Rabu, 25 Januari 2012

Banjir Darah Di Pantai Sanur by Danu Wibisono

Terkisah di sebuah pulau jawa seorang pendekar bernama Barda mandrawata menjelejah hampir seluruh plosok negri. Dengan sikapnya yang sangat arif iya selalu membantu orang-orang yang iya jumpai selama perjalananya tanpa pamrih. Anehnya iya bisa menjandi seorang pendekar yang hebat dengan mata buta atau tidak bias melihat sama sekali. Pada suatu saat di mana Barda sedang melakukan perjalanan iya melihat seorang ibu tua yang sedang menagis, Karna penasaran iya pun bertanya kepada ibu tua itu. “mengapa engkau menagis ibu tua”, lalu ibu tua itu menjawab “anak ku di culik oleh seorang penjahat yang tidak bertanggung jawab”. Melihat tangisan itu hati barda tergugah, iya dekati pondok dimana pencuri itu menawan bayi ibu tua itu sekaligus bersembunyi. Barda mengambil sebuah gelas yang terbuat dari tanah liat, ia mengisinya dengan air yang mengucur deras dari pancuran yang berada di depan rumah tempat penjahat menahan bayi ibu tua itu. Di letakan air dalam gelas itu di depan pintu rumah, setelah itu barda berteriak. “Minumlah dulu air ini dan sisakan sedikit air itu untuk bayi yang kau tawan, kasihan iya pasti kehausan”. Tidak beberapa lama setelah Barda berkata seperti itu tiba-tiba keluar sebuah tangan dari dalam rumah itu. Tanba berfikir panjang Barda langsung dalam sekejap menangkap dan menarik tangan itu, keluarlah penjahat itu dengan cara terpelanting dan tersungkur ke bawah tanah, melihat kejadian itu para warga yang menonton terdiam seribu bahasa karna kekagumanya. Masuklah ibu tua itu kedalam rumah untuk mengambil bayinya yang sudah berjam-jam di sandra oleh penjahat itu. Berpuluh-puluh kali ucapan terima kasih datang dari mulut puluhan orang yang menyaksikan pertolongan yang cukup dramatis oleh Barda yang menolong bayi kecil itu dari tangan penjahat yang biadab. Tidak lama setelah itu Barda berpamitan kepada penduduk desa untuk pergi melanjutkan perjalananya, di tengah perjalanan Barda bertemu dengan seorang yang sudah cukup tua, orang itu baernama I putu oka, iya menyaksikan apa yang di lakukan barda tadi saat menolong seorang bayi mungil dari tangan penjahat. “Aku melihat tadi yang kau lakukan di desa sebelah, kau berhasil menyelamatkan seorang anak bayi dari tangan penjahat, itu adalah hal yang sangat berani, bila orang biasa pasti sangat mustahil melakukan itu”. Lalu barda menjawab,”lalu kenapa ?, apa yang kamu mau bapak pengelana ?”.setelah berbincang cukup lama ternyata I putu oka adalah seorang pengelana dari daerah yang di sebut dengan nama pulau Bali, iya bermaksud meminta tolong untuk memberantas perampok yang selalu datang untuk mengambil hasil panen secara paksa, dan apa bila penduduk memaksa untuk tidak memberi hasil panenya ke pada para perampok maka perampok itu akan membunuh seluruh warga desa. Karna mendengar penjelsan dari I putu oka maka Barda pun menyanggupi permintaan pengelana Bali itu, tetapi I putu oka berfikir bila hanya barda sendirian yang melawan para penjahat itu barda pasti akan di kalahkan, karna mengingat jumlah perampok yang begitu banyak. Karna itu I putu oka menyarankan Barda untuk mencari beberapa pendekar lagi, dan perjalanan di mulai kembali. Setelah beberapa jam berjalan di daerah pinggiran sungai Barda melihat seorang tukang kayu yang badan dan tenagnya sangat besar, saking kuatnya iya hanya membelah sebatang kayu dengan sekali pukul, tibab-tiba saat tukang kayu itu ingin membelah kayu yang selanjutnya datang seorang lelaki yang kurus tetapi memiliki muka yang lumayan menakutkan. Lelaki yang baru datang itu berkata kepada tukang kayu yang berbadan besar.”Hai kamu yang berbadan besar,mungkin tenagamu memang besar tapi sayang kau kurang lincah”, sahut lelaki yang baru datang itu dengan nada mengejek. Tentu saja mendengar perkataan itu si tukang kayu menjadi sangat marah,”hai anak kurus jangan kau pikir kau yang paling hebat mungkin badanku memang besar dan tidak serinagan badanmu yang kecil itu tetapi bila kita bertarung aku berani menjamin pasti palamu akan ku penggal dengan kampakku yang besar dan kuat ini”. Mendengar omongan itu lelaki kurus ini pun menyanggupi tantangan si tukang kayu.”Baik kita lihat saja siapa yang lebih unggul gajah atau musang, dan bila musang yang menang jangan sesali ya”. Lagi-lagi situkang kayu di ejek habis habisan oleh lelaki mesterius ini. Suasana di sekitar mereka menjadi terasa tegang, kedua orang ini terlihat sangat santai walaupun dalam pertarungan ini pasti salah satunya akan ada yang mati dikalahkan. Dalam hitungan detik kedua manusia sakti ini langsung menunjukan kemammpuanya masing masing dan dengan tidak di duga-duga ternyata kemampuan lelaki kurus yang misterius ini sangatlah menakutkan, iya hanya dengan menggunakan badik didukung dengan gerakan fisiknya yang cepat dapat mengalahkan seorang tukang kayu yang badan dan tenaganya sangat besar itu dalam sekali serengan saja. Dan yang membikin anehnya lagi si tukang kayu itu mati dengan leher yang berluban karena goresan dari badik si lelaki kurus itu. Melihat kehebatan lelaki itu I putu oka tertarik untuk menawarkanya pergi bersamanya memberantas komplotan pencuri yang selalu mengganggu desanya, dihampirinya orang itu dengan tenang dan di ajaknya berbincan bincang. Setelah mengobrol cukup lama lelaki misterius yang ternyata bernama Daeng martundong itu tertarik untuk ikut bersama Barda dan pak Oka. Di perjalanan Barda bertanya kepada Daeng dari manakah asalnya dan apa yang dicari hingga mengelana sampai di pulau Jawa, dan ternyata Daeng adalah lelaki yang sangat malang iya berasal dari pulau Samosir dan pergi mengelana mengelilingi setiap pulau yang iya jumpai hanya untuk mencari anak perempuan dan istrinya yang hilang diculik. .Akibat berbincang cukup lama tidak terasa ternyata mereka bertiga telah sampai di ujung pulau Jawa dan sudah siap untuk berangkat. Di pelabuhan para pendekar hebat ini melihat sebuah atraksi dari seorang yang sangat lincah dan hebat yang sedang menghibur para penontonya, orang itu di panggil oleh penontonnya dengan sebutan Datuk siguragura. Dan ternyata dengan tidak di rencanakan Datuk juga ingin pergi ke pulau Bali untuk menghibur penonton yang ada di pulau itu, tetapi sekali lagi pak Oka tertarik dengan kekuatan dan keahlian Datuk siguragura. Langsung saja dengan tidak membuang waktu pak Oka langsung menawarkan Datuk untuk ikut bersama mereka, dan bagusnya ternyata Datuk langsung tertarik untuk ikut tanpa berfikir panjang. Datukpun langsung membereskan barang-barangnya dan memanggil putrinya yang cantik jelita bernama Sabai tanpa diduga di balik wajahnya yang lugu dan cantik ternyata Sabai juga mahir dalam bertarung dan beratraksi seperti ayahnya. Pak Oka langsung mengajak ke empat pendekar itu masuk ke dalam kapal. Kapal yang di tumpangi oleh Barda dan kawan-kawan ternyata adalah kapal milik Lagora yaitu seorang kapten kapal yang terkenal akan keberanianya dalam mengarungi lautan luas, tidak peduli seberapa kuatnya ombak dan tidak peduli seberapa bahayanya laut. Lagora sang kapten kapal tanpa rasa takut sedikitpun sudah mengarungi bermacam macam samudra dan lautan, oleh sebab itu Lagora sering di juluki oleh anak buahkapalnya dengan sebutan si SINGA LAUT. Perjalanan ke pulau Bali memakan waktu kurang lebih satu hari tetapi sayang di tengah perjalanan kapal lagora di hadang oleh kapal-kapal perompak yang berjumlah puluhan, dan yang membuat lebih kagetnya lagi pemimpin perompak itu ternyata adalah teman dekatnya Lagora pada saat iya masih mengarungi lautan luas dengan perahu kecilnya. Lagora dan para penumpang kapal termaksud Barda dan kawan-kawan di ikat dan di bawa kehadapan ketua perompak itu. Tetapi malang nasib para perompak itu para pendekar hebat ini sebelum sampai ke kapal ketua perompak mereka berhasil melepaskan ikatan tali yang melilit di badan mereka masing-masing, tanpa berfikir panjang Barda dan kawan-kawan beserta Lagora dan awaknya langsung menghajar KO para perompak-perompak itu, dan Lagora pun langsung berhadapan satu lawan satu dengan pemimpin perompak yang juga teman masa kecilnya mengarungi lautan, pertarungan berlangsung sangat sengit dan Lagora sempat terdesak oleh teman masa kecilnya, tetapi Lagora tak mau kalah iya langsung mengeluarkan segenap kekuatanya untuk mengalahkan temanya itu. Dan alhasil akirnya Lagora berhasil mengalahkan ketua perompak itu dengan cara menendangya hingga jatuh ke laut lepas dan tamatlah nasib perompak itu. Perjalanan ke pulau Bali di lanjutkan kembali, dan keesokan harinya tibalah mereka di tempat tujuan, setelah kapal merapat kedaratan keempat pendekar yang di damping pak Oka itu turun dari kapal Lagora dan berjalan kaki kearah Sanur. Katika para pendekar ingin meninggalkan kapal Lagora, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat keras dari atas dek kapal,”Hai pendekar tunggu aku” seluruh pandangan para pendekar tertuju ke atas dek kapal, dan tanpa di sangka sangka ternyata orang yang berteriak itu adalah Lagora si singa laut. Bertambahlah pasukan pendekar yang dibawa oleh pak I putu oka. Perjalanan di lanjutkan kembali seluruh pendekar terkagum kagum akan keindahan pemandangan di pulau Bali kecuali Barda yang tak bias melihat, tetapi iya dapat merasakan kesenangan dari teman-temanya sehingga iya biasa mengetahui pasti pemandangan di pulau Bali sangatlah bagus. Setelah berjalan beberapa lama para pendekar tiba di desa Sanur yaitu desa di mana pak I putu oka berasal. Lagi-lagi para pendekar di buat terkagum kagum akan ke unikan bangunan dan kultur budayanya. Di desa Sanur mereka di jamu dengan sangat manja oleh kepala desa dan oleh penduduknya, mereka di sambut bagaikan raja, mereka disambut bagaikan tamu terhormat. Bahkan melebihi jamuan ke kepala desa. Setelah di jamu sedemikian rupa para pendekar di ajak untuk berkeliling desa dengan di pandu oleh pak Oka, pak Oka memjelaskan seluruh struktur dan batas-batas wilayah pedesaan mereka dan bagaimana perampok dapat masuk ke pedesaan mereka. Setelah di berikan penjelasan yang sangat lengkap dan beragam dari pak Oka keesokan harinya Barda langsung menyusun rencana dan membangun pertahanan di setiap sudut desa agar para perompak kesulitan untuk masuk ke dalam desa Sanur, Lalu Daeng Martundong dan Datuk siguragura bertugas untuk melatih para lelaki yang berada di desa itu untuk mempertahankan diri dan keluarganya apa bila sewaktu waktu para pencuri itu datang di malam hari. Dan sabai anak Datuk bertugas untuk menemani dan melindungi para wanita dan anak kecil di pengungsian jika seakan akan para pencuri itu datang tanpa ada yang mengetahui. Setelah selesai melakukan tugasnya para pendekar itu pun langsung membuat sebuah jadwal untuk melakukan patroli keliling, setiap hari dan setiap waktu agar mengetahui setiap kali ada kejanggalan di dalam desa dan untuk memastikan desa aman dari pencuri. Tiga hari sudah berlalu dan pencuri yang dinanti nanti pun tidak