Tampilkan postingan dengan label Angkatan 8 SMP Cakra Buana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkatan 8 SMP Cakra Buana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Pribadi yang Kuat by Vanya Firyal

Saat berumur tujuh tahun, aku harus menghadapi sesuatu yang nggak pernah diharapkan oleh keluarga manapun, yaitu perceraian orangtua. Sebelumnya aku sudah merasakan hubungan yang nggak baik antara orangtuaku. Tiba tiba papa mulai jarang pulang ke rumah. Kalau aku Tanya pada mama, beliau selalu menjawab kalau papa pergi untuk urusan pekerjaan. Awalnya aku percaya dan menganggap semua baik baik saja. Lama kelamaan, aku menyadari kalau hubungan papa dan mamaku sedang bermasalah. Setiap hari mereka selalu bertengkar dan sering kali memaki satu sama lain. Papa bahkan sampai sering membanting barang dirumah. Aku sering dititipkan kepada pembantuku supaya tidak langsung melihat pertengkaran mereka yang terjadi hampir setiap hari itu. Mama juga nggak pernah mau memberikan penjelasan kalau aku bertanya seputar pertengkaran mereka. Mungkin mama berpikir aku masih kecil dan belum perlu mengetahui masalah orang dewasa. Suatu hari papa tidak pulang kerumah dan mama pun begitu. Tiba tiba tanteku datang dan bilang kalau mama ada dirumah nenek. Hampir seminggu mama dan papa tidak pulang ke rumah. Aku semakin gelisah dan merasa sedih. Aku merasa sudah tidak ada yang peduli lagi dengan keadaanku. Setiap malam aku tidak bisa tidur sampai jam dua dini hari. Aku menangis semalaman. Tidak ada yang tahu termasuk tanteku. Mamaku pulang. Sampai akhirnya aku mendapat kabar kalau papa dan mama memutuskan untuk berpisah. Aku sama sekali nggak menyangka kalau mereka akan bercerai. Mama berusaha menjelaskan sebijaksana mungkin mengenai hal tersebut. Kejadian tersebut membuatku syok dan berpengaruh terhadap perilaku aku. Aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa akulah penyebab perceraian orangtuaku. Bahkan saat itu aku sampai nekat meneguk obat obatan yang ada dirumah hanya untuk menyembuhkan rasa sakit hati yang aku rasakan. Mama sampai harus membawaku ke seorang psikolog akibat kejadian itu. Aku pun tumbuh menjadi anak yang sangat sensitif. Aku jadi tidak suka bergaul, gampang minder dan sering berpikiran negatif secara berlebihan. Kalau aku melihat teman yang sedang berbisik bisik aku langsung berpikir mereka sedang membicarakan aku. Ataupun ketika ada acara acara disekolah yang mengharuskan orang tua untuk datang, aku sering kali iri dengan teman temanku yang datang bersama kedua orang tua mereka. Sedangkan aku hanya berdua dengan mamaku. Semakin hari perasaanku semakin terpuruk. Aku merasa hidup ini sudah tidak ada gunanya lagi tanpa kehadiran seorang papa. Nafsu makan ku memburuk. Wajahku selalu terlihat lesu. Badanku terlihat tidak sehat. Butuh proses yang cukup lama buatku untuk bisa bangkit kembali. Untungnya, mama nggak pernah berhenti memberikan support untuk aku. Aku juga punya keluarga dan teman teman yang selalu memotivasi dan memberikan masukan-masukan positif supaya aku nggak terus-terusan down. Aku mulai mengisi hari-hariku dengan kegiatan-kegiatan yang menarik sehingga aku mulai merasa tidak sedih lagi. Seminggu tiga kali aku mengisi hariku dengan mengikuti les tari tradisional. Disana aku merasa senang selain aku memang suka menari, disana aku mendapatkan banyak teman baru dan kegiatan ini sedikit membuatku lupa tentang masalah yang akhir-akhir ini membuatku selalu murung. Di samping itu, aku termotivasi dengan melihat betapa tabahnya mama menghadapi masalah dikeluarga kami. Aku tahu perasaannya mungkin lebih hancur dibanding aku. Beliau selalu memberiku contoh yang positif dan aku punya keinginan untuk bisa menjadi seperti beliau, yaitu dengan menjadi perempuan yang kuat. Berasal dari keluarga broken home bukanlah alasan untuk menjadi terpuruk dan menjalan hidup yang nggak normal. Aku sekarang sudah bisa membuktikan kalau aku juga bisa hidup normal dan melakukan banyak hal yang positif tanpa memikirkan masalah yang sudah berlalu itu. Bahkan saat ini, hubunganku dengan papa juga semakin baik. Aku udah mulai bisa berkomunikasi bahkan jalan-jalan bareng papa meskipun kadang kadang masih terasa canggung.

