijelaskan oleh saya ini bahwa monumen ini untuk mengenang 199-202 korban Bom Bali I dari Sari Club dan Paddy’s Cafe di Jalan Legian.
Monumen ground zero ini mudah sekali untuk di kunjungi. Monumen ini berada di Jalan Legian daerah Kuta yang ramai oleh Cafe-Cafe, Club serta toko-toko dan hotel-hotel yang berbintang. Dan jalan Legian merupakan daerah yang sangat ramai di malam harinya. Dan di malam hari mungkin merupakan daerah terpadat oleh turis-turis baik itu yang mengunjungi club maupun cafe ataupun hanya berbelanja di sepanjang jalan Legian tersebut.
Dan akhirnya saya sampai juga di pantai Kuta , pantai yang indah ini pun memiliki sejarah yang sangat menarik untuk saya ceritakan dan berikut ini adalah sejarah pantai Kuta
Sejarah pantai Kuta :
300 tahun yang lalu telah dibangun sebuah konco di pinggir "Tukad Mati" dimana sungai tersebut, dahulu dapat dilayari. Perahu masuk ke pedalaman Kuta, sehingga Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang. Mads Longe seorang pedagang Denmark abad ke 19, mendirikan markas dagangnya di pinggir sungai tersebut.Selama tinggal di Bali dia sering menjadi perantara antara Raja-Raja Bali dan Belanda. Mads Longe meninggal secara misterius. Kuburan Mads Longe terletak di sebelah konco di pinggir sungai tersebut. Dahulu Kuta adalah sebuah desa nelayan yang sunyi, sekarang telah berubah menjadi kota kecil lengkap dengan kantor pos, kantor polisi, pasar, apotik, photo centre dan lain-lain. Sepanjang pantai pasir putih yang berbentuk bulan sabit tersebut terhampat banyak hotel mewah.
Lokasi Pantai Kuta :
11 Kilometer sebelah selatan Denpasar dan dapat dicapai dengan mudah menggunakan transportasi umum dari terminal bus Tegal dengan perjalanan kira-kira 15 menit.
Senja yang indah di pantai Kuta
Setelah kami dari pantai Kuta kami pun berkunjung ke Pura Uluwatu ,di sana saya melihat sebuah keindahan yang tak ternilai. Karena Pura tersebut berada di atas tebing yang berada di tengah-tengah pantai dan berdiri kokoh di atas tebing di tengah pantai ini membuat pura ini menjadi lebih enak di lihat. Berikut ini adalah informasi tentang pura Uluwatu
Sejarah pura Uluwatu :
Bongkahan batu karang di lokasi pura tersebut menurut legenda merupakan metamorphose dari Dewi Danu dan Dewi Air. Lingkungan Pura Luhur Uluwatu diperkirakan didirikan sekitar abad ke 11, sejaman dengan Empu Kuturan mendirikan Pelinggih lingkungan Pura Besakih. Tempat ini dipilih oleh Pendeta Danghyang Nirarta untuk mencapai moksa (menyatu dengan Sang Hyang Pencipta). Semak-semak di sekitar lingkungan Pura dijaga oleh kera-kera jinak yang dilindungi oleh masyarakat.
Lokasi Pura Uluwatu :
Uluwatu terletak di daerah perbukitan batu karang di sebelah selatan Pulau Bali. Termasuk wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabuaten Badung. Untuk mencapai Uluwatu dari kota Denpasar berjarak kurang lebih 30 km ke arah Selatan melalui kawasan pariwisata Kuta, Bandara Ngurah Rai Tuban dan Desa Jimbaran. Tempat ini sangat baik untuk berolahraga papan selancar sepanjang tahun. Lingkungan di sekitar Uluwatu sangat kering sehingga air sangat sulit didapatkan.
Setelah puas dengan keindahan pantai Kuta,pantai Sanur,jalan-jalan di legian dan melihat monumen gound zero kini saatnya untuk membeli oleh-oleh di pasar sukawati. Pasar ini sangat terkenal di bali karena di pasar inilah kita dapat membeli berbagai macam pernak-pernik dan oleh-oleh khas Bali. Dan ini sekilas tentang pasar Sukawati.
