Rabu, 25 Januari 2012

Kue Bulat by M Armadiva Iskandar

Dahulu kala, hiduplah seorang Bapak dan Ibu yang tinggal di rumah yang kecil. Suatu pagi, Ibu membuat kue khas desa itu. Kue bulat namanya. Ia meletakkan kue bulat itu di wadah pemanggang. Lalu memangganya di atas kompor. Ia berkata pada Bapak,”Aku akan keluar untuk mengambil susu sapi. Kalau sudah matang, tolong dibalik ya, Bapak!” Bapak itu agak malas. Ketika Kue Bulat sudah matang, ia berteriak,”aduuuh, malasnya aku! Aku harus berdiri dan membalik Kue bundar itu!” “Aku akan membalik diriku sendiri!”kata suara dari kompor. Bapak sangat terkejut di tempat tidurnya. Apalagi saat ia melihat Kue Bundar melompat dari wadah. Kue Bulat lalu bergerak cepat sekali. Ia berlari keluar rumah, turun ke halaman, lalu melompat-lompat kesana-kemari. Bapak berteriak marah,”Kue Bulat, tunggu!tunggu!” teriakan Bapak yang keras membuat Ibu kaget. Ibu meninggalkan embernya yang berisi susu sapi. Ia lalu ikut bersama Bapak mengejar Kue Bulat. Namun Kue Bulat berlari sangat cepat. Akhirnya Bapak dan Ibu tertinggal jauh dan mereka sangat sedih, karena kue pertamanya kabur entah kemana dan mereka terduduk lelah di tepi jalan. Dalam pelariannya, Kue Bulat bertemu dua kuli bangunan. Kuli bangunan itu berkata,”kau mau kemana,Kue Bulat?” Kue Bulat berteriak, “Aku berhasil lolos dari Bapak dan Ibu. Aku juga bisa lolos dari kalian berdua!” “Oya?Ayo kita buktikan!” kata dua kuli bangunan itu. Mereka melempar alat bangunan itu lalu mereka mengejar Kue Bulat. Tapi percuma saja, karena Kue Bulat menggelinding cepat sekali. Kedua kuli bangunan itu terduduk di tepi jalan. Di perjalanan, Kue Bulat bertemu dengan Beruang. “Kamu mau ke mana Kue Bulat?” Tanya Beruang. “Aku berhasil lolos dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan. Aku juga bisa lari dari kamu!” “Ayo kita buktikan!” tantang beruang. Ia lalu berlari secepat mungkin. Kue Bulat pun berlari tanpa menoleh ke belakang. Tak lama kemudian Beruang sudah tertinggal jauh. Ia lelah dan terduduk di tepi jalan dan menyerah mengejar Kue Bulat, lalu setelah menggelinding beberapa saat kemudian, Kue Bulat bertemu dengan Anjing.”Mau kemana kamu, Kue Bulat?” tanya Anjing. “aku bisa lari dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,dan dari Beruang. Aku juga bisa lari dari kamu anjing!” “Oyaa, sok tahu kamu, emang kamu bisa?Ayo kita buktikan!” tantang Anjing lalu ia mengejar Kue Bulat menggelinding lebih cepat di jalan yang menurun. Akhirnya Anjing kehabisan stamina dan menyerah dengan rasa lelah. Ia terduduk lelah di tepi jalan. Kue Bulat sangat senang bisa mengalahkan Anjing. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Rubah. “Kamu mau kemana, Kue Bulat?” Sepertinya kamu sangat senang sekali!” “Aku bisa lolos dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing. Aku juga bisa lari dari kamu!” “Agh sok tahu kamu!” “Ayo kita buktikan!” kata Si Rubah. Lalu Rubah berlari dengan secepat mungkin, tapi Kue Bulat sudah terlau jauh untuk dikejar. Rubah tertinggal jauh dan lansung terdiam di tepi jalan. Dengan sifat sombong itu dia berjalan dengan penuh kegembiraan. Karena Kue Bulat sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah. Tapi di suatu tempat ia bertemu dengan pengemis yang kelaparan. “Wah ada kue enak nih!” “Makan ah!”. Kata pengemis itu.”Enak aja!”, dasar pengemis!”.Kata Kue Bulat. Lalu pengemis itu marah dan mendoakan Kue Bulat supaya dia di perjalanan dapat masalah yang sangat besar, lalu pengemis itu langsung menghilang. Setelah itu Kue Bulat kaget dan cemas. “Aduhh, gimana nih!”. Kata Kue Bulat. Lalu kue bulat melakukan perjalanan lagi untuk mencari penantang berlari yang bisa mengalahkan dia, walaupun dia mendengarkan perkataan pengemis tadi dia tetap saja sombong. Tak lama kemudian ia bertemu dengan tikus.”Hai Kue Bulat mau kemana kamu!”. Kata Tikus itu.”Aku sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,dan Rubah”. Kata Kue Bulat. “Aku juga bisa mengalahkan kamu!”.”Ayo kita buktikan!”