Sahabat Lama dan Pacar Baruku by Setiya Darmawan

Hai...gue Listya. Biasanya orang-orang cukup panggil gue “Listya”. Sejak 5 bulan lalu, gue menduduki kelas 2 SMU di sekolahan yang bisa dibilang cukup “Elit”. Nyokap gue bilang, gue ini anak perempuan satu-satunya yang paling bandel. Padahal di sekolah, gue nggak seperti yang dibilang nyokap. Kamar gue disamakan seperti kandang singa (Menurut gue biasa aja!). Jujur sih, perabotan di kamar gue nggak pernah ada yang rapi, semuanya gue sentuh dan alhasil, barang berserakan diseluruh sudut kamar gue ini. Apalagi skateboard kesayangan gue pernah hilang sebulan lalu. Dua hari berlalu, skateboard gue ketemu di kamar bokap-nyokap, tepatnya bawah ranjangnya. Seru juga sih liat bokap kepeleset gara-gara skateboard gue itu. Well, mau nggak mau skateboard gue disita 2 minggu. “Kelly, tolong ibu bawain barang belanjaan dong!” Teriak ibu dari halaman depan yang terdengar sampai di jendela kamarku. “Cukuppp....!! hari ini semua orang mengganggu kesibukan gue,” Keluhku yang sedang tak bersemangat. Bayangkan saja, sebagai salah satu pengurus mading, gue harus menulis 3 artikel sekaligus dalam sehari (Kelewatan banget ketua madingnya!). Untung saja gue cukup cepat memperoleh inspirasi. “Listya! Kamu denger ibu ngomong nggak sih?” Kembali ibu memanggilku dengan tambahan volume. Aku menghampiri balkon untuk menemui ibu yang sepertinya sudah lelah memanggil. “Ibu, maaf. Listya nggak bisa bantu ibu, tugas artikel Listya belum selesai semua,” Aku berucap dengan nada pelan. Aku kembali sibuk dengan tugasku tanpa mengharapkan omelan ibu. Sepertinya tak terdengar langkah kaki ibu ke arah kamarku, tiba-tiba saja wajah ibu berada tepat di belakang punggungku. Saat menoleh ke belakang, aku tersentak kaget hingga ponsel unguku terlepas dari tanganku, “Ibu! Jangan ngagetin kayak gitu dong. Liat tuh ponselku jatuh,” Seketika wajahku yang tadinya pucat berubah merah padam. “Maaf deh. Kamu sih ibu mintain tolong, males-malesan,” Tegurnya sedikit menyesal telah mengagetkanku. “Siapa yang males? Kan aku udah bilang, kalau tugas artikelku belum selesai dan harus dikumpulkan besok pagi.” Sungguh-sungguh mengesalkan sekali ibu ini. “Tapi kan ibu juga nggak sering nyuruh kamu! Ayo dong, tenaga kamu kan kayak anak jagoan,” Aku tertawa mendengar kalimat terakhir ibuku. Haaa...ha....“Bu, kenapa nggak nyuruh anak perempuan satunya saja?” Aku mengalihkan pembicaraan sedikit. “Anak perempuan? Siapa?” Ibu tak menyadari. “Itu si Anak Monitor!” Aku berbisik pelan di telinga ibu dan menyebutkan nama yang kumaksud, “Robin”. Robin adalah anak kesayangan ibu, sedangkan aku lebih ke ayah. Dia masih duduk di kelas 1 SMP tapi, kerjanya udah kayak orang kantoran. Yup...betah nongkrong di monitor kamputer. Ibu sangat mendukung hobi anehnya itu, tapi ayah bakal bertindak jika beban listrik naik lagi. Sudah larut malam, tugas gue tinggal menyusun susunan artikel dan mencantumkan nama. Ponselku berbunyi, ada 2 pesan yang terkirim bersamaan. Kulihat dari layar ponsel dan mendapati nama Sally dan Rasya. Kubuka pesan Rasya terlebih dahulu, “Listya, lu udah selesai ngerjain artkel???”Kujawab pesan Rasya, “Udh dong! Belom tidur ya?”Satu menit berlalu, aku mendapat 1 pesan dari Rasya lagi, “Sebentar lagi! Lu tidur, besok ada latihan skateboard di Skater’z Club. OK?”Aku tak harus menjawab pesannya, pasti Rasya udah tau. Setelah memilih buku pelajaran besok, aku menyempatkan diri menonton film favoritku yang memang tayang larut malam “Berisik banget sih!!! Ada konser Avenged Sevenfold ya di depan rumah?” Teriakku yang ngelantur kemana-mana. “Iya tuh, lagi manggung! Seru banget! Cepet bangun kebo,” Rayu Robin dengan semangat ’45nya. Seketika mataku membuka lebar dan dengan sergap aku berlari ke balkon kamar, kutengok sumber suara itu dan mencari sosok my favorite band. Hahaha...Waw! Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup gue, Robin berani membangunkanku tepat jam 4 dini hari. Memang kurang kerjaan banget!. “Hei Anak monitor, rese banget sih. Lu tau sekarang jam berapa?” Pita suaraku bergetar hebat karena haus. Robin yang daritadi di kamar sedang membuka internet terpaksa kutinggal ke dapur. Lima menit berlalu, aku kembali dengan wajah tak berekspresi. Kulihat Robin sudah menghilang dari ruang kamarku, “Mungkin sekarang dia udah sadar, pagi-pagi kayak gini malah buka internet. Cuma adik gue aja yang kayak gitu.” Aku bergumam sendiri, kumatikan lampu dan teve yang sudah terasa panas. Pagi menghantarkan panasnya pada kedua kelopak mataku yang masih tertutup rapat. Sulit sekali aku berdiri, dengan kedua tanganku saja belum cukup kuat untuk membuka kelopak mataku. Aku melewatkan waktu beberapa menit, dan melihat arah jarum jam. Sudah cukup lama aku berbaring dan cepat-cepat bersiap. Saat akan sarapan, ayah sudah bersiap di depan mobil kinclongnya bersama Robin. Huh...terpaksa aku sarapan di mobil. Sampai di sekolah kebanggaanku, tempat yang kudatangi pertama ialah ruang mading. Belum ada siapa-siapa di dalam! Karena tak ingin menunggu lama, akhirnya aku menulis surat beserta artikel-artikel yang sudah kubuat di atas meja Hardi (Ketua Mading). Fiuh...selesai! “Pagi,Listya!” “Pagi,Listya!” Wah, seneng banget kan kalau jadi siswi famaous dan disenangi banyak orang, nah contohnya kayak gue ini (Ngarep banget). Tapi sungguh, sebelumnya gue cuma siswi yang dianggap biasa banget, bahkan golongan tersingkirkan. Pertemuan pertamaku dengan seorang Rasya, anak skateboard berlangsung tidak disengaja. Sekarang ini, dia telah resmi menjadi sahabat karibku. Satu hal yang membuat kami semakin dekat, yaitu hobi kami, “bermain skateboard”. Aku melewati lapangan basket, dan di sana sudah terlihat sosok Rasya yang sedang mendribel bola dan siap untuk dimasukkan pada ring. “Latihan yang bener ya!” Aku berteriak gaduh hingga satu lapangan melihat hal bodoh yang baru saja tak kusadari. Rasya tersenyum lebar ke arahku sambil melambaikan tangannya. Ok, aku kembali melanjutkan perjalananku ke kelas. Aku mendekati kelas dengan langkah cepat agar segera menemukan sosok Sally, sahabatku yang satu lagi. Yup, itu dia!“Sally, pagi!” Sapaku semangat. “Hai, tumben kawanku yang satu ini dateng pagi?” Wajahnya menunjukkan ekspresi curiga. Dalam beberapa detik Sally berhasil membuatku kebingungan mencari jawaban yang tepat. ”Gue mau nyontek pr fisika,” Wah...sepertinya gue mengucapkannya dengan santai, tanpa bersalah sedikit pun. “Lis, lu kan juara di kelas, masa iya kerjaannya nyontek pr mulu???” Keluhnya yang seakan baru kali ini aku mencontek tugasnya. “Jangan make gelar juara kelas deh! Gue ini juga manusia biasa yang punya keterbatasan. Jadi wajar dong!” Aku berhasil membuatnya percaya. “Duhh...kalo gue tau prnya banyak, mending sekalian di rumah aja.” Kepalaku sudah pusing sebelah. Rumus-rumus sudah semakin membuatku mual. “Ok, gue udah nggak bisa tahan....” Aku mengambil langkah super cepat ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh sarapanku pagi ini. Sally menungguku di wastafel dengan rasa khawatir. “Sall, tolong bawain gue minyak kayu putih dong di UKS,” Pintaku dengan wajah pucat. Sally segera bertindak cepat, dan tidak pernah menyangka bahwa Sally akan sekhawatir ini. Ha..ha..ha! Dia memang best friend gue sejati. “Ini Lis, mau gue pakein?” Tanya Sally sambil menyodorkan minyak gosok kepadaku. “Thanks, gue bisa sendiri kok!” Teng....teng....teng! Bel masuk telah meneriakkan bunyi nyaringnya. Hari ini ada ulangan Bahasa Inggris di kelasku, dan aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Tapi, gara-gara pr fisika, aku harus dirawat di UKS hingga rasa mualku tidak terasa lagi. “Sedang apa ya Rasya dan Sally?” Tiba-tiba saja otakku memikirkan kedua manusia itu. Sebentar lagi bel istirahat, rasa mualku sudah sedikit berkurang. Tapi, sekarang aku menjadi lapar dan haus. Aku mencoba bangun dari tempat tidur, “Duh..duh..duh! sakit amat kepala gue,” Aku sedikit merintih kesakitan. Aku harus menahan sakit untuk bisa mengganjal perutku dengan makanan. Hal yang harus kulakukan ialah pergi ke kantin dan memesan makanan. Siip...makanan telah menanti di depan wajahku. Rasa lapar telah menggerogoti bagian perutku. Aku makan dengan lahap semangkuk baso kuah dan segelas milk shake. “Terima kasih, Allah! Aku kenyang.” Kali ini gue kembali berjalan normal dan pergi ke kelas. Teng...teng...teng!“Hah...udah istirahat? Cepet banget,” Aku berlari ke halaman belakang dan belok ke kelas Ekonomi. “Sally....!!” Teriakku dengan lantang. “Ya.” Sally menghampiri pintu depan. “Lis, lu udah sehat bener?” Tanyanya sedikit tak percaya melihatku sudah bisa tersenyum. “You see? I’m fine,” Jawabku datar-datar saja. “Ok, kalo gitu temenin gue ke lapangan basket yuk?” Sally menarik lenganku sebelum aku menjawab ajakannya. Dalam perjalanan akan ke lapangan, aku bertanya pada Sally, tapi ia tidak menjawab sama sekali. Hingga akhirnya Sally membawaku dekat dengan Rasya. “Lis, tadi kata Rasya, dia mau ngomong sama elo!” Sally baru membuka mulutnya. “Sya, bener kata Sally??” aku masih ragu dengan ucapan Sally. “Bener kok! Lu udah sehat?” Tanya Rasya perhatian. “Udah dong, Listya gitu,” Kataku menyombongkan diri. “Ok, tugas gue udah selesai kan, Sya? Jadi gue mau ke kantin, ada yang mau nitip?” Ucapnya terburu-buru. “Gue nggak usah,” Jawab Rasya. “Haa..nggak usah? Heloo, lu kan main basket terus, ntar kalo sakit kayak gue gimana?” Sahutku. “Iya sih! cuma gue nggak enak nyuruh cewek, apalagi Sally,” Kembali Rasya beralasan. “Lu kan nggak mau nyuruh cewek, biar gue aja! Lu mau apa?” aku tetap mempertahankan pendapatku. “Tap....” perkataan Rasya sengaja kualihkan agar ia tak mencari alasan lagi. “Nasi goreng. Tunggu sebentar ya? 5 menit!” Kubawakan semangkuk nasi goreng dan sebotol aqua untuk Rasya, dan berlari ke lapangan. Kulihat Rasya sedang bicara serius dengan Sally, dan aku berpikir untuk mengusili mereka. Door!! “Lagi pada ngapain?” Tanyaku penasaran. “Nggak, cuma ngomongin tanding basket buat 1 minggu ke depan.” Jawab Sally. “Ohh...kalian nggak nyembunyiin sesuatu dari gue kan?” Aku semakin penasaran dan memperhatikan cara mereka memandang dan berekspresi. “Bener, Lis. Udah deh, percaya sama kita,” Rasya meyakinkanku. “Nih, Sya! Habisin lho, gue udah bela-belain ngantri tau,” Ku sodorkan nasi goreng. “Gratis nih aquanya?” Tanya Sally. “Yups! Baik kan gue?” Kataku bangga, mereka tertawa. “Sya, ntar jadi nggak latihan skateboard, mau bareng nggak?” Ajakku. “Ntar gue mau ke toko kaset sama Sally. Udah janji dari jauh hari soalnya,” Rasya menolak ajakkanku dengan lembut tapi, cukup menyakitkan buatku. Aku sedikit kesal pada Rasya, dan cepat kembali ke kelas. Aku mendengar Rasya dan Sally memanggilku dari jauh, tapi aku tak mau meladeninya. Aku merasa Rasya semakin jauh dariku dan semakin dekat dengan Sally. Memang kita bertiga bersahabat, tapi sejak Sally mengisi pertemananku dengan Rasya, aku merasa hubungan persahabatanku makin jauh dengan Rasya. Aku mencoba menenangkan diri di kelas, mengipas-ngipas wajahku yang sudah merah padam, dan memperhatikan sekilas teman-teman yang berada di kelas. Kulihat Dimas melewati kelasku, lalu kupanggil dia, “Dimas!!” “Listya, kenapa?” Tanyanya dengan kening mengerut. “Sini bentaran.” Kusediakan bangku untuk Dimas, dan menceritakan tujuanku memanggilnya. “Lu ntar mau ke pelatihan skateboard kan? Mau bareng nggak?”. Dimas berpikir sejenak, “Tumben lu ngajak gue, Rasya kemana?” “Nggak tau! Gimana, mau bareng nggak?” Tanyaku sekali lagi. “Ok deh, gue jemput lu sekalian jam 4-an.” Fiuhh...akhirnya gue punya temen juga berangkatnya. “Thanks, Dimas. Gue berhutang budi ama lu. Besok-besok kalo lu butuh bantuan, tinggal panggil gue aja,” Ucapku masih kegirangan. Lalu, kami berlanjut membicarakan skateboard hingga bel berbunyi. ”Lis, udah bel, gue balik ya?” Pamit Dimas sambil tersenyum lebar. “Ok, thanks juga atas bantuannya,” Aku balik tersenyum. Dimas berpapasan dengan Sally dan Rasya, “Woy, Sya! Tumben nggak bareng sama Listya??” Tanya Dimas iseng. “Bareng kok tadi! Emang kenapa?” “Nggak. Ok, gue cabut dulu ya?” pamit Dimas. “Yooi.”Rasya melihat ke arahku dengan pandangan bersalah. Aku tak membalas senyumannya. “Lis, besok lu mau ke pelatihan skateboard bareng gue nggak?” Ajak Rasya. Apakah gue nggak salah denger? Tawarannya sudah basi bagiku, “Sorry. Gue tekenin ya sekarang! Hari ini dan seterusnya gue selalu bareng Dimas!” Aku merasa puas dapat membalas penolakkannya terhadapku. “Kenapa? Lu marah soal yang tadi?” Rasya tidak menerima alasanku. “Nggak! Gue cuma lagi butuh suasana baru aja, termasuk pindah duduk,” Kubawa tasku dan pindah duduk di depan. Selama jam pelajaran hingga akhir pelajaran, sama sekali aku tidak berbicara kepada Rasya dan Sally, menoleh saja aku malas. Rasya mengoper surat untukku, saat sudah digenggamanku, kertasnya aku sobek dan kubuang ke tempat sampah. Aku sudah kecewa pada mereka berdua. Aku meneteskan air mata dan mengenai catatan Ekonomiku. Pak Jojo melihatku tidak konsen mengikuti pelajaran, “Listya, kamu kenapa? Bapak lihat dari tadi kamu tak konsen belajar?” Tanya Pak Jojo. Aku segera mengusap air mataku dan menjawab pertanyaan Pak Jojo, “Iya pak, saya kurang enak badan.” “Ya sudah, sekarang kamu pulang saja, dan istirahat yang teratur di rumah.” “Makasih, pak! Saya pamit,” Ucapku sambil membereskan bukuku dan segera menjauh dari kelas Ekonomi. Kupanggil taksi, dan segera masuk ke dalam. Di dalam taksi aku kembali meneteskan air mata, sungguh aku tidak bisa menahan rasa kecewaku ini. Sampai di rumah, aku pergi ke kamar dan membersihkan air mataku ini. Di rumah hanya ada aku. Aku sibuk memandang jam dinding. Satu jam lagi Dimas akan datang. “Sambil nunggu Dimas, baca majalah di ruang tamu aja dulu.” Bip...bip! “Itu pasti mobil Dimas,” Aku berlari ke balkon dan melihat Dimas melambaikan tangannya kepadaku. Akhirnya waktu yang kutunggu datang juga. Aku segera mengambil tas dan skateboard dengan riang. “Lama nunggu ya? Sorry tadi nyokap minta anter sampe depan,” Kata Dimas manis. “Nggak kok. Nyantai aja kali!” Dimas membuka pintu untukku, “Apa-apaan sih? Lu tuh aneh ya?” Tegurku. “Aneh kenapa? Udah kenal lama gini, nggak apa-apa kan becanda dikit,” Ucapnya dengan tertawa pelan. “Iya sih, tapi lama juga ya kita nggak ngomong kayak gini dan kayaknya masih akrab gitu,” Aku heran pada diriku sendiri. “Gue juga bingung. Tapi, nyambung-nyambung aja kita ngobrolnya. Jangan-jangan kita jodoh lagi?” Tanyanya dengan tatapan menyindir tapi, cute. “Heh..jodoh apa! Emang lu mau sama cewek kayak gue?” Aku berbalik bertanya dengan nada serius. Dimas berpikir. “Ok, bercanda kok nanyanya!” Kataku memecah kesunyian. Sepertinya aku merasa cocok dengan Dimas, dan merasa memiliki sahabat seperti dulu. Dua minggu yang lalu kami bersahabat. Hubunganku dengan Rasya dan Sally telah membaik dari sebelumnya. Tapi bedanya, aku sudah tak pernah melakukan kegiatan bersama Rasya dan Sally seperti dulu. Setiap hari, aku tak pernah pisah dengan Dimas. Bahkan ada yang mengira aku dan Dimas berpacaran. Hingga suatu hari, saat Dimas mengajakku makan-makan, tiba-tiba dia menggenggam tanganku dan menyatakan perasaan cintanya padaku. “Lis, gue seneng punya sahabat kayak lu. Lu itu istimewa dari temen-temen gue yang lainnya. Lu baik, memberikan gue hal-hal yang positif, dan menjadi pendengar yang baik saat gue putus dari Dinda. Sekarang, gue baru sadar, kalo rasa cinta gue yang sebenernya cuma pada satu orang.” “Sama siapa?” Tanyaku penasaran. Dimas menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, “Cuma sama kamu, Listya.” Kata-katanya membuatku terkejut. Kemudian Dimas melanjutkan ucapannya, “ Mau nggak, kamu jadi pacarku?” Dimas memperlihatkan wajah yang sangat lugu...lugu sekali. Selama aku bersama dengan Dimas, aku juga merasa nyaman, dan aku juga sayang sama Dimas, “Dimas. Aku juga punya perasaan yang sama sepertimu. Jadi, aku mau jadi pacar kamu.” Semenjak itulah kami resmi pacaran. Aku senang Dimas yang menjadi pacarku. Karena dia baik, sederhana, tidak pernah sombong dengan apa yang ia dapat, dan memiliki hobi yang sama pula. Waktu cepat berjalan, aku kembali dekat dengan Sally dan Rasya. Tapi, mereka tidak mengetahui hubunganku dengan Dimas. Hingga pada suatu siang, aku mengajak Rasya dan Sally ke tempat yang dulu sering kami datangi. Aku membuat pengakuan, “Sya...Sal, gue mau mengakui sesuatu ke kalian berdua,” Aku membuka pembicaraan. “Oh. Sama kayak Rasya dong!” Ucap Sally. “Ya udah, lu dulu Sya.” “Lu dulu deh.”“Ok, sebenernya sejak 2 bulan ini, gue udah resmi pacaran sama Dimas,” Aku mengucapkannya dengan perasaan lega, dan kulihat ekspresi yang ditunjukkan Rasya dan Sally. Seketika suasana seperti kuburan saja. “Loh, kalian kok kayak nggak seneng gitu siy?” Keluhku dengan muka bete. “Oh...ya tentu kita seneng dong. Ya kan, Sall?” Ungkap Rasya yang kulihat tengah menyikut tangan Sally. “Iya. Gue ikut seneng kok,Lis. Seneng banget!” Sally membalas perlakuan Rasya. Beberapa selingan obrolan, aku pun teringat dengan sesuatu. Yup, sesuatu yang akan diakui oleh Rasya. Tapi, aku belum sempat menanyakannya karena ia terburu-buru saat setelah menerima sebuah telepon dari ibunya. Besoknya di sekolah, aku sangat bersemangat menuju kelas. Aku segera mencari seseorang, Rasya. Tapi, dia belum terlihat di kelas atau di lapangan basket. Karena telah putus asa mengitari sekolahan, aku memutuskan untuk menghubunginya lewat sms : “Sya...lu dimana? Kok belom sampe sya???”Lima menit belum ada balasan. Aku mulai panas dan tidak bisa diam. Aku coba menelepon Rasya, tapi tidak ada yang mengangkat. Hal yang terakhir aku coba, ialah bertanya dengan Sally. “Sall, lu liat Rasya nggak?” tanyaku dengan nada tergesa-gesa. “Nah, emang lu nggak dikasih tau ama Rasya?” Sally balik bertanya. “Dikasih tau apaan? Kayaknya nggak deh,” Jantungku berdetak cepat, keringat dingin membasahi punggung belakangku. “Tadi malam Rasya bilang, kalo besok dia mau pergi ke Singapore untuk nemenin bokapnya yang sakit keras. Kira-kira dia balik 2 minggu lagi.” “Haa...2 minggu lagi? Terus gimana sekolahnya? Kok dia nggak ngasih tau gue?” beribu-ribu pertanyaan mengelilingi pikiranku. “Gue juga nggak tau. Mungkin dia nggak mau buat lu khawatir kali, atau apalah yang dia takutin,” Jawab Sally dengan singkat sekali. “Tapi gue nggak terima sama sikapnya yang sok ngerahasiain gitu. Gue kan juga sahabatnya!” Aku naik darah hingga tanpa sadar aku mendrobak meja dengan keras. “Tenang, Lis! Tapi, dia titip salam buat lu kok,” Hibur Sally berusaha menenangkan suasana. “Kapan dia berangkat?” “Ntar, sekitar jam 9.”“OK. Lu ijinin Bu Dini ya. Bilang gue ada urusan penting.”“Lu mau kemana?”“Nyusul Rasya. Gue mau ngomong penting ama dia. Bye!”Kuambil tas ranselku dan menghilang dari pandangan Sally. “Rasya....!!!” aku memanggil Rasya yang sedang duduk di kursi tunggu sambil membaca secarik kertas. “Listya? Ngapain lu di sini?” Rasya mengerutkan dahi. “Jahat banget sih lu nggak ngomong mau ke Singapore. Emang gue bukan sahabat lu?” “Sorry, hp gue rusak. hp nyokap nggak ada pulsa. Telepon belum bayar, jadi gue nggak bisa telpon lu,” Rasya menjelaskan alasan sedetail-detailnya. Pesawat tujuan Singapore akan segera take-off. Aku tak percaya Rasya akan meninggalkanku dengan jangka waktu yang tidak cepat. “Sepi dong nggak ada lu,” Ucapku dengan nada tersendat. “Yah, mau gimana lagi. Kesehatan bokap yang menjadi prioritas pertama gue.” “Ok. Selamat jalan ya? Semoga bokap lu cepet sembuh dan lu cepet balik.” Aku membantu Rasya mengangkat salah satu kopernya. “Hati-hati yah di sana.” Aku memeluk Rasya sekejap dan berbalik arah pulang. Aku menerima pesan dari Sally “Lis, Rasya mencintai lu lebih dari sahabat....”“What???” Ungkap Lis tak percaya.