kunjung tiba hingga keadaan di desa menjadi lebih tenang, tetapi karna itu pula penduduk jadi berfikir bahwa pencuri sudah kabur ketakutan karna mendengar adanya kelima pendekar yang singgah untuk membantu warga desa Sanur melawan mereka. Tetapi pada suwatu waktu saat Datuk siguragura sedang berkeliling desa untuk berjaga jaga dan untuk memastikan keadaan desa aman iya melihat beberapa orang sedang berdiskusi di tengah hutan ternyata orang itu adalah mata-mata dari kelompok pencuri yang selalu datang ke desa Sanur, lansung saja Datuk menangkap ke empat orang itu dan di bawanya ke rumah di mana para pendekar beristirahat. Ketika ke empat mata-mata itu tiba di rumah singgah para pendekar, mereka di interogasi oleh Barda,”siapa yang mengirimmu dan apakah kau penduduk desa ini ?” tetapi para mata-mata itu hanya diam saat di tanyai oleh Barda, tiba-tiba Datuk mendekati salah seorang mata-mata itu dan di remasnya punggung salah seorang itu sehingga membuat orang itu kesakitan dan juga membuatnya berbicara,”aku di utus oleh ketua perampok dari desa sebelah, iya mengancamku akan membunuh seluruh keluarga ku bila aku tidak mau mengikuti permintaanya.” Lalu Barda menaya lagi kepada orang itu,”siapa nama ketua perampok itu ?” ketika orang itu ingin menjawab tiba-tiba datang seorang penduduk desa lari dengan muka ketakutan, dan ternyata orang itu menyampaikan bahwa pintu desa bagian timur telah jebol oleh para perampok yang jumlahnya ratusan orang. Langsung dengan bergegas para pendekar meninggalkan rumah singgahnya untuk menuju ke gerbang timur kecuali Sabai anak Datuk yang di tugaskan untuk mengungsikan para wanita dan anak-anak. Sesampainya di gerbang timur para pendekar sudah di sambut oleh ratusan pasukan berkuda dan para penunggangnya yang membawa tombak terhunus, lalu di bagian belakangnya terlihat seorang menaiki kereta kuda yang berwarna hitam dengan pengawalnya yang membawa pedang berkilauan, ternyata orang itu adalah ketua perompak yang namanya tidak di ketahui. Terjadilah pertempuran sengit antara keempat pendekar melawan ratusan perampok yang menggunakan peralatan perang lengkap. Barda dengan kemampuan silatnya yang spektakuler membabat para perompak itu dengan pukulan dan tendangan-tendangan mautnya, sedangkan Datuk siguragura dengan kemampuan silatnya yang mengandalkan kelenturan dan kegesitan badan berhasil juga menumbangkan puluhan perampok, lalu Daeng martundong dengan badiknya berhasil melubangi puluhan leher perompak tanpa ampun, sedangkan Lagora iya menggunakan golok besarnya melukai banyak perompak beserta kuda-kudanya. Akibat serangan yang bertubi tubi dari pasukan perampok, ke empat pendekar itu kewalahan juga hingga salah satu perampok berhasil menjatuhkan Datuk siguragura dari kuda yang iya tumpangi dan membuatnya tewas, lalu Lagora pun bernasib sama iya tertusuk di bagian perutnya hingga membuatnya mengalami pendarahan hebat. Maka tinggal Barda dan Daeng martundong saja yang selamat. Pada saat Barda dan Datuk terdesak oleh perampok para warga desa Sanur dari pengungsian yang di pimpin oleh Sabai ternyata membantu kedua pahlawan yang sudah kewalahan itu dengan ikut bertarung di medan perang. Setelah pertarungan berlansung hampir seharian warga desa Sanur berhasil mendesak para perampok hingga hanya tersisa pemimpin dan pengawal pribadinya saja Karna Barda ingin menyelesaikan pertarungan iya dan Daeng langsung menyerbu sisa-sisa perompak yang masih hidup, Datuk membereskan pengawal pribadinya dan Barda melawan ketua perampok. Datuk bertarung dengan sangat sengit hingga iya agak kewalahan untungnya ada Sabai yang membantu Datuk siguragura hingga berhasil melibas para pengawal pribadi sang raja perompak yang cukup tangguh. Dan Barda yang masih bertarung dengan ketua perampok agak kesulitan karena ilmu silat ketua perampok yang sangat mematikan hampir menewaskan Barda, bertarung sambil mengorek informarsi itulah yang di lakukan Barda, akhirnya Barda pun berhasil mengetahui siapa sebenarnya ketua perampok itu ternyata iya adalah orang yang di juluki dengan nama SI LEAK HITAM dengan kemampuanya yang mengerikan pantas saja iya di juluki dengan nama seperti itu. Barda sudah sampai batasnya iya harus mengalahkan Leak hitam sebelum iya di kalahkan maka dengan segenap kemamapuan yang tersisa Barda mengeluarkan jurus pamungkasnya yang bernama TAPAKAN NAGA LANGIT, dan tanpa di sangka-sangka jurus itu berhasil menumbangkan ketua perampok yaitu SI LEAK HITAM. Berakilah pertarungan yang sengit itu dengan hasil ketua perampok mati di tangan Barda, dan peperangan di desa Sanur ini telah memakan banyak korban yang tidak bersalah, pertempuran ini membuat dimana aliran darah lebih deras di bandingkan aliran sungai yang airnya jernih, desa Sanur harus banyak melakukan perbaikan agar desa ini bisa tetap hidup dengan damai. Setelah pertarungan itu Barda sempat tidak sadarkan diri beberapa hari, hingga iya sadar dan dapat berjalan kembali. Setelah pulih dari lukanya Barda beserta Daeng martundong dan Sabai akan pergi dari desa Sanur setelah berpamitan oleh kepala desa dan pak I putu oka. Pergilah para pendekar itu meninggalkan desa Sanur dengan diiringi oleh hisak tangis dari warga desa yang pasti akan selalu merindukan mereka dan matinya para pahlawan yang membela desa Sanur dari kebiadaban seorang perampok akan selalu di kenang dan akan selalu di banggakan.

Kisah Cinta Si Gendut dan Si Manis by Bevianto

Pada suatu hari, hiduplah seorang laki-laki yang bernama Vian. Vian tinggal di kota X. Vian orangnya pintar, baik hati (kata teman-temannya). Tapi, Vian tubuhnya cukup gendut, jadi dia sering dipanggil “si gendut” oleh teman-temannya di sekolah. Vian memiliki banyak teman di sekolahnya karena dia pintar, jujur, ramah, dan baik. Jadi Vian disukai oleh banyak teman-temannya di sekolah. Hampir pada setiap pelajaran, (terutama pelajaran fisika dan matematika) teman-teman Vian minta diajarkan oleh Vian karena belum mengerti penjelasan gurunya. Pada saat ulangan, Vian juga sering diconteki oleh teman-temannya, karena kata teman-teman Vian, Vian adalah salah satu murid yang pintar di kelasnya. Pada suatu malam, Vian sedang chatting dengan salah seorang teman perempuannya di sekolah, namanya Nata. Nata orangnya juga baik, cukup pintar juga seperti Vian. Muka Nata sangat manis menurut Vian dan teman-teman lain di sekolah. Malam itu, Nata meminta nomor handphone Vian karena Nata baru membeli nomor baru, jadi nomor-nomor yang ada di handphone Nata hilang, termasuk nomor Vian. Vian memberikan nomornya kepada Nata, tapi Vian lupa meminta nomor Nata. Keesokan harinya, baru Vian mendapatkan nomor handphone Nata. Malam harinya, Nata sms ke Vian untuk mengkonfirmasi nomornya yang baru diminta Vian tadi siang di sekolah. Entah apa yang membuat Vian si gendut dan Nata si manis jadi terus sms-an semalaman itu. Keesokan harinya pun, mereka terus sms-an. Bahkan, di sms, mereka telah saling memanggil nama mereka ketika sedang berbicara. Padahal, dulu mereka kalau sedang berbicara, tidak pernah memanggil nama. Paling-paling hanya memanggil engan sebutan “gue-lo” yang sering dipakai oleh anak muda sekarang. Vian si gendut dan Nata si manis kalau sedang di sekolah pasti selalu bercanda dengan cara pura-pura saling bertengkar. Setiap pagi, Nata pasti menyapa Vian. Dulu, sebelum mereka sms-an, Nata jarang sekali berbicara kepada Vian di sekolah. Paling berbicara hanya sekali-sekali kalau itu memang penting. Pada suatu hari, Vian menawarkan untuk memberikan oreo untuk Nata. Vian memberi oreo itu kepada Nata saat mereka bertemu di sekolah. Setelah Vian memberikan oreo itu untuk Nata, mereka menjadi lebih dekat daripada sebelumnya. Saat Vian dan Nata semakin dekat, teman-teman Vian dan Nata sering melihat isi sms Vian dan Nata. Teman-teman Nata dan Vian sudah bisa menduga kalau Vian dan Nata suatu saat pasti akan menjadi pasangan atau biasa disebut pacaran. Saat mereka menjadi lebih dekat lagi, Nata sering menyuruh Vian untuk makan, Vian pun juga begitu terhadap Nata. Mereka jadi saling memperhatikan satu sama lain. Mereka tidak ingin salah satu diantara mereka kenapa-kenapa. Bahkan Vian pernah berkata begini kepada Nata, “pokoknya Nata harus makan, kalo Nata gak makan, Vian gak akan mau makan lagi nih.” Hari demi hari terus berjalan, mereka jadi makin dekat saja. Suatu saat, Vian memberikan sesuatu lagi untuk Nata. Kali ini, Vian memberikan coklat kepada Nata (makanan manis di berikan untuk orang yang manis pula). Nata sangat senang akan coklat yang diberikan oleh Vian. Karena coklat katanya memang salah satu yang disukai oleh perempuan. Nata terlihat gugup saat menerima hadiah itu dari Vian. Nata sangat malu saat menerima hadiah itu, karena Nata juga sudah mulai menyukai Vian. Vian juga sudah mulai menyukai Nata. Padahal, Vian tidak mempunyai niat seidkitpun untuk mendekati Nata. Jodoh memang gak kemana-mana yaaaa. Setelah Vian memberikan coklat itu kepada Nata, mereka jadi sangat dekat. Mereka di sms sudah seperti orang yang berpacaran, padahal mereka hanyalah teman. Tapi, di sekolah, mereka tidak pernah berbicara seperti teman-teman yang lain. Mereka hanya berbicara di sms saja. Mereka terus smsan selama dua bulan lebih. Sampai pada suatu malam ketika Vian sedang asik bermain counter-strike di komputernya, tiba-tiba handphone Vian yang ada di meja belajarnya berdering. Ternyata, Rey menelfon Vian dam Rey memberitahu, bahwa ternyata Nata sudah sangat sayang dan cinta kepada Vian. Rey menyuruh Vian untuk segera “menembak” Nata. Karena kata Rey, kasihan Nata si manis yang telah lama menunggu cintanya kepada Vian ditanggapi oleh Vian. Rey juga memberitahu bahwa Rey juga sedang menyukai salah satu teman baik Nata yang juga termasuk se-geng dengan Nata, ternyata teman Nata tersebut juga sudah menyukai Rey. Maka Rey memintaku untuk menembak Nata bersamaan dengan Rey menembak teman Nata itu. Tapi, Vian yang disuruh untuk menembak duluan. Karena Rey yakin, pasti Vian diterima oleh Nata. Suatu hari, saat di sekolah Vian sedang ada try out untuk anak-anak SD dan SMP, teman Vian, si Rina dan Rey menyuruh Vian untuk menembak Nata sekarang. Tapi, Vian menolaknya. Katanya, Vian masih belum siap. Tiga hari berikutnya, saat Vian sudah mulai masuk sekolah lagi, baru Vian sudah siap untuk menembak Nata pagi itu di sekolah. Saat Nata sudah sampai di sekolah, Vian mendekati Nata dan Vian menembak Nata. Dan ternyata, Nata menerima cinta Vian. Sesaat setelah Nata menerima cinta Vian, Vian memberikan sebatang coklat kepada Nata. Vian dan Nata sangat senang hari itu. Tidak lama setelah itu, gentian Rey yang menembak teman Nata. Dan teman Nata itu juga menerima cinta si Rey. Pagi itu sudah ada dua pasangan baru. Vian dan Nata masih sangat malu-malu di hari pertama mereka pacaran. Nata dan Vian hanya sekali-sekali berbicara berdua, itu juga pembicaraan yang sangat sepele. Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, ada salah satu teman Vian yang menembak teman Nata. Teman Nata itu juga menerima temannya si Vian. Jadi, hari itu, ada tiga pasangan baru yang baru pacaran di sekolah. Hari itu menjadi hari yang sangat special. Waktu terus berlalu, Vian dan Nata menjadi sangat dekat. Suatu hari, beberapa hari sebelum hari ulang yahun Vian, Nata tidak masuk sekolah. Nata bilang kepada Vian bahwa Nata tidak masuk ke sekolah karena Nata mau ikut ke kantor ayahnya. Tapi, sebenarnya Nata tidak masuk sekolah karena ingin mencari hadiah ulang tahun untuk Vian. Nata minta diantarkan oleh ayahnya untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Vian. Nata akhirnya memutuskan membeli sebuah jaket untuk diberikan kepada Vian di hari ulang tahunnya. Singkat cerita, hari ulang tahun Vian telah tiba. Dini hari di hari ulang tahun Vian, Nata si manis mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian si gendut. Nata adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Vian. Bahkan, keluarga Vian saja belum mengucapkan selamat ulang tahun kepada Vian. Saat di sekolah, taman-taman Vian banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vian. Sore harinya saat pulang sekolah, Vian tidak diizinkan untuk pulang oleh Nata dan teman-temannya, karena mereka akan memberi sebuah kejutan untuk Vian. Teman-teman Vian menyeplokan telur ke kepala Vian, ada juga yang menyiramkan air ke Vian, ada juga yang melemparkan tepung ke Vian. Seragam sekolah Vian menjadi sangat kotor hari itu. Untungnya, Vian sudah mempersiapkan dirinya dengan membawa baju ganti. Vian juga sudah membawa perlengkapan mandi, jadi Vian mandi di sekolah hari itu. Saat Vian sedang mandi, Nata menunggu Vian sampai dia selesai mandi. Setelah Vian selesai mandi, Nata memberikan hadiah itu kepada Vian. Vian sangatlah senang dengan hadiah yang diberikan oleh Nata. Tapi, ternyata jaket yang diberikan oleh Nata kepada Vian itu sedikit kebesaran. Tapi kata Vian, “gapapa kok, yang penting ini kan dari kamu. Apa aja yang kamu berikan buat aku, pasti aku suka.” Sautu hari, ada kejadian yang membuat Nata dan Vian menjadi malu dengan salah satu guru di sekolah. Kejadian itu aneh dan lucu. Ceritanya begini, saat jam istirahat di sekolah, Vian si gendut dan Nata si manis sedang berpelukan karena mereka sangat mencintai satu sama lain. Bel istirahat selesai pun berbunyi, tapi mereka masih berpelukan. Tiba-tiba tanpa mereka sadari, ada salah seorang guru yang sudah naik ke lantai tiga sekolah itu. Guru itu melihat Nata dan Vian sedang berpelukan. Guru itu hanya menyuruh Vian dan Nata berhenti berpelukan. Teman-teman Vian dan Nata mentertawakan mereka. Vian si gendut dan Nata si manis menjadi malu dengan kejadian itu. Tapi, rasa malu itu tidak berlangsung lama. Nata dan Vian akhirnya masuk ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran di sekolah. Nata dan Vian saat tahun pelajaran itu tidak sekelas. Tapi, mereka senang-senang saja. Lagipula mereka juga masih bisa bertemu walaupun beda kelas. Hari demi hari terus berlalu. Tiga bulan telah berlalu saat hari pertama mereka berpacaran. dua bulan setelah hari ulang tahun Vian, tibalah hari ulang tahun Nata. Beberapa hari sebelum hari ulang tahun Nata, ibunya Vian menawarkan sebuah gantungan kunci yang bisa digunakan untuk memajang foto-foto. Vian berniat untuk memberikan gantungan kunci itu kepada Nata di hari ulang tahunnya. Vian meminta ibunya untuk membelikan sebuah bungkusan yang bagus untuk membungkus gantungan kunci itu. Saat di hari ulang tahun Nata, gantian Nata yang diberikan kejutan oleh teman-temannya. Kejutannya sama seperi yang iberikan teman-teman Vian kepada Vian. Hari itu, Nata menjadi sangat putih. Padahal biasanya Nata kulitnya hitam, tapi dia manis sekali dengan kulit hitamnya itu. Saat Nata sedang mandi, Vian memasukkan hadiah yang akan diberikan kepada Nata ke dalam tasnya Nata. Vian bermaksud untuk memberikan kejutan kepada Nata saat Nata membuka isi tasnya di rumah. Saat di rumah, Nata senang melihat hadiah dari Vian. Suatu hari, Vian dan teman-teman Nata dan Vian bermain ke rumah Nata, Nata sangat senang karena Vian akan bermain ke rumahnya. Saat sampai di rumah Nata, Vian, Nata dan teman-teman yang lain berniat untuk membeli makanan untuk di makan siang ini. Diantara mereka ada yang membeli bakmi, nasi padang, dan lain-lain. Tanpa Vian sadari, ternyata Nata membelikan sebungkus nasi padang untuk mereka makan berdua. Nasi padang itu memang banyak, jadi cukup untuk mereka berdua. Saat mereka sedang asik makan, Nata dan teman-teman yang lain menyuruh Vian untuk bermain piano. Karena mereka tahu bahwa Vian memang bisa bermain piano. Vian bermain piano untuk menghibur Nata dan teman-teman lain yang sedang makan. Mereka sangat senang mendengar Vian bermain piano. Katanya seperti sedang makan di cafĂ©. Sebenarnya, Vian ingin mendengar Nata bermain piano juga. Karena Vian juga tau bahwa Nata bisa bermain piano seperti Vian. Tapi, Nata sedang tidak ingin bermain piano. Lain kali saja kata Nata. Setelah mereka selesai makan, mereka ke masuk ke kamar Nata untuk mendinginkan badan, karena siang itu memang cuacanya sedang sangat panas. Saat mereka sedang berada di dalam kamar Nata, salah seorang teman Vian dan Nata memanggil teman Nata yang lain dengan sebutan adik. Lalu dia memanggil Nata dengan sebutan mama. Nata juga memanggil Rey dengan sebutan kakak. Begitu terus belanjut diantara mereka. Akhirnya, hari itu mereka membuat sebuah silsilah keluarga. Rey dan pacarnya mempunyai satu anak. Rey juga mempunyai seorang adik, yaitu Nata. Ceritanya, Nata menikah dengan Vian. Mereka mempunyai dua orang anak. Salah seorang anaknya sudah mempunyai dua orang anak. Anak Nata dan Vian sering disebut “kakak beradik hidung” karena kebetulan hidung mereka itu lebih besar dan lebar dibandingkan dengan hidung-hidung teman-teman yang lain. Saat di sekolahpun mereka mamanggil nama teman mereka yang ada di silsilah keluarga itu sesuai dengan posisi mereka di silsilah keluarga tersebut. Vian si gendut sekarang sudah dipanggil kakek atau eyang. Sedangkan Nata si manis sudah dipanggil nenek oleh kedua cucu Nata dan Vian. Mereka sudah seperti tua sekali yaaaa. Saat liburan kenaikan kelas, Vian si gendut dan Nata si manis saling kangen karena mereka tidak bertemu selama beberapa minggu lamanya. Saat hari pertama masuk sekolah, mereka sekarang sudah menjadi senior di sekolahnya. Mereka sekarang sudah kelas sembilan. Saat pembagian kelas merupakan saat yang paling mendebarkan bagi mereka. Nata dan Vian ingin sekali saat kelas sembilan ini, mereka sekelas. Jadi mereka bisa selalu bertemu kapanpun di sekolah. Tanpa diduga, ternyata mereka sekelas. Vian si gendut dan Nata si manis sangat senang akan hal itu. Akhirnya mereka bisa terus bersama. Lima bulan telah berlalu sejak hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih terjadilah sebuah konflik. Vian dibohongi oleh Nata. Nata tidak cerita kepada Vian kalau Nata sedang bete banget. Nata hanya bilang kalau Nata tidak kenapa-kenapa. Padahal Vian juga tau kalau Nata sedang bete banget karena tidak seperti biasanya, Vian tidak diajak ngobrol oleh Nata. Vian merasa sangat dibohongi oleh Nata. Padahal Vian pernah berkata pada Nata bahwa Vian sangat tidak suka kalau Nata tidak jujur kepada Vian dan Vian juga sangat tidak suka kalau saat Vian sedang bertemu dengan Nata, tapi Nata hanya diam seribu kata di depan Vian. Vian sangat tidak menyukai kedua hal itu. Vian telah disakiti oleh Nata. Padahal Nata pernah berjanji kepada Vian kalau Nata tidak akan menyakiti Vian selamanya. Tapi, ternyata Nata telah mengingkari janjinya kepada Vian dan Nata telah membuat Vian sangat sakit hati hari itu. Mereka terus berdebat. Bahkan mereka sampai saling bertengkar. Mereka bertengkar sangat hebat karena hal itu. Bahkan, Nata dan Vian sampai menangis karena pertengkaran itu. Mereka berdua hamper saja menyudahi hubungan yang telah mereka jalankan dengan baik-baik selama lima bulan itu. Tapi untungnya, mereka bisa menemukan jalan keluarnya dari masalah itu dan mereka berdua tidak jadi berpisah di bulan kelima hubungan mereka itu. Mereka sangat lega karena maslah itu tidak berlanjut. Saat itu, Nata berjanji lagi bahwa Nata tidak akan pernah lagi menyakiti Vian untuk yang kedua kalinya. Setalah Nata dan Vian telah menyelesaikan masalah mereka tadi, mereka sekarang menjadi saling menjaga perasaan pasangannya masing-masing agar kejadian itu tidak terjadi lagi. Nata berniat untuk memperbaiki sifat jeleknya, begitu pula dengan Vian. Mereka berdua berusaha untuk merubah sikap jelek mereka agar mereka bisa menjadi nyaman di dekat pasangannya. Nata berusaha untuk merubah sikapnya yang selalu bergantung pada mood-nya dan Vian juga ingin merubah sifatnya yang gampang bete, sedih dan tersinggung. Mereka sekarang saling menkaga mood pasangannya masing-masing. Satu bulan setelah konflik yang terjadi tadi, terjadilah sebuah konflik lagi yang menimpa mereka. Kali ini, Nata yang telah disakiti oleh Vian. Nata dibentak oleh Vian karena Nata meninggalkan Vian sendiri pada malam itu, padahal Vian sedang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Nata dan Nata juga sudah berjanji bahwa Nata tidak akan meninggalkan Vian malam itu. Nata sangat sakit hati karena Nata telah dibentak oleh Vian. Padahal Nata paling tidak suka dibentak oleh Vian. Kali ini, Vian yang telah melanggar janjinya kepada Nata untuk tidak menyakiti hati Nata. Mereka bertengkar lagi malam itu. Untung saja Nata memaafkan kesalahan Vian. Karena Nata mengerti kalau Vian sedang emosi karena suatu hal yang lain. Nata memang sangat pengertian kepada Vian. Akhirnya, mereka saling bermaaf-maafan dan pertengkaran mereka malam itu berakhir dengan damai kembali. Mereka berdua memang saling pengertian. Mereka juga paling tidak suka dengan bertengkar. Makanya konflik-konflik yang mereka alami pasti akan terselesaikan dengan damai. Setelah kedua konflik itu, Nata si manis dan Vian si gendut terus memperbaiki kekurangan mereka agar Vian bisa menjadi yang terbaik untuk Nata dan Nata bisa menjadi yang terbaik untuk Vian selamanya. Vian dan Nata berharap agar mereka bisa menjadi pasangan hidup untuk selamanya. Mereka ingin hanya maut yang memisahkan mereka berdua, bukan masalah-masalah atau konflik-konflik yang biasa dialami oleh banyak pasangan di Indonesia, bahkan di Dunia. Mereka sering berdoa agar mereka tidak mengalami konflik lagi. Mereka hanya ingin menjalani hubungan mereka dengan damai. Tapi, mereka juga harus berusaha untuk bisa menjalani hubungan yang damai untuk selamanya. Sampai sekarang, Vian si gendut dan Nata si manis terus menjalankan hubungannya. Sekarang saja mereka sedang sangat rindu dengan pasangannya masing-masing. Vian kangen sekali dengan Nata, dan Nata kangen sekali dengan Vian. Mereka tidak bisa bertemu sekarang karena sekarang sekolah mereka sedang libur. Mereka berharap bisa segera bertemu kembali saat masuk sekolah kembali nanti.