Pasar Sukawati :
Pasar Seni Sukawati terletak di kabupaten Gianyar, Pasar ini merupakan tempat tujuan utama bagi para pencari barang kesenian baik Domestik maupun Mancanegara. Pasar Seni Sukawati letaknya sekitar 20 km dari jantung kota Denpasar. Walaupun jaraknya 20 Km, waktu yang ditempuh hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.
Di Pasar Seni Sukawati terdapat berbagai macam barang hasil kesenian tangan asli dari bali, bisa berupa baju, kain, pernak-pernik, kerajinan bambu, lukisan dan juga lain-lainnya. Harga yang ditawarkan di Pasar Seni Sukawati juga sangat bervariasi malah saya menilainya sangat murah jika kita bandingkan dengan barang - barang yang dijual di Denpasarnya karena saya pun sebelumnya telah bertanya-tanya terlebih dahulu di Denpasar.
Dan begitulah cerita saya di Bali pulau yang nan indah ini setelah itu pun saya kembali ke Jakarta. Pagi-pagi sekali kami semua menuju bandara dan pada akhirnya kami pun tiba di Jakarta lagi dan melakukan aktivitas sehari-hari kembali setelah liburan yang cukup panjang ini.
Label:
Angkatan 7 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Lebaran di Kampung Halaman Ibuku by Kusumo Jati Nur Wicaksono
LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN IBUKU
Lima hari menjelang idul Fitri, Mas-mas dan Mbak-mbak yang bekerja di rumahku mulai sibuk belanja dan menyiapkan oleh-oleh untuk keluarganya di kampung. Nuansa mudik sudah begitu hangat meliputi angan mereka. Pembicaraan mereka hampir semuanya mengenai perjalanan mudik, mulai dari mencari karcis angkutan lebaran, mencari tas untuk membawa pakaian baru, dan janjian akan ketemu dihari Lebaran bagi mereka yang sekampung.
Bagiku, mudik terasa biasa-biasa saja, seperti tahun-tahun yang lalu. Liburan di desa, bertemu dengan saudara-saudara Ibu, makan makanan yang sama dengan tahun yang lalu, ketupat dan opor ayam. Perjalanan mengunjungi keluarga untuk halal bihalal, kadang-kadang ke luar kota dengan kepadatan lalu lintas bahkan sering terjebak kemacetan.
Kampung halaman Ibu yang jauh dari keramaian kota, dan rumah nenek dimana kami menginap masih terhampar sawah dan ladang disekitarnya, bila malam hari terasa sepi dan gelap. Sejak hari pertama kami bermalam di kampung, kegiatanku hanya nonton televisi sambil menyelesaikan Puasa Ramadhan.
Walaupun terasa sepi namun terasa suasana agama yang kuat. Setiap waktu sholat, warga desa baik laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan sholat wajib berjama’ah. Apalagi bila malam tiba, menjelang maghrib, anak-anak sudah ramai bermain disekitar masjid, beberapa keluarga bergantian menyediakan ta’jil untuk mereka yang berbuka puasa di masjid. Pas diwaktu Maghrib tiba, dari menara masjid terdengar sirine yang dapat didengar sampai jauh kerumah-rumah desa seberang, disusul suara beduk dan adzan. Setelah sholat Magrib jama’ah pulang kerumah masing-masing untuk melanjutkan makan buka puasa. Dari waktu Isya sampai tengah malam , masjid diramaikan lagi dengan sholat taraweh dan tadarusan.
1 Syawal 1429 H, sejak pukul enam pagi warga masyarakat, bapak-ibu dan anak-anaknya sudah memadati masjid sampai ke halaman dan jalanan disekitar masjid. Saya perhatikan kaum pria nya tidak ada yang memakai celana panjang, semuanya bersarung. Setelah sholat Id dan kotbah Idul Fitri, jama’ah pria saling bersalaman sambil bersholawat dan mengucapkan minal aidin wal faidin. Ada beberapa keluarga yang melestarikan kebiasaan membawa makanan opor ke masjid untuk disantap bersama.