Kisah Cinta Raras by Prahesti Triyarani

Pada hari minggu Risa mengajak Raras untuk pergi bermain di taman rekreasi, mereka bersenang-senang disana , tidak sengaja Raras melihat ada lelaki tampan yang sedang bermain basket tanpa sadar Raras memandang lelaki itu saat dia memandangnya datanglah perempuan cantik menyamper lelaki itu Raras pun memandang itu dengan pandangan cemburu ia berjalan sambil merasa kesel dan terus melihat ke lelaki itu secara tidak sengaja Raras menabarak seseorang yang sedang memegang anjing Raras langsung lari karna ia takut dengan anjing ,anjing itupun ikut mengejar. Ia lari sekuat tenaga ,untungnya ada risa yang membantunya. ‘Huh, hampir saja, apa jadinya bila Risa gak ada bisa-bisa aku jadi makan siangnya’.Tak terasa matahari sudah tak terlihat sinarnya lagi , Raras dan Risa pulang kerumah masing-masing. Sesampainya dirumah Raras masih membayangkan lelaki yang berada ditaman rekreasi tadi yang begitu tampan, waktu terus bertambah takterasa sudah lewat tengah tenah malam, Raras ingin mempuyai keinginan untuk mempuyai seorang kekasih tampan seperti lelaki itu. Malam kian larut Raraspun tertidur pulas dengan berharap ada seorang lelaki tampan itu menjadi miliknya. Malam berganti dengan senin pagi jampun membangunkan Raras dan saatnya Raras mandi dan berangkat sekolah. Raras pergi kesekolah bersama Risa. Saat diperjalan Raras melihat lelaki tampan di taman rekreasi itu sedang ingin berangkat sekolah, ia menaiki motor besar ninja berwana merah Raras pun terpesona saat melihatnya ia merasa senang. Sesampainyan disekolah bel sekolah telah berbunyi itu waktunya untuk upacara hari senin Raras ikut melaksanakan upacara hari senin ,hingga hamper telah selesai, ada seorang perempuan baris didekatnya ,berparas cantik menawan,berambut panjang,berkulit halus yang bernam Sarah. Tetapi ada yang aneh dengannya mukanya pucat,matanya sayu ,seperti orang yang tidak bertenaga. Tak lama kemudian perempuan itu pingsan dan Raras menangkap tubuhnya dan meminta bantuan temannya untuk membantu membawanya ke UKS. Raras nemenin perempuan itu di UKS saat Raras melihat lihat wajah perempuan itu Raras ingat kalo perempuan itu perempuan yang ia lihat di taman rekreasi bersama lelaki tampan itu. Perempuan itu sudah pulih kembali saat ia bangun ia berterimakasih kepada Raras karena sudah menolongnya merekapun berkenalan. Bel pulang berbunyi. Raras pulang bersama Risa, saat mereka dipintu gerbang sekolah Raras melihat lelaki tampan itu ada di depan pintu gerbang sekolahnya sedang melepas helmnya. Lalu Raras bercerita kepada Risa kalo ia menyukai lelaki itu Risapun kaget mendengarnya dan mendukungnya.‘Tunggu apa lagi ras, udah samperin aja mumpung dianya ada’. Raras pun memberanikan diri untuk mendatangi lelaki itu. Saat ia berjalan menuju lelaki itu Sarah datang ngenyamperin lelaki itu duluan. Raras pun kesal dan tak enak hati dia balik lagi ke arah Risa dan langsung pulang bersama Risa. Dijalan pulang Raras diam saja ia tidak ngomong sama sekalipun wajahnya juga cemberut sepanjang perjalanan pulang. Sesampai dirumah rasa kesal Raras masih ada dan dia langsung masuk ke kamar dan mengurung dirinya di kamar. Tiba tiba Risa menelfon mengajak Raras bermain di taman rekreasi. Saat ia bermain ditaman ia melihat anak kucing tersangkut di atas pohon ia memanjat pohon dan ngambilnya pada saat ia turun tiba tiba ia terjatuh dan di tangkep oleh lelaki tampan yang Raras suka, sesuatu yang aneh terjadi kepadanya jantungnya berdetak dengan keras, darahnya seperti mengalir dengan deras kekepala sehingga mukanya merah. Raras berkata dalam hati “perasaan apa ini mengapa aku jadi aneh kayak gini, apa yang terjadi dengan aku, sepertinya aku jatuh cinta” tapi tak dapat ia pungkiri ia memang jatuh cinta pada lelaki itu. Raras pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lelaki itu berkata sama-sama lalu lelaki itu mengulurkan tangannya untuk ber kenalan dengan Raras. dia berkata ‘Reza’ sambil menjabat tangan Raras dan Raras berkata ‘Raras’. Sesudah itu Raras pulang dengan perasaan senang ia tak mau mencuci tangannya ia selalu mengingat-ingat kejadian ia terjatuh dari pohon dan lelaki itu menolongnya. Keesokan harinya Raras pergi sekolah, sampai di sekolah Raras bertemu dengan Reza di depan pintu gerbang, Raras disapa oleh Reza, Raras bertanya kenapa Reza ada di depan sekolahnya tetapi Reza tidak mendengar apa yang Raras tanyakan pas saat Raras ingin bertanya itu lagi Raras melihat Sarah sedang jalan ingin masuk kelas. Raras tidak jadi bertanya karena ia sudah tau dan menduga kalo Reza kesekolahnya untuk mengantar Sarah. Bel masuk berbunyi dan Raras berpamit untuk masuk kelas dan Reza menjawab sambil tersenyum kepada Raras. Keesokan hari Raras bersemangat ke sekolah untuk melihat Reza di sekolahnya tetapi saat ia datang ia tidak melihat Reza datang ke sekolahnya Raras heran biasanya Reza ada di depan gerbang sekolahnya tetapi kali ini ia tidak ada disana Raras menunggu Reza datang. Sudah 5menitan Raras menunggu tapi Reza belom datang juga. Raras masuk ia mencari Sarah ternyata Sarah belom datang Raras keluar dari kelasnya saat dia keluar Sarah datang masuk kelas dan Raraspun langsung lari ke gerbang sekolahnya ia melihat Reza sedang memakai helm dan pergi. Saat pulang Raras melihat Reza dengan Sarah sedang bertengkar di depan pintu gerbang sekolahnya sehabis bertengkar Reza langsung pergi meninggalkan Sarah begitu saja. Besoknya saat Raras datang kesekolah ia tidak melihat Reza di depan pintu gerbangnya dan Sarah datang ke sekolah juga tidak bersama Reza lagi. Waktu hari libur Raras mengajak Risa ke taman rekreasi untuk bertemu Reza. Sesampai disana Raras melihat Reza sedang duduk sambil memegang bola basket lalu Raras ngesamperin Reza dan duduk disebelahnya, Raras bertanya Sarah siapanya, ada apa dia dengan Sarah, mengapa ia sudah jarang mengantar Sarah kesekolah, Reza menjawab, ia sudah tidak mengantar Sarah lagi karena Sarah sekarang sudah menjadi mantan kekasihnya dan Reza berkata jangan membahas ini karena ia sudah melupakan Sarah, Reza tak mau mengingat Sarah lagi. Raras diam dan sudah tidak membahas ada apa dengan dirinya dan Sarah. Mereka berbincang bincang bersama mereka juga bertukaran nomor telfon. Raras merasa sudah dekat dengan Reza hari mulai sore Raras pun pulang. Sampai di rumah Raras berbaring di tempat tidurnya tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda sms. Raras langsung melihat ponselnya dan ternyata itu sms dari Reza yang menanyakan Raras sedang apa sekarang, Raraspun senang Reza menanyakannya. Esoknya hari Raras berangkat sekolah, sampai di sekolah ia melihat ada Reza di depan pintu gerbang sekolahnya ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa Reza ada disana, apakah ia balikan lagi dengan sarah, tiba-tiba Reza memanggil Raras dan menawarkan pulang sekolah nanti ia akan menjemput Raras dan mengajaknya pergi Raraspun dengan senang hati menerima. Raras masuk kekelas dengan bahagia , Raras duduk dengan sahabatnya Risa. tanpa sadar Risa memandang wajahnya Raras lalu berkata ada apa dengan sahabatku,mukamu seperti orag yang mendapatkan undian yang sangat banyak. Raras berkata tidak aku hanya sedang senang saja dengan wajah yang gembira, dan Risa berkata kepada Raras, aku senang bila sahabat ku pun senang. Jarum jam pun berputar dengan sangat cepat ke pukul 15.30 bel pulang pun ber bunyi, Reza sudah menunggu Raras didepan gerbang sekolahnya. Reza berkata, ‘ayuk Ras naik ke motor’. ‘kita mau kemana?’ tanya Raras. ‘aku mau mengajak mu ketempat yang meyenangkan tapi sebelum kita pergi ketempat itu aku mau ngajak kamu makan dulu, belom makan kan?’ kata Reza. ‘iya aku belom makan, oke hehehe’ kata Raras. Sesampainya di Tempat makan mereka masuk dan duduk , pelayan pun menghampiri mereka Selagi mereka menunggu pesanan mereka, Raras mengobrol-ngobrol dengan Reza. Tidak lama kemudian pelayan datang dengan membawakan pesanan mereka, setelah memakan semangkuk baso dan segelas teh manis perut mereka telah terisi, mereka pun melanjutkan perjalanan pergi. Di perjalanan Raras bertanya-tanya kepada Reza mereka mau kemana tatapi Reza tidak menjawab pertanyaan Raras ternyata Reza membawa Raras ke bukit bintang Raras terkagum-kagum dengan pemandangan disana, disana sangat keren dan begitu menakjubkan. Reza memandang wajah Raras yang sedang terkagum oleh banyaknya bintang di langit dan pemandangan disana tiba-tiba Reza memegang tangan Raras dan menawarkan Raras menjadi kekasihnya Raraspun begitu senang dan ia menjawab ia mau menjadi kekasih Reza sambil menatap wajahnya yang begitu tampan. SELESAI

Perjuangan Cinta Seorang Anak SMP by Rachmadi Puji Waluyo

Ada seorang anak yang bernama Hafiz,dia baru memasuki sekolah tingkat SMP. Dia masuk sekolah Cakra buana,hari pertama kita memasuki sekolah dia dan murid-murid yang lain nya mendapatkan tugas untuk membawa atribut yang harus digunakan. Besok nya Hafiz mempunyai teman yang satu gugus dengan dia, yang bernama Faiz. Mereka ini sangat akrab sekali ketika MOPD. Esok hari nya tibalah saat nya untuk pemilihan kelas,ternyata Hafiz tidak sekelas dengan Faiz. Hafiz pun mempunyai teman-teman baru di kelas nya,ketika Hafiz sedang bermain di kelas nya Faiz, dia melihat ada seorang perempuan yang sangat cantik. Hafiz pun tidak berhenti memandang dia, Hafiz pun bertanya kepada Faiz “Iz lo kenal ga sama cewek yang itu?”. Faiz pun menjawab “gue kenal kok di,kenapa emang?”, Hafiz pun dengan malu berkata kepada Faiz “eh iz lo mau ga mintain nomer hp nya?”. Faiz pun menjawab “mau-mau aja gue,tapi bayar goceng dulu ke gua haha”. Hafiz pun tanpa mikir panjang,dia langsung memberikan uang lima ribu rupiah kepada Faiz. Keesokan hari nya Faiz pun bermain ke kelas nya Hafiz, Hafiz pun bertanya kepada Faiz “Iz gimana lo dapet nomer nya ga?”. Faiz pun menjawab “Dapet dong fiz gua gitu”, Hafiz pun sangat senang sekali ketika Faiz berhasil mendapatkan nomer hp nya. Hafiz pun bertanya kepada Faiz “Iz cewe yg di kelas lo itu nama nya siapa sih?”, Faiz pun menjawab “nama nya riri fiz”. Ketika pulang sekolah, Hafiz tidak langsung pulang karena dia ingin melihat riri. Ketika Hafiz sudah sampai di rumah dia langsung cepat-cepat mengambil ponsel nya yang tergeletak di kasur nya, dia pun langsung mengirimkan sms ke Riri. Riri pun membalas sms nya,ketika Hafiz melihat isi sms nya dia langsung senang sekali. Hingga Hafiz meminta agar Hafiz boleh menelfon Riri, ternyata Riri pun dengan sehati untuk di telfon oleh Hafiz. Akhir nya Hafiz dengan senang hati langsung menelfon Riri, dan mereka pun berbincang-bincang dengan Riri. Keesokan hari nya ketika di sekolah, Hafiz selalu bermain ke kelas nya Faiz. Dan mereka pun selalu berbincang-bincang, Faiz pun bertanya kepada Hafiz “Fiz gimana sama Riri?tambah deket ga?. Hafiz pun menjawab dengan senang “iya Iz gua tambah deket sama Riri hahaha”. Tiba-tiba Riri datang memasuki kelas, Hafiz ingin menyapa Riri tetapi dia malu karena mereka baru saling kenal baru kemarin. Bel pun berbunyi, Hafiz pun memasuki kelas nya. Pelajaran pertama pun dimulai yaitu pelajaran matematika, ketika pelajaran pertama Hafiz pun dengan giat belajar karena dia sangat menyukain pelajaran ini. Bel pun berbunyi tanda mulai nya istirahat, Hafiz pun langsung bermain ke kelas nya Faiz. Ketika Hafiz tiba di kelas nya Faiz, ternyata Riri sudah pergi ke kantin. Faiz pun mengajak Hafiz bermain bola, ketika mereka sedang jalan menuju lapangan. Hafiz bertemu dengan Riri, Hafiz pun dengan malu-malu menyapa Riri. Dan riri pun menjawab “kenapa Fiz?”, Hafiz pun menjawab “ngga apa-apa kok Cuma mau nyapa doang haha”. Riri pun menjawab “oalah yaudah”, Faiz pun langsung berteriak kepada Hafiz “cie Hafiz udah berani nyapa Riri”. Muka Hafiz pun langsung merah-merah. Hari libur pun tiba, Hafiz pun setiap hari pergi ke rumah faiz untuk bermain. Ketika Hafiz sedang bermain, ponsel nya Hafiz pun berbunyi dan ternyata itu telfon dari Riri. Hafiz pun ragu-ragu untuk mengangkatnya. Riri pun menelfon Hafiz lagi, ketika Riri menelfon untuk kedua kali nya. Hafiz pun langsung mengangkatnya, dan ternyata pacar nya Riri itu meninggal. Hafiz pun baru tau kalo dia sudah sudah mempunyai pacar,walaupun hati Hafiz sedikit kesal tetapi Hafiz dengan senang hati berbincang-bincang dengan Riri. Ketika hari demi hari terlewati, ternyata hari libur tinggal satu hari lagi. Hafiz pun memanfaatkan waktu nya untuk membeli perlengkapan sekolah,karena perlengkapan sekolah yg lama sudah rusak. Keesokan hari nya Hafiz dan Faiz melihat papan mading, dan ternyata Hafiz sekelas dengan Faiz mereka pun senang. Ketika Hafiz melihat lagi ternyata dia juga sekelas dengan Riri, wajah Hafiz pun langsung terlihata semangat setelah dia tau bahwa dia ternyata sekelas dengan Riri. Ketika esok hari Hafiz pun dengan semangat masuk sekolah, ketika dia memasuki kelas ternyata dia terlambat. Hafiz dengan malu langsung duduk di teempat nya karena dia malu dengan Riri, pelajaran pertama pun langsung dimulai yaitu pelajaran biologi. Hafiz pun langsung mengerti apa yang telah di terangkan oleh guru, dan ternyata Riri kesusahan dalam mengerjakan soal. Hafiz pun disuruh oleh bu Sri untuk mengejari Riri,dengan malu-malu Hafiz pun langsung menuju ke meja nya Riri. Dan Faiz pun langsung meledek-ledek Hafiz dengan berkata “cie Hafiz deket-deketin Riri”, muka Hafiz pun langsung merah sekali karena dia sangat malu sekali ketika Faiz meledek dia. Satu semester pun telah berlalu, dan ternyata tanpa disadari oleh Hafiz. Riri pun sudah mempunyai pacar yang satu angkatan dengan Hafiz, hati Hafiz pun langsung sakit karena dia sudah berjuang keras untuk mendapatkan Riri. Misal nya kalau Riri sedang butuh pulsa, Hafiz dengan senang hati dan ikhlas membelikan Riri pulsa. Dan Hafiz pun selalu baik kepada Riri, setelah Hafiz mengetahuinya sikap Hafiz pun langsung berbeda. Ia pun menjadi pendiam,di tambah lagi ketika pacar nya Riri ketika istirahat selalu bermain di kelas nya. Hafiz hanya bisa tersenyum melihat Riri dengan pacar nya. Ketika esok hari pacar nya Riri ini yg bernama Iman mengajak hafiz jalan, dan ternyata Iman mengajak pacar nya sendiri yaitu Riri. Hafiz pun hanya terdiam, sekarang dia pun hanya bisa memandang Riri dengan curi-curi pandang karena Riri sudah mempunyai pacar. Walaupun hati Hafiz sangat sakit, Hafiz melawan nya dengan senyuman. Karena bagi dia dengan selalu bersenyum, rasa sakit hati nya akan hilang dengan sendiri nya. Hampir 2 tahun Hafiz memendam perasaannya bahwa dia sangat menyuka Riri, betapa sakit hati nya Hafiz. Setiap malam ketika Hafiz ingin tidur, dia hanya bisa melihat foto-foto Riri dan terdiam ketika melihat foto nya Riri. Masa-masa kelas delapan pun berlalu begitu cepat, ketika hari libur pun tiba. Dia hanya bisa berkumpul bersama keluarga nya dengan sifat yang berbeda yakni menjadi pendiam, tetapi hafiz pun selalu tersenyum apabila dia bertemu dengan orang tua nya. Karena dia takut kalau orang tua nya tau sikap Hafiz menjadi pendiam dan tidak murah senyum lagi . Hari libur pun berakhir, seperti biasa ketika hari pertama masuk hanya melihat pembagian kelas. Dan ternyata Hafiz sekelas dengan Riri dan Faiz lagi, ketika kelas 9 ternyata Riri sudah tidak berhubungan lagi dengan Iman. Ketika hafiz mendengar kabar tersebut, Hafiz sedikit bersemangat ketika bersekolah, dan Hafiz pun mulai lagi untuk mengeluarkan perasaan nya kepada Riri yang terpendam selama 2 tahun. Dan ternyata ketika hafiz mencoba mendekati Riri ternyata Riri sudah tidak lagi meresepon Hafiz lagi, Hafiz pun semakin sakit hati nya dan dia hanya bisa bersenyum di balik kesedihan nya. Faiz pun mendekati Hafiz agar Hafiz tidak lagi menjadi pendiam. Karena sekarang hari rabu Hafiz dan Faiz pun mengikuti ekskul futsal. Ketika Hafiz bermain futsal, Hafiz pun sangat bersemangat sekali. Karena dia sangat menyukain olahraga ini, bagi dia dengan bermain futsal dia bisa sedikit melupakan masalah nya. Faiz pun senang karena temannya ini sudah tidak lagi menjadi pendiam lagi. Setelah bermain futsal Hafiz pun pulang ke rumah, seperti biasa setelah tiba di rumah ia mandi terlebih dahulu, setelah itu sholat, belajar, dan bermain-main. Hari demi hari pun berlalu Hafiz pun tak berhenti untuk mengejar Riri, ia sudah berusaha setengah mati untuk mendapatkan Riri. Pada hari sabtu ketika sekolah Hafiz libur, Hafiz mencoba untuk menelfon Riri tetapi tidak diangkat. Lalu dia mecoba untuk online facebook, dan ternyata Riri sedang online facebook juga. Hafiz pun langsung menyapa Riri, dan ternyata Riri pun menjawab. Akhir nya mereka pun berbincang- bincang. Karena Hafiz sudah gelisah, dia langsung megatakan isi hati nya kepada Riri. Di facebook Hafiz mengatakan bahwa dia sangat menyukai Riri, dan Hafiz pun ingin sekali menjadi pacar nya Riri. Setelah Hafiz megetik panjang lebar, dan Riri pun menjawab yang berisi kalau Riri sedang tidak mau berpacaran. Hafiz pun langsung sedih setelah membaca tersebut. Ketika hari Senin, ketika bel istirahat berbunyi. Hafiz dan teman-teman nya sedang bermain futsal di lapangan sekolah, lalu hafiz pergi ke kantin karena dia sangat haus. Ketika dia membeli minum dia melihat Riri sedang mengobrol dengan anak SMA yang bernama Bagus, mereka terlihat sangat akrab sekali. Hafiz pun ingat isi perkataannRiri kemarin di facebook, bahwa Riri tidak ingin berpacaran lagi. Hafiz pun bingung kenapa Riri bisa dekat sekali dengan cowo itu, padahal dia berkata bahwa dia tidak ingin berpacaran. Hafiz pun langsung meminum minum nya dan Hafiz membuang minuman itu sembarangan, Hafiz pun mulai bermain futsal lagi bersama teman-temannya denga perasaan nya yang bingung. Bel pulang pun berbunyi, Hafiz pun langsung pulang ke rumah karena dia ada les gitar. Dia sangat senang sekali saat bermain gitar karena, dia bisa mencurahkan isi hati nya dengan menyakikan lagu di iringi oleh gitar nya. Ketika Hafiz sudah selesai les, dia mendapatlkan sms dari Faiz kalau besok dia diajak bermain futsal di lapangan futsal sekolah nya. Esok hari pun tiba, Hafiz pun langsung menyiapkan pakaian nya untuk bermain futsal, dia pun langsung pergi dengan menggunakan motor nya. Di sekolah pun dia bertemu Faiz dan teman-temannya, merekan pun langsung melakukan pemanasan agar ketika main badan mereka tidak sakit-sakit. Setelah pemanasan Hafiz dan teman-temannya langsung menuju ke lapangan untuk bermain futsal, ketika kick off dimulai Hafiz dengan semangat nya menendang bola ke gawang dan ternyata langsung gol. Hafiz pun sangat senang sekali, Hafiz pun lelah dan dia minta untuk di ganti oleh teman nya. Ketika Hafiz sedang duduk, dia di panggil oleh Bagus cowo yang dekat dengan Riri. Hafiz pun langsung takut, dia berfikir kalau Bagus ingin memarahi nya. Dan tenyata Bagus mengajak hafiz untuk bertemu langsung dengan Riri, tanpa Hafiz sadari ternyata Riri ke sekolah juga. Akhirnya Hafiz dan Riri bertemu, dan ternyata Riri langsung mengungkapkan perasaan nya kalau dia ternyata juga suka dengan Hafiz tetapi dia malu untuk mengatakannya. Di hari itu juga Hafiz langsung menembak Riri dan Hafiz pun sangat senang sekali bisa mendapatkan Riri, teman-teman Hafiz pun langsung memberikan selamat kepada Hafiz.