Menunggu Matahari by Amir Al Aziz

Setiap pagi asmin duduk di tepi danau itu. Ia selalu menyempatkan diri ke tempat itu tanpa ditemani siapa pun. Ia masih anak kecil, juga anak tunggal, kelas dua sekolah dasar yang cukup jauh dari kampungnya. Berbakti kepada ibu yang telah lam ditinggal bapaknya dijemput Malakulmaut. Ia merasa ada sesuatu yang berharga jika duduk di tepi danau yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, yang terbuat dari bilik-bilik. Air danau itu memang jernih, sehingga bebatuan yang ada di dasar laut terlihat dengan jelas bentuk, letak, dan lekukannya. Air danau mengalir dengan kecepatan yang tenang di antara bebatuan besar yang mencoba menghadang arusnya. Tetapi justru dengan pemandangan itu suasananya semakin bertambah indah dan menakjubkan. Pohon-pohon besar yang merengkuhkan dahan-dahannya yang berdaun lebat seperti mencoba memayungi keindhan danua itu dari guyuran musim hujan yang kadang-kadang seperti sedang marah. ”Asmin, kamu jangan terlalu sering main di tepi danau itu,” kata ibunya pada suatu malam, sebelum tidur,” Nanti kamu terjatuh dan terbawa arus atau tenggelam.” Nasihat yang diwejangkan ibunya itu hanya ditanggapi dengan dingin saja. Namun ia tidak mau menampakkan kedinginannya itu didepan ibunya, karena ia pun menyadari bahwa kata-kata yang diucapkan oleh ibunya itu adalah benar dan sebagai tanda cinta ibu terhadap anaknya. Apalagi ia anak satu-satunya, pikir Asmin dalam hati. Ia tetap mendengarkan setiap nasihat yang diucapkan ibunya dengan rasa sopan dan rendah diri. Tetapi keesokan harinya ia menyempatkan diri lagi ke tepi sungai itu, beberapa menit sebelum langkah-langkah semangatnya diayunkan menuju sekolahnya tempat ia menimba ilmu. Danau yang indah itu tidak terlalu jauh dari samping rumah mungil yang terbuat dari bilik-bilik itu. Dan jarak antara rumah itu dengan rumah-rumah penduduk lainnya cukup berjauhan. Karena daerah yang mereka tempati boleh dikata sangat terpencil dan jauh dari keramaian jalan desa, jalan kecamatan, apalagi jalan dan kabupaten. Jangankah berharap akan adanya masuk listrik, jalan setapak yang biasa dipakai pun rasanya tak pernah mendapat perhatian dari pegawai desa. Hanya pernah beberapa tahun yang lalu, menjelang pemilihan umum, sempat tersebar isu bahwa apalagi partai tertentu menang dalam meraih suara terbanyak diwilayah kecamatannya. Maka kondisi jalan sepanjang mrnuju kampung itu akandiperbaiki dan dilebarkan. Tetapi kabar itu hanya tinggal kebisuan rumput-rumput liar dan pepohonan yang banyak tumbuh di sepanjang jalan setapak itu. Asmin rupanya menyimpanharapan yang selalu ia tunggu-tunggu dari tepi danau yang jernih itu. Di seberangnya terhampar berpetak-petak sawah dalam ke hijauan, sangat indah sebagai salah satu pemandangan yang alamiah. Danau itu membetang dari hulu utara menjalar, membatasi wilayah timur kampungnya, ke arah seletan yang rada landai. Di sanalah, di tepi danu itulah, Asmin selalu duduk menyendiri menghadap ufuk timur menanti matahari. Ya, ia selalu menanti matahari terbit dengan kebulatan yang sempurna dalam warna merah di sambut harum mekar bunga-bunga putih dari rekah tanah subur dan tumbuhan lain yang terkena sinar hangat. Matahari itu tetapi, semenjak selesainya pemilu beberapa tahun yang telah lewat itu, matahari tak pernah kembali terlihat terbit di ufuk timur. Padahal sebelum terjadinya hal ini, tak ada tanda-tanda yang membuat keadaan akan berubah seperti akhir-akhir ini. Setiap pagi yang ada dan terlihat sekarang di ufuk timur itu hanyalah gumpalan-gumpalan kabut putih dalam ketebalan yang luar biasa. Sehingga kampung Asmin dan penduduknya yang jarang-jarang itu telah lama tidak lagi dapat menikmati pemandangan matahari terbit dan kehangattan cahayanya. ”Bu, kapankah matahari itu akan terlihat kembali setiap terbitnya?” tanya Asmin pada suatu siang, setelah pulang dari sekolahnya. ”Entahlah, Nak, kita tidak punya kuasa untuk memastikannya.” ”Apakah orang-orang dikampung ini juga tidak tahu kapan matahari itu akan terlihat, Bu?” ”sudahlah, itu adalah kuasa Tuhan, ” jawab ibunya sambil menguasap-usap kepala Asmin.”Dan kita tidak usah mencemaskannya.”Sebenarnya Asmin merasa kecewa dengan jawaban ibunya yang tidak memuaskan. Tetapi ia memendam kekecewaannya itu dengan tidak bertanya lebih jauh lagi. ”Sekarang, gantilah seragam sekolahmu, ”lanjut ibunya,”lalu makan, dan setelah itu bantu ibu memotongi kayu bakar.” Tanpa banyak alasan lagi Asmin segera melakukan apa yang baru saja ibunya katakan, Pada suatu malam Asmin bermimpi tentang seorang pangeran dari negeri Antaha. Ia datang kepadanya membawa satu pesan yang sangat mengagetkan. Dia datang menjelang pagi hari, dengan pakaian kebesarannya yang gagah seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan jaman dahulu. Dan pangeran itu datangan dengan beberapa orang anak-anak, laki-laki dan perempuan, yang jugahampir sama usianya dengan Asmin. ”Asmin, aku adalah pangeran Antanur dari negeri Antaha,” kat sang pangeran merperkenalkandirinya. ”Kau tidak usah kaget dan takut dengan kedatangan ku ini, karena sebenarnya maksud kedatangan ku adalah ingin meluluskan keininanmu untuk kembali menyaksika mathari terbit dari ufuk timur.” ”Pangeran tahu dari mana tanya,”tanya Asmin keheranan. ”Aku selalu tahu keinginan anak-anak yang merindukan keindahannya,”Jawab pangeran Antanur sambil tersenyumdan menghusap-husap kepala Asmin, seperti yang pernah dilakukan ibunya. ”Benarkah itu pangeran?,”tanya Asmin kembali dengan perasaan berharap benar. ”Percayalah pada ucapan ku, Asmin. Kau liat anak-anak disekeliling ku ini, mereka juga mempunyaai keinginan yang sama dengan kainginanmu. Maka dari itu, aku datang kesini menemuimu, karena hanya kamulah sendiri yang belum aku beritahu caranya menyaksikan matahari itu terlihat setiap terbitnya. Dan yang paling utama, kamulah yang akanmenjadi pahlawan dalam menyingkap tabir semua ini. ”Meskipun Asmin merasa senang dan tersanjung degan ucapan sang pangeran itu, di dasar hatinya ia tetap masih menyimpan keragu-raguan. Benarkah dirinya yang akan menjadi pahlawan dalam menyingkap takbir semua ini.” Meskipun Asmin merasa senang dan tersanjung dengan ucapan sang pangeran itu, di dasar hatinya ia tatap masih manyimpan keragu-raguan. Benarkah dirinya yang akan menjadi pahlawan menyingkap tabir semua itu? Benarkah semua ucapan sang pangeran itu, sedangkan ia hanyalah anak yatim dan hidup diperkampugan yang sangat terpencill? Begitulah kira-kira isi keraguan yang ada dalam hatinya. Kemudian pangeran Antanur mengajak Asmin dan anak-anak lainnya ke tempat Asmin biasa duduk meyendiri di tepi danau itu. Sesampainya di tempat, pangeran Antanur menyuruh mereka duduk bersila dalam bentuk lingkaran dengan tangan saling berpeganga, kecuali Asmin yang berada di tengah-tengah lingkaran itu berdiri seorang diri dalam sikap sempurna manghadap arah matahari akan muncul. ”Mulailah, sekarang pejamkan mata kalian dan berdoalah kepada yang maha kuasa agar matahari itu dapat terlihat ketika terbit, ”suruh pangeran kemudia.”Dan kau, Asmin, jangan kaget jika pada waktunya nanti kau akan berubah. ” Anak-anak itu menuruti apa yang telah dikatakan sang pangeran, dan ia sendiri hanya berdiri di belakang Asmin, di luar lingkaran, dengan milut komat-kamit seperti sedang berdoa. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada sesuatu yang terlihat lain dengan keadaan Asmin. Ia tidak lagi menapakkan kedua kakinya di atas tanah. Ia semakin terbang menjauhi bekas pijakannya. Melayang, melayang, dan melayang ke arah akan terbit di balik gunung dari batas jauh hampaan petak-petak sawah. Asmin semakin jauh menempuh perjalanan dalam kemelayangannya. Hinga pada akhirnya ia berhenti di antara gumpalan-gumpalan kabut kebal yang menyebabkan matahari itu tidak pernah terlihat manakala waktunya terbit. Di sanalah ia seolah-olah mempunyai kekuatan yang luar biasa, karena tiba-tiba kabut tebal itu memudar sedikit demi sedikit meninggalkan gumpalannya. Ya, benar-benar suatu peristiwa yang hebat dan baru terjadi. Asmin, masih dengan keheranan yang mulai memudar dalam jiwanya, menyaksikan pudaran kabut yang semakin lama semakin cepat berhamburan dan menghilang dari pandangan mata itu, sedikit tersenyum. Entah kemana gerangan gumpalan kabut itu hingga akhirnya Asmin kembali melayang ke arah anak-anak yang tadi mengelilinginya dalam sebuah lingkaran, setelah benar-benar ia menyaksikan dan meyakini bahwa kabut itu tk ada lagi, meski setitik. Sekarang ia berada dalam lingkaran seperti semula, dalam keadaan sikap sempurna, ”Baiklah,” kata sang pangeran tiba-tiba. ”Kini saatnya kalian bersiap-siap menyaksikan matahari terlihat terbit dari balik gunung itu dengan keindahannya yang khas.” Kemudian anak-anak itu menghentikan doanya dan membuka mata masing-masing sambil mencoba berdiri menghadap kearah dimana matahari itu akan terlihat terbit. ”Wooow......” kata mereka hampir berbarengan dengan nada takjub, karena suasana pandangan mereka kedepan kini benar-banar dirasakannya terbuka luas dan melegakan hati. Mereka sangat berbahagia dalam penantianya akan kembali melihat matahari yang telah lama tidak pernah menampakan dirinya ketika terbit. Detik demi detik berkejaran dalam hitungan waktu, detak jantung merekapun berdegup dalam harap harap yang menegangkan berpadu dengan seara-suara ayam dan hewan lainnya yang seolah juga sedang ikut menyambutnya. Ya, hawa disekitar merekapun dirasakan hangat dan menambah semangat. Hingga pada akhirnya. Tempat ketika sang pangeran sempat kilat menghilang dari hadapan mereka, matahari muncul sedikit demi sedikit dari balik gunung di jauh sana. Indah, ya benar-benar indah dengan cahayanya yang khas menyinari kembali kampung Asmin yang terpencil itu. Harapan telah bersinar kembali dari waktu-waktu yang hampir buta. Seolah mendapatkan sebuah hadiah yang sangat berharga, anak- anak itu begitu berbahagia dengan berbagia teriakan yang histeris khas anak-anak sambil berjingkrak kegirangan, cukup lama. Tetapi Asmin merasa tersandarkan karena adanya keganjilan di sekitar mereka. Ia merasa bahwa sang pangeran Antanur, yang berjasa membantu tercapainya harapan mereka telah tidak ada, tidak terlihat lagi bersama mereka. Asmin mencari- cari di sekitarnya, di antara anak-anak lain yang masih tenggelam dalam kebahagiannya. Setelah merasa yakin tak menemukan di sekitarnya, ia memisahkan diri berjalan mencari sang pangeran sambil memanggil-manggil namanya. ”Pangeran Antanur......... pangeran Antanur.......... pangeran Antanur.......” Orang yang dipanggil itu tidak juga menampakkan dirnya. Tetapi Asmin tidak putus asa, ia ulangi kembali memanggil-manggil nama itu dengan nada yang lebih keras, hinnga gemanya menembus kerapatan papohonan yang banyak tumbuh di sekitar danau itu. ”Pangeran Antanur......... Pangeran Antanur...........Pangeran Antanur.......” Ibunya segera membangunkan Asmin dari gundam yang memanggil-manggil nama pangeran Antanur itu, karena khawatir pada anaknya sedang mimpi buruk. Satu kali belum sadar, dua kali juga belum sadar. Ketiga kalinya, barulah Asmin terbangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya, Tetapi dengan cepat ia menanyakan keberadaan pangeran Antanur kepada ibunya. ”Ke mana ia perginya, Bu?” Yang ditanya tidak langsung menjawab, ibu Asmi malah dengan tenang berusaha menepuk-nepuk pipi anaknya supaya segera sadar dari tidur dan dunia mimpi anak kesayangan. ”Bangunlah, Nak,bangun.......” Kata ibunya. Tetapi Asmin belum juga sadar rupanya. Ia masih terus memanggil-manggil pangeran Antanur. ”Pangeran Antanur.. Pangeran Antanur.... Pangeran Antanur..... di mana kau? Aku mencarimu. Aku tak mau kehilangan dirimu.....” Ibunya menepuk-nepuk pipi Asmin lebih keras lagi. Tapi sang anak tetap tak bergeming. Asmin malah memanggil-manggil Pangeran Antanur lebih keras lagi. Dan tanpa di duga, Asmin segera berdiri dan lari sekencang-kencangnya ke luar rumah menyusuri jalanan setapak penuh rimbun, menuju tepi danau tempat ia biasanya menunggu matahari terbit dari balik gunung di jauh sana. ’Pangeran Antanur...... Pangeran Antanur...... Pangeran Antanur.....” Ibunya terkesiap tak mengerti. Ia hanya dapat melongo dengan mulut terbuka menyaksikan anaknya lari dan terus lari tunggang-langgang. Hatinya terasa berat. Kemudian ia menangis dari balik jendela yang baru saja di bukakan. Pada akhirnya Asmin tidak dapat menemukan Pangeran Antanur, karena Pangeran Antanur sudah meninggalkan Asmin.