Hari-hari berikutnya kami disibukkan bersilaturahmi ke saudara-saudara yang lebih tua, baik yang dikota yang sama maupun yang di kota lain. Disatu malam, kami kemalaman di jalan, kami harus tidur dimobil karena tidak berhasil mendapatkan kamar hotel yang kosong. Di hari raya Idul Fitri , tempat wisata dan hotel panen raya.
Lima hari menjelang idul Fitri, Mas-mas dan Mbak-mbak yang bekerja di rumahku mulai sibuk belanja dan menyiapkan oleh-oleh untuk keluarganya di kampung. Nuansa mudik sudah begitu hangat meliputi angan mereka. Pembicaraan mereka hampir semuanya mengenai perjalanan mudik, mulai dari mencari karcis angkutan lebaran, mencari tas untuk membawa pakaian baru, dan janjian akan ketemu dihari Lebaran bagi mereka yang sekampung.
Bagiku, mudik terasa biasa-biasa saja, seperti tahun-tahun yang lalu. Liburan di desa, bertemu dengan saudara-saudara Ibu, makan makanan yang sama dengan tahun yang lalu, ketupat dan opor ayam. Perjalanan mengunjungi keluarga untuk halal bihalal, kadang-kadang ke luar kota dengan kepadatan lalu lintas bahkan sering terjebak kemacetan.
Kampung halaman Ibu yang jauh dari keramaian kota, dan rumah nenek dimana kami menginap masih terhampar sawah dan ladang disekitarnya, bila malam hari terasa sepi dan gelap. Sejak hari pertama kami bermalam di kampung, kegiatanku hanya nonton televisi sambil menyelesaikan Puasa Ramadhan.
Walaupun terasa sepi namun terasa suasana agama yang kuat. Setiap waktu sholat, warga desa baik laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan sholat wajib berjama’ah. Apalagi bila malam tiba, menjelang maghrib, anak-anak sudah ramai bermain disekitar masjid, beberapa keluarga bergantian menyediakan ta’jil untuk mereka yang berbuka puasa di masjid. Pas diwaktu Maghrib tiba, dari menara masjid terdengar sirine yang dapat didengar sampai jauh kerumah-rumah desa seberang, disusul suara beduk dan adzan. Setelah sholat Magrib jama’ah pulang kerumah masing-masing untuk melanjutkan makan buka puasa. Dari waktu Isya sampai tengah malam , masjid diramaikan lagi dengan sholat taraweh dan tadarusan.
1 Syawal 1429 H, sejak pukul enam pagi warga masyarakat, bapak-ibu dan anak-anaknya sudah memadati masjid sampai ke halaman dan jalanan disekitar masjid. Saya perhatikan kaum pria nya tidak ada yang memakai celana panjang, semuanya bersarung. Setelah sholat Id dan kotbah Idul Fitri, jama’ah pria saling bersalaman sambil bersholawat dan mengucapkan minal aidin wal faidin. Ada beberapa keluarga yang melestarikan kebiasaan membawa makanan opor ke masjid untuk disantap bersama.
Hari-hari berikutnya kami disibukkan bersilaturahmi ke saudara-saudara yang lebih tua, baik yang dikota yang sama maupun yang di kota lain. Disatu malam, kami kemalaman di jalan, kami harus tidur dimobil karena tidak berhasil mendapatkan kamar hotel yang kosong. Di hari raya Idul Fitri , tempat wisata dan hotel panen raya.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Seorang Nelayan by Ladeo Hurizal Anugerah
Ada seorang nelayan, sering mencari ikan di laut hanya itu mata pencaharian Bapak Asep,begitu panggilanya. Bapak Asep mempunyai istri dan kedua anaknya yang masih kecil itu. Mereka itu sangat bersyukur atas semua yang diberikan kepada Allah SWT. Keadaan ekonomi mereka sangat memperhatinkan, tetapi dengan keadaan seperti itu tidak membuat keluarga Pak Asep gentar untuk beribadah dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka selalu bekerja keras di laut. Mereka tinggal di sebuah pesisir pantai, rumah kayu itu tempat tinggal mereka.