. Kata Tikus itu. Lalu tikus itu langsung berlari dengan sangat lincah, tapi Kue Bulat tidak terkalahkan dan langsung melesat sekencang kuda.”Wahh hebat sekali Kue Bulat, padahalkan dia cumin kue biasa yang Cuma bisa memamerkan kesombongannya?” kata tikus. “Hahahahahahaha!” kata Kue Bulat. Lalu Kue Bulat meneruskan perjalanannya lagi, lalu orang-orang di sana mulai tahu kalau Kue Bulat adalah kue yang sombong. Saat mendengar berita itu Kue Bulat tetap saja menyombongkan diri di hadapan semua orang, jadi orang-orang sangat membenci kue bulat dan ingin mengusir Kue Bulat dari desa itu selama-lamanya, lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi dengan wajah yang selalu gembira bahwa ia paling hebat di desa itu, di tengah perjalanannya ia bertemu dengan Kucing yang sangat hebat, walaupun ia hebat, tapi dia tidak menyombongkan diri seperti Kue Bulat dan berita itu mulai menyebar luas sampai terdengar oleh Kue Bulat, setelah mendengar berita itu ia marah dan sangat kesal mendengar berita itu, karena ia tidak mau ada yang menyaingi kehebatannya di desa itu dan ia pikir ia yang paling hebat di desa itu dan tidak ada yang menyainginya, jadi dia langsung mendatangi Kucing itu dengan penuh amarah.”Kamu mau kemana, Kue Bulat?” kata kucing itu. “Aku sudah lari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah, dan Tikus sekalipun.”Ooooooooo, begitu. Jadi?”. Aku tak bisa dengar suaramu, Kue Bulat! Apa kamu bisa lebih dekat lagi kesini?” Kata Kucing dengan suara yang lembut,sambil memanjangkan lehernya ke arah Kue Bulat. Kue bulat semakin mendekat ke Kucing itu. “Apa sih maumu!” “Oke,oke aku katakana lagi!”. “Aku sudah berlari dari Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah,Tikus. Aku juga bisa mengalahkanmu!”. Kata Kue Bulat. “Maaf aku tak dengar lagi!”, “Coba mendekat lagi!”. Kata Kucing itu dengan sabar menunggu Kue Bulat mendekat ke Kucing itu.” Satu kali lagi ya!” “Awas kalau tidak dengar lagi!”. Kata Kue Bulat itu dengan suara yang sangat keras dan ia mulai marah.”Aku sudah mengalahkan Bapak,Ibu,Kuli bangunan,Beruang,Anjing,Rubah,dan Tikus yang sangat lincah itu!” kata Kue Bulat. “Oke kalau kamu menantang saya , mari kita buktikan!” kata Kucing. Lalu Kue Bulat lansung berlari dengan sekencang mungkin, lau ia melihat ke belakang.”Hahahahahah!”. “ Mana kekuatanmu kucing katanya hebat!” . Kata Kue Bulat dengan muka yang begitu sombong, dan Kucing tersenyum melihat Kue Bulat berlari dengan kencang. “Kenapa kau melihatku seperti itu!”. Kata Kue Bulat dengan suara yang keras sekali sampai orang-orang pum kaget mendengar suara Kue Bulat itu dan melihat pertandingan itu.”Akan ku kejar kau!” kata Kucing itu dengan penuh semangat.”Heh coba saja!”kata Kue Bulat dengan suara yang sombong, dalam sekejap Kucing itu langsung mendekati Kue Bulat dengan kecepatan ninja dan menatap Kue Bulat dengan tersenyum. “Apa!”. Kata Kue Bulat dengan cemas, setelah itu mulut Kucing itu menganga dengan lebar dan siap memakan Kue Bulat “Tidak jangan!”. Kata Kue Bulat. Dan Hap! Kucing itu langsung menelan Kue Bulat dengan gembira. “Horeeee!”. Kata penduduj desa dengan senang sekali dan mengangkat Kucing itu dan melemparkannya ke atas dan kebawah, lalu mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan hari kejayaan mereka, karena Kue Bulat sudah tidak ada. Tak lama kemudian yang di kalahkan Kue Bulat pun juga ikut datang.” Wah ada apa ini, meriah sekali!”. Kata Bapak dan Ibu dengan kagum.”Ini perayaan musnahnya Kue Bulat di desa ini!”. Kata salah satu warga di pesta itu.”Kami turut beduka atas kematiannya itu!”. Kata Bapak dan ibu dengan sedih. “Sudahlah Pak,Bu dia memang pantas di musnahkan karena dia sudah melecehkan desa ini dan menjelek-jelekan desa ini!”Kata Kucing dengan suara yang sangat tulus. “ Betul juga yaa!” kata Bapak dan Ibu dengan bahagia sekali. Semenjak pesta itu berlangsung tidak ada masalah apapun di desa itu dan orang-orang di desa itu sangat bahagia sekali karena Kue Bulat bisa dikalahkan juga oleh Kucing yang baik hati dan tidak sombong itu, terus juga bagi Kucing itupun ia juga sangat senang bisa mengalahkannya dengan cara yang cerdik dan cukup efektif untuk mengalahkan Kue Bulat itu, setelah itu Beruang dan yang telah dikalahkan oleh Kue coklat pun turut senang atas musnahnya Kue Bulat yang sonbong dan tidak punya perasaan. Dan itulah akibat dari orang yang sombong. Setelah pesta besar-besaran orang-orang itu dan juga yang di kalahkan oleh Kue Bulat itu pun pulang dengan hati yang lega dan sangat senang sekali melihat dan mengetahui peristiwa itu seolah-olah warga di desa itu tidak percaya bahwa Kue Bulat itu musnah untuk selama-lamanya dari kehidupan warga di desa itu. Jadi kita tidak boleh menyombongkan diri kepada oaring lain maupun diri kita sendiri karena itu semua akan merugikan diri kita sendiri dan juga orang lain yang kesal pada perbuatan itu sendiri. Dan juga tuhan akan membnenci kita dan menghukum kita jika kita melakukan perbuatan itu.