Kue Bulat by M Armadiva Iskandar

Dahulu kala, hiduplah seorang Bapak dan Ibu yang tinggal di rumah yang kecil. Suatu pagi, Ibu membuat kue khas desa itu. Kue bulat namanya. Ia meletakkan kue bulat itu di wadah pemanggang. Lalu memangganya di atas kompor. Ia berkata pada Bapak,”Aku akan keluar untuk mengambil susu sapi. Kalau sudah matang, tolong dibalik ya, Bapak!” Bapak itu agak malas. Ketika Kue Bulat sudah matang, ia berteriak,”aduuuh, malasnya aku! Aku harus berdiri dan membalik Kue bundar itu!” “Aku akan membalik diriku sendiri!”kata suara dari kompor. Bapak sangat terkejut di tempat tidurnya. Apalagi saat ia melihat Kue Bundar melompat dari wadah. Kue Bulat lalu bergerak cepat sekali. Ia berlari keluar rumah, turun ke halaman, lalu melompat-lompat kesana-kemari. Bapak berteriak marah,”Kue Bulat, tunggu!tunggu!” teriakan Bapak yang keras membuat Ibu kaget. Ibu meninggalkan embernya yang berisi susu sapi. Ia lalu ikut bersama Bapak mengejar Kue Bulat. Namun Kue Bulat berlari sangat cepat. Akhirnya Bapak dan Ibu tertinggal jauh dan mereka sangat sedih, karena kue pertamanya kabur entah kemana dan mereka terduduk lelah di tepi jalan. Dalam pelariannya, Kue Bulat bertemu dua kuli bangunan. Kuli bangunan itu berkata,”kau mau kemana,Kue Bulat?” Kue Bulat berteriak, “Aku berhasil lolos dari Bapak dan Ibu. Aku juga bisa lolos dari kalian berdua!” “Oya?Ayo kita buktikan!” kata dua kuli bangunan itu. Mereka melempar alat bangunan itu lalu mereka mengejar Kue Bulat. Tapi percuma saja, karena Kue Bulat menggelinding cepat sekali. Kedua kuli bangunan itu terduduk di tepi jalan. Di perjalanan, Kue Bulat bertemu dengan Beruang. “Kamu mau ke mana Kue Bulat?” Tanya Beruang. “Aku berhasil lolos dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan. Aku juga bisa lari dari kamu!” “Ayo kita buktikan!” tantang beruang. Ia lalu berlari secepat mungkin. Kue Bulat pun berlari tanpa menoleh ke belakang. Tak lama kemudian Beruang sudah tertinggal jauh. Ia lelah dan terduduk di tepi jalan dan menyerah mengejar Kue Bulat, lalu setelah menggelinding beberapa saat kemudian, Kue Bulat bertemu dengan Anjing.”Mau kemana kamu, Kue Bulat?” tanya Anjing. “aku bisa lari dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,dan dari Beruang. Aku juga bisa lari dari kamu anjing!” “Oyaa, sok tahu kamu, emang kamu bisa?Ayo kita buktikan!” tantang Anjing lalu ia mengejar Kue Bulat menggelinding lebih cepat di jalan yang menurun. Akhirnya Anjing kehabisan stamina dan menyerah dengan rasa lelah. Ia terduduk lelah di tepi jalan. Kue Bulat sangat senang bisa mengalahkan Anjing. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Rubah. “Kamu mau kemana, Kue Bulat?” Sepertinya kamu sangat senang sekali!” “Aku bisa lolos dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing. Aku juga bisa lari dari kamu!” “Agh sok tahu kamu!” “Ayo kita buktikan!” kata Si Rubah. Lalu Rubah berlari dengan secepat mungkin, tapi Kue Bulat sudah terlau jauh untuk dikejar. Rubah tertinggal jauh dan lansung terdiam di tepi jalan. Dengan sifat sombong itu dia berjalan dengan penuh kegembiraan. Karena Kue Bulat sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah. Tapi di suatu tempat ia bertemu dengan pengemis yang kelaparan. “Wah ada kue enak nih!” “Makan ah!”. Kata pengemis itu.”Enak aja!”, dasar pengemis!”.Kata Kue Bulat. Lalu pengemis itu marah dan mendoakan Kue Bulat supaya dia di perjalanan dapat masalah yang sangat besar, lalu pengemis itu langsung menghilang. Setelah itu Kue Bulat kaget dan cemas. “Aduhh, gimana nih!”. Kata Kue Bulat. Lalu kue bulat melakukan perjalanan lagi untuk mencari penantang berlari yang bisa mengalahkan dia, walaupun dia mendengarkan perkataan pengemis tadi dia tetap saja sombong. Tak lama kemudian ia bertemu dengan tikus.”Hai Kue Bulat mau kemana kamu!”. Kata Tikus itu.”Aku sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,dan Rubah”. Kata Kue Bulat. “Aku juga bisa mengalahkan kamu!”.”Ayo kita buktikan!”. Kata Tikus itu. Lalu tikus itu langsung berlari dengan sangat lincah, tapi Kue Bulat tidak terkalahkan dan langsung melesat sekencang kuda.”Wahh hebat sekali Kue Bulat, padahalkan dia cumin kue biasa yang Cuma bisa memamerkan kesombongannya?” kata tikus. “Hahahahahahaha!” kata Kue Bulat. Lalu Kue Bulat meneruskan perjalanannya lagi, lalu orang-orang di sana mulai tahu kalau Kue Bulat adalah kue yang sombong. Saat mendengar berita itu Kue Bulat tetap saja menyombongkan diri di hadapan semua orang, jadi orang-orang sangat membenci kue bulat dan ingin mengusir Kue Bulat dari desa itu selama-lamanya, lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi dengan wajah yang selalu gembira bahwa ia paling hebat di desa itu, di tengah perjalanannya ia bertemu dengan Kucing yang sangat hebat, walaupun ia hebat, tapi dia tidak menyombongkan diri seperti Kue Bulat dan berita itu mulai menyebar luas sampai terdengar oleh Kue Bulat, setelah mendengar berita itu ia marah dan sangat kesal mendengar berita itu, karena ia tidak mau ada yang menyaingi kehebatannya di desa itu dan ia pikir ia yang paling hebat di desa itu dan tidak ada yang menyainginya, jadi dia langsung mendatangi Kucing itu dengan penuh amarah.”Kamu mau kemana, Kue Bulat?” kata kucing itu. “Aku sudah lari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah, dan Tikus sekalipun.”Ooooooooo, begitu. Jadi?”. Aku tak bisa dengar suaramu, Kue Bulat! Apa kamu bisa lebih dekat lagi kesini?” Kata Kucing dengan suara yang lembut,sambil memanjangkan lehernya ke arah Kue Bulat. Kue bulat semakin mendekat ke Kucing itu. “Apa sih maumu!” “Oke,oke aku katakana lagi!”. “Aku sudah berlari dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah,Tikus. Aku juga bisa mengalahkanmu!”. Kata Kue Bulat. “Maaf aku tak dengar lagi!”, “Coba mendekat lagi!”. Kata Kucing itu dengan sabar menunggu Kue Bulat mendekat ke Kucing itu.” Satu kali lagi ya!” “Awas kalau tidak dengar lagi!”. Kata Kue Bulat itu dengan suara yang sangat keras dan ia mulai marah.”Aku sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah,dan Tikus yang sangat lincah itu!” kata Kue Bulat. “Oke kalau kamu menantang saya , mari kita buktikan!” kata Kucing. Lalu Kue Bulat lansung berlari dengan sekencang mungkin, lau ia melihat ke belakang.”Hahahahahah!”. “ Mana kekuatanmu kucing katanya hebat!” . Kata Kue Bulat dengan muka yang begitu sombong, dan Kucing tersenyum melihat Kue Bulat berlari dengan kencang. “Kenapa kau melihatku seperti itu!”. Kata Kue Bulat dengan suara yang keras sekali sampai orang-orang pum kaget mendengar suara Kue Bulat itu dan melihat pertandingan itu.”Akan ku kejar kau!” kata Kucing itu dengan penuh semangat.”Heh coba saja!”kata Kue Bulat dengan suara yang sombong, dalam sekejap Kucing itu langsung mendekati Kue Bulat dengan kecepatan ninja dan menatap Kue Bulat dengan tersenyum. “Apa!”. Kata Kue Bulat dengan cemas, setelah itu mulut Kucing itu menganga dengan lebar dan siap memakan Kue Bulat “Tidak jangan!”. Kata Kue Bulat. Dan Hap! Kucing itu langsung menelan Kue Bulat dengan gembira. “Horeeee!”. Kata penduduj desa dengan senang sekali dan mengangkat Kucing itu dan melemparkannya ke atas dan kebawah, lalu mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan hari kejayaan mereka, karena Kue Bulat sudah tidak ada. Tak lama kemudian yang di kalahkan Kue Bulat pun juga ikut datang.” Wah ada apa ini, meriah sekali!”. Kata Bapak dan Ibu dengan kagum.”Ini perayaan musnahnya Kue Bulat di desa ini!”. Kata salah satu warga di pesta itu.”Kami turut beduka atas kematiannya itu!”. Kata Bapak dan ibu dengan sedih. “Sudahlah Pak,Bu dia memang pantas di musnahkan karena dia sudah melecehkan desa ini dan menjelek-jelekan desa ini!”Kata Kucing dengan suara yang sangat tulus. “ Betul juga yaa!” kata Bapak dan Ibu dengan bahagia sekali. Semenjak pesta itu berlangsung tidak ada masalah apapun di desa itu dan orang-orang di desa itu sangat bahagia sekali karena Kue Bulat bisa dikalahkan juga oleh Kucing yang baik hati dan tidak sombong itu, terus juga bagi Kucing itupun ia juga sangat senang bisa mengalahkannya dengan cara yang cerdik dan cukup efektif untuk mengalahkan Kue Bulat itu, setelah itu Beruang dan yang telah dikalahkan oleh Kue coklat pun turut senang atas musnahnya Kue Bulat yang sonbong dan tidak punya perasaan. Dan itulah akibat dari orang yang sombong. Setelah pesta besar-besaran orang-orang itu dan juga yang di kalahkan oleh Kue Bulat itu pun pulang dengan hati yang lega dan sangat senang sekali melihat dan mengetahui peristiwa itu seolah-olah warga di desa itu tidak percaya bahwa Kue Bulat itu musnah untuk selama-lamanya dari kehidupan warga di desa itu. Jadi kita tidak boleh menyombongkan diri kepada oaring lain maupun diri kita sendiri karena itu semua akan merugikan diri kita sendiri dan juga orang lain yang kesal pada perbuatan itu sendiri. Dan juga tuhan akan membnenci kita dan menghukum kita jika kita melakukan perbuatan itu.