Teman Jadi Pacar by Nur Rahma Sudarsono

Namaku Mika, kini umurku 16 tahun, baru sebulan aku masuk ke SMA. Ada 2 hal yang kusuka semanjak aku masuk SMA, yitu teman baru dan suasana baru, aku mempunyai 3 teman baru bernama Nissa, Nanda, Alexa. Pada siang hari, di sekolah, ketika di kantin, “ woooiiii,,, Mika sadar, masa siang-siang gini bengong? “ kata Nissa, Nanda, dan Alexa sambil melambai-lambaikan tangan mereka di hadapanku. “ehh,,, iya iya maaf ya, tadi kalian ngomongin apa ya? “ kataku sambil menggaruk-garuk kepala dengan kebingungan “kita lagi ngomongin rencana mau belanja di mall, lo mau ikut ga? “ kata Alexa “ duh,,, gw sih mau, tapi gw ga yakin kalo bokap gw ngebolehin” kataku “ yahh,,,, ga asik nihhh,,,” kata Nanda “ yaudah, kita liat nanti yaa” kataku sambil tersenyum Ketika sedang memesan makanan mataku terpana pada seseorang laki-laki tinggi, berambut sedikit berantakkan yang sedang berjalan ke arahku, aku merasa mengenal laki-laki ini, lama-lama dia mendekatiku, dia sudah mulai dekat aku tersenyum kepadanya tapi dia tak membalas senyumku, pikiranku sudarh mulai berantakkan, katika dia menghampiriku waktu seakan terhenti, dia berdiri di hadapanku, setelah beberapa detik di hadapanku dia berjalan sambil menyenggol pundakku dengan kencang, haatiku langsung buyar dan tiba-tiba aku merasa kesal kapadanya, setelah itu aku langsung duduk di dekat temanku. “eh,,, eh,,, tadi lo liat ga cowo yang dateng ke arah gw?” kataku “ ohh,,, yang itu gw liat, emang itu siapa? Cowo lo yaaa” kata Nissa “ha,, cowo gw? Gw aja ga kenal dia gimana mau di bilang pacar?” kataku sudah hampir emosi “ohhh,,, itu bukan cowo lo, gw kira itu cowo lo soalnya dia nyamperin lo terus jarak lo sama dia juga deket banget, kaya orang pacaran gituuu,,” kata Alexa sambil bercanda “ ga mungkinlah,,,, kalo itu pacar gw, dia bakalan baik-baikin gw tapi yang ini ga dia malah nyenggol gw mana kenceng banget lagi, sakit banget tau gw yakin pundak gw bakalan biru, lagian gw juga ga tau namanya tapi gw ngerasa femiliar pas ngeliat mukanya kayanya gw kenal ” kataku sambil mangusap-usap pundakku “ya iyalah lo kenal, dia kan pacar lo hahahah” kata Nanda sambil menggodaku “ apaan sihhh? Kenapa balik lagi ke pacar si, gw udahpunya pacar kaleeee” “ ohhh,,,, iya deh yang udah punya pacar pamer dehhhh” kata Alexa “ bukan maksudnya pamer tapi gw ga mau di godain pacaran ma tuh cwo ngoselin tadi” kataku sambil cemberut “ iya iya,,,” kata Nanda, Nissa, dan Alexa sambil tersenyum Bel pun berbunyi kami berbondong-bondong masuk ke kelas, ketika sedang pergantian jam,,, “ eh,,, nanti kita pulang bareng kan?” kataku “ iya iya” kata Nanda dan Nissa bersamaan “kayanya gw ngga deh soalnya, gw mau latihan basket dulu” kata Alexa “ ohh,,,, yaudah deh,,,” kataku Ketika pulang sekolah, aku, Nanda, Nissa jalan bersama karena ingin cepat-cepat pulang. Keesokan harinya. “eh,, Mika, aku mau bilang deh sama kamu” kata Alexa “tentang apaan?” kataku kebingungan “ tentang cwo yang nyamperin lo kemaren” Alexa menjawap cepat “ahh..... ngapain sih ngomongin dia lagi, udah males gw entar lo pada ngegodaian gw lagi” kataku sambil muka malas “ ih,,, serius, gw ga ngegodain lo lagi dehhh,,, nihh kemaren kan gw latihan basket nah kebetulan banget, cowo yang nyamperin lo itu ikut basket juga, terus di bilang sama temanya kalo dia nemuin cewe yang dia kenal namanya Yuri, dia bilang dia udah kenal lo” kata Alexa panik “ ah masa sihh,,, tapi gw ga kenal dia” kataku sudah mulai panik “ yang bener? Gw sih ngeliat dia waktu nyebutin nama lo kaya udah kenal banget” “ ha,,, lo tau ga namanya?” kataku “hehehe,,,, gw ga tau namanya” kata Alexa sambil tertawa “yahhh,,,, payah nihhh, yaudah besok- besok kalo lo latihan cari tau namanya ya,,,” “ oke dehhh.... sippppp” Setelah itu bel lansung berbunyi, sudah beberapa pelajaran di lewati, kami berempat pergi ke kantin untuk membeli makanan, katika sedang memesan makanan aku bertemu laki-laki yang manyenggol pundakku tapi dia datang dengan tersenyum, karena aku ga mau di lakukan seperti dulu lagi jadi aku langsung pergi menghampiri bangku temen-temanku. Untung saja ketika aku duduk di bangku temanku mereka tidak menggodaku. Hari berganti hari, aku sudah hampir melupakan cowo yang bikin aku kesel dan Alexa juga tidk memberkanku informasi tentang cowo itu. Ketika siangnya, aku bertemu laki-laki yang waktu itu menyenggolku. Tiba-tiba dia menggodaku, “ Hai cewe,, sendirian aja?” “ ya, hmmm,,, tapi lo siapa ya? Gw ga kenal lo tuh” kataku sambil illfeel “ ya ampun masa lo ga kenal gw sihhh” kata dia tetap menggodaku “ ihhh,,,, apaan si? Gw emang ga kenal sama lo ko” kataku kesal dan langsung pergi Apaan sih tuh cowo ngegodain gw mulu,kesel banget deh gw, emang gw cwe murahan apa? Kataku di benakku. Setiapa hari aku selalu di godaiin sama cwo itu tapi dia tidak menyebutkan namanya, dan Alexa juga tidak bisa menemukan namanya. Seminggu kemudian, “ hai Mika,, tumben sendirian? Temen-temen lo yang lain pada kemena?” kata laki-laki itu “eh,, sebenernya lo siapa sihh? Setiap hari ngegodain gw mulu emang lo ga bosen apa? Gw juga ga tau nama lo? Manggil-manggil nama gw lagi?” kataku sudah hampir marah “ lo bener-bener ga kenal gw?” kata dia bertanya-tanya “ ya, gw ga kenal sama lo” kata ku “ gw temen kecil lo” kata dia “ temen kecil gw? Siapa ya? Mario ya? “ kataku menebak “ hahahah bener banget ko lo udah lupa sama gw sihh?” kata dia “ hahahah gw selalu mau untuk ngelupain lo” kataku sambil bermalas-malasan “ ih,,, ko gitu sihhh, kitakan teman kecil masa lo ga mau mengingat gw sihhh, padahal gw selalu nginget lo tau,pokoknya lo harus nginget gw” kata dia “ lohh,,, gw kan ga nyuruh lo nginget gw, terus kenapa gw harus?” kataku sambil pergi Ketika aku berjalan ke kelas Mario terus menatapku sambil tersenyum, aku merasa ada yang aneh. Waktu aku kecil aku mempunyai teman laki-laki bernama Mario, dulu ketika aku kecil aku pernah di jodohkan oleh orang tua ku dengan Mario dan aku menolaknya tapi orang tuaku memksa dan aku terus menolaknya, akirnya perjodohan itu gagal. Aku ga tau mungkin karena perjodohan itu gagal atau apa pun yang aku nggak tau orang tua Mario dan Mario sendiri pindah entah kemana, dan sekarang aku bertemu dia di hadapanku, sebenarnya aku senang tapi aku juga merasa aneh dengannya mungkin karenan aku tidak pernah melihatnya lagi. Ke esokan harinya, aku berpikir kalau aku ingin mulai menjadikan dia sahabatku lagi, siang harinya, ketika di kantin aku melihat Mario dan aku tersenyum kepadanya tapi,, “ngapain lo senyum- senyum ke gw?” kata Mario “ihh,,, siapa yang senyum sama lo, orang gw senyum ke temen gw” kataku “ mana temen lo? Kayanya gw ga ngeliat temen-temen lo dehh” kata Mario “ tuh,, temen gw” kataku dan aku langsung menghampiri teman-temanku Katika aku sampai di tempat duduk teman-temanku, “ loh, Mika tadi bukannya cowo yang nyenggol pundak lo itu kan?” kata Alexa “ ya, gw udah kenal sama dia, namanya Mario dia temen gw kecil dulu” kataku dengan muka sedih “ ohh,,,, pantes ja dia manggil lo tuh kayanya udah kenal lo lamaaaaa banget” kata Alexa “ terus tadi lo ngomongin apaan? Ko kayanya serius banget?” kata Nissa “ ga ngomong apa- apaan dia ja yang nyolot duluan” kataku membela diri “ yaudah lah biarin ja, lo juga ga suka sama dia kan” kata Nanda “ iya sihhh... yaudah deh ga peduli gw hahahah” kataku sambil mengganti suasana Tapi aku berpikir kayanya kemarin dia baik banget sama gw tapi kenapa tadi dia jutek banget sama gw ya? Aku berpikir di benakku, baerati lain kali aku kalu bertemu dia aku langsung buang muka aja masih berpikir di benakku. Keesokkan harinya, katika istirahat, aku bertemu Mario lagi, dia menghampiriku dan menyenggol pundakku lagi dengan kencang, “ eh,, jalannya nyantai aja kali jalan juga masih luas” kataku sambil marah “ dihhh,,, ke pedean lo ngapain gw nyenggol lo, mendingg gw nyenggol monyet deh dari pada nyenggol lo” kata Mario “ apaan si,, jelas-jelas lo yang nyenggol gw, nih temen gw buktinya kalo ga percaya” kataku sambil menujuk Alexa, Nanda, Nissa “ ya, lo yang nyenggol duluan, jangan sok sok ga tau dehh,,,” kata Alexa “ tau nihhh, sok banget deh lo” kata Nissa dan Nanda “ alah,, mungkin ja lo berempat sekongkol supaya gw yang kena salah, ah,,,, ga jelas lo semua” kata dia “ ihh,,, ngeselin banget sih tu cowo? Ko lo bisa temenan sama cowo ngeselin kaya gitusih Mika?” kata Alexa “ gw juga ga tau, kayanya dulu dia ga kaya gitu deh,, ko sekarang sok banget ya” kataku “yaudah deh, kalo misalnya lo pacaran sama dia kita ga ngedukung.” Kata Alexa, Nanda, Nissa “ ya lah gw juga ga mau pacaran ma dia” kataku Hari berganti hari dia masih tetap seperti itu, lama-lama dia terus menyenggolku tapi aku nggak peduli, setelah aku nggak peduli dia juga sudah nggak menyenggol pundakku lagi. Seminggu kemudian, ketika saling berhadapan kita seakan tidak saling mengenal tapi lama-lama aku merasakan bahwa dia mulai memperhatikanku tapi aku tidak mau ke geeran dulu mungkin ada cewe yang dia sukai ada di dekatku jadi aku merasa di perhatikan dia. Keesokan harinya, ketika di kantin aku dan teman-temanku sedang menunggu pesanan, sedangkan Mario dia lagi duduk di hadapanku dan entah dia sedang melakukan apa, katika aku mulai menengok ke Mario ternyata dia sedang melihatku juga, aku melihat ke belakang semuanya laki-laki sedangkan yang perempuan di belakang Mario, jadi Mario ngeliatin siapa? Aku langsung bertanya ke Mario, “ eh.. Mario lo ngapain ngeliatin gw? Lo suka ya sama gw?” kataku sambil menggoda dia “dihhh,,, apaan sihh lo mulai dehh sakit geernya, emang gw ngwliatin lo apa kayanya gw ngeliatin pesenan gw, ko pesenan gw belom dateng ya?” kata dia sambil melihat-lihat “ emang lo mesen apaan? Bukannya lo mesen siomay ya, kan abang- abang siomaynya di belakang lo gimana sihh” kataku sambil ke bingungan “ oh iya gw lupa makasih ya” kata dia sambil tersenyum “ ha tumben banget lo bilang makasih sama gw, biasanya lo ngegodain gw mulu” kataku tambah kebinggungan “ yahhh,,, gw kan mau berterimakasih sama lo” kata Mario “ iya dehhh” kataku Setelah beberapa saat aku berbicara, aku dan temenku saling bertatapan dan kebingungan, setelah itu, “ Mika ini perasan gw ja atauuu,,, Mario udah berubah ya?” kata Alexa “ ya,,, gw jga ga yakin kalo itu Mario yang kita kenal” kata Nissa “tau tuh,, kayanya dia kaya kerasukan setan apa gitu ko ampe ngomong ‘makasih’ sama lo Mik?” kata Nanda “ gw juga ga tau, ko dia tumben banget ya baik ma gw, ah udah biarin ja nanti juga bakalan balik lagi kaya yang dulu” kataku menghilangkan kebingungan Setelah beberapa hari Mario mulai baik denganku dan teman-temanku, “ Mika kenapa Mario baik banget sama kita mana lama banget lagi udah hampir sebulan Mario baik sama kita” kata Alexa “ ya lama banget” kata Nanda dan Nissa “ ya lumayan ya udah sebulan dia baik sama kita” kata Mika tambah kebingungan dengan sifat baru Mario Setelah pulang sekolah, Mario mengajakku ke belakang sekolah katanya Mario ingin mengatakan sesuatu yang sangat serius, “ Mika, gw pengen ngomong sesuatu sama lo?” kata Mario “ yaudah, silahkan” katau mempersilahkan Mario berbicara “ hemmmmm,,,,,,,,,” Mario berpikir sangan lama “ Mario bisa cepetan ga ngomongnya gw udah mau pulang ni, temen-temen gw udah nungguin gw” kataku “ oke, lo mau ga jdi pacar gw?” kata Mario sambil terburu-buru seakan tak sabar menunggu jawabanku “ ha,,,, apaan becanda kali lo?” kataku bingung “ beneran, lo mau ga jdi pacar gw?” kata Mario “ kasih gw waktu ya, mungkin besok sepulang sekolah di sini oke?” kataku sambil tak percaya bahwa seorang Mario nembak gw, Katika bertemu teman-temanku aku langsung memberitahu mereka “ jadi gimana gw terima ga?” kataku “ yahh,,, coba ja kan dia udah ngebuktiin selama ini dia balik sama kita-kita, kenapa ga” kata Alexa “ ya mungkin ja dia udah berberda sama yang dulu” kata Nanda dan Nissa Keesokan harinya.