Sepasang Sepatu untuk Sumi by Ajeng Wahyu Lestari

Pelan pelan aku mengetuk pintu rumah itu, sebenarnya tidaklah tepat jika disebut rumah, karena bangunannya terbuat dari potongan kayu yang sudah ditambal disana sini karena telah berlubang, tambalannya pun berupa macam bentuknya dan jenisnya, ada kayu, kertas, potongan plastik, bahkan seng-seng yang sudah berkarat tertempel menghiasi dindingnya… “Assalammuallaikum….” Aku berseru… Tetap saja tidak ada jawaban dari dalam…. “Sumi…, ibu….sumi…..” aku berteriak mengeraskan suara… Tidak juga ada sahutan dari dalam rumah itu Kutajamkan pendengaranku “…sumi…, sumi….ibu…ibu…” aku mengulangi teriakanku.. Perkenalanku dengan sumi terjadi beberapa bulan yang lalu, saat itu aku sedang duduk diteras rumahku, sementara diluar sedang turun hujan gerimis, saat itu aku sedang asyik memandangi ikan ikan yang berenang dikolam kecil disudut teras rumahku. Gerakan- gerakan mereka yang lucu seolah sedang bermain saling menggoda, membuat aku terkadang tersenyum geli… “Assalamualaikum…” tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sesorang yang memberi salam. Saat aku menoleh kedepan pintu pagar aku melihat seorang anak sebayaku berdiri…, ditangannya menggenggam tas kantong kresek. “Wa’alaikumsalam” aku membalas sapa anak itu. “Ada apa..ya…” ujarku “mau beli peyek kak?….” Gadis kecil itu berujar “aduh… gimana ya…” aku menjawab lirih “belilah kak, ini masih tersisa dua bungkus…” gadis itu sedikit merayu “ah… itu hujan, masuklah dulu…” ucapku “tidak apa kak,… beli ya kak…” gadis itu berucap gigih Titik hujan semakin membesar, sesekali kilat mencoba menerangi langit yang semakin menggelap Aku tergesa membuka pintu pagar dan mempersilakan dia masuk “ayolah nanti kita kebasahan nih.” Ujarku. Selanjutnya kita atau lebih tepatnya aku banyak mengajak dia berbicara, sementara dia hanya menjawab seperlunya saja. Saat itulah aku mengenal namanya sumi, sebuah nama yang singkat tapi lumayan enak juga didengar, dia saat ini sebenarnya masih bersekolah dan duduk dikelas 2 SMP, dia tidak mempunyai adik dan kakak serta tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sumi tidak pernah mengenal ayahnya sementara ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Itulah pertemuan pertamaku dengannya, yang tersisa dari pertemuan itu adalah kesanku bahwa sumi seorang gadis yang santun, memiliki sederet gigi putih serta senyuman manis. Hari minggu pagi, Cuaca cerah, aku bangun dan berkemas…, pagi ini aku telah berjanji dengan teman-teman sekolahku untuk bertemu di lapangan alun alun kota, untuk berolahraga. Sebenarnya jarak dari rumahku ke alun alun lumayan juga, makanya aku meminta tolong kepada kakakku untuk diantar, awalnya kakak laki-lakiku agak keberatan namun berkat sogokkan sebungkus cokelat dia tidak kuasa untuk menolak permintaanku. Jam 6.00, alun-alun kota, lumayan juga banyak orang beraktifitas, ada yang hanya berjalan, berlari lari kecil, sekelompok anak-anak kecil asyik bermain bola dengan suara riuh. Aku duduk dibangku taman dan merapikan tali sepatu, sesekali aku celingukan mencari teman-temanku, tapi belum ada yang terlihat batang hidungnya. Tidak lama kemudian suara seseorang memanggilku “Ajeng…!!!” ah tidak salah lagi itu suara Rani, dari arah kejauhan sambil turun dari mobilnya dia berjalan mendekatiku, langkah kakinya gemulai seperti seorang peragawati, emang sih Rani bercita-cita untuk menjadi seorang peragawati, menurutku pantas juga. “yang lain pada kemana jeng?… katanya ngumpul pagi?...” Tanya Rani “Paling masih pada molor….” Jawabku.. “tau gitu rani nggak bangun pagi-pagi, mana tadi cuma minum susu!.. “ rani menggerutu Sementara aku cuma cengar cengir menanggapinya, soalnya kalau lagi kesel tampang rani malah jadi lucu… Sementara rani masih disibukkan dengan kekesalannya, perhatianku tertuju pada sesosok tubuh yang sedang tekun berlari, langkahnya tetap dan pasti mencerminkan ia telah terbiasa berlari. Semakin dekat dia kearahku aku dapat memastikan dia adalah seorang anak perempuan sebayaku. “Ran…tuh liat.., gitu dong kalau olah raga” aku berucap “Emangnya apaan jeng?