Keesokan hari Bapak Asep mulai berlayar dengan perahu tua itu, Pak Asep mulai mendayung-dayung ke tengah laut, lalu Pak Asep melemparkan jaring itu ke dalam air laut, beberapa menit kemudian ia mengangkat jaring itu ternyata Pak Asep hanya mendapatkan tiga ekor ikan, Pak Asep berkata “alhamdulilah memang ini bukan rezeki saya”. Hari sudah mulai gelap ia kembali dengan mendayung perahu tua itu. Istri dan kedua anaknya menunggu kedatangan Bapak Asep, kemudian pak Asep datang “assalamualaikum bu,” kata pak Asep. “waalaikumsalam pak,” kata ibu dan kedua anaknya. Lalu pak Asep memberikan ikan itu ke istrinya, pak hanya dapat tiga ekor??. Hanya itu yang Bapak dapat memang kali ini bukan rezeki kita bu, kita harus tetap bersyukur, sabar ya bu.
Waktu tetap berjalan tapi bapak Asep dan keluaraga selalu bersabar dengan cobaan yang diberikan kepada Allah SWT. Dengan penuh kesabaran dan berlapang dada, akhirnya pak asep dan keluarga mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Tiba-tiba ada seorang saudagar kaya dan darmawan memberi sebuah pekerjaan untuk pak Asep. Pak Asep sangat gembira, ia berkata “saudagar saya bekerja apa??”. Saudagar itu menjawab “membantu saya berlayar untuk mengambil ikan di laut”. Mulai besok pak Asep sudah bisa bekerja.
Besoknya pak Asep pergi ke tempat saudagar kaya itu, mereka berdua lekas bergegas ke pantai untuk berlayar. Dengan menggunakan kapal milik saudagar itu, mereka sudah berjalan ke tengah laut pak Asep dan anak buahnya mulai melemparkan jaring ke dalam air, beberapa kemudian jaring itu bergerak-gerak lalu pak Asep mengangkat jaring itu, “masyaallah banyak sekali ikan-ikan ini dan besar-besar” kata pak Asep. Saudagar itu sangat gembira dengan pak Asep. Hari sudah gelap mereka kembali ke pesisir pantai pak Asep di panggil oleh saudagar itu. Saudagr itu memberi upah ke pak Asep lumayan banyak, pak Asep sangat berterima kasih kepada saudagar itu. Pak Asep berkata “terima kasih ya Allah engkau telah memberi rezeki melewati saudagar itu”.
Pak Asep kembali ke rumah dengan hati yang gembira, lalu pak Asep memberikan uang itu kepada istrinya, “alhamdulilah pak, ini semua uang dari mana ??”,kata istrinya. Pak Asep berkata “ini semua rezeki dari Allah melalui tangan sadagar”. Ini dia berkat kita selalu bersyukur dan bersabar dan beribadah niscaya Allah akan memberi rezeki yang cukup dan halal .
Keesokan hari Bapak Asep mulai berlayar dengan perahu tua itu, Pak Asep mulai mendayung-dayung ke tengah laut, lalu Pak Asep melemparkan jaring itu ke dalam air laut, beberapa menit kemudian ia mengangkat jaring itu ternyata Pak Asep hanya mendapatkan tiga ekor ikan, Pak Asep berkata “alhamdulilah memang ini bukan rezeki saya”. Hari sudah mulai gelap ia kembali dengan mendayung perahu tua itu. Istri dan kedua anaknya menunggu kedatangan Bapak Asep, kemudian pak Asep datang “assalamualaikum bu,” kata pak Asep. “waalaikumsalam pak,” kata ibu dan kedua anaknya. Lalu pak Asep memberikan ikan itu ke istrinya, pak hanya dapat tiga ekor??. Hanya itu yang Bapak dapat memang kali ini bukan rezeki kita bu, kita harus tetap bersyukur, sabar ya bu.
