Rabu, 25 Januari 2012

Gadisku dan Aku by Nur Maudy Sudarsono

Pagi ini begitu indah, aku berdiri persis di sebelah mercusuar dekat dermaga mengenang masa masa remajaku dahulu, saat aku dan teman temanku masih SMA. Sekarang kami sudah lulus dari sebuah perguruan tinggi. Sekarang aku bekerja sebagai dokter di sebuah klinik di Bali. Sekarang aku berdiri bersama teman temanku, salah satu temanku berteriak “Aya! Relakanlah teman kami ini, kami tidak ingin dia terus terikat denganmu lagi!”. Ia begitu karena melihatku begitu murung melihat kearah matahari terbenam.  Namaku Kevin, sekarang ini aku sekolah di SMA Negeri 10 Bali. Banyak orang yang memandang aku itu jaim atau semacamnya, menurut mereka aku terlalu tertutup, tapi untunglah ada beberapa orang yang masih ingin berteman denganku, mereka adalah Ivan, Danu, dan Derry. Selama kurang lebih tiga tahun ini mereka masih setia menemaniku. Aku tinggal bersama kakekku yang bekerja sebagai pembuat peti mati, orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat ingin menjemptku ke rumah kakek. Saat itu aku baru berumur 10 tahun dan hari itu hujan sangat deras, aku sedang memandang ke jendela rumah kakek dan menantikan kedatangan orang tuaku yang seharusnya sampai dua jam sebelumnya. Tiba tiba ada suara telpon yang menghmburkan lamunanku,sesaat setelah kakek menutup telpon ia langsung menarikku keluar rumah dan samoailah kami di suatu rumah sakit, disana aku menemukan jasad orang tuaku yang berlumuran darah. Kini kita kembali ke masa sekarang, sekolah dan rumahku jaraknya tidak jauh dan dekat dengan pantai serta segala sesuatu yang seharusnya berada di pantai. Aku dan teman temanku sering datang ke pantai untuk bermain, karena kami masih single, kami juga sekalian mencari kekasih. Kami tidak pernah menggunakan kendaraan bermotor dan kami juga tidak berjalan, kami menggunakan kendaraan ramah lingkungan yaitu sepeda. Hari minggu ini kami main ke pantai. Aku terpisah dengan teman temanku, karena bosan, aku pun merasa ingin melihat ke dalam air untuk mencari ketenangan. Di dalam air sangat indah dan tenang, terumbu karang yang berwarna warni, ikan yang juga tidak kalah berwrna warni yang bersembunyi di balik terumbu karang yang terlihat lembut. Saat aku ingin berenang ke permukaan, kakiku terasa sakit, ternyata aku kram! Aku tidak dapat bergerak, aku tidak kuat menahan nafasku lagi. Aku mulai tak sadarkan diri, tetapi aku merasa ada seseorang meraih pinggangku dan menarikku ke permukaan. Aku merasakan tanggannya yang lembut dan kecil, aku rasa orang yang telah menolongku adalah perempuan, sayangnya aku tak sempat melihat wajahnya. Beberapa saat kemudian aku mulai sadar dan membuka mataku, aku berharap dapat melihat wajah penolongku, setelah aku sadar, hanya wajah teman temanku yang terlihat. Ke esokan harinya, yaitu hari senin, kami berempat berangkat ke sekolah bersama sama. Saat di kelas, wali kelasku Ibu Marni, memperkenalkan seorang murid baru, aku kurang mendengarkan siapa nama lengkapnya namun aku sempat mendengar nama panggilannya, Aya. Aya adalah perempuan termanis yang pernah aku impi impikan, ia duduk satu bangku di depan yang deretannya bersebrangan dengan deretanku. Entah ini perasaanku saja atau Aya memang memandangi aku sambil tersenyum kecil sampai akhirnya terhenti saat pelajaran di mulai. Sekarang pelajaran bahasa dan kali ini pelajaran kami membahas tentang puisi masa lampau. Aku tidak pernah mengerti pelajaran ini, begitu juga dengan ketiga temanku. Saat di akhir pelajaran, pak Edi menunjuk Aya untuk menbacakan salah satu puisi yang dipilih oleh pak Edi. Setelah Aya terdiam sesaat, ia langsung berdiri dan mengucapkan puisi tersebu dengan lancar, bait demi bait dia ucapakan, yang aku ketahui pak Edi belum pernah membahas puisi ini di kelas kami. Di wajah pak Edi terpasang senyum bangga kepada Aya. Akhirnya waktu pulang sekolah pun tiba, aku melihat Aya berjalan keluar melewati gerbang sekolah. Banyak anak laki laki yang mengajaknya pulang bersama, ada yang membawa mobil, motor sampai jalan kaki, tetapi ia tolak. Setelah aku menaiki sepedaku, aku memberanikan diriku mendekatinya dan bermaksud untuk mencoba mengajaknya pulang. Untungnya teman temanku tidak keberatan kalau aku mengajak Aya, justru malah mendukungku. “Aya,” panggilku. “Iya, ada apa Kevin?,” tanyanya lembut. “Um.. Aku hanya berpikir apakah kamu ingin pulang bersama?” “Naik sepeda?” “Tentu, apa kau tidak suka?” “Ah.. tentu tidak, aku senang sekali,” “Naiklah,” Aku menantarnya pulang dan meminta nomor telponya. Aku pamit untuk pulang dan ia mengantar kepergianku dengan senyumannya yang manis itu. Ketika aku sampai di rumah, aku mencoba menelponnya, kami berbincang bincang hingga tengah malam, dia berkata, ia tinggal bersama orang tuanya, ia adalah anak satu satunya. Dia tidak banyak menceritakan tentang dirinya. Selanjutnya kami hanya berbincang bincang tentang aku dan kesannya mengenai tempat ini. Esoknya aku menjemputnya bersama Ivan, Danu dan juga Derry. Aya sangat ramah dan tidak pilih pilih siapa temannya. Saat aku memboncengnya dan ia memegang pinggangku, aku teringat kejadian di pantai beberapa hari yang lalu. Ketika aku memegang tangannya, rasanya sama saat aku memegang penyelamatku itu dalam keadaan setengah sadar itu, kucoba untuk menghapusnya dari pikiranku. Saat istirahat, aku menceritakan kejadian saat aku kram di pantai. “Aya, aku punya cerita yang mau aku kasih tau ke kamu,” mulaiku “Cerita apa?” tanya Aya “Beberapa hari yang lalu, aku dan yang lain lagi jalan jalan di pantai, aku mencoba untuk berenang ke laut tapi aku lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu, sehingga aku kram,” “Lalu?” “Saat itu aku setengah sadar, tetapi aku merasakan ada sepasang tangan halus memegang pinggangku dan menarikku ke permukaan saat aku membuka mataku tak ku dapati penololgku itu. Saat setengah sadar itu aku sempat merasakan tangannya dan rasanya sama saat kau memegang pinggangku saat kita naik sepeda tadi pagi,” “Jadi?” “Apakah kau yang saat itu menolongku?” Aya hanya diam lalu ia tersenyum dan menjawab. “Iya, memang aku yang mengangkatmu, saat kau sedang terkagum kagum aku sedang berada di balik karang karang itu, aku melihatmu kesakitan dan terdiam maka aku langsung mengangkatmu,” “Jadi benar kau yang menelamatkan aku? Lalu kenapa saat hari pertamamu masuk kau terus tertawa kecil melihatku?” “Karena aku teringat saat aku menolongmu dan aku sangat tidak mengira kalau kita akan bertemu lagi,” Kami semakin akrab satu sama lain, teman temanku pun mendukung kalau kami pacaran. Tapi, ngga’ semua orang mendukung aku, contohnya Rangga dari klub basket, dia selalu mencoba untuk mendekati Aya. Hanya saja Aya-nya yang malah menghampiri aku, aku tahu Rangga benar benar benci sama aku. Lalu, Aldi dari klub sains, karena Aya cantik juga pintar, Aldi pun kesem sem sama Aya. Ia selalu mencoba mendekati Aya saat di klub sains, tapi, tetap saja Aya sangat acuh padanya. Terkadang terlintas di pikiranku ‘apakah Aya benar benar menyukaiku? Atau hanya mempermainkan aku?’ karena ia adalah perempuan yang cantik sehingga bisa mendapatkan semua laki laki. Aku sudah beberapa kali menanyakan ini kepada Aya tetapi ia hanya menjawab ‘Karena kau berbeda dari yang lain dan perbedaan itu yang aku suka,’ apakah itu benar? Tetapi aku hapus pemikiranku itu. Hari minggu ini aku ingin mengajaknya makan malam di pinggir pantai yang romantis, Ivan, Danu dan Derry ikut membantuku dalam menyiapkan segalanya. Hari ini pun tiba sejauh ini berjalan sesuai rencana, saat kami sedang saling menatap dan ingin bercumbu, sebuah bus travel menurunkan para turisnya. Karena mereka melihat kami ingin bercumbu, semuanya berseru ‘ahh.. romantisnya, membuat iri’ semua yang kami rencanakan pun landas sampai disitu. Tetapi Aya tidak marah atau pun malu, ia malah mengajakku bermain di pantai bersama turis turis itu. Saat sedang bermain air, tiba tiba saja hidung Aya mengelurkan darah dan Aya jatuh pingsan, aku dan para turis itu panik dan langsung membawanya ke rumah sakit atau klinik terdekat. Setelah Aya di masukkan ke ruang UGD, aku pun langsung menelpon orang rumah Aya dan juga teman temanku. Dalam beberapa saat orang tua Aya dan teman temanku sampai, orang tua Aya langsung masuk ke kamar dimana Aya terbaring. Lalu keluarlah Ayahnya Aya sambil mengusap usap wajah dan tengkuknya, ia menghampiri aku dan mengajakku duduk sambil berbincang bincang. “Kamu Kevin, ya?” tanyanya terlebih dahulu “Iya, om. Ada apa?” balasku “Aya sering bercerita tentangmu kepada kami, ia bilang kamu berbeda dengan laki laki yang lain,” “Oh.. begitu” “Begini Kevin, Aya bukanlah anak kandung kami. Dia anak dari kakakku, ayahnya meninggal saat Aya masih di dalam kandungan ibunya. Setelah saat itu, aku dan isteriku yang selalu berada di sampingnya. Sebenarnya ibu Aya takut sekali memiliki anak karena ia tahu kalau ia mengidap penyakit Leukimia atau kanker darah.” Aku tertegun mendengar cerita itu dan hanya bisa diam “Tetapi suaminya sangat ingin mempunyai anak. Akhirnya ibunya Aya pun setuju dan mereka sangat bahagia memiliki anak namun rasa kehawatiran itu tetap masih ada saat itu ibunya sedang mengandung tujuh bulan, malam itu hujan sangat lebat dengan petir petir yang menyambar, ayahnya dalam perjalanan pulang. Sampai pagi ibunya menunggu sang suami tetapi tak kunjung datang. Ternyata suaminya telah meninggal.” Pria itu terdiam untuk menahan kesedihannya, beberapa saat kemudian ia melanjutkannya kembali. “Beberapa bulan kemudian, ibunya Aya melahirkan. Aya lahir selamat dan sehat namun ternyata ibunya merelakan nyawanya agar Aya dapat merasakan bagaimana rasanya hidup. Setelah beberapa tahun, ternyata Aya juga memiliki penyakit yang sama seperti ibunya. Saat ini kankernya sudah mencapai stadium empat.” “Ia selalu menginginkan seorang teman yang rela menemaninya dan menerima keadaannya sekarang ini. Lalu ia bertemu kamu dan kamulah orang yang dipilih Aya. Selama ini kami yang menjaga Aya, kami ingin kamu yang menjaga dan hidup bersama Aya sampai akhir hayatnya.” Pria itu menatapku dengan penuh harapan. Tetapi ia melihat raut ketidak yakinan di wajahku, namun ia terus berharap. “Demi Aya, Kevin. Anggaplah ini adalah permintaan terakhirnya.” Aku menganggukan kepalaku dan memasang senyum. Pria itu pun terlihat lega mulai hilanglah kecemasan di wajahnya. Walaupun aku memasang senyum di wajahku, kekhawatiran, kecemasan, kesedihan dan rasa bahagia bercampur menjadi satu. Malam ini aku menemani Aya, Aya terlihat sangat lemah di atas tempat tidur yang berwarna putih itu. Pamannya sangat ingin aku membahagiakan Aya, tetapi aku ragu, apakah aku dapat membuatnya bahagia dan memberinya cinta yang berlimpah padanya sampai akhir hayatnya? Aku khawatir kalau saja ia meninggalkan aku di saat aku belum siap. Aku cemas, apakah ia benar benar harus pergi? Aku bahagia karena aku memiliki kesempatan untuk membuatnya tertawa walaupun itu adalah tawanya yang terakhir. Di sekolah aku hanya memikirkan Aya. Apa tempat tidur Aya nyaman? Apa dia sudah makan? Apa dia baik baik saja? Apa dia sudah sadar? Apa dia sudah baikan? Pertanyaan pertanyaan itulah yang terbayang bayang di benakku. Seharian aku hanya melamun. Setelah sekolah usai, aku pulang sebentar untuk berganti baju dan bermaksd untuk menemani Aya di rumah sakit. Ketika sampai di rumah, aku terkejut, rumahku berantakan. Aku mencari kakekku aku piker telah terjadi perampokan. Aku mendapati ia pingsan. Cepat cepat aku membawanya ke rumah sakit, rumah sakit Aya dan kakek adalah rumah sakit yang sama sehingga aku dapat mengunjungi mereka berdua. Malam ini aku menemani kakek. “Kevin?” panggil kakek lemah “Ada apa kek?” jawabku khawatir “Kevin, mungkin kakek nggga’ akan lama lagi..” “Jangan seperti itu kakek, mudah mudahan kakek akan sembuh” “Kevin, sewaktu ayahmu masih hidup, ia sangat bahagia akan kehadiranmu ia menabung untuk masa depanmu, begitu pula ibumu. Mereka juga memiliki villa di daerah Kintamani. Nanti saat aku sudah tidak ada pakailah uang itu dengan baik. Kalau bisa kau perbanyak uang itu.” Setelah kakek berkata demikian ia pingsan selama beberapa hari sampai akhirnya ia meninggalkan aku dan dunia ini. Kakek telah bergabung dengan ayah, ibu dan nenek di surga. Saat ini, Aya sudah baikan ia menjalani rawat jalan. Kami juga sudah berada di perguruan