….” Rani setengah hati memperhatikan ucapanku “itu tuh masa sih nggak ngeliat, itu anak yang larinya kenceng!.., dari tadi aku peratiin larinya nggak berenti-berenti kok nggak ada capeknya sih?…” aku memastikan kepada rani sambil menunjuk kearah anak yang sedang berlari itu. “eh iya…gile juga tu anak, emangnya nggak capek apa lari kayak begitu.., udah berapa kali dia muterin lapangan jeng….” Akhirnya rani tertarik memperhatikan. “eh..nggak tau deh…, tapi kayanya dari tadi dia lari…” aku menjawab sekenanya. “wah itu si Tio jeng…” rani menunjuk kearah selatan “ iya..ya…, ngapain tu anak…olah raga ngurusin badan!” aku berkata asal “he…he mana bisa kurus dia, kalau ngeliatan makanan aja matanya celamitan..” rani berkata sambil tertawa. “ iya tuh ran, aku kalau makan siang disekolah nggak aman kalau ada dia…” aku menyahuti. “ha..ha.., jangan kan ajeng, rani juga gitu…, mesti makan ngumpet-ngumpet kalo ada dia..” Tio, adalah teman sekelas kita waktu masih kelas 7 dan 8, sekarang kami pisah kelas, lumayan kelas jadi nggak ribut, tapi kadang-kadang nggak enak juga habisnya tingkah tio terkadang lucu, lumayan jadi nggak buat ngantuk dan bosan dikelas, apa lagi celetuknya di kelas yang kadang buat perut lapar jadi kenyang. Anak perempuan yang tadi berlari saat ini sudah berhenti dia menggerak-gerakkan tubuhnya seolah melakukan senam pelemasan tubuh. Aku dan Rani berjalan kearahnya, sambil berjalan perlahan kami ngegosipin ulah Tio yang suka ngeselin kalau lagi ada maunya mengincar makanan bekal kami. “eh…kak ajeng Ya!…” sebuah suara lirih yang kukenal menyapa membuat aku menoleh kearah suara itu. “eh…sumi…ya…” ucapku “Ya…kak..” dia menjawab pendek Aku dan Rani beranjak mendekati sumi “Kak ajeng suka olah raga juga ?” sumi melemparkan pertanyaan kepadaku “ehh…sekali sekali sih…, kamu kuat banget larinya “ ucapku Itulah pertemuanku yang kedua dengan Sumi, saat itu aku melihat tubuhnya basah kuyup oleh keringat tapi senyum dan sederet giginya yang putih kembali meninggalkan kesan. Sebuah sabtu sore didepan rumah… Aku sedang menyiram bunga dipekarangan, papa dan mama suka merawat bunga, lucu juga mereka habisnya kalau ada bunga yang bagus, mereka sering berdebat mengakui bahwa bunga itu mereka yang merawat. “kak…Ajeng!” sebuah suara lirih menyapaku “eh.. sumi” aku setengah kaget menjawab Saat sumi seperti biasa menjajakan peyek, dan kami bertegur sapa, karena sudah beberapa kali bertemu sumi terlihat tidaklah canggung lagi, kami mengobrol agak lama, dari mulai berdiri dipinggir jalan depan rumah, sampai duduk diteras. Ternyata sumi, oleh sekolahnya sedang diprogram untuk menjadi atlit atletik, dua bulan lagi ia akan diseleksi, jika berhasil dia berhak mengikuti PORDA (Pekan Olahraga Daerah) mewakili kota kami. Sumi berharap dapat terpilih “Ada hadiahnya kak..” sumi berucap lirih, sambil matanya menerawang. “Aku ingin melanjutkan ke SLTA.., jika nanti aku terpilih dan menang, hadiahnya dapat dipakai untuk melanjutkan sekolah” lanjut dia berucap sambil menunduk. “wahh… hebat dong!…, kalau hadiahnya beasiswa kan lumayan sumi…” sahutku. “Iya.., hanya itulah satu-satunya harapan Sumi untuk menggapai cita-cita sumi untuk tetap bersekolah” ada kesan yang dalam waktu sumi mengucapkan itu, sampai aku sedikit terguncang haru. Sumi bercerita ia tinggal di Desa Pulau puter, sebuah tempat yang baru kudengar namanya, bahkan aku heran kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar nama daerah itu. “kalau senggang datanglah main ke desaku ya kak…, tapi rumahku gubuk…, hanya.. disana pemandangannya nyaman karena dikelilingi oleh sawah dan ladang” sumi menawarkan keakrabannya “wah…asyik juga tuh, iya deh…nanti kapan-kapan ajeng main kesana ya…” aku menanggapi Cerita