Rabu, 08 Februari 2012

Renungan Sahabat by Putri Dinah Husna Raswandi

Tatapan mata selalu tegang, badan tegak dan wajah yang pucat. Sudah jadi hal yang biasa bagi sahabat ku jika mulai merasa terpojokan. Jika ia akan tersenyum akan terasa hampa dan ketika dia terdiam akan terasa pilu bagiku. Ada sebuah tali yang menyambung, jika aku putuskan akan serasa hidup dalam kematian. Dikala aku jatuh dia selalu ada merangkul ku. Seringnya dia jatuh namun aku tak dapat merangkulnya. Terkadang aku merasa gila karena nya. Sebutlah aku Raka. Seorang siswa yang sangat beruntung memiliki sahabat yang setia, desy namanya. Semua mengacuhkan aku kecuali dia. Dia tidak perduli berteman dengan orang seperti aku. Dia juga tidak malu. Aku tidak memiliki keterbelakangan apapun hanya saja aku gagap dan buruk rupa. Membuat ku hanya punya teman seorang saja yaitu desy. Desy adalah sang bunga di bak air yang dalam. Bunga nya jauh di dalam air telah tenggelam, sayang nya cahanya nya pun ikut tengelam didalamnya. Ah sang desy tertawa dikala aku bergurau. Memang tidak lucu dan aku tau namun tawanya selalu ada, selalu menghiasi hariku meski terkadang terasa kosong. Cukup bicarakan tentang desy, mari bicarakan tentang kisahku. Sinar mentari menghantam wajahku pagi ini. Betapa pagi yang indah, burung memang tidak berkicau namun manusia manusia lah yang mulai berkicau. Kupasang mental baja pagi ini, biarlah orang berkata apa. Apa yang kupercayai adalah keyakinanku. Keyakinanku pagi ini yaitu untuk melihat langit dan mencari tuhan. Silau nya mentari kuhirau kan, tapi terkadang kuterpikir mungkin tuhan bersembunyi dibalik awan. Di depan jalan menuju sekolah terdapat sebuah gubuk tua, disanalah Desy tinggal. Aku tidak pernah masuk kedalam rumahnya namun dia selalu datang keluar jika aku sudah dekat dengan rumahnya. Desy hari ini menggunakan kemeja sekolah yang kusut. Tapi jika dilihat sekali lagi, kemeja kusutnya terlihat sungguh rapih dengan suatu cahaya yang ada padanya. Hanya saja tidak ada yang bisa melihat cahaya itu. Butuh sebuah keyakinan yang kuat untuk bisa melihat. Desy tersenyum namun ia tidak berbicara satu patah katapun. Kita pun berjalan bersama kesekolah. Saat aku memasuki gerbang sekolah detak jantung serasa terhenti. Aku takut akan tempat ini. Benarkah orang tua ku sayang kepadaku? Namun mengapa mereka membuatku berada disini. Tidak ada yang menyapa, suasananya tegang dan dingin. Tapi aku tetap berjalan menuju ruang kelas. Sekolah sangat memojokan diriku. Ketika sang guru menyuruh kami untuk membuka lembaran lembaran itu, aku sama sekali tidak melihat jendela yang dapat menghubungkan aku dengan dunia. Apakah bohong kata mereka tentang “buku jendela dunia”? Tapi tak butuh jendela aku sudah ada di dunia kejam ini. Mata mata yang pedas membuat hatiku teriris setiap hari. Apakah aku dibenci dunia? Andaikan buku bukanlah jendela dunia, melainkan ke alam lain dimana aku bisa bebas dari mata mata ini. Guru dengan wajah yang keras itu bernama Bu Tantri. Seorang yang sangat spesifik akan apapun. Bu Tantri mengelus punggung ku. Aku terdiam ketakutan. Desy tersenyum kepada ku dan bilang semua akan baik baik saja. Aku pun memasang senyum kecil diwajahku. Bel berbunyi menandakan istirahat. Ketika aku hendak keluar kelas kulihat sepasang remaja berpegangan tangan, saling pandang memandang. Seperti ada detakan jantung dari hati ke hati. Aku tidak tau namun aku merasa tersentuh melihat mereka. Alangkah indahnya memiliki kekasih. Namun aku tidak tau siapa untuk dicinta. Desy pun memandang mata ku dalam, aku pun tau siapa. Apakah aku yakin? Atau hanya karena iri melihat sejoli berpegangan tangan disekolah. Aku berjalan menuju taman sekolah lalu aku memandang langit tak perduli seberapa teriknya mentari menusuk mataku. Aku terdiam aku mencari tuhan. Aku pun bertanya “Tuhan, apakah yang aku rasa benar? Apa hanya sugesti dari diriku sendiri?”. Aku menunggu jawaban, dan tidak ada satu patah kata pun terdengar atau terlihat. Sekali lagi aku terdiam. Aku berlutut dan seketika setetes air jatuh dari mataku. Orang orang yang melihat heran ada apa dengan ku, tapi menurutku mereka tidak harus tau. Hari ini adalah hari yang sangat buruk. Tidak ada yang mendengarku, bahkan tuhan tak mendengarku. Seorang gadis dari kelasku melihatku iba, namun aku tidak mau orang iba kepadaku. Aku hanya mau mereka cukup mendengar, tapi aku melupakan fakta bahwa aku jarang bicara. Bisakah mereka yang bertanya? Tapi mereka hanya terdiam di keheningan yang mengiris hati. Bel kembali berbunyi aku pun masuk kekelas dengan hati yang tersayat. Saat aku memasuki ruang kelas, kelas serempak terdiam. Mataku nampak sembab dan wajah ku merah namun aku tak perduli. Aku hanya berjalan dengan tenang lalu duduk di bangku ku. Bangku yang paling depan paling kanan. Ketika guru masuk, semua mengalihkan perhatian nya dariku. Tapi ada seorang gadis disana tetap memerhatikanku. Gadis itu gadis adalah gadis yang melihat ku iba dilapangan tadi. Seharusnya aku tahu namanya karena kita sekelas. Aku tidak tahu namanya, aku memang memiliki masalah dalam mengingat nama nama. Hal ini memang menjadi salah satu faktor mengapa aku jarang bicara dan bersosialisasi, karena aku sulit menghafal nama nama. Dikala guru menerangkan, gadis itu tetap melihatku. Kali ini wajahnya seperti sedang berfikir. Ada apa? Apakah ada yang aneh dariku? Gadis itu terus memperhatikan ku membuat ku resah. Tangan ku mulai berkeringat, aku tak dapat mengerti satu patah katapun yang guru terangkan. Aku mencoba untuk mengalihkan perhatian ku, namun aku selalu ingin tau apakah dia masih memperhatikanku. Memang dia memperhatikanku terus menerus. Keringat pun mulai turun dari kepalaku, ribuan pertanyaan tentang gadis ini di kepalaku tiba tiba menghilang saat aku melihat desy memegang tangan ku. Untunglah bel pulang akhirnya berbunyi. Aku langsung memasukan semua barang ku kedalam tas. Tas ku sudah kotor dan usang. Ketika aku memasukan barang barang ku tiba tiba tas ku tersobek, aku pun mulai panik . Gadis itu menghampiriku perlahan. Nafasku serasa tertahan, darah serasa tak mengalir di nadiku. “Tas mu robek. Sepertinya bisa ku bantu.” Dia memberiku kantung plastik yang besar dan memasukan barang barangku kedalamnya. Aku menyadari mungkin gadis itu adalah jawaban tuhan, gadis yang akan mendengarku. Aku tersenyum kecil dan bertanya “maaf siapa namamu?”. Gadis itu tertawa puas. “kita sekelas dan bahkan kamu tidak tahu namaku? Nama ku Raina”. Aku pun malu tidak tahu namanya saat dia bilang begitu. Dia pun tersenyum dan mengajak pulang bersama. Aku pun mengangguk namun aku meminta dia menunggu Desy. Saat aku menyebut nama Desy dia menunjukan ekspresi wajah yang aneh. “siapa Desy?” Tanya nya. Ternyata dia juga lupa salah satu nama murid dikelas ini yang membuat ku dapat bernafas lega. “Desy itu teman kelas kita. Masa kamu tidak tahu? Dia yang memiliki kulit gelap dan rambut dikuncir satu”. Dia pun terdiam sejenak, membuat keheningan selama beberapa menit. “Aku merasa aku hafal semua teman kelas kita. Desy? Mungkin aku lupa. Bisa tunjukan aku siapa dia?” aku pun mengganguk dan mengajak Raina menunggu Desy didepan sekolah. Raina dan aku menunggu desy di sebuah kursi biru tua yang dekat dengan tumpukan sampah. Raina tidak merasa jijik ataupun risih dengan hal tersebut. Diapun memulai percakapan terlebih dahulu, aku hanya mengikuti alur pembicaraan yang dia pilih. Dia bertanya beragam hal tentang ku. Hal yang aku tidak heran dia bertanya, mengapa tadi aku menangis. Aku menjawab nya dengan mata berkaca kaca, aku bilang kepadanya apa yang kurasakan dan ku alami. Dia hanya binggung dan dia bilang bahwa jawaban ku sangat tidak masuk akal. Sudah pukul lima sore dan kita masih menunggu Desy. Raina mulai kesal dan dia melihat ku sinis aku pun menunduk. “Kelihatannya Desy tidak akan muncul, sudah sore aku harus pulang sekarang” Raina pun pergi meninggalkan ku sendiri. Tak lama setelah Raina pergi Desy pun datang, kami pun akhirnya pulang bersama. Aku sangat menyesal membuat Raina menunggu kemarin, aku berniat untuk meminta maaf padanya. Dikala aku menyesal hari esok serasa sangat lama. Namun aku sangat berterimakasih untuk hari ini, akhirnya ada yang mendengarkan kata – kataku “ayo bangun nak, kamu terlambat kalau tidur terus”. Badan ku digoyang – goyangkan membuat mata ku terbuka sedikit demi sedikit. Ah silau sekali membuat ku ingin menutup mata kembali namun aku harus bangun. Ternyata aku tertidur diruang kelas saat guru menerangkan. Ibu guru tadi yang membangunkan. Betapa malunya aku semua tertawa lepas. Raina tidak memperhatikan aku lagi, dia sudah tidak penasaran akan siapa aku sepertinya Untungnya setelah guru membangunkan ku, waktu istirahat langsung tiba. Ketika semua keluar kelas aku menghampiri Raina. “Maaf ya membuatmu menunggu kemarin”. “iya tak apa” kata Raina, ia pun tersenyum. “Tadi pagi aku mengecek absen kelas kita. Tidak ada satu muridpun yang bernama Desy.Mungkin kamu berimajinasi saja” . Aku merasa tidak nyaman, aku tidak tahu nama perasaan ini, tapi rasanya aku ingin memukul sesuatu. “tentu Desy ada! Mungkin kamu yang salah” . Dia pun menekan kan katanya dengan lebih keras “Desy itu tidak ada! Kalau tidak percaya bacalah absen kelas! Carilah yang namanya Desy! Bangun lah dari mimpi, ini realitas.” Aku hanya menangis, aku merasa seperti lelaki yang lemah. Lelaki yang menangis setiap hari. Aku tidak percaya bahwa Desy adalah imajinasi belaka. Aku memanggil nama Desy berkali kali. Biasanya setiap kupanggil dia selalu ada, tapi mengapa setiap ada Raina dia tidak pernah ada? Aku ingin dia ada disini sekarang. Menggengam tangan ku dan bilang semua akan baik baik saja. Namun sayang nya dia tidak ada. Raina memeluku “maaf jika kataku kasar.” Ucapnya. Ketika dia memeluku aku menyadari Desy memang imajinasi. Rasa peluk yang sebenarnya memang hangat dan membuat ku memiliki dunia ini. Dunia serasa berbalik. “Raina, apakah selama ini aku gila?”. Raina menggelengkan kepala. “tidak, kamu hanya kesepian.” Rasanya aku bodoh dan gila. Mengapa imajinasi ku terasa begitu nyata. Aku mencintai imajinasi ku yang membuatku merasa tertekan karena sesungguhnya itu tidak nyata. Kenyataannya begitu perih bagiku. Apakah selama ini hidup ku hanya imajinasi saja? Apakah Raina juga tidak nyata? Ratusan pertanyaan membuat ku muak. Entah mengapa aku merasa nadiku terhenti dan aku berteriak. “RAKA!” Raina memukul ku dengan keras. Alis ku berkerut dan untuk pertama kalinya aku menatap Raina dengan sinis. Raina mencoba menenangkan aku, tapi ada sesuatu yang janggal, ada sesuatu yang terasa tidak benar. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku harus kupercaya dan kuperbuat. Aku tidak mau bangun dari mimpi aku mau terus berimajinasi. Aku mengusap wajahku, menghentikan tetes mata ini, lalu menarik nafas yang dalam. Aku memeluk Raina “sepertinya aku tidak mau bangun dari imajinasi ini. Apa yang kupercaya adalah yang kuyakini. Aku yakin suatu hari nanti Desy akan kembali. Entah dalam wujud imajinasi atau nyata. Terimakasih untuk menyadarkan ku. Aku merasakan hangatnya peluk mu, hangat pelukmu adalah hangat sesugguhnya. Bukan hangat peluk Desy. Aku berharap kita tetap berteman, namun kelihatannya akan menjadi kerugian jika kamu berteman denganku. Aku merelakanmu, meskipun kamu adalah orang yang mendengarkan ku”. Raina pun ikut menangis, dia membuat ku terkejut saat dia menggengam tangan ku erat. “Apakah kamu pernah merasa ada sebuah tali yang menyambung antara kamu dan Desy. Dan jika kamu putuskan tali itu kamu akan merasa hancur, tersakiti atau lainnya? Kalau misalkan ia, itu lah yang kurasakan saat berteman dengan mu. Aku tidak perduli seberapa dampak buruk yang kamu berikan kepada ku. Tapi aku merasa terikat dan kita mungkin memang seharusnya berteman. Aku membangunkan mu dan sekarang kamu hidup dengan kenyataan. Bisakah kamu berbalas budi kepadaku?” Benar apa yang dia katakan tentang tali menyambung itu. Aku tercengang mendengarnya. Kini aku masih dalam keadaan kaget, aku tak tahu harus memutuskan apa. Aku akan berbalas budi kepada Raina tentunya. Aku tidak akan membiarkan dia berteman denganku. Aku bukan orang yang tepat bagi orang sebaik dia. Biarkanlah hatinya hancur sejenak, selama dia tidak terkena dampak buruk apapun dariku. Jika ia tak berteman dengan ku dia akan bahagia dia tidak akan hidup dari mimpi. Dia akan membuat mimpi menjadi kenyataan dan hidup dalam kenyataan. Aku meninggalkan Raina,semenjak itu kami tidak pernah berbicara lagi. Maafkan aku Raina aku akan memutuskan tali ini.