tinggi yang sama, kami mengambil jurusan yang sama, jurusan kedokteran. Aya selalu membantuku ketika ada sesuatu yang tak dapat ku mengerti. Sekarang aku yang selalu menjaganya, kami tinggal di sebuah villa peninggalan orang tuaku.Kami selalu menghabiskan waktu bersama sama. Suatu hari Aya semakin melemah sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Aya tidak ingin tinggal di rumah sakit, jadi aku memohon agar dokter mengijinkan Aya dapat di rawat di rumah. Karena aku ingin merawat Aya sepenuhnya, jadi aku berhenti kuliah untuk sementara. Setiap hari aku hanya menemani Aya, aku tidak keberatan tetapi, aku keberatan kalau ia meninggalkan aku. Walaupun kami tinggal satu rumah, aku tetap menghormatinya sebagai perempuan. Kami memang tir sekamar tetapi tidak stu tempat tidur, dia tidur di kasur dan aku di sofa panjang di sampingnya. Setiap pagi, kami menantiakan matahari terbit. Setiap senja kami menantikan matahari terbenam. “Kevin, bolehkah aku duduk di pangkuanmu?” tanyanya “Apa sih yang tidak boleh untuk kamu?” Aku pun memangkunya, kepalanya ia sandarkan di pundakku. Aku mencium rambutnya dengan lembut, ia tersenyum. Aku menggoreskan hidungku ke hidungnya, ia tertawa lemah. “Kevin? Apa kamu bosan mendampingi dan merawatku?” “Tentu saja tidak, aku senang merawat dan menjagamu. Aku senang berada di sisimu setiap waktu” “Benarkah?” “Iya..” “Sungguh?” “Iya, sayangku” “Ohh.. baiklah” Saat matahari sepenuhnya terbenam, aku menggendongnya untuk kembali duduk di kursi rodanya. Ia menghalangiku dan berkata gendonglah aku sampai ruang makan. Aku tidak mau mengecewakannya, aku pun menggendongnya ke ruang makan. Makan sudah tersedia di atas meja. Aya memintaku untuk menyuapinya makan. Hari ini Aya terasa sangat ingin di manja. Seusai makan, kami bermain air di kolam renang, kami memberi makan ikan dan bermain bersama sama. Keesokan harinya. Teman temanku datang mengunjungi kami. Mereka membawa pasangan masing masing. Ivan dengan pacarnya yang bernama Iren, Danu dengan Dania dan Derry dengan Riri. Kami membuat barbeque di samping kolam. Para perempaun merias meja dan yang laki laki memanggang. Hari ini, Aya tidak menggunakan kursi rodanya sama sekali. Katanya ia ingin merasakan bagaimana rasanya bermain dengan teman yang lebih banyak walaupun itu adalah hal terakhir yang ia lakukan. Ternyata teman temanku dan pasangannya ingin menginap dan ternyata Aya tidak keberatan ia hanya tersenyum. Malam itu seisi villa terasa penuh dengan cinta dan kasih sayang. Walaupun malam itu angina terasa dingin, namun semua orang di dalamnya merasa hangat. Keesokan paginya aku terkejut, Karen tidak mendapati Aya di atas tempat tidurnya. Setelah mencari cari ternyata Aya sedang menyiapkan sarapan untuk kami semua. “Pagi Kevin,” sapanya lembut “Kamu ngapain bangun sepagi ini?” tanyaku agak khawatir “Tenanglah, hari ini mereka kan’ akan pulang, aku ingin memberikan sesuatu yang special untuk mereka” “Baiklah kalau itu keinginanmu. Tapi, izinkan aku membantumu” “Baiklah” Selesai sarapan, mereka pamit untuk kembali. Rumah kami terasa sepi tetapi mau bagimana lagi. Setelah mereka pergi agak jauh, Aya langsung menyandarkan kepalanya di pundakku. Aya terlihat sangat letih tetapi selalu ada senyum yang menghiasi wajahnya yang pucat. Aku menggendongnya ke kamar, ia terlihat lemas. “Aku sangt letih hari ini, tetapi aku sangat bahagia” “Iya, sayang. Aku tahu itu, seharian kamu memasang senyum di wajahmu yang pucat itu” Kami menjalani hari itu seperti biasanya. Kami membuat kue kesukaanku dan Aya. Kami memberi makan ikan ikan. Kami bermain air di kolam. Kami menghabiskan hari itu denagn bermain. Hari itu aku memasak makn malam untuk Aya. Walaupun bukan makanan kesukaan Aya, tetapi Aya sangat senang memakannya karena makanan itu adalah makanan yang aku buatkan khusus untuknya. Malamnya kami melihat bintang bintang dari balkon kamar kami. Saat melihat ke atas, kami melihat bintang bintang yang bertaburan. Saat kami melihat ke bawah, kami melihat lampu lampu yang berwarna warni bertaburan. “Malam ini sungguh indah, aku rela kalau sekarang aku harus pergi” ujarnya “Kamu ini ngomong apa sih sayang?” kataku, sambil merngkulnya “Aku capek, aku mau tidur” “Baiklah” “Tapi aku mau kamu yang gendong aku ke kamar” “Iya deh” Aku menggendongnya ke kamar meletakkannya di atas tempat tidur dengan lembut dan perlahan. Ia hanya tersenyum, kadang aku berfikir, apa yang membuatnya begitu tabah dan selalu memasang senyum manis di wajahnya yang kini telah kirus namun tetap terlihat manis. Perempuan ini sangat berbeda dari yang lain, aku beruntung bisa menemaninya selamanya. “Sayangku Kevin, maukah kau menemaniku tidur di atas ranjang yang begitu besar ini. Kurasa suhu malam ini akan terasa dingin” ajaknya “Baiklah tapi hanya sekali saja ya.. aku tak mau orang orang berkata yang tidak tidak tentang kita” “Aku janji, ini yang pertama dan yang terakhir. Boleh ya..” Aku menemaninya malam itu, aku merangkulnya dengan erat. Tapi, ia benar, ia berkata kalau semalam adalah malam pertama dan terakhirnya ia tidur bersamaku. Karena ketika aku ingin membangunkannya dan membebaskannya dari pelukanku, aku mendapati sayangku Aya, hanya tinggal jasadnya. Ia telah meninggalkanku dan dunia ini untuk selamanya. Sama seperti ayah, ibu dan kakekku, namun aku turut senang karena kini ia sudah bergabung dengan orang tuanya.  Sekarang umurku sudah 45 tahun. Aku sudah beristeri dan memiliki dua orang anak. Tentu saja aku tidak menikah dengan Aya, nama isteriku Maya, kami memiliki seorang anak laki laki bernama Bima dan seorang anak perempuan bernama Melvina. Aku bertemu dengan Maya, saat aku mulai praktek di sebuah klinik di Bali. Kami menikah saat umurku 25 tahun dan Maya 23 tahun. Kami memiliki anak satu tahun setelah pernikahan kami. Kini anak anka kami telah beranjak dewasa. Suatu hari Bima dan Melvina membawa kekasihnya masing masing. Aku terkajut setengah mati, karena pacar Bima mirip sekali dengan Aya. Gadisku yang malang, kuharap kau melihat kebahagiaanku bersama keluargaku yang sekarng ini. Aku tidak pernah memberi tahu isteriku tentang kamu. Aya, aku merindukanmu, aku menginginkan berada di disisimu lagi, seperti dahulu.Hari minggu ini, aku berkunjung ke villa milik keluargaku. Saat di perjalanan, mataku terasa berat sekali, aku merasa aku ingin tidur. Bruak!! Kini aku sudah bergabung dengan orang orang yang kucintai. Ayah, ibu, kakek dan gadisku yang termanis, Aya. “Ara!! Ara!! Kamu ada dimana sih?” Panggil Icha. “Aku ada di kamar, Cha!” balasku dari kamar. “Ara, kamu lagi ngapain sih?!” “Ya.. Chatting-lah,” “Chatting lagi, chatting lagi. Betah banget ada di depan computer,” “Tapi ngga’ rugi buat kamu kan’?” “Iya juga sih,” “By the way, kamu ngapain kesini? Tumbenan” “Iya, sampai lupa. Nih, ada paket buat kamu yang salah kirim ke rumahku. Buka dong, apasih isinya?” “Ini? Ini buku yang aku pesan lewat internet,” “Dasar, kalau ngga’ Komputer, buku. Kutu buku banget sih kamu,” “Dari pada kamu, alat kosmetik terus. Udah ah.. aku ngga’ mau ngelanjutin lagi,”  Namaku Kiara, tapi orang prang terdekatku memanggilku Ara. Aku suka sekali Chatting dan baca buku, aku juga lebih senang berada di kamar dari pada di luar. Aku tinggal bersama ayah dan ibuku, aku anak tunggal, kami tinggal di pedesaan dekat pegunungan, sehingga udara selalu dingin. Aku juga memiliki teman dekat, aku hanya ingin bercerita kepada dia saja, namanya Jesica, tapi aku manggil dia Icha, lebih simple. Icha tinggal di sebelah rumahku, sebenarnya tidak bisa di sebut rumah melainkan villa.

Nelayan yang Pemberani by Erwin

Pada hari yang cerah di kota Boston Amerika Serikat ada seorang kapten kapal yang bernama Tim. Tim adalah seorang kapten yang hebat ia sangat berpengalaman dalam bidangnya. Tim belum punya anggota untuk membantu berlayar untuk menangkap ikan. Akhirnya Tim merekrut anggota-anggotanya pertama Bill kedua Tarry ketiga Jhonson dan keempat Robin. Waktu musim menankap ikan akan segera berakhir oleh karena itu Tim bersama temanya mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan di pergunakan saat menangkap ikan. Tim mempunyai pacar yang bernama Selly . Selly adalah seorang penangkap ikan yang handal Tim sempat iri dengan Selly karena hasil tangkapan Selly selalu lebih banyak dari pada Tim. Selly ingin sekali ikut menjadi anggota Tim tapi Tim tidak mau karena Tim tidak mau melibatkan Sely di anggotanya. Tim dan Selly sudah berteman sejak kecil sehingga Mereka sudah saling mengenal. Tim mempunyai keluarga di Florida sesekali iya pulang ke kampung halamanya tapi belakangan ini Tim jarang pulang ke kampung halamanya karena hasil tangkapan ikan musim ini menurun. Bill adalah seorang mekanik kapal yang handal ia termasuk peran yang penting dalam anggota tersebut. Bill mempunyai istri yang bernama Rossa. Bill mempunyai masalah yang sangat penting yaitu masalahnya Rossa tidak mengijinkan Bill untuk pergi berlayar bersama Tim kaena Rossa mempunyai firasat yang sangat buruk terhadap pelayaran ini. Tapi Bill sangat ingin pergi berlayar bersama Tim dengan segala cara Bill membujuk Rossa agar Bill bisa ikut berlayar bersama Tim. Setelah Rossa berpikir piker akhirnya Rossa mengijinkan Bill untuk ikut berlayar bersama Tim. Selanjutnya Tarry, Tarry adalah seorang koki di kapal itu. Tarry sangat terkenal dengan masakanya yang sangat enak dan lezat. Tarry mempunyai sikap yang baik hati sehingga teman-temanya menyukai Tarry dan Tarry mempunyai banyak teman dan sahabat. Pada suatu malam Tarry mermimpi iya sedang di atas kapal dan tergunjang oleh ombak yang sangat besar dan menakutkan dan tiba-tiba Tarry terbangun dari tidurnya untuk saja ini Cuma mimpi katanya. Jhonson adalah seorang penyedia bahan-bahan yang akandi gunakan saat di kapal nanti. Awalnya Jhonson tidak mau ikut berlayar dengan Tim karena iya ingin pulang ke kampung halamanya yang berada di New York tapi iya sangat menyukai menangkap ikan dan akhirnya Jhonson ikut pergi berlayar bersama Tim. Dan terakhir Robin. Robin adalah seorang pendamping kapten. Robin selalu memantu Tim jika Tim sedang mengalami kesusahan. Robin mempunyai sikap yang sangat tegas,pemberani, dan berjiwa pemimpin oleh karena itu Tim memilih Robin sebagai asistenya yang paling di percaya. Itulah perkenalan anggota-anggota yang dimiliki Tim. Pada suatu malam Tim pergi ke kapalnya dengan seorang diri iya duduk di depan nakoda kapal iya memandangi foto keluarganya Tim sangat saying sekali dengan keluarganya tiba-tiba Tim merasa ngantuk dan tertidur di nakoda kapal.. Pada pagi harinya Tim terbangun dari tidurnya ia mulai bergegas untuk berlayar. Pada pagi hari yang di penuhi kabut Bill juga mulai mempersiapkan alat-alat yang akan di pergunakan untuk berlayar Bill di antar oleh istrinya Rossa dengan menggunakan mobil dan menuju ke dermaga sedangkan Tarry,Jhonson, dan Robin berangkat sendiri ke dermaga. Sebelum berangkat Tim membuat peta untuk arah tujuan yang akan mereka tuju untuk menangkap ikan dan tiba-tiba Sellydatang dan mengatakan “Tim kamu sangat pandai sekali membuat peta”lalu Tim berkata “terimakasih atas pujian mu itu”. Setelah Tim selesai membuat peta ia memberi tau kepada seluruh anggotanya untuk naik ke kapal .. Tim mempunyai nama kapal yaitu Andrea Girl itu nama kapal yang bagus menurut Tim Andrea Girl sudah cukup lama berlayar bersama Tim, Andrea Girl kapal yang sangat hebat. Lalu setelah Tim memanggil seluruh anggota kapalnya ia bergegas meninggalkan dermaga itu. Bill melambai lambaikan tanganya kepada Rossa dan Tim melambai lambaikan tanganya kepada Selly. Semakin jauh Tim berlayar semakin kecil pula pandanan terhadap kapal Andrea Girl itu. Hari pertama Tim bersama anggotanya sangat bersemangat sekali karena mereka akan menangkap ikan yang sangat banyak piker mereka. Ombak begitu tenang burung-burung berterbangan di atas kapal matahari mulai terbenam itu pemandangan yang sangat indah kata Tim danpara anggotanya. Malam pun tiba Tarry menyediakan makanan untuk para awaknya kelihatanya mereka sudah kelaparan. Seperti miasa Tarry selalau hebat kalau memasak . Timberada di Nakoda kapal untuk mengarahkan dan mengatur kecepatan kapal Tim selalu siaga sehingga ia orang yang angat di siplin di bidangnya. Hari kedua matahari mulai bersinar menerangi langit yang biru ini para awak ulai keluar dari dalam ruangan