Sepasang Sepatu untuk Sumi by Ajeng Wahyu Lestari

Pelan pelan aku mengetuk pintu rumah itu, sebenarnya tidaklah tepat jika disebut rumah, karena bangunannya terbuat dari potongan kayu yang sudah ditambal disana sini karena telah berlubang, tambalannya pun berupa macam bentuknya dan jenisnya, ada kayu, kertas, potongan plastik, bahkan seng-seng yang sudah berkarat tertempel menghiasi dindingnya… “Assalammuallaikum….” Aku berseru… Tetap saja tidak ada jawaban dari dalam…. “Sumi…, ibu….sumi…..” aku berteriak mengeraskan suara… Tidak juga ada sahutan dari dalam rumah itu Kutajamkan pendengaranku “…sumi…, sumi….ibu…ibu…” aku mengulangi teriakanku.. Perkenalanku dengan sumi terjadi beberapa bulan yang lalu, saat itu aku sedang duduk diteras rumahku, sementara diluar sedang turun hujan gerimis, saat itu aku sedang asyik memandangi ikan ikan yang berenang dikolam kecil disudut teras rumahku. Gerakan- gerakan mereka yang lucu seolah sedang bermain saling menggoda, membuat aku terkadang tersenyum geli… “Assalamualaikum…” tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sesorang yang memberi salam. Saat aku menoleh kedepan pintu pagar aku melihat seorang anak sebayaku berdiri…, ditangannya menggenggam tas kantong kresek. “Wa’alaikumsalam” aku membalas sapa anak itu. “Ada apa..ya…” ujarku “mau beli peyek kak?….” Gadis kecil itu berujar “aduh… gimana ya…” aku menjawab lirih “belilah kak, ini masih tersisa dua bungkus…” gadis itu sedikit merayu “ah… itu hujan, masuklah dulu…” ucapku “tidak apa kak,… beli ya kak…” gadis itu berucap gigih Titik hujan semakin membesar, sesekali kilat mencoba menerangi langit yang semakin menggelap Aku tergesa membuka pintu pagar dan mempersilakan dia masuk “ayolah nanti kita kebasahan nih.” Ujarku. Selanjutnya kita atau lebih tepatnya aku banyak mengajak dia berbicara, sementara dia hanya menjawab seperlunya saja. Saat itulah aku mengenal namanya sumi, sebuah nama yang singkat tapi lumayan enak juga didengar, dia saat ini sebenarnya masih bersekolah dan duduk dikelas 2 SMP, dia tidak mempunyai adik dan kakak serta tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sumi tidak pernah mengenal ayahnya sementara ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Itulah pertemuan pertamaku dengannya, yang tersisa dari pertemuan itu adalah kesanku bahwa sumi seorang gadis yang santun, memiliki sederet gigi putih serta senyuman manis. Hari minggu pagi, Cuaca cerah, aku bangun dan berkemas…, pagi ini aku telah berjanji dengan teman-teman sekolahku untuk bertemu di lapangan alun alun kota, untuk berolahraga. Sebenarnya jarak dari rumahku ke alun alun lumayan juga, makanya aku meminta tolong kepada kakakku untuk diantar, awalnya kakak laki-lakiku agak keberatan namun berkat sogokkan sebungkus cokelat dia tidak kuasa untuk menolak permintaanku. Jam 6.00, alun-alun kota, lumayan juga banyak orang beraktifitas, ada yang hanya berjalan, berlari lari kecil, sekelompok anak-anak kecil asyik bermain bola dengan suara riuh. Aku duduk dibangku taman dan merapikan tali sepatu, sesekali aku celingukan mencari teman-temanku, tapi belum ada yang terlihat batang hidungnya. Tidak lama kemudian suara seseorang memanggilku “Ajeng…!!!” ah tidak salah lagi itu suara Rani, dari arah kejauhan sambil turun dari mobilnya dia berjalan mendekatiku, langkah kakinya gemulai seperti seorang peragawati, emang sih Rani bercita-cita untuk menjadi seorang peragawati, menurutku pantas juga. “yang lain pada kemana jeng?… katanya ngumpul pagi?...” Tanya Rani “Paling masih pada molor….” Jawabku.. “tau gitu rani nggak bangun pagi-pagi, mana tadi cuma minum susu!.. “ rani menggerutu Sementara aku cuma cengar cengir menanggapinya, soalnya kalau lagi kesel tampang rani malah jadi lucu… Sementara rani masih disibukkan dengan kekesalannya, perhatianku tertuju pada sesosok tubuh yang sedang tekun berlari, langkahnya tetap dan pasti mencerminkan ia telah terbiasa berlari. Semakin dekat dia kearahku aku dapat memastikan dia adalah seorang anak perempuan sebayaku. “Ran…tuh liat.., gitu dong kalau olah raga” aku berucap “Emangnya apaan jeng?….” Rani setengah hati memperhatikan ucapanku “itu tuh masa sih nggak ngeliat, itu anak yang larinya kenceng!.., dari tadi aku peratiin larinya nggak berenti-berenti kok nggak ada capeknya sih?…” aku memastikan kepada rani sambil menunjuk kearah anak yang sedang berlari itu. “eh iya…gile juga tu anak, emangnya nggak capek apa lari kayak begitu.., udah berapa kali dia muterin lapangan jeng….” Akhirnya rani tertarik memperhatikan. “eh..nggak tau deh…, tapi kayanya dari tadi dia lari…” aku menjawab sekenanya. “wah itu si Tio jeng…” rani menunjuk kearah selatan “ iya..ya…, ngapain tu anak…olah raga ngurusin badan!” aku berkata asal “he…he mana bisa kurus dia, kalau ngeliatan makanan aja matanya celamitan..” rani berkata sambil tertawa. “ iya tuh ran, aku kalau makan siang disekolah nggak aman kalau ada dia…” aku menyahuti. “ha..ha.., jangan kan ajeng, rani juga gitu…, mesti makan ngumpet-ngumpet kalo ada dia..” Tio, adalah teman sekelas kita waktu masih kelas 7 dan 8, sekarang kami pisah kelas, lumayan kelas jadi nggak ribut, tapi kadang-kadang nggak enak juga habisnya tingkah tio terkadang lucu, lumayan jadi nggak buat ngantuk dan bosan dikelas, apa lagi celetuknya di kelas yang kadang buat perut lapar jadi kenyang. Anak perempuan yang tadi berlari saat ini sudah berhenti dia menggerak-gerakkan tubuhnya seolah melakukan senam pelemasan tubuh. Aku dan Rani berjalan kearahnya, sambil berjalan perlahan kami ngegosipin ulah Tio yang suka ngeselin kalau lagi ada maunya mengincar makanan bekal kami. “eh…kak ajeng Ya!…” sebuah suara lirih yang kukenal menyapa membuat aku menoleh kearah suara itu. “eh…sumi…ya…” ucapku “Ya…kak..” dia menjawab pendek Aku dan Rani beranjak mendekati sumi “Kak ajeng suka olah raga juga ?” sumi melemparkan pertanyaan kepadaku “ehh…sekali sekali sih…, kamu kuat banget larinya “ ucapku Itulah pertemuanku yang kedua dengan Sumi, saat itu aku melihat tubuhnya basah kuyup oleh keringat tapi senyum dan sederet giginya yang putih kembali meninggalkan kesan. Sebuah sabtu sore didepan rumah… Aku sedang menyiram bunga dipekarangan, papa dan mama suka merawat bunga, lucu juga mereka habisnya kalau ada bunga yang bagus, mereka sering berdebat mengakui bahwa bunga itu mereka yang merawat. “kak…Ajeng!” sebuah suara lirih menyapaku “eh.. sumi” aku setengah kaget menjawab Saat sumi seperti biasa menjajakan peyek, dan kami bertegur sapa, karena sudah beberapa kali bertemu sumi terlihat tidaklah canggung lagi, kami mengobrol agak lama, dari mulai berdiri dipinggir jalan depan rumah, sampai duduk diteras. Ternyata sumi, oleh sekolahnya sedang diprogram untuk menjadi atlit atletik, dua bulan lagi ia akan diseleksi, jika berhasil dia berhak mengikuti PORDA (Pekan Olahraga Daerah) mewakili kota kami. Sumi berharap dapat terpilih “Ada hadiahnya kak..” sumi berucap lirih, sambil matanya menerawang. “Aku ingin melanjutkan ke SLTA.., jika nanti aku terpilih dan menang, hadiahnya dapat dipakai untuk melanjutkan sekolah” lanjut dia berucap sambil menunduk. “wahh… hebat dong!…, kalau hadiahnya beasiswa kan lumayan sumi…” sahutku. “Iya.., hanya itulah satu-satunya harapan Sumi untuk menggapai cita-cita sumi untuk tetap bersekolah” ada kesan yang dalam waktu sumi mengucapkan itu, sampai aku sedikit terguncang haru. Sumi bercerita ia tinggal di Desa Pulau puter, sebuah tempat yang baru kudengar namanya, bahkan aku heran kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar nama daerah itu. “kalau senggang datanglah main ke desaku ya kak…, tapi rumahku gubuk…, hanya.. disana pemandangannya nyaman karena dikelilingi oleh sawah dan ladang” sumi menawarkan keakrabannya “wah…asyik juga tuh, iya deh…nanti kapan-kapan ajeng main kesana ya…” aku menanggapi Cerita tentang sumi aku ceritakan kepada teman-teman disekolah, mereka terdiam ketika aku bercerita tentang keadaaan sumi serta usahanya untuk meraih cita-citanya. Ada yang terasa kurang beberapa hari ini, padahal semua aktifitasku berjalan normal dan lancar-lancar saja. Hanya satu hal yang tidak ada…Sumi…., sudah hampir 2 minggu sumi tidak mampir kerumahku, awalnya tidak kurasa, tetapi ternyata sumi meninggalkan kesan didalam fikiranku. Sore, Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Aku dibonceng sepeda motor oleh kakakku, pada sebuah jalan tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang berjalan agak gontai dan dia adalah sumi!.. Aku meminta kakakku untuk menghentikan sepeda motornya. “…Sumi…!, sumi…!” aku berseru kearah sosok tubuh yang berjalan itu. Sumi berhenti dan menoleh, ada sesuatu yang berubah kulihat selintas dari raut wajahnya, ada sebuah kesedihan. Aku setengah berlari menghampirinya. “Sumi…, ah…kemana aja sih…kok nggak mampir kerumah, mama nanyain katanya stock peyek sudah habis tuh dirumah” aku nyerocos kearah sumi. “eh, kak ajeng” sumi tersenyum lirih Setelah dengan susah payah akhirnya aku berhasil membujuknya untuk kerumahku, diapun bersedia naik sepeda motor walaupun harus berbonceng tiga. Dirumah , sumi kuajak makan karena memang perutku keroncongan. Sumi kulihat sangat sedih bahkan setengah putus asa. Akhirnya aku mengetahui duduk permasalahnya yang tengah melanda sumi. ..Sepatu Sumi hilang !!!! Sepatu satu-satunya milik sumi hilang pada saat setelah dicuci lalu dijemur dipagar rumahnya. Sepatu itu bagi sumi merupakan alat yang dapat mewujudkan keinginannya untuk meraih mimpi dan cita citanya. Dan Sumi tidak memilki jalan untuk memperoleh sepasang sepatu karena tidak mampu untuk membelinya. “biarlah kak ajeng…, mungkin ini adalah jalan hidupku…, aku tidak dapat menggapai cita-citaku” sumi berujar lirih. Demikianlah pertemuan terakhir dengan sumi Siang hari, saat istirahat kedua. “gimana jeng…, sudah ada kabar tentang sumi..?” Nadi teman sekelasku bertanya padaku “iya jeng.., gimana si sumi?…, tumben nggak ada kabar tentang dia belakangan ini..” tanya Dinah.. Saat itu kami sedang duduk berkumpul diteras masjid yang terdapat dilingkungan sekolah. Aku diam tidak menjawab pertanyaan Nadi. Semua mata teman-temanku menatap kearahku menunggu jawabanku atas pertanyaannya. “eh..kenapa sih kalian semua kok melototin ajeng sih…?” aku cemberut kearah teman-temanku “ iya jeng…., gimana dong kabarnya sumi?…” Tanya Rani, mereka hampir serempak meliat kearahku. Aku tidak bisa menahan diri lagi, lalu aku menceritakan kondisi sumi pada saat terakhir aku bertemu dengannya. Beberapa saat suasana hening dan mencekam, mereka terbawa oleh fikiran dan perasaan mereka masing masing. “wah gile…gawat tuh!…” tiba-tiba tio menyeletuk sambil berjalan menggondol sarung di bahunya, yang baru saja selesai melaksanakan shalat Dzuhur. “apanya yang gawat?…, kamu itu asal ngomong gawat aja…, kaya tau aja!…” Rani menjawab sewot kearah tio. “Iyalah!… kan kasihan tuh si sumi, kalau dia nggak punya sepatu, dia nggak bisa ikut test lari, nah..kalau dia nggak ikut test…dia nggak bakalan terpilih jadi atlit…trus…, kalau dia nggak bisa jadi atlit…dia nggak bisa menang…kalau dia nggak menang dia nggak dapat hadiah…kalau dia nggak dapat hadiah…dia nggak bisa ngelanjutin sekolah…., itu gawat jadinya…” Tio gantian nyerocos berusaha memberi penjelasan dengan gayanya yang kocak. “Tumben lu mikir yo…, biasanya yang lu pikiran cuma makanan melulu..” Nadi nyeletuk sambil tangannya nunjuk kearah kepala tio. “emangnya lu pikir di otak gw cuma makanan apa!...” sahut Tio dengan ngotot. “udahlah.. yo…, ga usah sewot.., jangan bikin ribet deh…” tambah Dinah. “eh.. iya.. ya, sumi gawat tuh…” Rani bergumam seolah berbicara dengan dirinya sendiri. Kembali suasana menjadi hening semua teman-teman sepertinya kembali asyik berfikir sendiri-sendiri. “Aku punya ide nih…” tiba-tiba Dinah menyeletuk, pandangan kami semua mengarah kearah Dinah. Sudah tiga hari setiap sore, aku celingukan kearah ujung jalan rumahku, sesekali mataku menatap kearah sebuah kotak yang sudah kubungkus rapih dan kuletakkan diatas meja teras rumahku. Sumi…ya!.. aku menunggu sumi, tapi sumi tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Penantianku berujung pada kegelisahan, karena waktu terus berjalan sementara sumi tidak kunjung datang. Pada saat menjelang malam akhirnya aku membulatkan tekad untuk menemui Papa, seluruh cerita tentang sumi beserta rencanaku dengan teman-teman aku ceritakan kepada Papa. “oke..besok hari sabtu, kamu akan papa antar untuk mencari sumi kerumahnya, sekarang istirahatlah “ papa akhirnya berjanji untuk mengantarkanku kepada sumi. Ternyata jalan menuju desa sumi cukup jauh juga, bahkan aku tidak pernah berfikir dilingkungan kota tempat tinggalku masih ada sebuah desa seperti desa tempat tinggal sumi. Aku berasa berada pada benua yang lain, memang ada kenyamanan disitu tetapi yang aku tidak mengerti mengapa para penduduk desa masih menempati rumah-rumah atau tepatnya gubuk yang sebenarnya kurang layak untuk ditempati. Setelah bersusah payah bertanya kian kemari akhirnya aku dapat juga ditunjukkan arah oleh penduduk setempat menuju kerumah sumi. Didepan gubuk inilah aku berhenti , oleh karena salamku tidak ada yang membalas aku mencoba untuk sedikit berteriak memanggil sumi. Dari arah samping belakang rumah tiba-tiba seorang perempuan tua datang dan mendekat kearahku dengan wajah menunjukkan kekhawatiran. Perempuan tua itu sedemikian kurusnya, dia mengenakan pakaian kain yang dililitkan sebatas dada, sementara kepalanya ditutupi oleh handuk tipis dan kumal. “Assalamuallaikum “ aku menyapa “ Wa’alaikumsallam “ sahutnya suara ibu itu terdengar lirih dan bergetar “Ibu.. benar ini rumah sumi? “ aku bertanya dengan harap Kulihat ibu itu sejenak tertegun, matanya menatap tajam kearahku seolah ingin mengamati seluruh tubuhku dengan teliti. “kamu..ajeng?” dia berkata setengah berseru lirih “ya bu..saya ajeng “ ujarku Kembali dia diam tangannya bergerak seolah ingin menggapai kearahku, tetapi dia berusaha untuk tidak melakukannya. “Ibu..ibunya sumi?” aku bertanya memastikan Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya, hanya anggukkan kepala memastikan pertanyaanku, dan itu cukup membuat aku menjadi lega. “Sumi ada bu..?” kembali aku bertanya Kembali Ibu tua itu tidak menjawab, dia membalikkan badan dan tangannya melambai kearahku meminta aku untuk mengikutinya. Aku berjalan dibelakang ibu itu kearah belakang rumah, setelah melewati pematang sawah kami sampai ditanah berbukit kecil, ibu itu berhenti dibawah sebatang pohon menungguku. “Disitulah sumi nak..” ibu itu bergumam menunjuk kesebuah arah. Dibawah gerombolan pohon kembang sepatu yang dipenuhi bunga berwarna jingga dan putih, terhampar seonggok tanah yang kelihatan masih baru, aku tercekat dan melangkah mendekat. Sebuah kayu terpancang disitu dengan tulisan sederhana, sebuah nisan kayu!… Dan nama sumi tercantum disitu. Sejenak aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan, kardus yang terbungkus rapih yang kubawa dari rumah tanpa terasa kupegang erat. Perlahan aku merasa ada sesuatu yang panas mengalir dipipiku Aku berlutut, perlahan aku meletakkan kotak itu dibawah nisan kayu yang terpancang. Aku cuma bisa bergumam “sumi aku dan teman-temanku ingin memberimu sepasang sepatu ini” Mataku nanar menatap sekitarku, kulihat dilangit awan berlari berkejar-kejaran, dalam anganku kulihat sumi dengan sepasang sepatu baru berlari, memenangkan setiap lomba, berkejaran bersama awan. Ah!.., bagaimana aku harus menyampaikan berita ini kepada seluruh teman-teman disekolahku?.. “SELESAI” *Ku dedikasikan ceritaku untuk anak-anak sebayaku di Desa Pulau Puter, Desa terpencil didekat Kota dimana tempat aku tersesat hampir tak bisa pulang.