Keno Djimon by Putri Anggiaris

Kenzo Djimon, seorang anak laki-laki yang hidup di Pine Buff, Arkansas. Sejak kecil ia sudah tinggal sebuah panti asuhan, walaupun sebenarnya ia masih memiliki seorang ibu. Tetapi Kenzo terakhir bertemu ibunya pada hari ulang tahunnya yang ke-10, itu pun hanya beberapa jam, Kenzo kecil pun selalu merasa kesepian. Saat kesepian biasanya Kenzo datang ke ibu panti asuhan yaitu, Bu Charoline untuk sekedar bercerita-cerita atau bermain bersama, maka Kenzo sudah menganggap Bu Charoline sebagai ibunya sendiri karena beliau merupakan sosok yang penuh dengan kasih sayang. Namun sekarang ia telah berumur 15 tahun, dan telah tumbuh menjadi remaja yang rajin dan penuh dengan keingintahuan. Di sekolah Kenzo hanya memiliki beberapa teman dan ia sering disebut dengan sebutan kelompok minoritas yang berisi anak-anak miskin, jelek, dan dianggap tidak memiliki kemampuan apapun. Hari ini Kenzo bangun kesiangan karena semalam suntuk ia mengerjakan tugas unutk pelajaran sastra. Hal tersebutlah yang kemudian membuat Kenzo kesiangan pagi ini, sehingga Kenzo berangkat ke sekolah sendirian. Kenzo berangkat ke sekolah dengan berjalan pagi, karena jarak antara panti asuhan dengan sekolah tidak begitu jauh. Ketika tiba di depan gerbang sekolah Kenzo merasa takut akan dikerjai karena di sana ada sekelompok anak-anak yang bertingkah kasar terhadap anak-anak lainnya. Tapi karena bel masuk sudah mau berbunyi, Kenzo memberanikan diri untuk berjalan saja melewati mereka. Benar saja apa yang Kenzo khawatirkan akhirnya terjadi, pemimpin geng itu Alex datang menghampirinya dan mengambil bekalnya serta mendorongnya sampai terjatuh, kedua teman Alex, Sam dan Rex pun tertawa dan juga meludahinya. Walaupun di dalam hatinya ia merasa sangat marah, Kenzo berusaha untuk sabar dan tidak mau melaporkan kejadian tersebut kepada siapapun. Di kelas semua teman Kenzo sudah menunggu, mereka pun langsung mengeluarkan buku pelajaran sambil berbincang-bincang. Saat jam istirihat tiba Kenzo hanya bisa melihat yang lain makan, sementara ia hanya duduk terdiam. Apalagi setelah pulang sekolah ia masih harus bekerja di salah satu restoran sebagai pelayan. Saat bel masuk berbunyi, pelajaran pun kembali dilanjutkan tetapi wajah Kenzo sudah pucat karena ia dari kemarin malam belum makan apapun dan ia menjadi tidak focus kepada pelajaran yang sedang diajarkan. Karena sangat pucat teman Kenzo yang bernama Carl merasa kasihan dan membelikannya sebungkus roti, Kenzo akhirnya menjadi sedikit bertenaga dan langsung pergi menuju tempat kerjanya di restoran Cleo. Perjalanan dari sekolah ke restoran memakan waktu 30 menit apabila berjalan jadi Kenzo memilih untuk naik bus. Sesampainya disana, Kenzo langsung menuju ke loker karyawan untuk berganti pakaian serta memasukkan barang-barangnya ke dalam loker. Hari ini tamu yang datang sedang meningkat sehingga Kenzo menjadi sedikit kewalahan serta kelelahan. Di tengah jam kerjanya, tiba-tiba ada teman Kenzo yang memberitahu bahwa ada telepon dari panti asuhan. Kenzo pun langsung bergegas menjawab telepon tersebut, ternyata itu dari Zoey teman panti asuhannya yang memberitahu kalau Bu Charoline tiba-tiba pingsan dan sedang dibawa ke rumah sakit Sui oleh ambulans. Dengan perasaan yang sangat panik Kenzo langsung mengambil barang-barangnya dan berlari ke rumah sakit, karena untungnya rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh jaraknya dari restoran Cleo. Dengan napas yang tersengal-sengal ia langsung menuju ke meja resepsionis dan bertanya tempat dirawatnya Bu Charoline, suster tersebut langsung memberitahu kalau beliau sedang berada di ruang UGD. Di depan pintu UGD sudah ada Zoey dan beberapa teman panti asuhan yang sedang duduk sambil menuggu kabar dari suster ataupun dokter yang akan keluar untuk memberitahu keadaan Bu Charoline. Kenzo kemudian duduk di sebelah Zoey dan bertanya apa yang terjadi sampai akhirnya beliau bisa berada di UGD. Zoey menceritakan bahwa siang tadi bunda sedang duduk di kursi goyangnya, kemudian bunda pergi ke dapur dan Zoey mendengar suara yang berdebam, lalu ia langsung berlari untuk melihat dan bunda sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dapur, Kenzo hanya bisa menghela napas setelah mendengar apa yang telah terjadi. Tak lama seorang dokter keluar dari ruang UGD dan berkata bahwa Bu Charoline sudah meninggal dan tidak bisa tertolong dari penyakit kanker yang telah lama menggerogoti tubuhnya tersebut. Semuanya langsung terduduk lemas, karena tidak ada yang menyangka beliau akan pergi secepat ini. Setelah mengurus semua surat-surat dan beberapa keperluan yang dibutuhkan Kenzo yang dibantu teman Bu Charoline langsung dimakamkan besok paginya di pemakaman setempat. Seusai dari pemakaman Kenzo merasa benar-benar kesepian karena sudah tidak ada sosok seorang ibu yang mendampinginya lagi. Ia juga merasa bingung dengan keadaan panti asuhan, karena sekarang ini sudah tidak ada donator yang mau menyumbang ke panti asuhan lagi setelah bunda meninggal. Sebab pekerjaan sebagai seorang pelayan tidak akan bisa membiayai sekitar 15 anak yang ada di anti asuhan. Karena memikirkan semua adik-adik yang ada di panti asuhan, Kenzo berencana untuk mengakhiri sekolahnya dan mengadu nasib di Los Angeles. Saat mendengar rencana Kenzo, Zoey langsung tidak setuju karena dia khawatir dengan apa yang akan Kenzo alami apabila ia ke sana dan ia memberitahu Kenzo bahwa bunda pasti juga tidak ingin ia melakukan itu semua. Tanpa memperdulikan kata-kata dan perasaan Zoey, dua hari setelah pemakaman, Kenzo sudah melakukan berbagai persiapan seperti surat lamaran dan beberapa berkas lainnya serta sejumlah uang dari tabungannya. Sesampainya di Los Angeles, Kenzo bingung karena tidak tahu apa yang pertama ia harus lakukan. Sambil berjalan untuk melihat tempat mana yang membuka lowongan kerja, Kenzo juga mencari kontrakan yang sangat murah untuknya. Namun, sampai malam hari ia juga belum menemukan keduanya. Perasaan putus asa menjadi sedikit mucul di dalam ahti Kenzo, tetapi ia berusaha untuk tegar dan terus berusaha mencari pekerjaan yang layak. Malam ini Kenzo memutuskan untuk tidur di sebuah binatu. Berhari-hari ia tidak mendapatkan pekerjaan apapun. Di suatu siang, Kenzo bertemu seorang laki-laki yang menawarinya pekerjaan, tetapi lelaki itu juga berkata bahwa ia harus membayar sejumlah uang terlebih dahulu sebelum bekerja di suatu perusahaan. Karena kepolosannya, tanpa berpikir panjang Kenzo langsung memberikan semua sisa uang yang ada di kantongnya. Setelah membayar Kenzo diberikan kartu nama lelaki itu serta kartu nama perusahaannya dan dia juga disuruh orang tersebut untuk menunggu selama beberapa hari sampai semua proses yang berlangsung selesai. Siang ini Kenzo sedang duduk di taman kota sambil mengamati pemandangan yang ada, tapi ia sedang kelelahan tertidurlah ia di bangku taman dengan nyenyaknya. Tetapi, saat baru bangun Kenzo mencari handuk kecinya yang ada di tas ranselnya. Tapi ia tersadarkan bahwa tas ranselnya sudah tidak ada lagi di sebelahnya, Kenzo terus mencari tasnya di sekeliling taman, tetapi tetap saja ia tidak dapan menemukan tasnya. Kenzo akhirnya mulai berpikir apakah keinginannya mengadu nasib di Los Angeles adalah pilihan yang salah?. Tapi ia tetap bersabar menunggu semuanya, lama-kelamaan Kenzo merasa ada yang tidak benar dengan orang yang menawarinya pekerjaan. Seperti caranya berpakaian dan berbicara tidak seperti orang terpelajar. lima hari kemudian, Kenzo memutuskan untuk menelpon orang itu, tetapi tidak ada yang mengangkat. Kenzo kemudian mencari alamat kantor yang diberikan orang itu, tapi setelah ia cari-cari alamat kantor tersebut ia masih tidak menemukan lokasinya. Ia pun bertanya kepada seorang polisi tentang alamat itu, tetapi polisi itu mengatakan bahwa tidak ada alamat seperti itu di Los Angeles. Perasaan Kenzo saat itu juga langsung hancur karena ditipu. Dan sekarang ia merasa putus asa karena sekarang semua uang yang ia tabung selama bertahun-tahun telah habis begitu saja. Tadinya ia berpikir setelah memberikan semua uangnya kepada lelaki itu, maka hidupnya akan menjadi lebih baik. Tetapi apa mau dikata sekarang ia hanya menjadi orang yang luntang-lantung tidak jelas, bahkan bisa dibilang ia adalah seorang gelandangan atau tunawisma. Sambil merenungkan apa yang akan dia lakukan setelah ini, Kenzo duduk-duduk di tangga depan sebuah toko seni. Lalu ada seseorang yang mengenakan jubah hitam melewatinya dan masuk ke dalam toko. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam toko dan laki-laki itu berlari keluar dari toko. Seorang wanita keluar dan berteriak bahwa ia baru saja dirampok. Kenzo berlari dengan kencang untuk mengejar orang itu, dengan sigap Kenzo menarik jubah orang itu. Orang itu terjatuh dan Kenzo segera mengambil dompet wanita tadi yang ada di saku jubahnya. Tetapi orang itu tidak terdiam begitu saja, orang itu malah memukul Kenzo, karena sudah tidak tahu harus melakukan apalagi saat terjatuh Kenzo mengambil sebilah kayu yang ada di sebelahnya dan memukul penjahat tersebut. Lalu Kenzo langsung berlari kembali ke toko seni yang tadi untuk mengembalikan dompet wanita tersebut, wanita tersebut sangat berterima kasih atas pertolongan Kenzo. Kemudian wanita itu memperkenalkan dirinya, namanya Anastasia. Ia adalah pemilik toko seni itu. Sebagai tanda berterima kasih, Anastasia mengajak Kenzo untuk makan siang di sebuah restoran. Lalu Anastasia bertanya bahwa Kenzo itu berasal dari mana dan sedang apa di Los Angeles. Lalu sambil melahap makanan yang ada, Kenzo menceritakan kalau ia dari Pine Buff sebuah kota yang keras dan sekarang ia sedang merantau ke Los Angeles untuk mencari pekerjaan yang layak agar bisa membiayai seluruh adik-adiknya yang ada dip anti asuhan. Mendengar cerita Kenzo, Anastasia terkesan dan Anastasia juga menawari sebuah pekerjaan kepada Kenzo yaitu, menjadi keamanan di sebuah perusahaan global. Namun Kenzo yang tadinya bersemangat ketika ditawari pekerjaan, tiba-tiba saja menjadi murung mendengar ia akan diperkerjakan di sebuah perusahaan. Itu semua akibat Kenzo pernah ditipu saat ditawari pekerjaan di perusahaan, sekarang ia menjadi sedikit trauma. Anastasia yang baik hati pun berpikir tentang pekerjaan apalagi yang ia bisa berikan kepada Kenzo. Kemudian di pikirannya tersirat kejadian tadi, ia akhirnya menawarkan Kenzo untuk bekerja di toko seninya sebagai penjaga toko. Mendengar hal itu Kenzo sangat senang dan langsung menyetujui tawaran Anastasia. Sepulang dari restoran Anastasia langsung mengajak Kenzo untuk pergi ke toko seni. Di toko seni Anastasia langsung menjelaskan apa yang menjadi tugas Kenzo selamat bekerja dan Anastasia juga menjelaskan barang-barang mana saja yang dijual dan yang tidak dijual Setelah mendengar semua instruksi dari Anastasia, dengan sikap malu-malu ia bertanya apakah ada kamar mandi di toko itu karena ia belum mandi selama beberapa hari. Mendengar pertanyaan Kenzo yang sangat polos, Anastasia tertawa mendengarnya dan langsung memberitahu lokasi kamar mandi. Setelah mandi, Kenzo pergi ke ruang toko untuk mulai mengerjakan tugasnya. Lalu tak lama, Anastasia berpamitan pergi karena ada urusan di luar sehingga semua tanggung jawab ada di Kenzo. Setelah Anastasia pergi, Kenzo mulai mengamati karya-karya seni yang ada di toko itu, kemudian ia melihat lukisan yang bergambarkan seorang anak kecil sedang berjalan bersama ibunya di sebuah tempat yang sangat indah. Gambar itu mengingatkannya kepada bunda, dan membuatnya kembali bersemangat untuk melakukan tujuannya awal ia pergi ke ke Los Angeles. Hari itu, toko sedang sepi, kemudian Kenzo mulai berjalan-jalan mengelilingi toko dan menemukan gudang tempat penyimpanan beberapa kanvas, kuas, beberapa kotak cat minyak bekas, dan ada beberapa karya seni yang terlihat sangat lusuh di sudut ruangan itu. Kemudian ia mengambil sebuah kanvas dengan kuasnya dan sekotak cat minyak bekas. Tapi saat ia mau mengeluarkan isi cat minyak, isinya tidak juga mau keluar ternyata isi dari cat minyak tersebut sudah kering. Lalu Kenzo mencoba semuanya, tetapi semuanya sudah kering dan ada juga yang sudah habis terpakai. Lalu di sudut ruang yang lain ia menemukan sebuah botol saus tomat yang tidak terpakai. Karena sedang iseng saja, Kenzo mengambil saus tomat yang ada di pojok dan membawanya. Lalu Kenzo teringat bahwa sekarang ia sedang bertugas menjaga toko. Maka Kenzo membawa kanvas, kuas, dan botol saus tomatnya ke toko dan ia menaruh barang-barang tersebut di lantai dekat meja kasir. Lalu ia melihat-lihat botol saus tomat itu dan main melempar-lempar botol. Tapi tiba-tiba botol saus itu tumpah ke kanvas, Kenzo kemudian membayangkan kalau semua saus yang tumpah adalah cat minyak. Lalu ia memakai kuasnya dan membuat sebuah lukisan, tetapi setelah jadi menurut dia itu hanya samapah jadi Kenzo menaruh lukisan buatannya di sudut toko. Selang setengah jam ada seorang kakek-kakek dengan balutan jas yang terlihat sangat mewah turun dari sebuah mobil Mercedes. Kemudian kakek-kakek itu berjalan ke arah toko dan masuk. Dengan segan Kenzo bertanya, “apakah ada yang bisa saya bantu?”. Kemudian kakek-kakek itu tidak menjawab dan langsung melihat lukisan-lukisan yang dipajang di toko. Dibelakangnya Kenzo mengikuti untuk member informasi tentang lukisan yang dipajang. Tiba-tiba kakek-kakek itu berkata, “siapa yang membuat lukisan itu?”. Dengan bingung Kenzo kembali bertanya, “maaf pak, lukisan yang mana yang anda maksud?”. Kakek itu menjawab, “lukisan yang ada di sudut itu”. Lalu Kenzo menjawab bahwa ialah yang membuat lukisan tersebut. Kakek itu kemudian memperkenalkan diri, kakek itu bernama Albert. Beliau merupakan seorang kolektor lukisan dan merupakan orang yang sering membantu para pelukis muda yang berbakat untuk menggelar pameran. Kemudian kakek bertanya, bahan untuk membuat lukisan tersebut, karena menurut kakek Albert bahan untuk membuat lukisan itu terlihat tidak asing tetapi ia tidak tahu bahan baku apa yang dipakai Kenzo. Lalu Kenzo memberitahu, bahwa lukisan yang ia buat terbuat dari saus tomat. Sang kakek sangat terpesona dan kagum melihat lukisan itu , sehingga kakek itu mau membeli lukisan Kenzo sebesar Rp 100.000.000,-. Mendengar perkataan sang kakek, Kenzo terkejut ia tidak menyangka ada orang yang mau membeli lukisannya. Apalagi kakek itu mau membelinya dengan harga setinggi itu. Kenzo akhirnya menyetujui tawaran sang kakek. Dan sang kakek juga menawarinya untuk melanjutkan sekolah dan sang kakek juga berencana untuk memasukkan karya Kenzo ke dalam pameran lukisan terbesar tahun ini di Inggris. Kenzo pun mengambil semua kesempatan itu, dan ia juga tak lupa berpamitan dan berterima kasih kepada Anastasia. Tetapi sebelum berangkat ke Inggris, Kenzo tidak lupa dengan saudara-saudaranya yang ada dip anti asuhan. Sebab sebelum pergi ke Inggris Kenzo menyempatkan diri kembali ke Pine Buff. Sesampainya di panti asuhan semua anak menyambut Kenzo dengan bahagia. Dan sekarang keadaan panti asuhan membaik dan Kenzo dapat melanjutkan pendidikan serta karirnya yang sekarang sedang naik daun.