kapal dan menghirup udara yang sangat sejuk ini.Bill mulai mengecek keadaan kapal Andrea Girl Bill mempunyai kendala yaitu mesin pembuat Es rusak tapi dengan semangat bekerja yang begitu tinggi Bill berhasil memperbaiki mesin Es itu. Sebentar lagi mereka akan sampai tujuan dan menangkap ikan yang begitu banyak pikir mereka lagi . Hari ketiga ini adalah hari yang sangat menyenangkan untuk mereka karena mereka sudah sampai tujuan untuk menangkap ikan . Tim memerintah para awaknya untuk menjatuhkan jarring ke dalam laut yang sangat dingin itu satu persatu jarring mulai di jatuhkan mereka berharap semoga hasil tangkapan mereka mendapatkan ikan yang banyak setelah mereka menjatuhkan jarring-jaring mereka tinggal menunggu hasil tangkapan mereka. Pada malam hari seluruh anggota kapal berdoa agar hasil tangkapan mereka mendapat ikan yang banyak. Hari keempat hari yang sangat menegangkan untuk para awak Andrea Girl mereka mulai memeriksa jarring-jaring dengan hati yang merasa sangat tegang mereka mengangkat jarring-iaring itu satu jarring tidak mendapat ikan muka mereka mulai takut jarring keduapun tidak mendapakan hasil sama sekali mereka tambah takut apakah kita tidak akan mendapatkan ikan sama sekali kata para awak Andrea Girl, jarring keempat muali di angkat dan akhirnya mereka mendapatkan ikan wajah mereka mulai terlihat gembira dan jarring-jaring berikutnya di penuhi oleh banyak ikan juga mereka mulai memasukan ikan ke dalam ruang pendingin mereka sangat senang atas kerjakeras mereka sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan tapi hasiltangkapan mereka belum cukup di bawa pulang jika mereka tidak membawa hasil tangkapan yang banya Anggota Tim pasti akan di marahi oleh Boss mereka. Hari kelima hari yang sangat-sangat menyenangkan untuk para awak Andrea Gilr karena mereka mendapatkan hasil tangkapan yang begitu banyak sekali sehingga Tim begitu yakin mereka akan membawa pulang dengan hasil tangkapan yang memuaskan, saat mereka sedang asik bersenag-senag mengangkat jarring tiba-tia ada satu jarring yang sangat berat untuk di angat terpaksa semua awak kapal harus membantu mengangkat jaring tersebut tiba-tiba apa yang terjadi ternyata jarring itu isinya Hiu yang sangat ganas Hiu itu langsung loncat ke atas kapal semua awak terkejut semua awak kapal langsung menghindar dari Hiu itu tapi Bill tidak bisa menghindar karena Bill terjatuh akhirnya Hiu itu menggigit kaki Bill, Bill pun menjerit ke sakitan semua awakkapal panik Jhonson, Robin,Tarry membantu melepaskan Bill dari gigitan Hiu itu tapi tidak bisa dengan terpaksa Tim harus mengunakan senapanya dan akhirnya Hiu itu di tembak pas di kepalanya sehingga Hiu itu mati lalu Tim memeriksa luka yang di alami Bill untungnya kaki Bill tidak putus hanya luka ringan. Hari keenam adalah dimana hari terakhir mereka menangkap ikan setelah mereka selesai menangkap ikan mereka akan pulang. Seperti biasa mereka mendapat banyak ikan saat Jhonson ingin menarik jarring tiba-tiba Jhonson tertarik oleh jarring itu dan Jhonson tercebur ke dalam laut yang dalam dengan kagetnya Bill dan Tarry langsung menyeburkan diri mereka ke dalam air untuk menolon Jhonson, Jhonson sangat dalam masuk ke dalam laut sehingga Tarry dan Bill hampir ke habisan nafas di dalam air tapi Jhonson sudah terlihat sehingga Jhonson dapat tertolong. Tarry dan Bill langsung naik ke permukaan dan menaikan Jhonson ke dalam kapal Jhonson tidak sadarkan diri sehingga semua awak di atas kapal merasa tegang Tim langsung memberi nafas buatan untuk Jhonson dan memompa dada nya untuk mengeluarkan air yang berada di dalam tubuh Jhonson. Akhirnya Jhonson sadarkan diri dengan mengeluarkan air yang sangat banyak Jhonson berterima kasih kepada seluruh awak kapal yang telah menolong nyawanya itu adalah pengalaman terburuk yang di alami oleh Jhonson setelah itu mereka melanjutkan menangkap ikan tiba-tiba terdengar suara gaduh di ruang mesin kapal lalu Tim menyuruh Bill untuk memeriksa ruang mesin lalu Bill pergi ke ruang mesin ternyata setelah Bill mengecek mesin-mesin yang ada di dalam kapal mesin pembuat Es untuk membekukan ikan-ikan rusak kalau tidak ada mesin ini ikan-ikan akan membuusuk Bill telah berusaha memperbaikinya tapi tetap saja tidak bisa di perbaiki lalu Tim menghampiri Bill dan bertanya “ada apa Bill apakah ada mesin yang rusak” Tanya Tim lalu Bill menjawab “ada yaitu mesin pembuat Es”. Tim sangat kecewa karena mesin pembuat Es rusak jadi mereka harus bergegas pulang agar ikan-ikan hasil tangkapan mereka tidak membusuk di kapal dan mereka tidak membawa hasil apapun. Pada malam hari Tim menerima pesan dari Selly yaitu ada badai yang sangat besar menuju ke arah mereka Tim pun semakin bingung di hanya mempunyai dua plilihan yaitu pulang tapi melewati badai sangat dahsyat atau menghindari badai tersebut tapi ikan-ikan akan segera membusuk akhirnya Tim memutuskan untuk bermusyawarah ke anggotanya para anggota memilih untuk melawati badai itu bukankah kita adalah awak-awak yang hebat dan pemberani kata seluruh awak Andrea Girl. Tim dan asistenya Robin mulai membalikan kapal untuk kembali pulang dengan membawa hasil tangkapan yang sangat banyak.. Malam pun tiba mereka bersiap-siap untuk tidur sedangkan Tim tidak bisa tertidur ia terus memikirkan apa yang akan terjadi jika ia dan para awaknya tidak selamat melewati badai yang amat dahsyat itu . Malam pun berlalu matahari mulai bersinar tapi tiaba-tiba matahari yang cerah itu di tutupi oleh kabut awan yang begitu tebal dan gelap membuat suasana menakutkan bagi pra awak Andrea Girl Tim mulai bersiap siap untuk menghantam ombak yang begitu besar Robin mulai merasa ketakutan ia berpikir mungkin kita tidak akan selamat melewati badai ini Jhonson,Bill, dan Tarry masuk ke dalam kapal untuk menghindari terjangan badai yang besar dan menyeret mereka ke lautan yang ganas. Kapal Andrea Girl mulai terombang ambing dengan derasnya ombak para awak Andrea Girl mulai berdoa agar mereka selamat dari badai yang begitu dahsyat ini. Antena dan kompas rusak akibat terjangan ombak yang amat besar kapal mulai kemasukan air kita seperti kembali ke abat 19 kata Tim . Tim mulai putus asa karena Tim berpikir jika saja ada ombak yang setinggi 10 m maka habislah sudah riwayatku tapi Tim harus optimis mungkin masih ada ke sempatan selamat dari badai yang amat dahsyat ini. Para keluarga awak kapal Andrea Girl sangat hawatir dengan para awak kapal Andrea Girl yang masih ada di laut yang ganas itu, mempertaruhkan nyawa hanya untuk menangkap ikan demi untuk menghidupkan keluarga mereka serta diri mereka masing-masing. Kapal Andrea Girl mulai mengalami kerusakan eperti mesin-mesin rusak kapal mulai bocor, kaca-kaca kapal pecah dan masih banyak lagi.. Hari demi hari awak Andrea Girl masih terombang ambing di lautan yang begitu ganas Tim mulai merasa putus asal lagi lalu tiba-tiba matahari muncul itu pertanda yang baik buat mereka tapi matahari itu mulai tertutup oleh kabut hitam lagi kali ini Tim sudahtidak punya harapan lagi Radio rusak dia tidak bisa memanggil bantuan Selly sangat hawatir atas kejadian yang di timpah Tim dan para awaknya kabar dari Andrea Girl tidak di ketahui Rossa mulai sedih Selly menangis semua menantikan para awak Andrea Girl bisa pulang dengan selamat . Helikopter mulai mencari ke beradaan mereka seluruh wilayah ber muda sudah di telusuri dan tiba-tiba pilot Helikopter mekihat sesuatu seperti seseorang ternyata itu Robin salah satu awak kapal Andrea Girl kondisinya mengapung di atas permukaan air dengan kondisi sudah lemas karena terapung selama ber hari-hari di laut Robin mulai di masukan kedalam Helikopter di bawa pulang . Setelah Robin sembuh Robin menceritakan kejadian yang ia alami kepada keluarga awak Andrea Girl sedangkan nasip Tim, Tarry, Bill, dan Jhonson tidak di ketahui keberadaanya. Rossa sangat menyesal kenapa aku mengijinkan Bill untuk pergi Tanya dirinya sendiri dengan penuh rasa menyesal. Selly juga terpukul atas kejadian ini ia ingat kata-kata yang di katakana Tim waktu kecil saat ia mengingat itu ia menagis terseduh-seduh. Daftar nelayan yang hilang di Bermuda pun bertambah di musium di Boston pelajaran sangat berharga untuk Robin ia tidak dapat melupakan pengalaman ini walaupun ia tidak dapat menyelamatkan para teman-temanya tapi rasa pertemanan dan persahabatan tidak akan terputus di hati mereka masing-masing.

Banjir Darah Di Pantai Sanur by Danu Wibisono

Terkisah di sebuah pulau jawa seorang pendekar bernama Barda mandrawata menjelejah hampir seluruh plosok negri. Dengan sikapnya yang sangat arif iya selalu membantu orang-orang yang iya jumpai selama perjalananya tanpa pamrih. Anehnya iya bisa menjandi seorang pendekar yang hebat dengan mata buta atau tidak bias melihat sama sekali. Pada suatu saat di mana Barda sedang melakukan perjalanan iya melihat seorang ibu tua yang sedang menagis, Karna penasaran iya pun bertanya kepada ibu tua itu. “mengapa engkau menagis ibu tua”, lalu ibu tua itu menjawab “anak ku di culik oleh seorang penjahat yang tidak bertanggung jawab”. Melihat tangisan itu hati barda tergugah, iya dekati pondok dimana pencuri itu menawan bayi ibu tua itu sekaligus bersembunyi. Barda mengambil sebuah gelas yang terbuat dari tanah liat, ia mengisinya dengan air yang mengucur deras dari pancuran yang berada di depan rumah tempat penjahat menahan bayi ibu tua itu. Di letakan air dalam gelas itu di depan pintu rumah, setelah itu barda berteriak. “Minumlah dulu air ini dan sisakan sedikit air itu untuk bayi yang kau tawan, kasihan iya pasti kehausan”. Tidak beberapa lama setelah Barda berkata seperti itu tiba-tiba keluar sebuah tangan dari dalam rumah itu. Tanba berfikir panjang Barda langsung dalam sekejap menangkap dan menarik tangan itu, keluarlah penjahat itu dengan cara terpelanting dan tersungkur ke bawah tanah, melihat kejadian itu para warga yang menonton terdiam seribu bahasa karna kekagumanya. Masuklah ibu tua itu kedalam rumah untuk mengambil bayinya yang sudah berjam-jam di sandra oleh penjahat itu. Berpuluh-puluh kali ucapan terima kasih datang dari mulut puluhan orang yang menyaksikan pertolongan yang cukup dramatis oleh Barda yang menolong bayi kecil itu dari tangan penjahat yang biadab. Tidak lama setelah itu Barda berpamitan kepada penduduk desa untuk pergi melanjutkan perjalananya, di tengah perjalanan Barda bertemu dengan seorang yang sudah cukup tua, orang itu baernama I putu oka, iya menyaksikan apa yang di lakukan barda tadi saat menolong seorang bayi mungil dari tangan penjahat. “Aku melihat tadi yang kau lakukan di desa sebelah, kau berhasil menyelamatkan seorang anak bayi dari tangan penjahat, itu adalah hal yang sangat berani, bila orang biasa pasti sangat mustahil melakukan itu”. Lalu barda menjawab,”lalu kenapa ?, apa yang kamu mau bapak pengelana ?”