Waktu tetap berjalan tapi bapak Asep dan keluaraga selalu bersabar dengan cobaan yang diberikan kepada Allah SWT. Dengan penuh kesabaran dan berlapang dada, akhirnya pak asep dan keluarga mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Tiba-tiba ada seorang saudagar kaya dan darmawan memberi sebuah pekerjaan untuk pak Asep. Pak Asep sangat gembira, ia berkata “saudagar saya bekerja apa??”. Saudagar itu menjawab “membantu saya berlayar untuk mengambil ikan di laut”. Mulai besok pak Asep sudah bisa bekerja.
Besoknya pak Asep pergi ke tempat saudagar kaya itu, mereka berdua lekas bergegas ke pantai untuk berlayar. Dengan menggunakan kapal milik saudagar itu, mereka sudah berjalan ke tengah laut pak Asep dan anak buahnya mulai melemparkan jaring ke dalam air, beberapa kemudian jaring itu bergerak-gerak lalu pak Asep mengangkat jaring itu, “masyaallah banyak sekali ikan-ikan ini dan besar-besar” kata pak Asep. Saudagar itu sangat gembira dengan pak Asep. Hari sudah gelap mereka kembali ke pesisir pantai pak Asep di panggil oleh saudagar itu. Saudagr itu memberi upah ke pak Asep lumayan banyak, pak Asep sangat berterima kasih kepada saudagar itu. Pak Asep berkata “terima kasih ya Allah engkau telah memberi rezeki melewati saudagar itu”.
Pak Asep kembali ke rumah dengan hati yang gembira, lalu pak Asep memberikan uang itu kepada istrinya, “alhamdulilah pak, ini semua uang dari mana ??”,kata istrinya. Pak Asep berkata “ini semua rezeki dari Allah melalui tangan sadagar”. Ini dia berkat kita selalu bersyukur dan bersabar dan beribadah niscaya Allah akan memberi rezeki yang cukup dan halal .
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Kecanduan Main by Sandhi Ahsani Taqwin
Kecanduan main
Dulu Hilmy adalah anak yang pintar dan rajin belajar, tapi sejak dia mengenal game-online dia mulai melupakan kewajibannya. Ini adalah cerita bagaimana Hilmy kecanduan main.
Hilmy sedang main komputer di rumahnya. “akhirnya gue level 50”. Seru Hilmy. “Hilmy main udahan dulu, ayo belajar “ teriak bapaknya Hilmy.”Ntaran dulu pi, lagi seru nih”. Kata Hilmy. “yaudah, tapi ingat setelah main jangan lupa belajar, papi berangkat kerja dulu”. Kata bapaknya Hilmy, lalu bapaknya keluar. Ring-ring, handphonenya Hilmy berbunyi tapi Hilmy tidak menghiraukannya, “ah, paling Mahendra mau ngajak gue ke rumahnya Raka”. Kata Hilmy dalam hati. Jadi Hilmy terus bermain.
Tanpa terasa sudah maghrib dan bapaknya Hilmy pun sudah pulang. Ding-dong, Hilmy berhenti main sebentar dan membuka pintu. Hilmy terkejut melihat bapaknya di depan pintu. “kok papi sudah pulang?” tanya Hilmy “papi kan dari dulu pulang jam 6” kata bapaknya. “loh emang sudah jam 6 ?” tanya Hilmy. Akhirnya bapaknya Hilmy pun masuk dan terkejut melihat komputernya masih nyala. “Hilmy, kamu masih main ya !”. teriak bapaknya. Dengan santainya Hilmy mejawab “ini baru main lagi kok pi, tadi setelah papi berangkat aku berhenti main dan belajar”. “ ooh, kalu begitu kamu boleh lanjutin mainya”. Kata bapaknya. Dengan senangnya Hilmy lanjutin main.
Esok harinya, “Hilmy ayo bangun, sudah pagi”. Teriak bapaknya. “Enggak mau, masih ngantuk”. Jawab Hilmy. “ayo dong, nanti telat sekolah. Ingat minggu depan ujian semester”. Kata bapaknya. “yaudah pi, Hilmy mau mandi dulu. Jawab Hilmy. “ kalu gitu papi berangkat dulu ya.” Kata bapaknya. Hilmy sudah selsai mandi dan mau pakai baju, habis itu Hilmy merasa ngantuk karena habis main seharian kemarin, jadi Hilmy bolos sekolah dan tidur lagi.