tentang sumi aku ceritakan kepada teman-teman disekolah, mereka terdiam ketika aku bercerita tentang keadaaan sumi serta usahanya untuk meraih cita-citanya. Ada yang terasa kurang beberapa hari ini, padahal semua aktifitasku berjalan normal dan lancar-lancar saja. Hanya satu hal yang tidak ada…Sumi…., sudah hampir 2 minggu sumi tidak mampir kerumahku, awalnya tidak kurasa, tetapi ternyata sumi meninggalkan kesan didalam fikiranku. Sore, Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Aku dibonceng sepeda motor oleh kakakku, pada sebuah jalan tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang berjalan agak gontai dan dia adalah sumi!.. Aku meminta kakakku untuk menghentikan sepeda motornya. “…Sumi…!, sumi…!” aku berseru kearah sosok tubuh yang berjalan itu. Sumi berhenti dan menoleh, ada sesuatu yang berubah kulihat selintas dari raut wajahnya, ada sebuah kesedihan. Aku setengah berlari menghampirinya. “Sumi…, ah…kemana aja sih…kok nggak mampir kerumah, mama nanyain katanya stock peyek sudah habis tuh dirumah” aku nyerocos kearah sumi. “eh, kak ajeng” sumi tersenyum lirih Setelah dengan susah payah akhirnya aku berhasil membujuknya untuk kerumahku, diapun bersedia naik sepeda motor walaupun harus berbonceng tiga. Dirumah , sumi kuajak makan karena memang perutku keroncongan. Sumi kulihat sangat sedih bahkan setengah putus asa. Akhirnya aku mengetahui duduk permasalahnya yang tengah melanda sumi. ..Sepatu Sumi hilang !!!! Sepatu satu-satunya milik sumi hilang pada saat setelah dicuci lalu dijemur dipagar rumahnya. Sepatu itu bagi sumi merupakan alat yang dapat mewujudkan keinginannya untuk meraih mimpi dan cita citanya. Dan Sumi tidak memilki jalan untuk memperoleh sepasang sepatu karena tidak mampu untuk membelinya. “biarlah kak ajeng…, mungkin ini adalah jalan hidupku…, aku tidak dapat menggapai cita-citaku” sumi berujar lirih. Demikianlah pertemuan terakhir dengan sumi Siang hari, saat istirahat kedua. “gimana jeng…, sudah ada kabar tentang sumi..?” Nadi teman sekelasku bertanya padaku “iya jeng.., gimana si sumi?…, tumben nggak ada kabar tentang dia belakangan ini..” tanya Dinah.. Saat itu kami sedang duduk berkumpul diteras masjid yang terdapat dilingkungan sekolah. Aku diam tidak menjawab pertanyaan Nadi. Semua mata teman-temanku menatap kearahku menunggu jawabanku atas pertanyaannya. “eh..kenapa sih kalian semua kok melototin ajeng sih…?” aku cemberut kearah teman-temanku “ iya jeng…., gimana dong kabarnya sumi?…” Tanya Rani, mereka hampir serempak meliat kearahku. Aku tidak bisa menahan diri lagi, lalu aku menceritakan kondisi sumi pada saat terakhir aku bertemu dengannya. Beberapa saat suasana hening dan mencekam, mereka terbawa oleh fikiran dan perasaan mereka masing masing. “wah gile…gawat tuh!…” tiba-tiba tio menyeletuk sambil berjalan menggondol sarung di bahunya, yang baru saja selesai melaksanakan shalat Dzuhur. “apanya yang gawat?…, kamu itu asal ngomong gawat aja…, kaya tau aja!…” Rani menjawab sewot kearah tio. “Iyalah!… kan kasihan tuh si sumi, kalau dia nggak punya sepatu, dia nggak bisa ikut test lari, nah..kalau dia nggak ikut test…dia nggak bakalan terpilih jadi atlit…trus…, kalau dia nggak bisa jadi atlit…dia nggak bisa menang…kalau dia nggak menang dia nggak dapat hadiah…kalau dia nggak dapat hadiah…dia nggak bisa ngelanjutin sekolah…., itu gawat jadinya…” Tio gantian nyerocos berusaha memberi penjelasan dengan gayanya yang kocak. “Tumben lu mikir yo…, biasanya yang lu pikiran cuma makanan melulu..” Nadi nyeletuk sambil tangannya nunjuk kearah kepala tio. “emangnya lu pikir di otak gw cuma makanan apa!...” sahut Tio dengan ngotot. “udahlah.. yo…, ga usah sewot.., jangan bikin ribet deh…” tambah Dinah. “eh.. iya.. ya, sumi gawat tuh…” Rani bergumam seolah berbicara dengan dirinya sendiri. Kembali suasana menjadi hening semua teman-teman sepertinya kembali asyik berfikir sendiri-sendiri. “Aku punya ide