.setelah berbincang cukup lama ternyata I putu oka adalah seorang pengelana dari daerah yang di sebut dengan nama pulau Bali, iya bermaksud meminta tolong untuk memberantas perampok yang selalu datang untuk mengambil hasil panen secara paksa, dan apa bila penduduk memaksa untuk tidak memberi hasil panenya ke pada para perampok maka perampok itu akan membunuh seluruh warga desa. Karna mendengar penjelsan dari I putu oka maka Barda pun menyanggupi permintaan pengelana Bali itu, tetapi I putu oka berfikir bila hanya barda sendirian yang melawan para penjahat itu barda pasti akan di kalahkan, karna mengingat jumlah perampok yang begitu banyak. Karna itu I putu oka menyarankan Barda untuk mencari beberapa pendekar lagi, dan perjalanan di mulai kembali. Setelah beberapa jam berjalan di daerah pinggiran sungai Barda melihat seorang tukang kayu yang badan dan tenagnya sangat besar, saking kuatnya iya hanya membelah sebatang kayu dengan sekali pukul, tibab-tiba saat tukang kayu itu ingin membelah kayu yang selanjutnya datang seorang lelaki yang kurus tetapi memiliki muka yang lumayan menakutkan. Lelaki yang baru datang itu berkata kepada tukang kayu yang berbadan besar.”Hai kamu yang berbadan besar,mungkin tenagamu memang besar tapi sayang kau kurang lincah”, sahut lelaki yang baru datang itu dengan nada mengejek. Tentu saja mendengar perkataan itu si tukang kayu menjadi sangat marah,”hai anak kurus jangan kau pikir kau yang paling hebat mungkin badanku memang besar dan tidak serinagan badanmu yang kecil itu tetapi bila kita bertarung aku berani menjamin pasti palamu akan ku penggal dengan kampakku yang besar dan kuat ini”. Mendengar omongan itu lelaki kurus ini pun menyanggupi tantangan si tukang kayu.”Baik kita lihat saja siapa yang lebih unggul gajah atau musang, dan bila musang yang menang jangan sesali ya”. Lagi-lagi situkang kayu di ejek habis habisan oleh lelaki mesterius ini. Suasana di sekitar mereka menjadi terasa tegang, kedua orang ini terlihat sangat santai walaupun dalam pertarungan ini pasti salah satunya akan ada yang mati dikalahkan. Dalam hitungan detik kedua manusia sakti ini langsung menunjukan kemammpuanya masing masing dan dengan tidak di duga-duga ternyata kemampuan lelaki kurus yang misterius ini sangatlah menakutkan, iya hanya dengan menggunakan badik didukung dengan gerakan fisiknya yang cepat dapat mengalahkan seorang tukang kayu yang badan dan tenaganya sangat besar itu dalam sekali serengan saja. Dan yang membikin anehnya lagi si tukang kayu itu mati dengan leher yang berluban karena goresan dari badik si lelaki kurus itu. Melihat kehebatan lelaki itu I putu oka tertarik untuk menawarkanya pergi bersamanya memberantas komplotan pencuri yang selalu mengganggu desanya, dihampirinya orang itu dengan tenang dan di ajaknya berbincan bincang. Setelah mengobrol cukup lama lelaki misterius yang ternyata bernama Daeng martundong itu tertarik untuk ikut bersama Barda dan pak Oka. Di perjalanan Barda bertanya kepada Daeng dari manakah asalnya dan apa yang dicari hingga mengelana sampai di pulau Jawa, dan ternyata Daeng adalah lelaki yang sangat malang iya berasal dari pulau Samosir dan pergi mengelana mengelilingi setiap pulau yang iya jumpai hanya untuk mencari anak perempuan dan istrinya yang hilang diculik. .Akibat berbincang cukup lama tidak terasa ternyata mereka bertiga telah sampai di ujung pulau Jawa dan sudah siap untuk berangkat. Di pelabuhan para pendekar hebat ini melihat sebuah atraksi dari seorang yang sangat lincah dan hebat yang sedang menghibur para penontonya, orang itu di panggil oleh penontonnya dengan sebutan Datuk siguragura. Dan ternyata dengan tidak di rencanakan Datuk juga ingin pergi ke pulau Bali untuk menghibur penonton yang ada di pulau itu, tetapi sekali lagi pak Oka tertarik dengan kekuatan dan keahlian Datuk siguragura. Langsung saja dengan tidak membuang waktu pak Oka langsung menawarkan Datuk untuk ikut bersama mereka, dan bagusnya ternyata Datuk langsung tertarik untuk ikut tanpa berfikir panjang. Datukpun langsung membereskan barang-barangnya dan memanggil putrinya yang cantik jelita bernama Sabai tanpa diduga di balik wajahnya yang lugu dan cantik ternyata Sabai juga mahir dalam bertarung dan beratraksi seperti ayahnya. Pak Oka langsung mengajak ke empat pendekar itu masuk ke dalam kapal. Kapal yang di tumpangi oleh Barda dan kawan-kawan ternyata adalah kapal milik Lagora yaitu seorang kapten kapal yang terkenal akan keberanianya dalam mengarungi lautan luas, tidak peduli seberapa kuatnya ombak dan tidak peduli seberapa bahayanya laut. Lagora sang kapten kapal tanpa rasa takut sedikitpun sudah mengarungi bermacam macam samudra dan lautan, oleh sebab itu Lagora sering di juluki oleh anak buahkapalnya dengan sebutan si SINGA LAUT. Perjalanan ke pulau Bali memakan waktu kurang lebih satu hari tetapi sayang di tengah perjalanan kapal lagora di hadang oleh kapal-kapal perompak yang berjumlah puluhan, dan yang membuat lebih kagetnya lagi pemimpin perompak itu ternyata adalah teman dekatnya Lagora pada saat iya masih mengarungi lautan luas dengan perahu kecilnya. Lagora dan para penumpang kapal termaksud Barda dan kawan-kawan di ikat dan di bawa kehadapan ketua perompak itu. Tetapi malang nasib para perompak itu para pendekar hebat ini sebelum sampai ke kapal ketua perompak mereka berhasil melepaskan ikatan tali yang melilit di badan mereka masing-masing, tanpa berfikir panjang Barda dan kawan-kawan beserta Lagora dan awaknya langsung menghajar KO para perompak-perompak itu, dan Lagora pun langsung berhadapan satu lawan satu dengan pemimpin perompak yang juga teman masa kecilnya mengarungi lautan, pertarungan berlangsung sangat sengit dan Lagora sempat terdesak oleh teman masa kecilnya, tetapi Lagora tak mau kalah iya langsung mengeluarkan segenap kekuatanya untuk mengalahkan temanya itu. Dan alhasil akirnya Lagora berhasil mengalahkan ketua perompak itu dengan cara menendangya hingga jatuh ke laut lepas dan tamatlah nasib perompak itu. Perjalanan ke pulau Bali di lanjutkan kembali, dan keesokan harinya tibalah mereka di tempat tujuan, setelah kapal merapat kedaratan keempat pendekar yang di damping pak Oka itu turun dari kapal Lagora dan berjalan kaki kearah Sanur. Katika para pendekar ingin meninggalkan kapal Lagora, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat keras dari atas dek kapal,”Hai pendekar tunggu aku” seluruh pandangan para pendekar tertuju ke atas dek kapal, dan tanpa di sangka sangka ternyata orang yang berteriak itu adalah Lagora si singa laut. Bertambahlah pasukan pendekar yang dibawa oleh pak I putu oka. Perjalanan di lanjutkan kembali seluruh pendekar terkagum kagum akan keindahan pemandangan di pulau Bali kecuali Barda yang tak bias melihat, tetapi iya dapat merasakan kesenangan dari teman-temanya sehingga iya biasa mengetahui pasti pemandangan di pulau Bali sangatlah bagus. Setelah berjalan beberapa lama para pendekar tiba di desa Sanur yaitu desa di mana pak I putu oka berasal. Lagi-lagi para pendekar di buat terkagum kagum akan ke unikan bangunan dan kultur budayanya. Di desa Sanur mereka di jamu dengan sangat manja oleh kepala desa dan oleh penduduknya, mereka di sambut bagaikan raja, mereka disambut bagaikan tamu terhormat. Bahkan melebihi jamuan ke kepala desa. Setelah di jamu sedemikian rupa para pendekar di ajak untuk berkeliling desa dengan di pandu oleh pak Oka, pak Oka memjelaskan seluruh struktur dan batas-batas wilayah pedesaan mereka dan bagaimana perampok dapat masuk ke pedesaan mereka. Setelah di berikan penjelasan yang sangat lengkap dan beragam dari pak Oka keesokan harinya Barda langsung menyusun rencana dan membangun pertahanan di setiap sudut desa agar para perompak kesulitan untuk masuk ke dalam desa Sanur, Lalu Daeng Martundong dan Datuk siguragura bertugas untuk melatih para lelaki yang berada di desa itu untuk mempertahankan diri dan keluarganya apa bila sewaktu waktu para pencuri itu datang di malam hari. Dan sabai anak Datuk bertugas untuk menemani dan melindungi para wanita dan anak kecil di pengungsian jika seakan akan para pencuri itu datang tanpa ada yang mengetahui. Setelah selesai melakukan tugasnya para pendekar itu pun langsung membuat sebuah jadwal untuk melakukan patroli keliling, setiap hari dan setiap waktu agar mengetahui setiap kali ada kejanggalan di dalam desa dan untuk memastikan desa aman dari pencuri. Tiga hari sudah berlalu dan pencuri yang dinanti nanti pun tidak kunjung tiba hingga keadaan di desa menjadi lebih tenang, tetapi karna itu pula penduduk jadi berfikir bahwa pencuri sudah kabur ketakutan karna mendengar adanya kelima pendekar yang singgah untuk membantu warga desa Sanur melawan mereka. Tetapi pada suwatu waktu saat Datuk siguragura sedang berkeliling desa untuk berjaga jaga dan untuk memastikan keadaan desa aman iya melihat beberapa orang sedang berdiskusi di tengah hutan ternyata orang itu adalah mata-mata dari kelompok pencuri yang selalu datang ke desa Sanur, lansung saja Datuk menangkap ke empat orang itu dan di bawanya ke rumah di mana para pendekar beristirahat. Ketika ke empat mata-mata itu tiba di rumah singgah para pendekar, mereka di interogasi oleh Barda,”siapa yang mengirimmu dan apakah kau penduduk desa ini ?” tetapi para mata-mata itu hanya diam saat di tanyai oleh Barda, tiba-tiba Datuk mendekati salah seorang mata-mata itu dan di remasnya punggung salah seorang itu sehingga membuat orang itu kesakitan dan juga membuatnya berbicara,”aku di utus oleh ketua perampok dari desa sebelah, iya mengancamku akan membunuh seluruh keluarga ku bila aku tidak mau mengikuti permintaanya.” Lalu Barda menaya lagi kepada orang itu,”siapa nama ketua perampok itu ?” ketika orang itu ingin menjawab tiba-tiba datang seorang penduduk desa lari dengan muka ketakutan, dan ternyata orang itu menyampaikan bahwa pintu desa bagian timur telah jebol oleh para perampok yang jumlahnya ratusan orang. Langsung dengan bergegas para pendekar meninggalkan rumah singgahnya untuk menuju ke gerbang timur kecuali Sabai anak Datuk yang di tugaskan untuk mengungsikan para wanita dan anak-anak. Sesampainya di gerbang timur para pendekar sudah di sambut oleh ratusan pasukan berkuda dan para penunggangnya yang membawa tombak terhunus, lalu di bagian belakangnya terlihat seorang menaiki kereta kuda yang berwarna hitam dengan pengawalnya yang membawa pedang berkilauan, ternyata orang itu adalah ketua perompak yang namanya tidak di ketahui. Terjadilah pertempuran sengit antara keempat pendekar melawan ratusan perampok yang menggunakan peralatan perang lengkap. Barda dengan kemampuan silatnya yang spektakuler membabat para perompak itu dengan pukulan dan tendangan-tendangan mautnya, sedangkan Datuk siguragura dengan kemampuan silatnya yang mengandalkan kelenturan dan kegesitan badan berhasil juga menumbangkan puluhan perampok, lalu Daeng martundong dengan badiknya berhasil melubangi puluhan leher perompak tanpa ampun, sedangkan Lagora iya menggunakan golok besarnya melukai banyak perompak beserta kuda-kudanya. Akibat serangan yang bertubi tubi dari pasukan perampok, ke empat pendekar itu kewalahan juga hingga salah satu perampok berhasil menjatuhkan Datuk siguragura dari kuda yang iya tumpangi dan membuatnya tewas, lalu Lagora pun bernasib sama iya tertusuk di bagian perutnya hingga membuatnya mengalami pendarahan hebat. Maka tinggal Barda dan Daeng martundong saja yang selamat. Pada saat Barda dan Datuk terdesak oleh perampok para warga desa Sanur dari pengungsian yang di pimpin oleh Sabai ternyata membantu kedua pahlawan yang sudah kewalahan itu dengan ikut bertarung di medan perang. Setelah pertarungan berlansung hampir seharian warga desa Sanur berhasil mendesak para perampok hingga hanya tersisa pemimpin dan pengawal pribadinya saja Karna Barda ingin menyelesaikan pertarungan iya dan Daeng langsung menyerbu sisa-sisa perompak yang masih hidup, Datuk membereskan pengawal pribadinya dan Barda melawan ketua perampok. Datuk bertarung dengan sangat sengit hingga iya agak kewalahan untungnya ada Sabai yang membantu Datuk siguragura hingga berhasil melibas para pengawal pribadi sang raja perompak yang cukup tangguh. Dan Barda yang masih bertarung dengan ketua perampok agak kesulitan karena ilmu silat ketua perampok yang sangat mematikan hampir menewaskan Barda, bertarung sambil mengorek informarsi itulah yang di lakukan Barda, akhirnya Barda pun berhasil mengetahui siapa sebenarnya ketua perampok itu ternyata iya adalah orang yang di juluki dengan nama SI LEAK HITAM dengan kemampuanya yang mengerikan pantas saja iya di juluki dengan nama seperti itu. Barda sudah sampai batasnya iya harus mengalahkan Leak hitam sebelum iya di kalahkan maka dengan segenap kemamapuan yang tersisa Barda mengeluarkan jurus pamungkasnya yang bernama TAPAKAN NAGA LANGIT, dan tanpa di sangka-sangka jurus itu berhasil menumbangkan ketua perampok yaitu SI LEAK HITAM. Berakilah pertarungan yang sengit itu dengan hasil ketua perampok mati di tangan Barda, dan peperangan di desa Sanur ini telah memakan banyak korban yang tidak bersalah, pertempuran ini membuat dimana aliran darah lebih deras di bandingkan aliran sungai yang airnya jernih, desa Sanur harus banyak melakukan perbaikan agar desa ini bisa tetap hidup dengan damai. Setelah pertarungan itu Barda sempat tidak sadarkan diri beberapa hari, hingga iya sadar dan dapat berjalan kembali. Setelah pulih dari lukanya Barda beserta Daeng martundong dan Sabai akan pergi dari desa Sanur setelah berpamitan oleh kepala desa dan pak I putu oka. Pergilah para pendekar itu meninggalkan desa Sanur dengan diiringi oleh hisak tangis dari warga desa yang pasti akan selalu merindukan mereka dan matinya para pahlawan yang membela desa Sanur dari kebiadaban seorang perampok akan selalu di kenang dan akan selalu di banggakan.