Akhir yang Bahagia by Ananda Putri Saraswati

Rina anak yang berasal dari keluarga yang sangat keras Ayahnya seorang penjudi Ibunya yang pergi dan tak kembali, Rina mempunyai 2 sodara perempuan yang jarang sekali dirumah dan pulang larut malam. Setiap hari Ia didatangi oleh rentenir yang selalu menagih hutang sang Ayah. Rina ingin sekali menjadi orang sukses dan meninggalkan tempat dimana Ia tinggal sekarang. Tiap hari tiap jam ia selalu belajar dan bekerja keras. Dipagi buta pada saat ia membuat kue, ia sangat senang membuat kue. Karena memang cita-citanya menjadi koki kue yang handal Ayahnya pulang dengan mabuk dengan orang rentenir, orang rentenir itu memukul Ayahnya dan mengobrak-abrik rumahnya, dan barang-barang seperti tv, radio, kulkas habis diambil orang rentenir. “Ayah!” Rina berteriak sambil lari kearah ayahnya “Ayah kenapa?” Tanya Rina. “Halah sudah anak tidak usah ikut campur.” Ayahnya membalas dan mendorong kencang Rina, Ayahnya pun langsung masuk ke kamar. Rina sangat sedih sekali melihat Ayahnya dipukuli oleh orang rentenir, Akhirnya ia melanjutkan pekerjaannya Pulang sekolahpun tiba, seperti biasanya ia pulang berjalan kaki pada saat ia pulang berjalan kaki ia melihat anak kecil meminta-minta kepada orang-orang sekitar, Rina berkata didalam hati “Ya tuhan, bersyukurlah Aku yang masih bisa hidup enak walaupun dengan kondisi keluarga yang tidak aman.” Ia tersadar akan betapa bersyukurnya Rina. Rina lebih enak hidup seperti ini dari pada anak kecil itu, ya walaupun dengan keluarga yang seperti itu. Esokan harinya pada saat ia berjalan dilorong sekolah ia melihat dimading “Akan diadakan study tour dengan biaya 3.500.000,- dan anak kelas 3 sma wajib ikut. Hmm” bacanya, “Bayar sekolah saja Aku beasiswa gimana buat study tour yang begitu mahalnya?” keluhnya Rina. Pada saat itu guru matematikanya yaitu Bu Susi lewat dan tersenyum, Rina tahu Bu Susi pasti dengar keluhnya dia tentang study tour itu, pastinya Rina malu. “Rina tolong ya sehabis pulang sekolah keruang Ibu.” “Iya bu”. Bel masuk sekolahpun bunyi 3 kali “Teng, teng, teng.” “saya masuk dulu ya Bu.” Rinapun akhirnya masuk kelas. Bel pulangpun berbunyi Rina bergegas untuk datang keruang Bu Susi. “Selamat sore Bu.” Sapanya Rina, “Eh Rina, silahkan masuk Rin” Rina pun masuk keruangannya dan duduk. “Ada apa ya Bu Susi memanggil saya?” “hmm pertama saya minta maaf ya Rin tadi saya tidak sengaja mendengar keluh kamu tentang study tour itu.” “ohya tidak apa bu” jawabnya Rina. “Kalo kamu mau ibu bisa bantu kamu.” “dengan senang hati bu saya mau” “oke kalo gitu besok sabtu ibu tunggu kamu disekolah ya” rina mengangguk-angguk kepalanya. Rina sangat senang saat itu, ia pun pulang sangat gembira ia akan mempunyai pekerjaan yang baru. Ia tidak akan repot-repot lagi bangun pagi untuk mebuat kue, dan bersusah payah menjual kue-kuenya lagi. Sabtupun datang, dengan rasa senang Rina menuju sekolah. Akhirnya ia tiba ia pun melihat bu susi sudah menunggu dirinya. “Kamu sudah siap?” “sudah pasti bu hehe” “ yaudh ayuk kita berangkat” rina mengangguk iya dengan senyum lebarnya. Rina pun dibawa ketempat toko kue yang sangat besar “nah rina ini toko kue teman ibu, bentar ya ibu mau memanggil teman ibu sebentar, kamu duduk disini saja ya.” “iya bu” bu susi pun pergi memanggil, dan Rina melihat sekeliling toko itu. Toko itu lingkungannya sangat bersih, wangi kue dimana-mana, Rina mencium wanginya “pasti ini kue bolu pandan yang dikukus selama 45 menit hmm”. Bu susi pun datang dari arah belakang Rina. “nah rina ini bu Anya temen ibu dan juga punya toko ini” rina pun berbalik arah dan .. “ibu??” “rina??” rina langsung lari keluar, bu anya pun langsung mengejar dan menahan rina untuk pergi, “ibu bisa jelaskan baik-baik rina” dengan air mata yang mengalir ibu anya dan rina akhirnya masuk keruangan bu anya bersama bu susi. Diruang mereka diam dan akhirnya bu susi yang memulai pembicaraannya “sebenernya ada apa ini?” Tanya ibu susi yang sangat bingung dan ingin tau. “rina maafkan ibu nak” bu anya akhirnya berkata. “mengapa ibu pergi, ninggalin kita bu? Kakak-kakak sudah seperti bapak pergi dan pulang larut malam, ibu pergi!” teriaknya. “oke, mungkin kalian perlu waktu berdua” bu susi berkata dan pergi keluar ruangan bu anya. Berapa jam kemudian akhirnya Rina dan Bu Anya keluar dan menuju bu Susi duduk. Dan mereka tersenyum-senyum, bu susi pun bingung dan ikut tersenyum “kalian kenapa?” Tanya bu susi “haha” mereka tertawa bersama dan saling merangkul. Rina sangat bersyukur akan hari itu akhirnya ia bertemu ibunya yang meninggalkannya diumur 14 tahun, dan bertemu setelah 3 tahun lamanya, ia pun juga bisa mengikuti study tour dari uang usaha ibunya, maka dari itu ia sangat berterimakasih kepada bu susi yang membawanya pada saat itu. Ia memberikan sekeranjang buah dan seikat mawar merah bercampur mawar putih. Pada saat itu bu susi lagi diruang kerjanya, rina pun langsung keruang kerjanya bu susi dan memberikannya “selamat pagi bu” “eh rina masuk nak” “saya Cuma sebentar bu, saya mau memberikan ini” kasihlah barang itu ke bu susi, “ wah terimakasih ya rina, terimakasih banyak” dengan senang hati bu susi menerimanya “iya bu sama-sama. Saya pamit keluar ya bu bisnya sudah mau berangkat hehe ” pamit Rina “iya rina, hati-hati ya rin!” “oke bu.” Rina pun akhirnya memasuki barangnya kedalam bus dan menuju arah malang untuk berjalan2. Disana ia menyobai aneka makanan khas malang, dan ia catat semua itu terbuat dari apa. Akhirnya ia menuju pulang, tetapi saat ini ia tidak tinggal ditempat dulu ia tinggal, sekaran Rina lebih memilih tinggal bersama ibunya yang serba ada. Tapi itu tidak membuat Rina berubah, ia tetap orang yang sama, orang yang pintar, memiliki beasiswa dari seklahnya, rendah hati, dan selalu bersyukur. Sampailah Rina dirumahnya, ia sangat lelah dan setelah mebereskan barang-barang ia pun tertidur nyenyak. Ia bermimpi, lulus sma dengan nilai yang memuaskan dan melihat ibunya datang dengan bangga, dan menjadi koki yang handal, tetapi tiba-tiba menjadi mimpi buruk bapaknya dating dan mengobrak-abrik semuanya, Rina pun terbangun dan ia pergi kerumah bapaknya. Pada saat ia kerumah bapaknya ia melihat bendera kuning didepan rumahnya, dengan rasa kaget dan terisak-isak ia melihat bapaknya yang meninggal dunia, ia pun masuk kerumahnya. Pada saat itu ia tidak melihat kakak-kakaknya. Rina pun member tahu ke ibunya, dan dengan segera ibunya datang. Ternyata ayahnya meninggal karena dikroyok warga sebelah, ia dikroyok karena telah mencuri barang dari salah satu warga sebelah. Waktu pun berlalu Rina sangat menerima dengan lapang dada bahwa Ayahnya sudah meninggal dunia, sekarang hanya tertinggal ia kakak-kakaknya dan ibunya seorang. Ia pun tak tahu kakak-kakaknya dimana. Berapa bulan kemudian Rina pun tamat sma dan akhirnya masuk kuliah jurusan masak-memasak, Rina makin pandai bermasak. Ia mahasiswa yang paling pintar membuat masakan dengan rempah-rempah yang sangat cocok. Akhirnya pun ia meraih kesuksesannya ia tidak hidup susah lagi ia mempunyai rumah yang megah, harta berlimpah, dan mempunyai keluarga yang sangat harmonis, menjadi koki yang handal di hotel bintang 5. Suatu ketika ia melihat seorang 2 perempuan mengemis ia merasa ada yang aneh, karena Rina penasaran ia pun turun dari mobil hitamnya. Dengan terkejut-kejut ternyata mereka adalah kakak-kakaknya, kakaknya Rina bawa pulang. Kakaknya pun kaget akan kesuksesan Rina, kakak-kakanya juga kaget ia melihat rumah yang sangat besar, mereka sangat berterimakasih atas semuanya kepada Rina, kakak-kakaknya pun bertemu dengan ibu mereka, rasa rindu mereka tak tertahankan dan akhirnya mereka menangis. Itulah akhir dari cerita kehidupan Rina, menjadi orang sukses yang selama ini mimpi menjadi kenyataan. Kebahagiaan yang ia inginkan pun ia raih.