nih…” tiba-tiba Dinah menyeletuk, pandangan kami semua mengarah kearah Dinah. Sudah tiga hari setiap sore, aku celingukan kearah ujung jalan rumahku, sesekali mataku menatap kearah sebuah kotak yang sudah kubungkus rapih dan kuletakkan diatas meja teras rumahku. Sumi…ya!.. aku menunggu sumi, tapi sumi tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Penantianku berujung pada kegelisahan, karena waktu terus berjalan sementara sumi tidak kunjung datang. Pada saat menjelang malam akhirnya aku membulatkan tekad untuk menemui Papa, seluruh cerita tentang sumi beserta rencanaku dengan teman-teman aku ceritakan kepada Papa. “oke..besok hari sabtu, kamu akan papa antar untuk mencari sumi kerumahnya, sekarang istirahatlah “ papa akhirnya berjanji untuk mengantarkanku kepada sumi. Ternyata jalan menuju desa sumi cukup jauh juga, bahkan aku tidak pernah berfikir dilingkungan kota tempat tinggalku masih ada sebuah desa seperti desa tempat tinggal sumi. Aku berasa berada pada benua yang lain, memang ada kenyamanan disitu tetapi yang aku tidak mengerti mengapa para penduduk desa masih menempati rumah-rumah atau tepatnya gubuk yang sebenarnya kurang layak untuk ditempati. Setelah bersusah payah bertanya kian kemari akhirnya aku dapat juga ditunjukkan arah oleh penduduk setempat menuju kerumah sumi. Didepan gubuk inilah aku berhenti , oleh karena salamku tidak ada yang membalas aku mencoba untuk sedikit berteriak memanggil sumi. Dari arah samping belakang rumah tiba-tiba seorang perempuan tua datang dan mendekat kearahku dengan wajah menunjukkan kekhawatiran. Perempuan tua itu sedemikian kurusnya, dia mengenakan pakaian kain yang dililitkan sebatas dada, sementara kepalanya ditutupi oleh handuk tipis dan kumal. “Assalamuallaikum “ aku menyapa “ Wa’alaikumsallam “ sahutnya suara ibu itu terdengar lirih dan bergetar “Ibu.. benar ini rumah sumi? “ aku bertanya dengan harap Kulihat ibu itu sejenak tertegun, matanya menatap tajam kearahku seolah ingin mengamati seluruh tubuhku dengan teliti. “kamu..ajeng?” dia berkata setengah berseru lirih “ya bu..saya ajeng “ ujarku Kembali dia diam tangannya bergerak seolah ingin menggapai kearahku, tetapi dia berusaha untuk tidak melakukannya. “Ibu..ibunya sumi?” aku bertanya memastikan Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya, hanya anggukkan kepala memastikan pertanyaanku, dan itu cukup membuat aku menjadi lega. “Sumi ada bu..?” kembali aku bertanya Kembali Ibu tua itu tidak menjawab, dia membalikkan badan dan tangannya melambai kearahku meminta aku untuk mengikutinya. Aku berjalan dibelakang ibu itu kearah belakang rumah, setelah melewati pematang sawah kami sampai ditanah berbukit kecil, ibu itu berhenti dibawah sebatang pohon menungguku. “Disitulah sumi nak..” ibu itu bergumam menunjuk kesebuah arah. Dibawah gerombolan pohon kembang sepatu yang dipenuhi bunga berwarna jingga dan putih, terhampar seonggok tanah yang kelihatan masih baru, aku tercekat dan melangkah mendekat. Sebuah kayu terpancang disitu dengan tulisan sederhana, sebuah nisan kayu!… Dan nama sumi tercantum disitu. Sejenak aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan, kardus yang terbungkus rapih yang kubawa dari rumah tanpa terasa kupegang erat. Perlahan aku merasa ada sesuatu yang panas mengalir dipipiku Aku berlutut, perlahan aku meletakkan kotak itu dibawah nisan kayu yang terpancang. Aku cuma bisa bergumam “sumi aku dan teman-temanku ingin memberimu sepasang sepatu ini” Mataku nanar menatap sekitarku, kulihat dilangit awan berlari berkejar-kejaran, dalam anganku kulihat sumi dengan sepasang sepatu baru berlari, memenangkan setiap lomba, berkejaran bersama awan. Ah!.., bagaimana aku harus menyampaikan berita ini kepada seluruh teman-teman disekolahku?.. “SELESAI” *Ku dedikasikan ceritaku untuk anak-anak sebayaku di Desa Pulau Puter, Desa terpencil didekat Kota dimana tempat aku tersesat hampir tak bisa pulang.