Kisah Cinta Si Gendut dan Si Manis by Bevianto

Pada suatu hari, hiduplah seorang laki-laki yang bernama Vian. Vian tinggal di kota X. Vian orangnya pintar, baik hati (kata teman-temannya). Tapi, Vian tubuhnya cukup gendut, jadi dia sering dipanggil “si gendut” oleh teman-temannya di sekolah. Vian memiliki banyak teman di sekolahnya karena dia pintar, jujur, ramah, dan baik. Jadi Vian disukai oleh banyak teman-temannya di sekolah. Hampir pada setiap pelajaran, (terutama pelajaran fisika dan matematika) teman-teman Vian minta diajarkan oleh Vian karena belum mengerti penjelasan gurunya. Pada saat ulangan, Vian juga sering diconteki oleh teman-temannya, karena kata teman-teman Vian, Vian adalah salah satu murid yang pintar di kelasnya. Pada suatu malam, Vian sedang chatting dengan salah seorang teman perempuannya di sekolah, namanya Nata. Nata orangnya juga baik, cukup pintar juga seperti Vian. Muka Nata sangat manis menurut Vian dan teman-teman lain di sekolah. Malam itu, Nata meminta nomor handphone Vian karena Nata baru membeli nomor baru, jadi nomor-nomor yang ada di handphone Nata hilang, termasuk nomor Vian. Vian memberikan nomornya kepada Nata, tapi Vian lupa meminta nomor Nata. Keesokan harinya, baru Vian mendapatkan nomor handphone Nata. Malam harinya, Nata sms ke Vian untuk mengkonfirmasi nomornya yang baru diminta Vian tadi siang di sekolah. Entah apa yang membuat Vian si gendut dan Nata si manis jadi terus sms-an semalaman itu. Keesokan harinya pun, mereka terus sms-an. Bahkan, di sms, mereka telah saling memanggil nama mereka ketika sedang berbicara. Padahal, dulu mereka kalau sedang berbicara, tidak pernah memanggil nama. Paling-paling hanya memanggil engan sebutan “gue-lo” yang sering dipakai oleh anak muda sekarang. Vian si gendut dan Nata si manis kalau sedang di sekolah pasti selalu bercanda dengan cara pura-pura saling bertengkar. Setiap pagi, Nata pasti menyapa Vian. Dulu, sebelum mereka sms-an, Nata jarang sekali berbicara kepada Vian di sekolah. Paling berbicara hanya sekali-sekali kalau itu memang penting. Pada suatu hari, Vian menawarkan untuk memberikan oreo untuk Nata. Vian memberi oreo itu kepada Nata saat mereka bertemu di sekolah. Setelah Vian memberikan oreo itu untuk Nata, mereka menjadi lebih dekat daripada sebelumnya. Saat Vian dan Nata semakin dekat, teman-teman Vian dan Nata sering melihat isi sms Vian dan Nata. Teman-teman Nata dan Vian sudah bisa menduga kalau Vian dan Nata suatu saat pasti akan menjadi pasangan atau biasa disebut pacaran. Saat mereka menjadi lebih dekat lagi, Nata sering menyuruh Vian untuk makan, Vian pun juga begitu terhadap Nata. Mereka jadi saling memperhatikan satu sama lain. Mereka tidak ingin salah satu diantara mereka kenapa-kenapa. Bahkan Vian pernah berkata begini kepada Nata, “pokoknya Nata harus makan, kalo Nata gak makan, Vian gak akan mau makan lagi nih.” Hari demi hari terus berjalan, mereka jadi makin dekat saja. Suatu saat, Vian memberikan sesuatu lagi untuk Nata. Kali ini, Vian memberikan coklat kepada Nata (makanan manis di berikan untuk orang yang manis pula). Nata sangat senang akan coklat yang diberikan oleh Vian. Karena coklat katanya memang salah satu yang disukai oleh perempuan. Nata terlihat gugup saat menerima hadiah itu dari Vian. Nata sangat malu saat menerima hadiah itu, karena Nata juga sudah mulai menyukai Vian. Vian juga sudah mulai menyukai Nata. Padahal, Vian tidak mempunyai niat seidkitpun untuk mendekati Nata. Jodoh memang gak kemana-mana yaaaa. Setelah Vian memberikan coklat itu kepada Nata, mereka jadi sangat dekat. Mereka di sms sudah seperti orang yang berpacaran, padahal mereka hanyalah teman. Tapi, di sekolah, mereka tidak pernah berbicara seperti teman-teman yang lain. Mereka hanya berbicara di sms saja. Mereka terus smsan selama dua bulan lebih. Sampai pada suatu malam ketika Vian sedang asik bermain counter-strike di komputernya, tiba-tiba handphone Vian yang ada di meja belajarnya berdering. Ternyata, Rey menelfon Vian dam Rey memberitahu, bahwa ternyata Nata sudah sangat sayang dan cinta kepada Vian. Rey menyuruh Vian untuk segera “menembak” Nata. Karena kata Rey, kasihan Nata si manis yang telah lama menunggu cintanya kepada Vian ditanggapi oleh Vian. Rey juga memberitahu bahwa Rey juga sedang menyukai salah satu teman baik Nata yang juga termasuk se-geng dengan Nata, ternyata teman Nata tersebut juga sudah menyukai Rey. Maka Rey memintaku untuk menembak Nata bersamaan dengan Rey menembak teman Nata itu. Tapi, Vian yang disuruh untuk menembak duluan. Karena Rey yakin, pasti Vian diterima oleh Nata. Suatu hari, saat di sekolah Vian sedang ada try out untuk anak-anak SD dan SMP, teman Vian, si Rina dan Rey menyuruh Vian untuk menembak Nata sekarang. Tapi, Vian menolaknya. Katanya, Vian masih belum siap. Tiga hari berikutnya, saat Vian sudah mulai masuk sekolah lagi, baru Vian sudah siap untuk menembak Nata pagi itu di sekolah. Saat Nata sudah sampai di sekolah, Vian mendekati Nata dan Vian menembak Nata. Dan ternyata, Nata menerima cinta Vian. Sesaat setelah Nata menerima cinta Vian, Vian memberikan sebatang coklat kepada Nata. Vian dan Nata sangat senang hari itu. Tidak lama setelah itu, gentian Rey yang menembak teman Nata. Dan teman Nata itu juga menerima cinta si Rey. Pagi itu sudah ada dua pasangan baru. Vian dan Nata masih sangat malu-malu di hari pertama mereka pacaran. Nata dan Vian hanya sekali-sekali berbicara berdua, itu juga pembicaraan yang sangat sepele. Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, ada salah satu teman Vian yang menembak teman Nata. Teman Nata itu juga menerima temannya si Vian. Jadi, hari itu, ada tiga pasangan baru yang baru pacaran di sekolah. Hari itu menjadi hari yang sangat special. Waktu terus berlalu, Vian dan Nata menjadi sangat dekat. Suatu hari, beberapa hari sebelum hari ulang yahun Vian, Nata tidak masuk sekolah. Nata bilang kepada Vian bahwa Nata tidak masuk ke sekolah karena Nata mau ikut ke kantor ayahnya. Tapi, sebenarnya Nata tidak masuk sekolah karena ingin mencari hadiah ulang tahun untuk Vian. Nata minta diantarkan oleh ayahnya untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Vian. Nata akhirnya memutuskan membeli sebuah jaket untuk diberikan kepada Vian di hari ulang tahunnya. Singkat cerita, hari ulang tahun Vian telah tiba. Dini hari di hari ulang tahun Vian, Nata si manis mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian si gendut. Nata adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Vian. Bahkan, keluarga Vian saja belum mengucapkan selamat ulang tahun kepada Vian. Saat di sekolah, taman-taman Vian banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian. Sore harinya saat pulang sekolah, Vian tidak diizinkan untuk pulang oleh Nata dan teman-temannya, karena mereka akan memberi sebuah kejutan untuk Vian. Teman-teman Vian menyeplokan telur ke kepala Vian, ada juga yang menyiramkan air ke Vian, ada juga yang melemparkan tepung ke Vian. Seragam sekolah Vian menjadi sangat kotor hari itu. Untungnya, Vian sudah mempersiapkan dirinya dengan membawa baju ganti. Vian juga sudah membawa perlengkapan mandi, jadi Vian mandi di sekolah hari itu. Saat Vian sedang mandi, Nata menunggu Vian sampai dia selesai mandi. Setelah Vian selesai mandi, Nata memberikan hadiah itu kepada Vian. Vian sangatlah senang dengan hadiah yang diberikan oleh Nata. Tapi, ternyata jaket yang diberikan oleh Nata kepada Vian itu sedikit kebesaran. Tapi kata Vian, “gapapa kok, yang penting ini kan dari kamu. Apa aja yang kamu berikan buat aku, pasti aku suka.” Sautu hari, ada kejadian yang membuat Nata dan Vian menjadi malu dengan salah satu guru di sekolah. Kejadian itu aneh dan lucu. Ceritanya begini, saat jam istirahat di sekolah, Vian si gendut dan Nata si manis sedang berpelukan karena mereka sangat mencintai satu sama lain. Bel istirahat selesai pun berbunyi, tapi mereka masih berpelukan. Tiba-tiba tanpa mereka sadari, ada salah seorang guru yang sudah naik ke lantai tiga sekolah itu. Guru itu melihat Nata dan Vian sedang berpelukan. Guru itu hanya menyuruh Vian dan Nata berhenti berpelukan. Teman-teman Vian dan Nata mentertawakan mereka. Vian si gendut dan Nata si manis menjadi malu dengan kejadian itu. Tapi, rasa malu itu tidak berlangsung lama. Nata dan Vian akhirnya masuk ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran di sekolah. Nata dan Vian saat tahun pelajaran itu tidak sekelas. Tapi, mereka senang-senang saja. Lagipula mereka juga masih bisa bertemu walaupun beda kelas. Hari demi hari terus berlalu. Tiga bulan telah berlalu saat hari pertama mereka berpacaran. dua bulan setelah hari ulang tahun Vian, tibalah hari ulang tahun Nata. Beberapa hari sebelum hari ulang tahun Nata, ibunya Vian menawarkan sebuah gantungan kunci yang bisa digunakan untuk memajang foto-foto. Vian berniat untuk memberikan gantungan kunci itu kepada Nata di hari ulang tahunnya. Vian meminta ibunya untuk membelikan sebuah bungkusan yang bagus untuk membungkus gantungan kunci itu. Saat di hari ulang tahun Nata, gantian Nata yang diberikan kejutan oleh teman-temannya. Kejutannya sama seperi yang iberikan teman-teman Vian kepada Vian. Hari itu, Nata menjadi sangat putih. Padahal biasanya Nata kulitnya hitam, tapi dia manis sekali dengan kulit hitamnya itu. Saat Nata sedang mandi, Vian memasukkan hadiah yang akan diberikan kepada Nata ke dalam tasnya Nata. Vian bermaksud untuk memberikan kejutan kepada Nata saat Nata membuka isi tasnya di rumah. Saat di rumah, Nata senang melihat hadiah dari Vian. Suatu hari, Vian dan teman-teman Nata dan Vian bermain ke rumah Nata, Nata sangat senang karena Vian akan bermain ke rumahnya. Saat sampai di rumah Nata, Vian, Nata dan teman-teman yang lain berniat untuk membeli makanan untuk di makan siang ini. Diantara mereka ada yang membeli bakmi, nasi padang, dan lain-lain. Tanpa Vian sadari, ternyata Nata membelikan sebungkus nasi padang untuk mereka makan berdua. Nasi padang itu memang banyak, jadi cukup untuk mereka berdua. Saat mereka sedang asik makan, Nata dan teman-teman yang lain menyuruh Vian untuk bermain piano. Karena mereka tahu bahwa Vian memang bisa bermain piano. Vian bermain piano untuk menghibur Nata dan teman-teman lain yang sedang makan. Mereka sangat senang mendengar Vian bermain piano. Katanya seperti sedang makan di café. Sebenarnya, Vian ingin mendengar Nata bermain piano juga. Karena Vian juga tau bahwa Nata bisa bermain piano seperti Vian. Tapi, Nata sedang tidak ingin bermain piano. Lain kali saja kata Nata. Setelah mereka selesai makan, mereka ke masuk ke kamar Nata untuk mendinginkan badan, karena siang itu memang cuacanya sedang sangat panas. Saat mereka sedang berada di dalam kamar Nata, salah seorang teman Vian dan Nata memanggil teman Nata yang lain dengan sebutan adik. Lalu dia memanggil Nata dengan sebutan mama. Nata juga memanggil Rey dengan sebutan kakak. Begitu terus belanjut diantara mereka. Akhirnya, hari itu mereka membuat sebuah silsilah keluarga. Rey dan pacarnya mempunyai satu anak. Rey juga mempunyai seorang adik, yaitu Nata. Ceritanya, Nata menikah dengan Vian. Mereka mempunyai dua orang anak. Salah seorang anaknya sudah mempunyai dua orang anak. Anak Nata dan Vian sering disebut “kakak beradik hidung” karena kebetulan hidung mereka itu lebih besar dan lebar dibandingkan dengan hidung-hidung teman-teman yang lain. Saat di sekolahpun mereka mamanggil nama teman mereka yang ada di silsilah keluarga itu sesuai dengan posisi mereka di silsilah keluarga tersebut. Vian si gendut sekarang sudah dipanggil kakek atau eyang. Sedangkan Nata si manis sudah dipanggil nenek oleh kedua cucu Nata dan Vian. Mereka sudah seperti tua sekali yaaaa. Saat liburan kenaikan kelas, Vian si gendut dan Nata si manis saling kangen karena mereka tidak bertemu selama beberapa minggu lamanya. Saat hari pertama masuk sekolah, mereka sekarang sudah menjadi senior di sekolahnya. Mereka sekarang sudah kelas sembilan. Saat pembagian kelas merupakan saat yang paling mendebarkan bagi mereka. Nata dan Vian ingin sekali saat kelas sembilan ini, mereka sekelas. Jadi mereka bisa selalu bertemu kapanpun di sekolah. Tanpa diduga, ternyata mereka sekelas. Vian si gendut dan Nata si manis sangat senang akan hal itu. Akhirnya mereka bisa terus bersama. Lima bulan telah berlalu sejak hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih terjadilah sebuah konflik. Vian dibohongi oleh Nata. Nata tidak cerita kepada Vian kalau Nata sedang bete banget. Nata hanya bilang kalau Nata tidak kenapa-kenapa. Padahal Vian juga tau kalau Nata sedang bete banget karena tidak seperti biasanya, Vian tidak diajak ngobrol oleh Nata. Vian merasa sangat dibohongi oleh Nata. Padahal Vian pernah berkata pada Nata bahwa Vian sangat tidak suka kalau Nata tidak jujur kepada Vian dan Vian juga sangat tidak suka kalau saat Vian sedang bertemu dengan Nata, tapi Nata hanya diam seribu kata di depan Vian. Vian sangat tidak menyukai kedua hal itu. Vian telah disakiti oleh Nata. Padahal Nata pernah berjanji kepada Vian kalau Nata tidak akan menyakiti Vian selamanya. Tapi, ternyata Nata telah mengingkari janjinya kepada Vian dan Nata telah membuat Vian sangat sakit hati hari itu. Mereka terus berdebat. Bahkan mereka sampai saling bertengkar. Mereka bertengkar sangat hebat karena hal itu. Bahkan, Nata dan Vian sampai menangis karena pertengkaran itu. Mereka berdua hamper saja menyudahi hubungan yang telah mereka jalankan dengan baik-baik selama lima bulan itu. Tapi untungnya, mereka bisa menemukan jalan keluarnya dari masalah itu dan mereka berdua tidak jadi berpisah di bulan kelima hubungan mereka itu. Mereka sangat lega karena maslah itu tidak berlanjut. Saat itu, Nata berjanji lagi bahwa Nata tidak akan pernah lagi menyakiti Vian untuk yang kedua kalinya. Setalah Nata dan Vian telah menyelesaikan masalah mereka tadi, mereka sekarang menjadi saling menjaga perasaan pasangannya masing-masing agar kejadian itu tidak terjadi lagi. Nata berniat untuk memperbaiki sifat jeleknya, begitu pula dengan Vian. Mereka berdua berusaha untuk merubah sikap jelek mereka agar mereka bisa menjadi nyaman di dekat pasangannya. Nata berusaha untuk merubah sikapnya yang selalu bergantung pada mood-nya dan Vian juga ingin merubah sifatnya yang gampang bete, sedih dan tersinggung. Mereka sekarang saling menkaga mood pasangannya masing-masing. Satu bulan setelah konflik yang terjadi tadi, terjadilah sebuah konflik lagi yang menimpa mereka. Kali ini, Nata yang telah disakiti oleh Vian. Nata dibentak oleh Vian karena Nata meninggalkan Vian sendiri pada malam itu, padahal Vian sedang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Nata dan Nata juga sudah berjanji bahwa Nata tidak akan meninggalkan Vian malam itu. Nata sangat sakit hati karena Nata telah dibentak oleh Vian. Padahal Nata paling tidak suka dibentak oleh Vian. Kali ini, Vian yang telah melanggar janjinya kepada Nata untuk tidak menyakiti hati Nata. Mereka bertengkar lagi malam itu. Untung saja Nata memaafkan kesalahan Vian. Karena Nata mengerti kalau Vian sedang emosi karena suatu hal yang lain. Nata memang sangat pengertian kepada Vian. Akhirnya, mereka saling bermaaf-maafan dan pertengkaran mereka malam itu berakhir dengan damai kembali. Mereka berdua memang saling pengertian. Mereka juga paling tidak suka dengan bertengkar. Makanya konflik-konflik yang mereka alami pasti akan terselesaikan dengan damai. Setelah kedua konflik itu, Nata si manis dan Vian si gendut terus memperbaiki kekurangan mereka agar Vian bisa menjadi yang terbaik untuk Nata dan Nata bisa menjadi yang terbaik untuk Vian selamanya. Vian dan Nata berharap agar mereka bisa menjadi pasangan hidup untuk selamanya. Mereka ingin hanya maut yang memisahkan mereka berdua, bukan masalah-masalah atau konflik-konflik yang biasa dialami oleh banyak pasangan di Indonesia, bahkan di Dunia. Mereka sering berdoa agar mereka tidak mengalami konflik lagi. Mereka hanya ingin menjalani hubungan mereka dengan damai. Tapi, mereka juga harus berusaha untuk bisa menjalani hubungan yang damai untuk selamanya. Sampai sekarang, Vian si gendut dan Nata si manis terus menjalankan hubungannya. Sekarang saja mereka sedang sangat rindu dengan pasangannya masing-masing. Vian kangen sekali dengan Nata, dan Nata kangen sekali dengan Vian. Mereka tidak bisa bertemu sekarang karena sekarang sekolah mereka sedang libur. Mereka berharap bisa segera bertemu kembali saat masuk sekolah kembali nanti.