Sahabat by Vivied Sandra

Kulangkahkan kaki menuju pintu gerbang sekolah, udara pagi yang segar membuat Chaca mempercepat langkahnya. Chaca sangat kengen dengan ketiga sahabatnya yaitu Tiara , Mega , dan Nabilla. Sudah 2 minggu mereka tidak bertemu. Tujuan pertama Chaca adalah kantin sekolah karena setiap pagi mereka selalu betkumpul disana. Ditemuinya sahabat-sahabatnya di tempat biasa mereka duduk. Chaca langsung menghampiri mereka, mereka pun saling berpelukan melepas kengen dan mereka langsung bercerita panjang lebar. Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla sudah lama bersahabat sejak mereka SMP sampai sekarang mereka sudah SMA, mereka bisa dibilang sahabat sejati karena mereka saling mengisi dan saling melengkapi jika ada salah satu dari mereka sedang sedih mereka saling menghibur. Mereka juga kompak, kalau jalan bareng mereka pakai kaos, sepatu dan tas yang sama, wajah mereka juga mirip dengan rambut panjang sepunggung dan poni yang menyamping ke kanan, mereka memamg seperti anak kembar ya walaupun sebenarnya tidak. Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla juga aktif dalam berbagai bidang, seperti OSIS, pencinta alam, pramuka dan kegiatan lainya. Terakhir mereka malukukan camping di daerah puncak selama 1 minggu, walaupun mekeka terlihat feminin tapi mereka manyukai hal-hal yang menantang seperti flyingfox dari ketinggian 10m ya itulah mereka.. Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla juga tergabung dalam sebuah band dengan Chaca sebagai vokalis, Mega sebagai gitaris, Nabilla sebagai gitaris dan Tiara sebagai drummer. Nama band mereka adalah “Lucky Girl” nama ini diambil karena m,ereka beranggotakan perempuan semua dan agar terlihat sisi femininnya. Aliran band mereka adalah Pop mereka memilih Popkarena menurut mereka lagu Pop itu tidak terlalu kencang, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat ya biasa biasa aja dan mudah dinikmati apalagi untuk anak muda seperti mereka. “Lucky Girl” sudah sering tampil di berbagai acara seperti PENSI (pentas seni) tidak hanya PENSI sekolah mereka saja tapi di sekolah lain juga. Mereka pun membuat lagu sendiri, biasanya yamg membuat lagu Chaca atau Nabilla, yang membuat arransemen Tiara dan Mega. Saat tampil pun kostum mereka sama, biasanya mereka tampil memakai celana jeans, kaos, sweater atau jaket mereka tidak mau memakai kostum yang terlalu ribet, mereka sukanya yang simple dan mambuat mereka nyaman saat tampil di panggung. Samua ini yang membuat Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla dekenal oleh teman-teman satu sekolahannya, tidak hanya itu mereka juga dikenal oleh anak-anak dari sekolah lain. Tapi mereka tidak pernah sombong atau merasa cepat pus mereka tetap baik dan rendah hati. Keesokan harinya, seperti biasa Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla berkumpul di kantin sekolah tempat favorit mereka. lalu bel masuk pun berbunyi mereka segera memasuki kelas dalam perjalanan ke kelas mereka sempat mengobrol. “eh cepetan, ntar di marahin sama bu Hanna”, kata chaca. “iya chacaaa” kata mega, “duh males banget nih gue pagi-pagi pelajarannya bu Hanna, dah galak ngebosenin banget lagi ahh dasar nenek lampir!” gerutu tiara. “hahahahahaha parah banget lu” kata nabilla. Lalu mereka bergegas masuk kelas. Ya bu Hanna adalah salah satu guru yang tidak disukai oleh anak-anak terutama chaca,tiara,mega dan nabilla. Saat pelajaran bu Hanna suasana kelas pun jadi sunyi tidak ada yang berani berbicara satu pun karena kalau ada yang berbicara sedikit saja pasti dilempar pakai penghapus atau disuruh buat tulisan 5 lembar kertas HVS, maka dari itu tidak ada yang berani berbicara saat pelajaran bu Hanna.lalu bel pergantian pelajaran berbunyi bu Hanna pun meninggalkan kelas setelah bu Hanna keluar, kelas pun ramai sekali. “ah gila bete banget gue pelajaran bu Hanna”, kata mega. “sama gaa, apalagi kelas sunyi banget bikin ngantuk tauu”, kata chaca. “ada ya orang kayak bu Hanna? galaknya manta ampun” kata tiara, “tau tuh nyebelin banget banget” timpal nabilla. Pak Ari pun datang. Pak Ari adalah guru ekonomi, pelajaran yang sangat disukai oleh chaca,tiara,mega dan nabilla kerena pelajarannya asik dan pak Ari ngajarnya juga enak, santai dan engga ngebosenin. Lalu bel istirahat pun berbunyi, chaca, tiara, mega dan nabilla pergi ke kantin saat perjalanan terdengar terian yang memanggil mereka, “chaca, tiara, mega, nabilla!”, mereka ber empat pun menoleh ternyata teriakan itu berasal dari bu Indah wakil kepala sekolah. Mereka pun menghampiri bu Indah. “ibu panggil kita?”, kata tiara “ iya, kalian di panggil sama pak Haris.” Kata bu Indah, “ di panggil pak Haris? Ada apa bu?” kata chaca penasaran. “sudah nanti kalian juga tau, sekarang cepat ke ruangan pak haris, kalin sudah ditunggu, cepat”, kata bu Indah. Mereka pun bergegas ke ruangan pak Haris, satelah mereka masuk pak Haris langsung berbicara. “begini, minggu depan tanggal 18 september 2009 sekolah kita akan mengadakan PENSI, kalin sudah tau kan?” kata pak Haris panjang lebar. “iya pak” kata mereka ber empat. Lalu pak Haris melanjutkan pembicaraannya “ band kalian diminta untuk mengisi PENSI tersebut, kalian setuju?”. Chaca, tiara, mega dan nabilla pun berunding… “baiklah pak kami setuju” kata nabilla. “Oke, kalian bisa mulai latihan dari hari ini.” Kata pak Haris. “nyanyi berapa lagu ya pak?” tanya chaca, “2 buah lagu, lagunya disesuaikan dengan temanya ya.” Jawab pak Haris. “maaf pak temanya apa?” Tanya mega. “temanya Global Warming” jawab pak Haris. “baik pak” kata tiara. “Oh ya setelah istirahat selesai kalian tidak usah mengikuti pelajaran dulu, saya beri waktu kalian untuk mempersiapkan buat PENSI nanti.” Kata pak Haris panjang lebar. “oh iya pak” kata mereka ber empat. mereka pun keluar dari ruangan pak Haris dan menuju ke aula sekolah. Di aula mereka mulai mendiskusikan apa yang akan mereka tampilkan saat PENSI minggu depan, dari mulai lagu yang akan merka bawakan sampai kostum yang akan mereka pakai “kalau soal lagu, kita bawain lagu andalan kita aja, biar gampang. Soalnya kita Cuma punya waktu 1 minggu dan enggak mungkin kita buat lagu dalam satu minggu” kata tiara panjang lebar. “ya bener juga tuh kata tiara waktunya enggak bakal cukup untuk buat lagu.” Kata nabilla meyakinkan. “kalau soal kostum gimana?” Tanya mega, “kita pake kostum kayak biasa aja tapi warnanya hijau, kan temanya ‘global warming’” kata chaca. “okeoke” kata mega. “kita mulai latihan kapan nih? Dimana?” tanya tiara. “dirumah gue aja, tapi mulai latihannya mulai besok aja yah, tempatnya mau dibersihin dulu.” Kata chaca. “ada makanannya kan cha?” kata mega “ bener tuh, makanan tuh penting tau ntar kalau engga ada makanan terus kita pingsan gimana?” kata tiara , “makanan tuh nomor 1” sambung mega sambil tertawa. “ah lo semua mah makanan mulu, haha iya deh gampang soal makanan mah asalkan jangan ada yang ngaret yah, tepat waktu biar kita bisa tampil maksimal di PENSI nanti. Oke!” kata chaca panjang lebar. “okeeeee” kata tiara, mega dan nabilla. Keesokan harinya mereka berempat baerangkat bersama-sama ke sumah chaca. Sesampainya di rumah chaca mereka istirahat dulu baru mulai latihan. “tiara, mega ayo dong latihan. Makan mulu lo dari tadi” kara chaca. “tau nih ntar kalau kekenyangan gak bisa latihan lagi” tambah nabilla. “iyeeee” kata tiara sambil mengunyah donat. “iya bawel deh lu berdua” kata mega. Mereka pun mulai latihan. Mereka latihan begitu serius, ya memang setip latihan mereka selalu serius karena mereka ingin memberikan yang terbaik saat tampil. Keesokan harinya, mereka datang ke sekolah bersama-sama seperti, biasa tujuan pertama mereka adalah kantin. “eh PENSI berapa hari lagi sih?” Tanya tiara. “emangya kenapa ra?” kata nabilla. “paling dia mau liat cowo-cowo cakep, iya kan ra?” tebak chaca. “hahaha iya dong, kan biasanya kalau di PENSI banyak cowo-cowo cakepnya, lumayan cuci mata ahahaa” jawab tiara sambil tertawa. “udah ketebak lu mah, di pikiran lo kan Cuma ada makanan sama cowo doing bahahahaha” kata mega. Mereka berempat pun tertawa. Saat istirahat mereka berkumpul di aula untuk latihan. Ya sekolah juga mempunyai peralatan band ya walaupun tidak selengkap degan peralatan dirumah chaca. Ayah chaca adalah seorang musisi pantas saja bakat ayahnya menurun pada chaca. Mereka pun mulai latihan. Tapi saat latihan mega terlihat lesu dan tidak bersemangat. “ga lo kenapa kok g semangat sih?” Tanya nabilla, mega menjawab “engga apa apa kok”. “lo lagi ada masalah ga? Cerita dong sama kita” kata chaca, “iya jangan lo pendem sendiri kita kan sahabat” tambah tiara. “engga kok, gue engga ada masalah bener deh” kata mega meyakinkan. “bener ga? Tapi kok lo engga kayak biasanya sih? Jujur deh sma kita kita” desak chaca. “iya cerita dong” kata tiara dan nabilla. “beneran, gue cumin capek aja semalem kurang tidur jadi agak lemes sama ngantuk” kata mega meyakinkan. “yaudah lo cuci muka aja biar seger, kan latihan kita bisa jadi lebih focus latihan.” Kata nabilla. “iya deh” kata mega. Mega pun pergi ke toilet untuk cuci muka, setelah itu mereka melanjutkan latihan kembali. Latihan hari itu pun selesai. Keesokan harinya mega tidak masuk sekolah, tiara, chaca dan nabilla bingung kenapa mega tidak masuk hari itu. Nabilla coba menghubungi mega. “hallo, ga kenapa hari ini enggak masuk?” Tanya nabilla, “tadi gue kesiangan bangun bil, jadi engga masuk deh. maaf y ague enggak ngasih kabar ke kalian.”, “iya engga apa apa. Eh sekarang lo kerumah chaca ya, biasa latihan” ajak nabilla. “duh maaf bil hari ini gue engga bisa ikut latihan, gue harus jagain adek