Griffon by Kezia

Griffon,sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana.Memiliki seorang putri mahkota yang amat cantik bernama Lucy.Saat berusia 8 tahun sang ratu yang adalah ibunya meninggal dunia.Lucy yang ceria pun berubah menjadi pemurung sejak saat itu.Tapi seiring berjalannya waktu ia akhrinya bisa menerima kepergian ibunya dan kembali menjadi Lucy yang ceria.Sekarang usianya sudah menginjak 17 tahun,usia yang dibilang sudah cukup dewasa.Sang raja pun kini sudah mulai sakit-sakitan dan membutuhkan seseorang untuk menggantikannya menjadi raja.Sang penasehat kerjaan,Oswald merasa ada yang dipikirkan oleh rajanya itu lalu menanyakannya.Sang raja menceritakan hal itu kepada sang penasehat kepercayaannya dan meminta saran apa yang harus ia lakukkan.Oswald pun menyatakan pendapatnya untuk menjodohkan putri Lucy dengan pangeran Al,pangeran dari keraajaan tetangga.Raja sejenak terdiam dan bepikir,sepertinya itu ide yang tidak buruk.Kedua kerajaan itu memiliki hubungan yang baik,dan lagi putri Lucy dan pangeran Al sudah mengenal satu sama lain sejak kecil dan bahkan mereka berteman.Raja pun menyetujui saran penasehat kepercayaannya itu.Keesokan harinya Raja menemui putri cantiknya untuk memberi tahukan keputusannya menjodohkan Lucy dengan Al.Lucy kaget mendengar hal itu,ia menolak karena merasa belum siap untuk hal seperti itu dan lebih senang berteman dengan Al.Karena penolakan itu raja pun marah,saking marahnya ia tak peduli apakah putrinya setuju atau tidak dengan keputusannya,pokoknya Lucy harus mau dijodohkan oleh Al.Lucy menangis dan menuju ke kamarnya.Tak seperti biasa ayahnya seperti itu,memaksakan kehendaknya.Ayahnya benar-benar serius dengan keputusannya itu dan mengirimkan surat ke kerajaan tetangganya,kerajaan Fiore.Surat itu berisi mengenai permintaan raja kepada sahabatnya,raja Fiore untuk menjodohkan putrinya Lucy dengan pangeran dari kerajaan Fiore yaitu Al sekalian mengundang mereka makan malam untuk membahas hal ini lebih lanjut.Di surat itu pun juga ditulis bahwa Lucy menyetujui hal itu.Permintaan itu disambut baik oleh sang raja dari Fiore.Begitu juga dengan anaknya,pangeran Al yang bersedia dijodohkan oleh Lucy.Dua hari setelahnya pangeran Al dan ayahnya datang ke istana kerajaan Griffon.Di satu sisi Lucy senang bisa bertemu Al karena sudah sangat lama tak bertemu,tapi di satu sisi yang lain ia tidak ingin dijodohkan.Pintu kamarnya diketuk,ternyata ayahnya.Lucy disuruh untuk segera bersiap karena Al dan Ayahnya sudah menunggu.Lucy hanya diam,ayahnya kembali berkata bahwa ia harus bersedia dijodohkan oleh Al.Air mata Lucy tumpah dan ia berkata bahwa ia tak mau.Pertengkaran kembali terjadi,mau bagaimana lagi? Lucy tak dapat melawan ayahnya.Setelah merapikan dirinya Lucy turun kebawah dan menuju ke ruang makan,Al tersenyum kagum melihat Lucy yang sekarang.Selesai makan malam mereka pun membahas perihal tentang perjodohan itu.Lucy hanya diam dengan wajah yang sedih.Setelah beberapa saat terdiam Lucy angkat bicara,"maaf sebelumnya tapi aku tak setuju dengan perjodohan ini".Al dan ayahnya sentak kaget mendengar pekataan Lucy."Apa yang kau katakan Lucy?!" kata ayahnya.Al yang tadinya diam sekarang ikut angkat bicara "Lucy bukankah kau sudah menyetujuinya?" tanya Al pada Lucy. Lucy menjawab "Aku tak pernah menyetujuinya.Ayah yang memaksaku,maaf Al aku hanya belum siap dengan hal ini dan lebih senang berteman denganmu".Al terdiam tapi ia bisa mengerti apa yang dirasakan Lucy,tapi tidak dengan Ayahnya.Merasa telah dibohongi Ayah Al marah dan segera pergi dari istana itu.Sejak saat itu hubungan kedua kerajaan ini menjadi kurang baik. Suatu hari Lucy meminta izin kepada ayahnya untuk jalan-jalan disekitar kerjaan .Ayahnya pun mengizinkannya tapi dengan syarat harus mengajak Adillisia,yaitu anak penasehat Oswald yang merupakan pelayan setia sekaligus teman baik Lucy.Mereka berdua pun jalan-jalan ke kota Hosenka,sebuah kota besar di wilayah kerajaan Griffon.Tanpa sadar ternyata sedaritadi mereka sedang diikuti tiga orang pria berbadan besar berjubah hitam.Saat Lucy dan Adillisia sedang berjalan di tempat yang sepi,ketiga pria itu membungkam mulut kedua gadis itu dengan saputangan yang sudah diberikan obat bius.Tak berapa lama Adillisia pun sadar dan ia menyadari bahwa sang putri sudah tak bersamanya.Adillisia pun segera pulang ke istana dan memberitahu hal itu kepada sang raja. Sementara itu,ketiga pria tadi membawa Lucy ke sebuah rumah tua jauh di dalam hutan Eisenwald.Saat sadar Lucy sudah berada di tempat gelap yang asing baginya,tangan dan kakinya juga diikat,mulutnya dilakban.Ia tak dapat berbuat apa-apa.Tiba-tiba seseorang datang membuka pintu,sepertinya mengecek keadaan Lucy.Lucy pun langsung memejamkan matanya kembali seakan belum sadar dari pingsannya."Dia belum sadar bos" kata seorang yang membuka pintu tadi.Ia pun kembali menutup pintu itu,tapi tidak ditutup rapat.Lucy pun membuka matanya dan bertanya-tanya dalam hati siapa orang itu.Samar-samar Lucy mendengar percakapan ketiga pria itu.Ternyata mereka penculik,mereka menculik Lucy,putri mahkota kerajaan Griffon untuk memeras ayahnya. Setelah mendengar pernyataan Adillisia tentang hilangnya Lucy raja merasa sangat marah.Pikirannya jadi kacau,itu membuatnya mengambil kesimpulan bahwa pangeran Al yang menculik Lucy karena tidak terima telah ditolak .Raja pun pergi menuju kerajaan Fiore untuk membuat perhitungan. Ketiga penculik tadi meninggalkan rumah tua itu tanpa penjagaan,karena mereka pikir Lucy belum sadar.Ya meskipun begitu Lucy juga tak bisa melakukan apapun.Seorang pemuda pengembara bersama seekor naga kecil temannya terlihat sedang berjalan tak jauh dari sana.Mereka kelaparan,melihat rumah tua itu mereka langsung berlari menghampirinya berharap pemilik rumah bisa memberi mereka makanan.Pintu diketuk,tak ada jawaban mereka pun nekat masuk dan tidak menemukan apapun.Lucy sedari tadi hanya diam dan sedikit terisak.Tenyata isakkan Lucy terdengar oleh pemuda itu,ia pun mencari asal suara isakkan itu.Di temukannya seorang gadis cantik yang terikat disana,langsung saja ia menolongnya."Apa yang terjadi padamu?" tanya sang pemuda."Nanti akan ku ceritakan,tapi tolong bisakah sekarang kau bawa aku pergi jauh dari sini".Mereka mengendap-endap keluar dari rumah tua itu dan segera bersembunyi.Tak lama setelah itu ketiga penculik tadi kembali ke rumah tua itu dan mendapati bahwa sanderanya telah hilang."Sial,dia bebas!",kata salah seorang dari mereka."Cepat kita cari pasti dia masih ada di sekitar sini" tambah seorang lagi,lalu mereka berpencar mencarinya.Lucy mengintip dari balik pohon,juga dengan pemuda itu."Hey,siapa ketiga orang itu?dan kenapa kau bisa ada disini?",tanya sang pemuda.Lucy pun menceritakannya kepada pemuda itu."Terimakasih telah menolongku,namaku Lucy.Oh ya ngomong-ngomong kau ini siapa?" katanya setelah bercerita. Pemuda itupun menjawab,"Lucy? ya tak masalah.Aku Dragneel dan naga kecil ini adalah temanku namanya Igneel"."Dragneel ya?sepertinya tidak asing haha,sekali lagi terimakasih".Tiba-tiba terdengar suara aneh,Dragneel dan Igneel kebinguan suara apa itu sementara Lucy diam saja.Muka Lucy memerah dan ia berkata "maaf itu aku,aku lapar".Ternyata mereka bertiga sama-sama lapar,akhrinya mereka bertiga menuju ke tepi sungai di dekat sana dan memancing disana.Lucy pun kembali membuka percakapan "Apa yang kamu lakukkan disini?".Dragneel menjawab "Aku kebetulan lewat sini,aku ini seorang pengembara,aku mencari pamanku katanya ia tinggal di daerah kerajaan Griffon". “Oh begitu,siapa nama pamanmu?mungkin aku mengenalnya,aku juga tinggal disana"tanya Lucy lagi. Sambil mengangkat pancingannya ia berkata "oh begitu, berarti tidak jauh dari sini ya? nama pamanku Oswald dia punya seorang anak perempuan bernama Adillisia".Lucy sedikit terkejut mendengarnya "Sungguh? dia itu adalah penasehat kerajaan kepercayaan ayahku,dan Adillisia itu teman baikku". Dragneel bengong tidak percaya dengan ucapan Lucy,tiba-tiba ia berteriak "BENARKAH?! bawa aku pergi kesana! bisa kan?",tanya Dragneel.Lucy menghela napas,"hh..bisa sih tapi masalanya sekarang ini dimana? sepertinya jalan ke kota cukup jauh" katanya.Setelah mengumpulkan cukup banyak ikan Lucy dibantu Igneel membakar ikan-ikan tersebut.Karena hari itu sudah senja mereka memutuskan untung mendirikan tenda,untungnya Dragneel membawa 2 buah tenda, katanya sih untuk jaga-jaga,jadi ia pun mendirikan kedua tenda itu selagi Lucy dan Igneel membakar ikan. Sementara Lucy tersesat di hutan pertengkaran terjadi di istana kerajaan Fiore.Ayah Lucy menuduh Al telah menyuruh orang untuk menculik Lucy.”Tidak mungkin aku melakukan hal itu,Lucy adalah temanku aku tak mungkin melukainya”,kata Al membantah.”Jangan berbohong! Pasti kau tak bisa menerimakan kalau Lucy menolak untuk dijodohkan denganmu?”tambah ayah Lucy.Ayah Al pun angkat bicara “Jangan sembarangan kau menuduh anakku,Al tak mungkin melakukkan hal serendah itu” belanya. “Oh atau malah kau yang merencanakan semua ini hah?” balas sang raja dari Griffon. “Kurang ajar,sudah membohongiku sekarang kau malam menuduhku?Kau mengajaku untuk berperang?”tantang raja Fiore itu.”Kalau itu yang kau mau aku terima tantanganmu”Balas raja Griffon tak mau kalah.Akhirnya telah diputuskan bahwa kedua kerajaan besar ini akan berperang.Kabar ini pun langsung tersebar luas ke semua rakyat Griffon maupun Fiore. Pagi pun tiba.Lucy keluar dari tenda dan mencuci mukanya di sungai di dekat sana.Ia memandangi sungai itu.Perasaannya tidak enak,pikiran-pikiran jelek pun bermunculan di kepalanya.Air matanya mulai menetes “aku ingin pulang!”,teriaknya dalam hati.Tak lama Dragneel terbangun ia melihat ke tenda Lucy,tak ada orang.Ia mencari-cari Lucy dan menemukannya sedang menangis di tepi sungai. “Hey jangan khawatir kamu pasti bisa pulang kerumah”,terdengar suara yang ternyata adalah suara Dragneel mencoba menenangkan Lucy.Lucy pun tersenyum kearah Dragneel “iya,terimakasih”.Setelah makan dan lagi-lagi sebelumnya harus bersusah payah memancing,mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan keluar dari hutan itu.Ditengah perjalanan mereka bepapasan dengan seorang penebang kayu.Penebang kayu itu terus berjalan tetapi tiba-tiba berhenti.Sang penebang kayu itu menoleh kebelakang dan langsung mengenali gadis tadi.”Tuan putri Lucy!”,panggil sang penebang pohon. Lucy pun menghampirinya,”kau rakyat Griffon?bisakah kau tunjukan jalan kembali ke kota?” tanya Lucy.”Tentu saja tuan putri,tapi apa yang tuan putri lakukan disini?”kata sang penebang itu.Lucy menceritakan semua yang terjadi.”Oh jadi begitu berarti semua ini salah paham ya”,bisik sang penebang.”Salah paham apa?” tanya Lucy yang samar-samar mendengar perkataannya tadi. Sang penebang kayu pun menceritakan tentang perang yang akan terjadi antara kerajaan Griffon dan Fiore.Lucy sangat kaget mendengarnya sampai tak sanggup berdiri karena memikirkan bagaimana dengan keadaan ayahnya yang akan berperang sementara kondisinya yang mulai sakit-sakitan.Dragneel angkat bicara,”kalau begitu cepat antar kami kesana!” sambil menggendong Lucy yang sepertinya masih shock dengan hal itu.Ternyata kota Hosenka tak terlalu jauh dari situ.Lucy yang sudah merasa kuat berdiri kini segera berlari menuju istana untuk menemui ayahnya.Sebelumnya ia sangat berterima kasih pada penebang pohon tadi.Lucy kini berada di kerajaan bersama Dragneel,ia tak mendapati siapa pun disana.Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang berlari tergesa-gesa.”Tuan putri! Syukurlah anda tidak apa-apa” ternyata Adillisia.Ia kaget melihat Dragneel “apa yang kau lakukan disini?”,tanyanya pada Dragneel.”Sudah tak ada waktu,ceritanya nanti saja,dimana ayah?” Lucy berkata sedikit membentak.Ia berada di Lembah Dahaka,ia akan berperang dengan kerajaan Fiore.Tanpa buang waktu Lucy pun langsung berlari ke kandang kudanya dan segera pergi.Dragneel dan Adillisia pun menyusul dari belakang.Sampailah ia di lembah Dahaka.Perang akan segera dimulai,ia nekat menerjang ke tengah-tengah.Hal itu membuat kedua raja itu menghampirinya begitu juga dengan Al.Lucy menjelaskan semua yang terjadi ternyata ini semua adalah salah paham.”Al sekali lagi aku minta maaf telah menolakmu,bisakah kita tetap berteman?”tanya Lucy.Al tidak menjawab tapi ia tersenyum menandakan jawaban ya.Lucy juga memohon maaf yang sebesar-besarnya pada ayah Al dan meminta ayahnya untuk meminta maaf juga.Hati ayahnya luluh dan menuruti permintaan putri cantiknya itu.Perang pun tak jadi dimulai kedua kerajaan itu kembali menjalin hubungan baik.Dragneel pun berhasil bertemu dengan paman dan sepupunya ia sangat senang sekali dan sangat berterimakasih pada Lucy.Keesokan harinya raja menemui Lucy dan bertanya mengenai pemuda yang kemarin ikut dengannya.Lucy menjawab”Dia orang yang menyelamatkanku”wajanya terlihat memerah karena malu.”Dia juga ternyata adalah sepupu Adillisia”terusnya.Seakan tahu perasaan anaknya sang ayah memiliki rencana baru dan meminta pendapat kepada Oswald tentang rencana itu.”Kalau itu yang tuan inginkan saya setuju”,kata Oswald. Raja menemui Dragneel dan berterimakasih sebesar-besarnya karena ia telah menyelamatkan putrinya.”Sebagai tanda terimakasih aku akan menikahkanmu dengan Lucy,aku rasa Lucy akan bahagia bersamamu”.Dengan agak malu-malu Dragneel menerima tanda terimakasih dari sang Raja.Ternyata diam-diam Lucy menguping pembicaraan itu.Ia pun berbisik “Terimakasih,ayah”.Akhrinya Dragneel menjadi calon raja berikutnya.Raja pun lega karena telah menemukan seseorang yang bisa melanjutkan tahtanya dan yang terpenting seseorang yang dapat membahagiakan putrinya.