Menunggu Matahari by Amir Al Aziz

Setiap pagi asmin duduk di tepi danau itu. Ia selalu menyempatkan diri ke tempat itu tanpa ditemani siapa pun. Ia masih anak kecil, juga anak tunggal, kelas dua sekolah dasar yang cukup jauh dari kampungnya. Berbakti kepada ibu yang telah lam ditinggal bapaknya dijemput Malakulmaut. Ia merasa ada sesuatu yang berharga jika duduk di tepi danau yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, yang terbuat dari bilik-bilik. Air danau itu memang jernih, sehingga bebatuan yang ada di dasar laut terlihat dengan jelas bentuk, letak, dan lekukannya. Air danau mengalir dengan kecepatan yang tenang di antara bebatuan besar yang mencoba menghadang arusnya. Tetapi justru dengan pemandangan itu suasananya semakin bertambah indah dan menakjubkan. Pohon-pohon besar yang merengkuhkan dahan-dahannya yang berdaun lebat seperti mencoba memayungi keindhan danua itu dari guyuran musim hujan yang kadang-kadang seperti sedang marah. ”Asmin, kamu jangan terlalu sering main di tepi danau itu,” kata ibunya pada suatu malam, sebelum tidur,” Nanti kamu terjatuh dan terbawa arus atau tenggelam.” Nasihat yang diwejangkan ibunya itu hanya ditanggapi dengan dingin saja. Namun ia tidak mau menampakkan kedinginannya itu didepan ibunya, karena ia pun menyadari bahwa kata-kata yang diucapkan oleh ibunya itu adalah benar dan sebagai tanda cinta ibu terhadap anaknya. Apalagi ia anak satu-satunya, pikir Asmin dalam hati. Ia tetap mendengarkan setiap nasihat yang diucapkan ibunya dengan rasa sopan dan rendah diri. Tetapi keesokan harinya ia menyempatkan diri lagi ke tepi sungai itu, beberapa menit sebelum langkah-langkah semangatnya diayunkan menuju sekolahnya tempat ia menimba ilmu. Danau yang indah itu tidak terlalu jauh dari samping rumah mungil yang terbuat dari bilik-bilik itu. Dan jarak antara rumah itu dengan rumah-rumah penduduk lainnya cukup berjauhan. Karena daerah yang mereka tempati boleh dikata sangat terpencil dan jauh dari keramaian jalan desa, jalan kecamatan, apalagi jalan dan kabupaten. Jangankah berharap akan adanya masuk listrik, jalan setapak yang biasa dipakai pun rasanya tak pernah mendapat perhatian dari pegawai desa. Hanya pernah beberapa tahun yang lalu, menjelang pemilihan umum, sempat tersebar isu bahwa apalagi partai tertentu menang dalam meraih suara terbanyak diwilayah kecamatannya. Maka kondisi jalan sepanjang mrnuju kampung itu akandiperbaiki dan dilebarkan. Tetapi kabar itu hanya tinggal kebisuan rumput-rumput liar dan pepohonan yang banyak tumbuh di sepanjang jalan setapak itu. Asmin rupanya menyimpanharapan yang selalu ia tunggu-tunggu dari tepi danau yang jernih itu. Di seberangnya terhampar berpetak-petak sawah dalam ke hijauan, sangat indah sebagai salah satu pemandangan yang alamiah. Danau itu membetang dari hulu utara menjalar, membatasi wilayah timur kampungnya, ke arah seletan yang rada landai. Di sanalah, di tepi danu itulah, Asmin selalu duduk menyendiri menghadap ufuk timur menanti matahari. Ya, ia selalu menanti matahari terbit dengan kebulatan yang sempurna dalam warna merah di sambut harum mekar bunga-bunga putih dari rekah tanah subur dan tumbuhan lain yang terkena sinar hangat. Matahari itu tetapi, semenjak selesainya pemilu beberapa tahun yang telah lewat itu, matahari tak pernah kembali terlihat terbit di ufuk timur. Padahal sebelum terjadinya hal ini, tak ada tanda-tanda yang membuat keadaan akan berubah seperti akhir-akhir ini. Setiap pagi yang ada dan terlihat sekarang di ufuk timur itu hanyalah gumpalan-gumpalan kabut putih dalam ketebalan yang luar biasa. Sehingga kampung Asmin dan penduduknya yang jarang-jarang itu telah lama tidak lagi dapat menikmati pemandangan matahari terbit dan kehangattan cahayanya. ”Bu, kapankah matahari itu akan terlihat kembali setiap terbitnya?” tanya Asmin pada suatu siang, setelah pulang dari sekolahnya. ”Entahlah, Nak, kita tidak punya kuasa untuk memastikannya.” ”Apakah orang-orang dikampung ini juga tidak tahu kapan matahari itu akan terlihat, Bu?” ”sudahlah, itu adalah kuasa Tuhan, ” jawab ibunya sambil menguasap-usap kepala Asmin.”Dan kita tidak usah mencemaskannya.”Sebenarnya Asmin merasa kecewa dengan jawaban ibunya yang tidak memuaskan. Tetapi ia memendam kekecewaannya itu dengan tidak bertanya lebih jauh lagi. ”Sekarang, gantilah seragam sekolahmu, ”lanjut ibunya,”lalu makan, dan setelah itu bantu ibu memotongi kayu bakar.” Tanpa banyak alasan lagi Asmin segera melakukan apa yang baru saja ibunya katakan, Pada suatu malam Asmin bermimpi tentang seorang pangeran dari negeri Antaha. Ia datang kepadanya membawa satu pesan yang sangat mengagetkan. Dia datang menjelang pagi hari, dengan pakaian kebesarannya yang gagah seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan jaman dahulu. Dan pangeran itu datangan dengan beberapa orang anak-anak, laki-laki dan perempuan, yang jugahampir sama usianya dengan Asmin. ”Asmin, aku adalah pangeran Antanur dari negeri Antaha,” kat sang pangeran merperkenalkandirinya. ”Kau tidak usah kaget dan takut dengan kedatangan ku ini, karena sebenarnya maksud kedatangan ku adalah ingin meluluskan keininanmu untuk kembali menyaksika mathari terbit dari ufuk timur.” ”Pangeran tahu dari mana tanya,”tanya Asmin keheranan. ”Aku selalu tahu keinginan anak-anak yang merindukan keindahannya,”Jawab pangeran Antanur sambil tersenyumdan menghusap-husap kepala Asmin, seperti yang pernah dilakukan ibunya. ”Benarkah itu pangeran?,”tanya Asmin kembali dengan perasaan berharap benar. ”Percayalah pada ucapan ku, Asmin. Kau liat anak-anak disekeliling ku ini, mereka juga mempunyaai keinginan yang sama dengan kainginanmu. Maka dari itu, aku datang kesini menemuimu, karena hanya kamulah sendiri yang belum aku beritahu caranya menyaksikan matahari itu terlihat setiap terbitnya. Dan yang paling utama, kamulah yang akanmenjadi pahlawan dalam menyingkap tabir semua ini. ”Meskipun Asmin merasa senang dan tersanjung degan ucapan sang pangeran itu, di dasar hatinya ia tetap masih menyimpan keragu-raguan. Benarkah dirinya yang akan menjadi pahlawan dalam menyingkap takbir semua ini.” Meskipun Asmin merasa senang dan tersanjung dengan ucapan sang pangeran itu, di dasar hatinya ia tatap masih manyimpan keragu-raguan. Benarkah dirinya yang akan menjadi pahlawan menyingkap tabir semua itu? Benarkah semua ucapan sang pangeran itu, sedangkan ia hanyalah anak yatim dan hidup diperkampugan yang sangat terpencill? Begitulah kira-kira isi keraguan yang ada dalam hatinya. Kemudian pangeran Antanur mengajak Asmin dan anak-anak lainnya ke tempat Asmin biasa duduk meyendiri di tepi danau itu. Sesampainya di tempat, pangeran Antanur menyuruh mereka duduk bersila dalam bentuk lingkaran dengan tangan saling berpeganga, kecuali Asmin yang berada di tengah-tengah lingkaran itu berdiri seorang diri dalam sikap sempurna manghadap arah matahari akan muncul. ”Mulailah, sekarang pejamkan mata kalian dan berdoalah kepada yang maha kuasa agar matahari itu dapat terlihat ketika terbit, ”suruh pangeran kemudia.”Dan kau, Asmin, jangan kaget jika pada waktunya nanti kau akan berubah. ” Anak-anak itu menuruti apa yang telah dikatakan sang pangeran, dan ia sendiri hanya berdiri di belakang Asmin, di luar lingkaran, dengan milut komat-kamit seperti sedang berdoa. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada sesuatu yang terlihat lain dengan keadaan Asmin. Ia tidak lagi menapakkan kedua kakinya di atas tanah. Ia semakin terbang menjauhi bekas pijakannya. Melayang, melayang, dan melayang ke arah akan terbit di balik gunung dari batas jauh hampaan petak-petak sawah. Asmin semakin jauh menempuh perjalanan dalam kemelayangannya. Hinga pada akhirnya ia berhenti di antara gumpalan-gumpalan kabut kebal yang menyebabkan matahari itu tidak pernah terlihat manakala waktunya terbit. Di sanalah ia seolah-olah mempunyai kekuatan yang luar biasa, karena tiba-tiba kabut tebal itu memudar sedikit demi sedikit meninggalkan gumpalannya. Ya, benar-benar suatu peristiwa yang hebat dan baru terjadi. Asmin, masih dengan keheranan yang mulai memudar dalam jiwanya, menyaksikan pudaran kabut yang semakin lama semakin cepat berhamburan dan menghilang dari pandangan mata itu, sedikit tersenyum. Entah kemana gerangan gumpalan kabut itu hingga akhirnya Asmin kembali melayang ke arah anak-anak yang tadi mengelilinginya dalam sebuah lingkaran, setelah benar-benar ia menyaksikan dan meyakini bahwa kabut itu tk ada lagi, meski setitik. Sekarang ia berada dalam lingkaran seperti semula, dalam keadaan sikap sempurna, ”Baiklah,” kata sang pangeran tiba-tiba. ”Kini saatnya kalian bersiap-siap menyaksikan matahari terlihat terbit dari balik gunung itu dengan keindahannya yang khas.” Kemudian anak-anak itu menghentikan doanya dan membuka mata masing-masing sambil mencoba berdiri menghadap kearah dimana matahari itu akan terlihat terbit. ”Wooow......” kata mereka hampir berbarengan dengan nada takjub, karena suasana pandangan mereka kedepan kini benar-banar dirasakannya terbuka luas dan melegakan hati. Mereka sangat berbahagia dalam penantianya akan kembali melihat matahari yang telah lama tidak pernah menampakan dirinya ketika terbit. Detik demi detik berkejaran dalam hitungan waktu, detak jantung merekapun berdegup dalam harap harap yang menegangkan berpadu dengan seara-suara ayam dan hewan lainnya yang seolah juga sedang ikut menyambutnya. Ya, hawa disekitar merekapun dirasakan hangat dan menambah semangat. Hingga pada akhirnya. Tempat ketika sang pangeran sempat kilat menghilang dari hadapan mereka, matahari muncul sedikit demi sedikit dari balik gunung di jauh sana. Indah, ya benar-benar indah dengan cahayanya yang khas menyinari kembali kampung Asmin yang terpencil itu. Harapan telah bersinar kembali dari waktu-waktu yang hampir buta. Seolah mendapatkan sebuah hadiah yang sangat berharga, anak- anak itu begitu berbahagia dengan berbagia teriakan yang histeris khas anak-anak sambil berjingkrak kegirangan, cukup lama. Tetapi Asmin merasa tersandarkan karena adanya keganjilan di sekitar mereka. Ia merasa bahwa sang pangeran Antanur, yang berjasa membantu tercapainya harapan mereka telah tidak ada, tidak terlihat lagi bersama mereka. Asmin mencari- cari di sekitarnya, di antara anak-anak lain yang masih tenggelam dalam kebahagiannya. Setelah merasa yakin tak menemukan di sekitarnya, ia memisahkan diri berjalan mencari sang pangeran sambil memanggil-manggil namanya. ”Pangeran Antanur......... pangeran Antanur.......... pangeran Antanur.......” Orang yang dipanggil itu tidak juga menampakkan dirnya. Tetapi Asmin tidak putus asa, ia ulangi kembali memanggil-manggil nama itu dengan nada yang lebih keras, hinnga gemanya menembus kerapatan papohonan yang banyak tumbuh di sekitar danau itu. ”Pangeran Antanur......... Pangeran Antanur...........Pangeran Antanur.......” Ibunya segera membangunkan Asmin dari gundam yang memanggil-manggil nama pangeran Antanur itu, karena khawatir pada anaknya sedang mimpi buruk. Satu kali belum sadar, dua kali juga belum sadar. Ketiga kalinya, barulah Asmin terbangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya, Tetapi dengan cepat ia menanyakan keberadaan pangeran Antanur kepada ibunya. ”Ke mana ia perginya, Bu?” Yang ditanya tidak langsung menjawab, ibu Asmi malah dengan tenang berusaha menepuk-nepuk pipi anaknya supaya segera sadar dari tidur dan dunia mimpi anak kesayangan. ”Bangunlah, Nak,bangun.......” Kata ibunya. Tetapi Asmin belum juga sadar rupanya. Ia masih terus memanggil-manggil pangeran Antanur. ”Pangeran Antanur.. Pangeran Antanur.... Pangeran Antanur..... di mana kau? Aku mencarimu. Aku tak mau kehilangan dirimu.....” Ibunya menepuk-nepuk pipi Asmin lebih keras lagi. Tapi sang anak tetap tak bergeming. Asmin malah memanggil-manggil Pangeran Antanur lebih keras lagi. Dan tanpa di duga, Asmin segera berdiri dan lari sekencang-kencangnya ke luar rumah menyusuri jalanan setapak penuh rimbun, menuju tepi danau tempat ia biasanya menunggu matahari terbit dari balik gunung di jauh sana. ’Pangeran Antanur...... Pangeran Antanur...... Pangeran Antanur.....” Ibunya terkesiap tak mengerti. Ia hanya dapat melongo dengan mulut terbuka menyaksikan anaknya lari dan terus lari tunggang-langgang. Hatinya terasa berat. Kemudian ia menangis dari balik jendela yang baru saja di bukakan. Pada akhirnya Asmin tidak dapat menemukan Pangeran Antanur, karena Pangeran Antanur sudah meninggalkan Asmin.