gue soalnya nyokap sama bokap lagi pergi. Maaf yah” kata mega. “yaudah deh. Besok aja latihannya.” Kata nabilla sambil mengakhiri pembicaraannya dengan mega. Hari hari berikutnya mega juga tidak masuk sekolah chaca coba menghubungi mega tetapi handphone mega tidak aktif . chaca, tiara dan nabilla bingung Ada apa dengan mega? Kenapa mega jadi sering tidak masuk sekolah tanpa kabar? Apa dia ada masalah? Tapi kenapa di tidak cerita ke kita? Beberapa pertanyaan mengitari kepala chaca, tiara dan nabilla. Saat pulang sekolah chaca, tiara dan nabilla memutuskan untuk kerumah mega, tetapi setelah mereka sampai di rumah mega tidak ada yang menyaut rumahnya begitu sepi dan terlihat tidak ada orang. “assalamualaikum” sapa tiara sambil mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang menjawab. “kayaknya engga ada orang deh ra” kata chaca. “iya sepi banget rumahnya, mobilnya juga engga ada, pergi mungkin.” Kata nabilla. Akhirnya chaca, tiara dan nabilla pun pulang tanpa mengetahui kabar dari mega, latihan pun dibatalkan karna tidak ada mega. Sejak mega tidak masuk latihan band mereka tidak di laksanakan. “mega kemana yah? Apa dia ada masalah? Tapi kok dia engga cerita sama gue,tiara dan nabilla biasanya kan dia cerita. duh mana bentar lagi PENSI kita baru latihan 2 kali” Kata chaca dalam hati, chaca pun coba menghubungi mega lagi tetapi, hp mega tidak bisa dihubungi. keesokan harinya saat chaca mau berangkat kesekolah, chaca menemukan sebuh kotak didepan pintu rumah chaca, chaca menengok sekitarnya “hmm tidak ada orang, siapa yang taruh ini ya?” kata chaca. Karena penasaran chaca langsung membuka kotak itu, dan isinya adalah surat dan ternyata surat itu dari mega, isinya. “chaca, tiara, nabilla maaf banget yah udah beberapa hari ini aku engga ada kabar sama kalian. Bukan maksud aku untuk menjauh dari kalian tapi, sekarang aku lagi ada masalah yang penting banget dan aku butuh waktu untuk sendiri, aku engga bisa cerita sama kalian karna aku engga mau kalian terlibat dalam masalah aku. Sekali lagi aku minta maaf yah. Oh ya satu lagi aku engga bisa ikut PENSI, jadi kalian cari aja pengganti aku buat PENSI nanti. Untuk yang terakhir kali aku minta maaf yah.”. chaca meneteskan air mata dan segera dia pergi kesekolah untuk memberi tahu nabilla dan tiara. Sesampainya disekolah chaca langsung menemui nabilla dan tiara yang berada dikantin. “eh baca nih surat dari mega” kata chaca. Lalu nabilla dan tiara membaca surat tersebut, merka berdua kaget dan tidak menyangka. “lo depet dari mana cha?” Tanya tiara, “tadi pas gue mau berangkat sekolah, gue nemuin kotak ini di depan puntu rumah gue, dan pas gue baca ternyata surat itu dari mega.” Jawab chaca. “terus sekarang mega dimana dong?” Tanya nabilla “ya gue juga engga tau bill” jawab chaca. “eh gamana kalu entar pulang sekolah kita kerumah mega lagi?, siapa tau dia pas ada dirumah. Gimana?” usul tiara. Nabilla dan chaca pun setuju dan mereka sepakat kalau nanti setelah pulang sekolah mereka akan kerumah mega, dan berharap kalau mega ada dirumah dan mau bercerita dengan mereka, agar semua masalaha bisa cepat terselesaikan dan mereka bisa latihan band lagi nutuk PENSI nanti. Saat bel pulang berbunyi nabilla,chaca dan tiara langsung bergegas ke rumah mega. Sesampainya dirumah mega mereka langsung mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “assalamualaikum” sapa chaca dan ternyata ada yang menjawab, lalu pintu pun terbuka dan yang membuka pintu adalah mega sendiri. Mega kaget dan langsung menutup pintu tetapi ditahan oleh tiara, nabilla dan chaca. Setelah didesak oleh chaca,nabilla dan tiara akhirnya mega pun mau bercerita. “jadi gini, gue lagi ada masalah keluarga, nyokap sama bokap gue kemaren bertengkar hebat sampai sampai mereka bicara ingin bercerai dan mereka bilang gue mau ikut nyokap atau bokap. Gue engga jawab karna gue ingin tinggal bersama nyokap dan bokap gue, gue langsung lari ke kamar dan mengunci diri. Sejak saat itu gue engga masuk sekolah.” Kata mega sambil menangis. Chaca cobe menenangkan mega “ya tapikan lo bisa cerita ke kita, kita kan sahabat kita pasti bantu masalah lo kok.” , “ya tapi saat itu gue bener bener sedih banget.” Tambah mega. “oh ye kemarin lo pergi ya? Kita kemarin kesini tapi engga ada orang yang jawab.” Tanya nabilla. “engga kok gue ada dirumah, gue sengaja engga keluar, karna gue masih belum siap. Maafin gue ya semua” kata mega. Chaca,nabilla dan tiara menjawab “iya kita maafin lo kok, tapi lain kali kalu lo punya masalah cerita ke kita ya. Kita pasti bakalan Bantu lo ko.” Lalu mama dan papa mega pulang, anehnya mereka pulang berdua sambil tersenyum dan bergandengan tangan. “mama papa?” Tanya mega heran. “iya saying? Oh ya mama sama papa udah baikan. Kita sama sama sadar kalau kemarin kita egois hanya mementingkan diri sendiri tanpa mementingkan perasaan kamu. Mama minta maaf yah” kata mamanya mega sambil memeluk mega. “ya papa juga minta maaf ya” kata papanya mega mereka pun berpelukan, dan masalah mga pun selesai. Besoknya mega sudah masuk sekolah lagi, dan mereka pun mulai latihan band kembali. Saat PENSI pun tiba, mereka tampil dengan maksimal dan dapat sambutan yang baik dari penonton. Dan mereka pun dapat pelajaran dari kejadian kemarin kalau sesama sahabat itu harus saling terbuka, karena sahabat itu akan selalu ada disaat kita membutuhkannya.

Pencarian Terakhir by Shanty Kusuma Jayanti

Suatu hari ada seorang anak yang bernama Rendy,dia mempunya kakak yang bernama Shinta.Mereka hanya dua bersaudara dan mereka hanya tinggal berdua,karena orang tuanya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan Pesawat.”kak gue mau pergi sama temen-temen naik gunung,mau ngisi liburan”kata Rendy sambil gaya juteknya.Kakaknya hanya diam dan mengizinkan dia pergi,karena walau kak Shinta melarang dia,dia tetap akan pergi.Rendy akhirnya menyiap-nyiapkan barang yang mau di bawanya.Rendi langsung menelpon teman-temannya agar besok sudah kumpul di terminal jam 6 pagi. Tak terasa sudah pagi,dia langsung bergegas mandi dan mengecek barang bawaanya. Akhirnya dia berangkat di antar kakaknya ke stasiun,setiba di sana ternyata teman-teman Rendy sudah bekumpul.Bus pun datang mereka langsung memasuka barang mereka ke bus dan mereka berpamitan dulu dengan kak Shinta,setelah berpamitan mereka langsung berangkat.3 jam lah waktu yang mereka tempuh untuk menuju gunung.Sesampai disana mereka melapor ke pos pertama untuk mendaftarkan nama mereka dan dipos 1 mereka di beri petunjuk untuk setiap perjalanan mereka wajib melapor ke tiap pos.Tapi tak di sangka mereka tidak menghiraukan prosedur yang harus di lakukan selama perjalanan agar mereka tidak tersesat.Selesailah prosedur itu di bacakan oleh Pembina,mereka langsung melakukan perjalanan.Teman-teman Rendy berjumlah 6 yaitu Tasya,Manda,Nila,Vero,Dano dan Putra. Selama perjalanan mereka mebagi tugas merek masing-masing Tasya meninggalkan bendera di tiap-tiap pohon yang merek lewati,Manda sebagain bagian konsumsinyaa,Nila membawa peralatan seprti keker/teropong supaya bisa melihat langit dari gunung dan 4 cowok sebagian menjaga depan dan belakang dan 1 di antaranya memegang kompas.1 jam perjalanan mereka tempuh,dan mereka yang seharusnya melapor ke pos 2,mereka malah mengabaikanya,padahal penjaga di pos 2 sudah menunggu dan akan mengabari ke pos 1.Mereka langsung melanjutkan perjalanan,dan tak terasa matahari mulai tenggelam. Akhirnya mereka beristirahat,bagian yang cowok memasang tenda,yang putri bagian membuat makanan.Setelah selesai memasang tenda dan membuat makanan,mereka langsung beristirahat,tetapi salah satu dari mereka ada yang mengajak untuk acara minum,dia bawa 3 botol bir,dan mereka mabuk-mabukan di sana.Tanpa terasa pagi pun tiba,mereka langsung berkemas-kemas dan siap untuk melanjutkan perjalanan.Pos 2 merasa kebingungan karena mereka belum kunjung juga ke pos itu,akhirnya pos 2 langsung mengabari pos 1 bahwa mereka belum sama sekali terlihat.Pos 1 pun langsung mengabari ke pos-pos lainya,bahwa siapa yang melihat Rendy dan teman-temanya untuk melapor ke pos ke pos 1. Selama perjalanan mereka sama sekali tidak melapor,yang pada saatnya mereka melapor ke pos 3,mereka malah mengabaikanya dan terus jalan sambil bersenang-senang.Pos 3 langsung mengabari ke pos 1 bahwa mereka tidak mengunjungi ke pos 3.Hujan pun turun dan perjalanan mereka di tunda dan mereka berteduh.Sambil mereka berteduh,ada 2 jalan yang harus mereka jalani dari salah sati itu,waktu Vero mengecek kompas,tiba-tiba kompasnya rusak,berputar-putar entah ke selatan,utara,barat,timur.Karena saking mereka kebingunan mereka pun berdebat untuk voting memilih salah satu jalan,kanan atau kiri?dan mereka pun saling berdebat,4 memilih sebelah kanan yaitu Vero,Tasya,Rendy,Nila dan 2 memilih kiri yaitu Manda dan Dano.Akhirnya mereka berpencar,dan satu sama yang lainya saling tak yakin,tapi akhirnya mereka tetap melanjutkan perjalanan,dan sampai akhirnya mereka tidak menemukan pos selanjutnya.Jalan yang benar sebenarnya ke arah kiri.Manda dan Dano terus berjalan yang sampai akhirnya mereka menemumkan gubuk yang did dalam gubuk itu berisi sesajen.Dan Dano pun terasa lapar dan ingin memakan sesajen itu yang berisi daging dan buah,akhrinya Dano mengambil dan menawarkan pada Manda,Manda menolak karena dia takut ada penghuni di dalam gubuk itu. Manda tak berani masuk ke gubuk hanya Dano saja yang masuk dan memakan sesajen itu.Dengan bujukan Dano,akhirnya Manda mau masuk ke dalam gubuk itu.Disana mereka beristirahat selama 2 jam.Waktu Manda bangun Manda ingin melihat apakah Dano masih ada di samping dia?tapi ternyata