Sahabat by Vivied Sandra

Kulangkahkan kaki menuju pintu gerbang sekolah, udara pagi yang segar membuat Chaca mempercepat langkahnya. Chaca sangat kengen dengan ketiga sahabatnya yaitu Tiara , Mega , dan Nabilla. Sudah 2 minggu mereka tidak bertemu. Tujuan pertama Chaca adalah kantin sekolah karena setiap pagi mereka selalu betkumpul disana. Ditemuinya sahabat-sahabatnya di tempat biasa mereka duduk. Chaca langsung menghampiri mereka, mereka pun saling berpelukan melepas kengen dan mereka langsung bercerita panjang lebar. Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla sudah lama bersahabat sejak mereka SMP sampai sekarang mereka sudah SMA, mereka bisa dibilang sahabat sejati karena mereka saling mengisi dan saling melengkapi jika ada salah satu dari mereka sedang sedih mereka saling menghibur. Mereka juga kompak, kalau jalan bareng mereka pakai kaos, sepatu dan tas yang sama, wajah mereka juga mirip dengan rambut panjang sepunggung dan poni yang menyamping ke kanan, mereka memamg seperti anak kembar ya walaupun sebenarnya tidak. Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla juga aktif dalam berbagai bidang, seperti OSIS, pencinta alam, pramuka dan kegiatan lainya. Terakhir mereka malukukan camping di daerah puncak selama 1 minggu, walaupun mekeka terlihat feminin tapi mereka manyukai hal-hal yang menantang seperti flyingfox dari ketinggian 10m ya itulah mereka.. Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla juga tergabung dalam sebuah band dengan Chaca sebagai vokalis, Mega sebagai gitaris, Nabilla sebagai gitaris dan Tiara sebagai drummer. Nama band mereka adalah “Lucky Girl” nama ini diambil karena m,ereka beranggotakan perempuan semua dan agar terlihat sisi femininnya. Aliran band mereka adalah Pop mereka memilih Popkarena menurut mereka lagu Pop itu tidak terlalu kencang, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat ya biasa biasa aja dan mudah dinikmati apalagi untuk anak muda seperti mereka. “Lucky Girl” sudah sering tampil di berbagai acara seperti PENSI (pentas seni) tidak hanya PENSI sekolah mereka saja tapi di sekolah lain juga. Mereka pun membuat lagu sendiri, biasanya yamg membuat lagu Chaca atau Nabilla, yang membuat arransemen Tiara dan Mega. Saat tampil pun kostum mereka sama, biasanya mereka tampil memakai celana jeans, kaos, sweater atau jaket mereka tidak mau memakai kostum yang terlalu ribet, mereka sukanya yang simple dan mambuat mereka nyaman saat tampil di panggung. Samua ini yang membuat Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla dekenal oleh teman-teman satu sekolahannya, tidak hanya itu mereka juga dikenal oleh anak-anak dari sekolah lain. Tapi mereka tidak pernah sombong atau merasa cepat pus mereka tetap baik dan rendah hati. Keesokan harinya, seperti biasa Chaca, Tiara, Mega dan Nabilla berkumpul di kantin sekolah tempat favorit mereka. lalu bel masuk pun berbunyi mereka segera memasuki kelas dalam perjalanan ke kelas mereka sempat mengobrol. “eh cepetan, ntar di marahin sama bu Hanna”, kata chaca. “iya chacaaa” kata mega, “duh males banget nih gue pagi-pagi pelajarannya bu Hanna, dah galak ngebosenin banget lagi ahh dasar nenek lampir!” gerutu tiara. “hahahahahaha parah banget lu” kata nabilla. Lalu mereka bergegas masuk kelas. Ya bu Hanna adalah salah satu guru yang tidak disukai oleh anak-anak terutama chaca,tiara,mega dan nabilla. Saat pelajaran bu Hanna suasana kelas pun jadi sunyi tidak ada yang berani berbicara satu pun karena kalau ada yang berbicara sedikit saja pasti dilempar pakai penghapus atau disuruh buat tulisan 5 lembar kertas HVS, maka dari itu tidak ada yang berani berbicara saat pelajaran bu Hanna.lalu bel pergantian pelajaran berbunyi bu Hanna pun meninggalkan kelas setelah bu Hanna keluar, kelas pun ramai sekali. “ah gila bete banget gue pelajaran bu Hanna”, kata mega. “sama gaa, apalagi kelas sunyi banget bikin ngantuk tauu”, kata chaca. “ada ya orang kayak bu Hanna? galaknya manta ampun” kata tiara, “tau tuh nyebelin banget banget” timpal nabilla. Pak Ari pun datang. Pak Ari adalah guru ekonomi, pelajaran yang sangat disukai oleh chaca,tiara,mega dan nabilla kerena pelajarannya asik dan pak Ari ngajarnya juga enak, santai dan engga ngebosenin. Lalu bel istirahat pun berbunyi, chaca, tiara, mega dan nabilla pergi ke kantin saat