Kue Bulat by M Armadiva Iskandar

Dahulu kala, hiduplah seorang Bapak dan Ibu yang tinggal di rumah yang kecil. Suatu pagi, Ibu membuat kue khas desa itu. Kue bulat namanya. Ia meletakkan kue bulat itu di wadah pemanggang. Lalu memangganya di atas kompor. Ia berkata pada Bapak,”Aku akan keluar untuk mengambil susu sapi. Kalau sudah matang, tolong dibalik ya, Bapak!” Bapak itu agak malas. Ketika Kue Bulat sudah matang, ia berteriak,”aduuuh, malasnya aku! Aku harus berdiri dan membalik Kue bundar itu!” “Aku akan membalik diriku sendiri!”kata suara dari kompor. Bapak sangat terkejut di tempat tidurnya. Apalagi saat ia melihat Kue Bundar melompat dari wadah. Kue Bulat lalu bergerak cepat sekali. Ia berlari keluar rumah, turun ke halaman, lalu melompat-lompat kesana-kemari. Bapak berteriak marah,”Kue Bulat, tunggu!tunggu!” teriakan Bapak yang keras membuat Ibu kaget. Ibu meninggalkan embernya yang berisi susu sapi. Ia lalu ikut bersama Bapak mengejar Kue Bulat. Namun Kue Bulat berlari sangat cepat. Akhirnya Bapak dan Ibu tertinggal jauh dan mereka sangat sedih, karena kue pertamanya kabur entah kemana dan mereka terduduk lelah di tepi jalan. Dalam pelariannya, Kue Bulat bertemu dua kuli bangunan. Kuli bangunan itu berkata,”kau mau kemana,Kue Bulat?” Kue Bulat berteriak, “Aku berhasil lolos dari Bapak dan Ibu. Aku juga bisa lolos dari kalian berdua!” “Oya?Ayo kita buktikan!” kata dua kuli bangunan itu. Mereka melempar alat bangunan itu lalu mereka mengejar Kue Bulat. Tapi percuma saja, karena Kue Bulat menggelinding cepat sekali. Kedua kuli bangunan itu terduduk di tepi jalan. Di perjalanan, Kue Bulat bertemu dengan Beruang. “Kamu mau ke mana Kue Bulat?” Tanya Beruang. “Aku berhasil lolos dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan. Aku juga bisa lari dari kamu!” “Ayo kita buktikan!” tantang beruang. Ia lalu berlari secepat mungkin. Kue Bulat pun berlari tanpa menoleh ke belakang. Tak lama kemudian Beruang sudah tertinggal jauh. Ia lelah dan terduduk di tepi jalan dan menyerah mengejar Kue Bulat, lalu setelah menggelinding beberapa saat kemudian, Kue Bulat bertemu dengan Anjing.”Mau kemana kamu, Kue Bulat?” tanya Anjing. “aku bisa lari dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,dan dari Beruang. Aku juga bisa lari dari kamu anjing!” “Oyaa, sok tahu kamu, emang kamu bisa?Ayo kita buktikan!” tantang Anjing lalu ia mengejar Kue Bulat menggelinding lebih cepat di jalan yang menurun. Akhirnya Anjing kehabisan stamina dan menyerah dengan rasa lelah. Ia terduduk lelah di tepi jalan. Kue Bulat sangat senang bisa mengalahkan Anjing. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Rubah. “Kamu mau kemana, Kue Bulat?” Sepertinya kamu sangat senang sekali!” “Aku bisa lolos dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing. Aku juga bisa lari dari kamu!” “Agh sok tahu kamu!” “Ayo kita buktikan!” kata Si Rubah. Lalu Rubah berlari dengan secepat mungkin, tapi Kue Bulat sudah terlau jauh untuk dikejar. Rubah tertinggal jauh dan lansung terdiam di tepi jalan. Dengan sifat sombong itu dia berjalan dengan penuh kegembiraan. Karena Kue Bulat sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah. Tapi di suatu tempat ia bertemu dengan pengemis yang kelaparan. “Wah ada kue enak nih!” “Makan ah!”. Kata pengemis itu.”Enak aja!”, dasar pengemis!”.Kata Kue Bulat. Lalu pengemis itu marah dan mendoakan Kue Bulat supaya dia di perjalanan dapat masalah yang sangat besar, lalu pengemis itu langsung menghilang. Setelah itu Kue Bulat kaget dan cemas. “Aduhh, gimana nih!”. Kata Kue Bulat. Lalu kue bulat melakukan perjalanan lagi untuk mencari penantang berlari yang bisa mengalahkan dia, walaupun dia mendengarkan perkataan pengemis tadi dia tetap saja sombong. Tak lama kemudian ia bertemu dengan tikus.”Hai Kue Bulat mau kemana kamu!”. Kata Tikus itu.”Aku sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,dan Rubah”. Kata Kue Bulat. “Aku juga bisa mengalahkan kamu!”.”Ayo kita buktikan!”. Kata Tikus itu. Lalu tikus itu langsung berlari dengan sangat lincah, tapi Kue Bulat tidak terkalahkan dan langsung melesat sekencang kuda.”Wahh hebat sekali Kue Bulat, padahalkan dia cumin kue biasa yang Cuma bisa memamerkan kesombongannya?” kata tikus. “Hahahahahahaha!” kata Kue Bulat. Lalu Kue Bulat meneruskan perjalanannya lagi, lalu orang-orang di sana mulai tahu kalau Kue Bulat adalah kue yang sombong. Saat mendengar berita itu Kue Bulat tetap saja menyombongkan diri di hadapan semua orang, jadi orang-orang sangat membenci kue bulat dan ingin mengusir Kue Bulat dari desa itu selama-lamanya, lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi dengan wajah yang selalu gembira bahwa ia paling hebat di desa itu, di tengah perjalanannya ia bertemu dengan Kucing yang sangat hebat, walaupun ia hebat, tapi dia tidak menyombongkan diri seperti Kue Bulat dan berita itu mulai menyebar luas sampai terdengar oleh Kue Bulat, setelah mendengar berita itu ia marah dan sangat kesal mendengar berita itu, karena ia tidak mau ada yang menyaingi kehebatannya di desa itu dan ia pikir ia yang paling hebat di desa itu dan tidak ada yang menyainginya, jadi dia langsung mendatangi Kucing itu dengan penuh amarah.”Kamu mau kemana, Kue Bulat?” kata kucing itu. “Aku sudah lari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah, dan Tikus sekalipun.”Ooooooooo, begitu. Jadi?”. Aku tak bisa dengar suaramu, Kue Bulat! Apa kamu bisa lebih dekat lagi kesini?” Kata Kucing dengan suara yang lembut,sambil memanjangkan lehernya ke arah Kue Bulat. Kue bulat semakin mendekat ke Kucing itu. “Apa sih maumu!” “Oke,oke aku katakana lagi!”. “Aku sudah berlari dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah,Tikus. Aku juga bisa mengalahkanmu!”. Kata Kue Bulat. “Maaf aku tak dengar lagi!”, “Coba mendekat lagi!”. Kata Kucing itu dengan sabar menunggu Kue Bulat mendekat ke Kucing itu.” Satu kali lagi ya!” “Awas kalau tidak dengar lagi!”. Kata Kue Bulat itu dengan suara yang sangat keras dan ia mulai marah.”Aku sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah,dan Tikus yang sangat lincah itu!” kata Kue Bulat. “Oke kalau kamu menantang saya , mari kita buktikan!” kata Kucing. Lalu Kue Bulat lansung berlari dengan sekencang mungkin, lau ia melihat ke belakang.”Hahahahahah!”. “ Mana kekuatanmu kucing katanya hebat!” . Kata Kue Bulat dengan muka yang begitu sombong, dan Kucing tersenyum melihat Kue Bulat berlari dengan kencang. “Kenapa kau melihatku seperti itu!”. Kata Kue Bulat dengan suara yang keras sekali sampai orang-orang pum kaget mendengar suara Kue Bulat itu dan melihat pertandingan itu.”Akan ku kejar kau!” kata Kucing itu dengan penuh semangat.”Heh coba saja!”kata Kue Bulat dengan suara yang sombong, dalam sekejap Kucing itu langsung mendekati Kue Bulat dengan kecepatan ninja dan menatap Kue Bulat dengan tersenyum. “Apa!”. Kata Kue Bulat dengan cemas, setelah itu mulut Kucing itu menganga dengan lebar dan siap memakan Kue Bulat “Tidak jangan!”. Kata Kue Bulat. Dan Hap! Kucing itu langsung menelan Kue Bulat dengan gembira. “Horeeee!”. Kata penduduj desa dengan senang sekali dan mengangkat Kucing itu dan melemparkannya ke atas dan kebawah, lalu mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan hari kejayaan mereka, karena Kue Bulat sudah tidak ada. Tak lama kemudian yang di kalahkan Kue Bulat pun juga ikut datang.” Wah ada apa ini, meriah sekali!”. Kata Bapak dan Ibu dengan kagum.”Ini perayaan musnahnya Kue Bulat di desa ini!”. Kata salah satu warga di pesta itu.”Kami turut beduka atas kematiannya itu!”. Kata Bapak dan ibu dengan sedih. “Sudahlah Pak,Bu dia memang pantas di musnahkan karena dia sudah melecehkan desa ini dan menjelek-jelekan desa ini!”Kata Kucing dengan suara yang sangat tulus. “ Betul juga yaa!” kata Bapak dan Ibu dengan bahagia sekali. Semenjak pesta itu berlangsung tidak ada masalah apapun di desa itu dan orang-orang di desa itu sangat bahagia sekali karena Kue Bulat bisa dikalahkan juga oleh Kucing yang baik hati dan tidak sombong itu, terus juga bagi Kucing itupun ia juga sangat senang bisa mengalahkannya dengan cara yang cerdik dan cukup efektif untuk mengalahkan Kue Bulat itu, setelah itu Beruang dan yang telah dikalahkan oleh Kue coklat pun turut senang atas musnahnya Kue Bulat yang sonbong dan tidak punya perasaan. Dan itulah akibat dari orang yang sombong. Setelah pesta besar-besaran orang-orang itu dan juga yang di kalahkan oleh Kue Bulat itu pun pulang dengan hati yang lega dan sangat senang sekali melihat dan mengetahui peristiwa itu seolah-olah warga di desa itu tidak percaya bahwa Kue Bulat itu musnah untuk selama-lamanya dari kehidupan warga di desa itu. Jadi kita tidak boleh menyombongkan diri kepada oaring lain maupun diri kita sendiri karena itu semua akan merugikan diri kita sendiri dan juga orang lain yang kesal pada perbuatan itu sendiri. Dan juga tuhan akan membnenci kita dan menghukum kita jika kita melakukan perbuatan itu.