Ding-dong, Hilmy terbangun “aduh udah maghrib nih” kata Hilmy dalam hati. Ding-dong, bel berbunyi untuk kedua kalinya. “ iya-iya sebentar”. teriak Hilmy. Hilmy membuka pintu, bapaknya Hilmy menatap matanya Hilmy. “Hilmy tadi papi di telpon sama kepala sekolah, katanya, kamu tadi bolos sekolah”. Kata bapaknya. “ngak kok pi” kata Hilmy. “kamu sudah beraninya bohong kepada bapak mu sendiri, jadi muali sekarang kamu tidak boleh main komputer dan papi tidak akan memberi mu uang jajan sampai kamu lulus kelas 9”. Kata bapaknya dengan tegasnya.
Sejak hari ini Hilmy belajar terus dan tidak melupakan perannya sebagai pelajar tapi akhirnya dia tidak lulus dan sangat menyesal.
Dulu Hilmy adalah anak yang pintar dan rajin belajar, tapi sejak dia mengenal game-online dia mulai melupakan kewajibannya. Ini adalah cerita bagaimana Hilmy kecanduan main.
Hilmy sedang main komputer di rumahnya. “akhirnya gue level 50”. Seru Hilmy. “Hilmy main udahan dulu, ayo belajar “ teriak bapaknya Hilmy.”Ntaran dulu pi, lagi seru nih”. Kata Hilmy. “yaudah, tapi ingat setelah main jangan lupa belajar, papi berangkat kerja dulu”. Kata bapaknya Hilmy, lalu bapaknya keluar. Ring-ring, handphonenya Hilmy berbunyi tapi Hilmy tidak menghiraukannya, “ah, paling Mahendra mau ngajak gue ke rumahnya Raka”. Kata Hilmy dalam hati. Jadi Hilmy terus bermain.
Tanpa terasa sudah maghrib dan bapaknya Hilmy pun sudah pulang. Ding-dong, Hilmy berhenti main sebentar dan membuka pintu. Hilmy terkejut melihat bapaknya di depan pintu. “kok papi sudah pulang?” tanya Hilmy “papi kan dari dulu pulang jam 6” kata bapaknya. “loh emang sudah jam 6 ?” tanya Hilmy. Akhirnya bapaknya Hilmy pun masuk dan terkejut melihat komputernya masih nyala. “Hilmy, kamu masih main ya !”. teriak bapaknya. Dengan santainya Hilmy mejawab “ini baru main lagi kok pi, tadi setelah papi berangkat aku berhenti main dan belajar”. “ ooh, kalu begitu kamu boleh lanjutin mainya”. Kata bapaknya. Dengan senangnya Hilmy lanjutin main.
Esok harinya, “Hilmy ayo bangun, sudah pagi”. Teriak bapaknya. “Enggak mau, masih ngantuk”. Jawab Hilmy. “ayo dong, nanti telat sekolah. Ingat minggu depan ujian semester”. Kata bapaknya. “yaudah pi, Hilmy mau mandi dulu. Jawab Hilmy. “ kalu gitu papi berangkat dulu ya.” Kata bapaknya. Hilmy sudah selsai mandi dan mau pakai baju, habis itu Hilmy merasa ngantuk karena habis main seharian kemarin, jadi Hilmy bolos sekolah dan tidur lagi.
Ding-dong, Hilmy terbangun “aduh udah maghrib nih” kata Hilmy dalam hati. Ding-dong, bel berbunyi untuk kedua kalinya. “ iya-iya sebentar”. teriak Hilmy. Hilmy membuka pintu, bapaknya Hilmy menatap matanya Hilmy. “Hilmy tadi papi di telpon sama kepala sekolah, katanya, kamu tadi bolos sekolah”. Kata bapaknya. “ngak kok pi” kata Hilmy. “kamu sudah beraninya bohong kepada bapak mu sendiri, jadi muali sekarang kamu tidak boleh main komputer dan papi tidak akan memberi mu uang jajan sampai kamu lulus kelas 9”. Kata bapaknya dengan tegasnya.