Sepasang Sepatu untuk Sumi by Ajeng Wahyu Lestari

Pelan pelan aku mengetuk pintu rumah itu, sebenarnya tidaklah tepat jika disebut rumah, karena bangunannya terbuat dari potongan kayu yang sudah ditambal disana sini karena telah berlubang, tambalannya pun berupa macam bentuknya dan jenisnya, ada kayu, kertas, potongan plastik, bahkan seng-seng yang sudah berkarat tertempel menghiasi dindingnya… “Assalammuallaikum….” Aku berseru… Tetap saja tidak ada jawaban dari dalam…. “Sumi…, ibu….sumi…..” aku berteriak mengeraskan suara… Tidak juga ada sahutan dari dalam rumah itu Kutajamkan pendengaranku “…sumi…, sumi….ibu…ibu…” aku mengulangi teriakanku.. Perkenalanku dengan sumi terjadi beberapa bulan yang lalu, saat itu aku sedang duduk diteras rumahku, sementara diluar sedang turun hujan gerimis, saat itu aku sedang asyik memandangi ikan ikan yang berenang dikolam kecil disudut teras rumahku. Gerakan- gerakan mereka yang lucu seolah sedang bermain saling menggoda, membuat aku terkadang tersenyum geli… “Assalamualaikum…” tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sesorang yang memberi salam. Saat aku menoleh kedepan pintu pagar aku melihat seorang anak sebayaku berdiri…, ditangannya menggenggam tas kantong kresek. “Wa’alaikumsalam” aku membalas sapa anak itu. “Ada apa..ya…” ujarku “mau beli peyek kak?….” Gadis kecil itu berujar “aduh… gimana ya…” aku menjawab lirih “belilah kak, ini masih tersisa dua bungkus…” gadis itu sedikit merayu “ah… itu hujan, masuklah dulu…” ucapku “tidak apa kak,… beli ya kak…” gadis itu berucap gigih Titik hujan semakin membesar, sesekali kilat mencoba menerangi langit yang semakin menggelap Aku tergesa membuka pintu pagar dan mempersilakan dia masuk “ayolah nanti kita kebasahan nih.” Ujarku. Selanjutnya kita atau lebih tepatnya aku banyak mengajak dia berbicara, sementara dia hanya menjawab seperlunya saja. Saat itulah aku mengenal namanya sumi, sebuah nama yang singkat tapi lumayan enak juga didengar, dia saat ini sebenarnya masih bersekolah dan duduk dikelas 2 SMP, dia tidak mempunyai adik dan kakak serta tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sumi tidak pernah mengenal ayahnya sementara ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Itulah pertemuan pertamaku dengannya, yang tersisa dari pertemuan itu adalah kesanku bahwa sumi seorang gadis yang santun, memiliki sederet gigi putih serta senyuman manis. Hari minggu pagi, Cuaca cerah, aku bangun dan berkemas…, pagi ini aku telah berjanji dengan teman-teman sekolahku untuk bertemu di lapangan alun alun kota, untuk berolahraga. Sebenarnya jarak dari rumahku ke alun alun lumayan juga, makanya aku meminta tolong kepada kakakku untuk diantar, awalnya kakak laki-lakiku agak keberatan namun berkat sogokkan sebungkus cokelat dia tidak kuasa untuk menolak permintaanku. Jam 6.00, alun-alun kota, lumayan juga banyak orang beraktifitas, ada yang hanya berjalan, berlari lari kecil, sekelompok anak-anak kecil asyik bermain bola dengan suara riuh. Aku duduk dibangku taman dan merapikan tali sepatu, sesekali aku celingukan mencari teman-temanku, tapi belum ada yang terlihat batang hidungnya. Tidak lama kemudian suara seseorang memanggilku “Ajeng…!!!” ah tidak salah lagi itu suara Rani, dari arah kejauhan sambil turun dari mobilnya dia berjalan mendekatiku, langkah kakinya gemulai seperti seorang peragawati, emang sih Rani bercita-cita untuk menjadi seorang peragawati, menurutku pantas juga. “yang lain pada kemana jeng?… katanya ngumpul pagi?...” Tanya Rani “Paling masih pada molor….” Jawabku.. “tau gitu rani nggak bangun pagi-pagi, mana tadi cuma minum susu!.. “ rani menggerutu Sementara aku cuma cengar cengir menanggapinya, soalnya kalau lagi kesel tampang rani malah jadi lucu… Sementara rani masih disibukkan dengan kekesalannya, perhatianku tertuju pada sesosok tubuh yang sedang tekun berlari, langkahnya tetap dan pasti mencerminkan ia telah terbiasa berlari. Semakin dekat dia kearahku aku dapat memastikan dia adalah seorang anak perempuan sebayaku. “Ran…tuh liat.., gitu dong kalau olah raga” aku berucap “Emangnya apaan jeng?….” Rani setengah hati memperhatikan ucapanku “itu tuh masa sih nggak ngeliat, itu anak yang larinya kenceng!.., dari tadi aku peratiin larinya nggak berenti-berenti kok nggak ada capeknya sih?…” aku memastikan kepada rani sambil menunjuk kearah anak yang sedang berlari itu. “eh iya…gile juga tu anak, emangnya nggak capek apa lari kayak begitu.., udah berapa kali dia muterin lapangan jeng….” Akhirnya rani tertarik memperhatikan. “eh..nggak tau deh…, tapi kayanya dari tadi dia lari…” aku menjawab sekenanya. “wah itu si Tio jeng…” rani menunjuk kearah selatan “ iya..ya…, ngapain tu anak…olah raga ngurusin badan!” aku berkata asal “he…he mana bisa kurus dia, kalau ngeliatan makanan aja matanya celamitan..” rani berkata sambil tertawa. “ iya tuh ran, aku kalau makan siang disekolah nggak aman kalau ada dia…” aku menyahuti. “ha..ha.., jangan kan ajeng, rani juga gitu…, mesti makan ngumpet-ngumpet kalo ada dia..” Tio, adalah teman sekelas kita waktu masih kelas 7 dan 8, sekarang kami pisah kelas, lumayan kelas jadi nggak ribut, tapi kadang-kadang nggak enak juga habisnya tingkah tio terkadang lucu, lumayan jadi nggak buat ngantuk dan bosan dikelas, apa lagi celetuknya di kelas yang kadang buat perut lapar jadi kenyang. Anak perempuan yang tadi berlari saat ini sudah berhenti dia menggerak-gerakkan tubuhnya seolah melakukan senam pelemasan tubuh. Aku dan Rani berjalan kearahnya, sambil berjalan perlahan kami ngegosipin ulah Tio yang suka ngeselin kalau lagi ada maunya mengincar makanan bekal kami. “eh…kak ajeng Ya!…” sebuah suara lirih yang kukenal menyapa membuat aku menoleh kearah suara itu. “eh…sumi…ya…” ucapku “Ya…kak..” dia menjawab pendek Aku dan Rani beranjak mendekati sumi “Kak ajeng suka olah raga juga ?” sumi melemparkan pertanyaan kepadaku “ehh…sekali sekali sih…, kamu kuat banget larinya “ ucapku Itulah pertemuanku yang kedua dengan Sumi, saat itu aku melihat tubuhnya basah kuyup oleh keringat tapi senyum dan sederet giginya yang putih kembali meninggalkan kesan. Sebuah sabtu sore didepan rumah… Aku sedang menyiram bunga dipekarangan, papa dan mama suka merawat bunga, lucu juga mereka habisnya kalau ada bunga yang bagus, mereka sering berdebat mengakui bahwa bunga itu mereka yang merawat. “kak…Ajeng!” sebuah suara lirih menyapaku “eh.. sumi” aku setengah kaget menjawab Saat sumi seperti biasa menjajakan peyek, dan kami bertegur sapa, karena sudah beberapa kali bertemu sumi terlihat tidaklah canggung lagi, kami mengobrol agak lama, dari mulai berdiri dipinggir jalan depan rumah, sampai duduk diteras. Ternyata sumi, oleh sekolahnya sedang diprogram untuk menjadi atlit atletik, dua bulan lagi ia akan diseleksi, jika berhasil dia berhak mengikuti PORDA (Pekan Olahraga Daerah) mewakili kota kami. Sumi berharap dapat terpilih “Ada hadiahnya kak..” sumi berucap lirih, sambil matanya menerawang. “Aku ingin melanjutkan ke SLTA.., jika nanti aku terpilih dan menang, hadiahnya dapat dipakai untuk melanjutkan sekolah” lanjut dia berucap sambil menunduk. “wahh… hebat dong!…, kalau hadiahnya beasiswa kan lumayan sumi…” sahutku. “Iya.., hanya itulah satu-satunya harapan Sumi untuk menggapai cita-cita sumi untuk tetap bersekolah” ada kesan yang dalam waktu sumi mengucapkan itu, sampai aku sedikit terguncang haru. Sumi bercerita ia tinggal di Desa Pulau puter, sebuah tempat yang baru kudengar namanya, bahkan aku heran kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar nama daerah itu. “kalau senggang datanglah main ke desaku ya kak…, tapi rumahku gubuk…, hanya.. disana pemandangannya nyaman karena dikelilingi oleh sawah dan ladang” sumi menawarkan keakrabannya “wah…asyik juga tuh, iya deh…nanti kapan-kapan ajeng main kesana ya…” aku menanggapi Cerita tentang sumi aku ceritakan kepada teman-teman disekolah, mereka terdiam ketika aku bercerita tentang keadaaan sumi serta usahanya untuk meraih cita-citanya. Ada yang terasa kurang beberapa hari ini, padahal semua aktifitasku berjalan normal dan lancar-lancar saja. Hanya satu hal yang tidak ada…Sumi…., sudah hampir 2 minggu sumi tidak mampir kerumahku, awalnya tidak kurasa, tetapi ternyata sumi meninggalkan kesan didalam fikiranku. Sore, Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Aku dibonceng sepeda motor oleh kakakku, pada sebuah jalan tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang berjalan agak gontai dan dia adalah sumi!.. Aku meminta kakakku untuk menghentikan sepeda motornya. “…Sumi…!, sumi…!” aku berseru kearah sosok tubuh yang berjalan itu. Sumi berhenti dan menoleh, ada sesuatu yang berubah kulihat selintas dari raut wajahnya, ada sebuah kesedihan. Aku setengah berlari menghampirinya. “Sumi…, ah…kemana aja sih…kok nggak mampir kerumah, mama nanyain katanya stock peyek sudah habis tuh dirumah” aku nyerocos kearah sumi. “eh, kak ajeng” sumi tersenyum lirih Setelah dengan susah payah akhirnya aku berhasil membujuknya untuk kerumahku, diapun bersedia naik sepeda motor walaupun harus berbonceng tiga. Dirumah , sumi kuajak makan karena memang perutku keroncongan. Sumi kulihat sangat sedih bahkan setengah putus asa. Akhirnya aku mengetahui duduk permasalahnya yang tengah melanda sumi. ..Sepatu Sumi hilang !!!! Sepatu satu-satunya milik sumi hilang pada saat setelah dicuci lalu dijemur dipagar rumahnya. Sepatu itu bagi sumi merupakan alat yang dapat mewujudkan keinginannya untuk meraih mimpi dan cita citanya. Dan Sumi tidak memilki jalan untuk memperoleh sepasang sepatu karena tidak mampu untuk membelinya. “biarlah kak ajeng…, mungkin ini adalah jalan hidupku…, aku tidak dapat menggapai cita-citaku” sumi berujar lirih. Demikianlah pertemuan terakhir dengan sumi Siang hari, saat istirahat kedua. “gimana jeng…, sudah ada kabar tentang sumi..?” Nadi teman sekelasku bertanya padaku “iya jeng.., gimana si sumi?…, tumben nggak ada kabar tentang dia belakangan ini..” tanya Dinah.. Saat itu kami sedang duduk berkumpul diteras masjid yang terdapat dilingkungan sekolah. Aku diam tidak menjawab pertanyaan Nadi. Semua mata teman-temanku menatap kearahku menunggu jawabanku atas pertanyaannya. “eh..kenapa sih kalian semua kok melototin ajeng sih…?” aku cemberut kearah teman-temanku “ iya jeng…., gimana dong kabarnya sumi?…” Tanya Rani, mereka hampir serempak meliat kearahku. Aku tidak bisa menahan diri lagi, lalu aku menceritakan kondisi sumi pada saat terakhir aku bertemu dengannya. Beberapa saat suasana hening dan mencekam, mereka terbawa oleh fikiran dan perasaan mereka masing masing. “wah gile…gawat tuh!…” tiba-tiba tio menyeletuk sambil berjalan menggondol sarung di bahunya, yang baru saja selesai melaksanakan shalat Dzuhur. “apanya yang gawat?…, kamu itu asal ngomong gawat aja…, kaya tau aja!…” Rani menjawab sewot kearah tio. “Iyalah!… kan kasihan tuh si sumi, kalau dia nggak punya sepatu, dia nggak bisa ikut test lari, nah..kalau dia nggak ikut test…dia nggak bakalan terpilih jadi atlit…trus…, kalau dia nggak bisa jadi atlit…dia nggak bisa menang…kalau dia nggak menang dia nggak dapat hadiah…kalau dia nggak dapat hadiah…dia nggak bisa ngelanjutin sekolah…., itu gawat jadinya…” Tio gantian nyerocos berusaha memberi penjelasan dengan gayanya yang kocak. “Tumben lu mikir yo…, biasanya yang lu pikiran cuma makanan melulu..” Nadi nyeletuk sambil tangannya nunjuk kearah kepala tio. “emangnya lu pikir di otak gw cuma makanan apa!...” sahut Tio dengan ngotot. “udahlah.. yo…, ga usah sewot.., jangan bikin ribet deh…” tambah Dinah. “eh.. iya.. ya, sumi gawat tuh…” Rani bergumam seolah berbicara dengan dirinya sendiri. Kembali suasana menjadi hening semua teman-teman sepertinya kembali asyik berfikir sendiri-sendiri. “Aku punya ide nih…” tiba-tiba Dinah menyeletuk, pandangan kami semua mengarah kearah Dinah. Sudah tiga hari setiap sore, aku celingukan kearah ujung jalan rumahku, sesekali mataku menatap kearah sebuah kotak yang sudah kubungkus rapih dan kuletakkan diatas meja teras rumahku. Sumi…ya!.. aku menunggu sumi, tapi sumi tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Penantianku berujung pada kegelisahan, karena waktu terus berjalan sementara sumi tidak kunjung datang. Pada saat menjelang malam akhirnya aku membulatkan tekad untuk menemui Papa, seluruh cerita tentang sumi beserta rencanaku dengan teman-teman aku ceritakan kepada Papa. “oke..besok hari sabtu, kamu akan papa antar untuk mencari sumi kerumahnya, sekarang istirahatlah “ papa akhirnya berjanji untuk mengantarkanku kepada sumi. Ternyata jalan menuju desa sumi cukup jauh juga, bahkan aku tidak pernah berfikir dilingkungan kota tempat tinggalku masih ada sebuah desa seperti desa tempat tinggal sumi. Aku berasa berada pada benua yang lain, memang ada kenyamanan disitu tetapi yang aku tidak mengerti mengapa para penduduk desa masih menempati rumah-rumah atau tepatnya gubuk yang sebenarnya kurang layak untuk ditempati. Setelah bersusah payah bertanya kian kemari akhirnya aku dapat juga ditunjukkan arah oleh penduduk setempat menuju kerumah sumi. Didepan gubuk inilah aku berhenti , oleh karena salamku tidak ada yang membalas aku mencoba untuk sedikit berteriak memanggil sumi. Dari arah samping belakang rumah tiba-tiba seorang perempuan tua datang dan mendekat kearahku dengan wajah menunjukkan kekhawatiran. Perempuan tua itu sedemikian kurusnya, dia mengenakan pakaian kain yang dililitkan sebatas dada, sementara kepalanya ditutupi oleh handuk tipis dan kumal. “Assalamuallaikum “ aku menyapa “ Wa’alaikumsallam “ sahutnya suara ibu itu terdengar lirih dan bergetar “Ibu.. benar ini rumah sumi? “ aku bertanya dengan harap Kulihat ibu itu sejenak tertegun, matanya menatap tajam kearahku seolah ingin mengamati seluruh tubuhku dengan teliti. “kamu..ajeng?” dia berkata setengah berseru lirih “ya bu..saya ajeng “ ujarku Kembali dia diam tangannya bergerak seolah ingin menggapai kearahku, tetapi dia berusaha untuk tidak melakukannya. “Ibu..ibunya sumi?” aku bertanya memastikan Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya, hanya anggukkan kepala memastikan pertanyaanku, dan itu cukup membuat aku menjadi lega. “Sumi ada bu..?” kembali aku bertanya Kembali Ibu tua itu tidak menjawab, dia membalikkan badan dan tangannya melambai kearahku meminta aku untuk mengikutinya. Aku berjalan dibelakang ibu itu kearah belakang rumah, setelah melewati pematang sawah kami sampai ditanah berbukit kecil, ibu itu berhenti dibawah sebatang pohon menungguku. “Disitulah sumi nak..” ibu itu bergumam menunjuk kesebuah arah. Dibawah gerombolan pohon kembang sepatu yang dipenuhi bunga berwarna jingga dan putih, terhampar seonggok tanah yang kelihatan masih baru, aku tercekat dan melangkah mendekat. Sebuah kayu terpancang disitu dengan tulisan sederhana, sebuah nisan kayu!… Dan nama sumi tercantum disitu. Sejenak aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan, kardus yang terbungkus rapih yang kubawa dari rumah tanpa terasa kupegang erat. Perlahan aku merasa ada sesuatu yang panas mengalir dipipiku Aku berlutut, perlahan aku meletakkan kotak itu dibawah nisan kayu yang terpancang. Aku cuma bisa bergumam “sumi aku dan teman-temanku ingin memberimu sepasang sepatu ini” Mataku nanar menatap sekitarku, kulihat dilangit awan berlari berkejar-kejaran, dalam anganku kulihat sumi dengan sepasang sepatu baru berlari, memenangkan setiap lomba, berkejaran bersama awan. Ah!.., bagaimana aku harus menyampaikan berita ini kepada seluruh teman-teman disekolahku?.. “SELESAI” *Ku dedikasikan ceritaku untuk anak-anak sebayaku di Desa Pulau Puter, Desa terpencil didekat Kota dimana tempat aku tersesat hampir tak bisa pulang.