Sejak hari ini Hilmy belajar terus dan tidak melupakan perannya sebagai pelajar tapi akhirnya dia tidak lulus dan sangat menyesal.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Mobil Warisan Kakek by Rizkyan Akbar Pratama
Suatu hari di rumah Ridho, Ridho dengan teman sekolahnya sedang bermain karambol. Lalu kakek Ridho datang menemuinya.”cu, sedang apa?” kata kakek.”sedang bermain karambol, kek!” kata Ridho. Saat sedang bermain kakek memanggil Ridho.”dho, sini sebentar.” Kata kakek.”iya, kek!” jawab Ridho.
Akhirnya Ridho datang ke dapur untuk menimui kakeknya.”ada apa, kek?”.”cu, kakek ingin memberimu warisan berharga.”.”apa itu, kek?”.”mobil tahun 90-an.”. Akhirnya kakek memberi Ridho mobil.”terima kasih, kek!”.”tapi ada masalah, kek.”.”apa itu, cu?”.”Ridho tidak bisa mengendarai mobil.”.”tapi kan kamu bisa belajar.”. Akhirnya besok paginya, Ridho belajar mobil di komplek rumahnya. Dengan mobil barunya, Ridho merasa nyaman. Walaupun, mobil yang diberikan kakek sudah tua, tapi Ridho merasa senang dia bisa mengendarai mobil.
Setelah beberapa minggu, Ridho belajar mobil, akhirnya Ridho bisa mengendarai mobilnya.”bagaimana, cu?”.”sudah, kek. Aku sudah bisa mengendarai mobil itu.”. Akhirnya, sekarang Ridho bisa pergi kemana-mana dengan mobil tua itu.
Besoknya, teman Ridho datang ke rumahnya.Dika dan Fadhil mengajak Ridho untuk berjalan-jalan di Mall di Jakarta dengan mobil tuanya.
Setelah Ridho dan temannya selesai menonton, dia mendapat telpon dari rumahnya. Ternyata yang menelpon dia adalah tetangga rumahnya. Dia bilang bahwa kakeknya kecelakaan saat sedang ke pasar. Akhirnya, Ridho bergegas pulang. Setelah sampai di rumah, Ridho sudah melihat bendera kuning di pintu pagar rumahnya. Setelah Ridho masuk rumah, ternyata kakek Ridho sudah pergi untuk selamanya. Akhirnya, Ridho menangis di depan jenazah kakeknya.
Keesokan harinya, Ridho ikut untuk memakamkan kakeknya. Di pemakaman Ridho menangis di depan makam kakeknya. Akhirnya, Ridho diajak pulang oleh Dika dan Fadhil, tetapi Ridho masih ingin bersama kakeknya.
Akhirnya, Dika dan Fadhil pulang duluan dan meninggalkan Ridho di pemakaman. Sore harinya, Ridho pulang ke rumah.
Pagi harinya, Diak dan Fadhil datang ke rumah Ridho. Mereka mengajak Ridho untuk bermain kelereng. Tapi Ridho tidak mau, karena dia masih sedih dengan kepergian kakeknya.
Akhirnya, Dika berusaha membujuk Ridho untuka melupakan kakeknya. Tapi Ridho tidak bisa. Akhirnya Ridho berusaha melupakan kakeknya.
Besok paginya, Ridho berhasil melupakan kakeknya. Akhirnya, Ridho merawat mobil peniggalan kakeknya. Ridho sangat menyesal karena tidak menjaga kakeknya. Ridho saat ini memang bisa melupakan kakeknya, tapi dia tidak bisa melupakan kenangan bersama kakeknya.
Akhirnya, Ridho sudah bosan dengan mobil tua yang diberikan oleh kakeknya. Dia harus menjual mobil tua itu dan diganti dengan mobil yang baru. Tapi Ridho tidak rela, karena jika dia sedang mengendarai mobil itu dia mengkhayal bahwa ada kakeknya yang mendampingi dia.
Besoknya, Ridho menjual mobil tua itu dan dig anti mobil yang baru. Setelah beberapa saat, mobil Ridho akhirnya terjual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan akhirnya, dia membeli mobil baru yang lebih bagus dari sebelumnya.
Akhirnya Ridho datang ke dapur untuk menimui kakeknya.”ada apa, kek?”.”cu, kakek ingin memberimu warisan berharga.”.”apa itu, kek?”.”mobil tahun 90-an.”. Akhirnya kakek memberi Ridho mobil.”terima kasih, kek!”.”tapi ada masalah, kek.”.”apa itu, cu?”.”Ridho tidak bisa mengendarai mobil.”.”tapi kan kamu bisa belajar.”. Akhirnya besok paginya, Ridho belajar mobil di komplek rumahnya. Dengan mobil barunya, Ridho merasa nyaman. Walaupun, mobil yang diberikan kakek sudah tua, tapi Ridho merasa senang dia bisa mengendarai mobil.
Setelah beberapa minggu, Ridho belajar mobil, akhirnya Ridho bisa mengendarai mobilnya.”bagaimana, cu?”.”sudah, kek. Aku sudah bisa mengendarai mobil itu.”. Akhirnya, sekarang Ridho bisa pergi kemana-mana dengan mobil tua itu.
Besoknya, teman Ridho datang ke rumahnya.Dika dan Fadhil mengajak Ridho untuk berjalan-jalan di Mall di Jakarta dengan mobil tuanya.
Setelah Ridho dan temannya selesai menonton, dia mendapat telpon dari rumahnya. Ternyata yang menelpon dia adalah tetangga rumahnya. Dia bilang bahwa kakeknya kecelakaan saat sedang ke pasar. Akhirnya, Ridho bergegas pulang. Setelah sampai di rumah, Ridho sudah melihat bendera kuning di pintu pagar rumahnya. Setelah Ridho masuk rumah, ternyata kakek Ridho sudah pergi untuk selamanya. Akhirnya, Ridho menangis di depan jenazah kakeknya.
Keesokan harinya, Ridho ikut untuk memakamkan kakeknya. Di pemakaman Ridho menangis di depan makam kakeknya. Akhirnya, Ridho diajak pulang oleh Dika dan Fadhil, tetapi Ridho masih ingin bersama kakeknya.
Akhirnya, Dika dan Fadhil pulang duluan dan meninggalkan Ridho di pemakaman. Sore harinya, Ridho pulang ke rumah.
Pagi harinya, Diak dan Fadhil datang ke rumah Ridho. Mereka mengajak Ridho untuk bermain kelereng. Tapi Ridho tidak mau, karena dia masih sedih dengan kepergian kakeknya.
Akhirnya, Dika berusaha membujuk Ridho untuka melupakan kakeknya. Tapi Ridho tidak bisa. Akhirnya Ridho berusaha melupakan kakeknya.
Besok paginya, Ridho berhasil melupakan kakeknya. Akhirnya, Ridho merawat mobil peniggalan kakeknya. Ridho sangat menyesal karena tidak menjaga kakeknya. Ridho saat ini memang bisa melupakan kakeknya, tapi dia tidak bisa melupakan kenangan bersama kakeknya.
Akhirnya, Ridho sudah bosan dengan mobil tua yang diberikan oleh kakeknya. Dia harus menjual mobil tua itu dan diganti dengan mobil yang baru. Tapi Ridho tidak rela, karena jika dia sedang mengendarai mobil itu dia mengkhayal bahwa ada kakeknya yang mendampingi dia.
Besoknya, Ridho menjual mobil tua itu dan dig anti mobil yang baru. Setelah beberapa saat, mobil Ridho akhirnya terjual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan akhirnya, dia membeli mobil baru yang lebih bagus dari sebelumnya.
Label:
Angkatan 6 SMP Cakra Buana,
Cerpen
Langganan:
Postingan (Atom)