perjalanan terdengar terian yang memanggil mereka, “chaca, tiara, mega, nabilla!”, mereka ber empat pun menoleh ternyata teriakan itu berasal dari bu Indah wakil kepala sekolah. Mereka pun menghampiri bu Indah. “ibu panggil kita?”, kata tiara “ iya, kalian di panggil sama pak Haris.” Kata bu Indah, “ di panggil pak Haris? Ada apa bu?” kata chaca penasaran. “sudah nanti kalian juga tau, sekarang cepat ke ruangan pak haris, kalin sudah ditunggu, cepat”, kata bu Indah. Mereka pun bergegas ke ruangan pak Haris, satelah mereka masuk pak Haris langsung berbicara. “begini, minggu depan tanggal 18 september 2009 sekolah kita akan mengadakan PENSI, kalin sudah tau kan?” kata pak Haris panjang lebar. “iya pak” kata mereka ber empat. Lalu pak Haris melanjutkan pembicaraannya “ band kalian diminta untuk mengisi PENSI tersebut, kalian setuju?”. Chaca, tiara, mega dan nabilla pun berunding… “baiklah pak kami setuju” kata nabilla. “Oke, kalian bisa mulai latihan dari hari ini.” Kata pak Haris. “nyanyi berapa lagu ya pak?” tanya chaca, “2 buah lagu, lagunya disesuaikan dengan temanya ya.” Jawab pak Haris. “maaf pak temanya apa?” Tanya mega. “temanya Global Warming” jawab pak Haris. “baik pak” kata tiara. “Oh ya setelah istirahat selesai kalian tidak usah mengikuti pelajaran dulu, saya beri waktu kalian untuk mempersiapkan buat PENSI nanti.” Kata pak Haris panjang lebar. “oh iya pak” kata mereka ber empat. mereka pun keluar dari ruangan pak Haris dan menuju ke aula sekolah. Di aula mereka mulai mendiskusikan apa yang akan mereka tampilkan saat PENSI minggu depan, dari mulai lagu yang akan merka bawakan sampai kostum yang akan mereka pakai “kalau soal lagu, kita bawain lagu andalan kita aja, biar gampang. Soalnya kita Cuma punya waktu 1 minggu dan enggak mungkin kita buat lagu dalam satu minggu” kata tiara panjang lebar. “ya bener juga tuh kata tiara waktunya enggak bakal cukup untuk buat lagu.” Kata nabilla meyakinkan. “kalau soal kostum gimana?” Tanya mega, “kita pake kostum kayak biasa aja tapi warnanya hijau, kan temanya ‘global warming’” kata chaca. “okeoke” kata mega. “kita mulai latihan kapan nih? Dimana?” tanya tiara. “dirumah gue aja, tapi mulai latihannya mulai besok aja yah, tempatnya mau dibersihin dulu.” Kata chaca. “ada makanannya kan cha?” kata mega “ bener tuh, makanan tuh penting tau ntar kalau engga ada makanan terus kita pingsan gimana?” kata tiara , “makanan tuh nomor 1” sambung mega sambil tertawa. “ah lo semua mah makanan mulu, haha iya deh gampang soal makanan mah asalkan jangan ada yang ngaret yah, tepat waktu biar kita bisa tampil maksimal di PENSI nanti. Oke!” kata chaca panjang lebar. “okeeeee” kata tiara, mega dan nabilla. Keesokan harinya mereka berempat baerangkat bersama-sama ke sumah chaca. Sesampainya di rumah chaca mereka istirahat dulu baru mulai latihan. “tiara, mega ayo dong latihan. Makan mulu lo dari tadi” kara chaca. “tau nih ntar kalau kekenyangan gak bisa latihan lagi” tambah nabilla. “iyeeee” kata tiara sambil mengunyah donat. “iya bawel deh lu berdua” kata mega. Mereka pun mulai latihan. Mereka latihan begitu serius, ya memang setip latihan mereka selalu serius karena mereka ingin memberikan yang terbaik saat tampil. Keesokan harinya, mereka datang ke sekolah bersama-sama seperti, biasa tujuan pertama mereka adalah kantin. “eh PENSI berapa hari lagi sih?” Tanya tiara. “emangya kenapa ra?” kata nabilla. “paling dia mau liat cowo-cowo cakep, iya kan ra?” tebak chaca. “hahaha iya dong, kan biasanya kalau di PENSI banyak cowo-cowo cakepnya, lumayan cuci mata ahahaa” jawab tiara sambil tertawa. “udah ketebak lu mah, di pikiran lo kan Cuma ada makanan sama cowo doing bahahahaha” kata mega. Mereka berempat pun tertawa. Saat istirahat mereka berkumpul di aula untuk latihan. Ya sekolah juga mempunyai peralatan band ya walaupun tidak selengkap degan peralatan dirumah chaca. Ayah chaca adalah seorang musisi pantas saja bakat ayahnya menurun pada chaca. Mereka pun mulai latihan. Tapi saat latihan mega terlihat lesu dan tidak bersemangat. “ga lo kenapa kok g semangat sih?” Tanya nabilla, mega menjawab “engga apa apa kok”. “lo lagi ada masalah ga? Cerita dong sama kita” kata chaca, “iya jangan lo pendem sendiri kita kan sahabat” tambah tiara. “engga kok, gue engga ada masalah bener deh” kata mega meyakinkan. “bener ga? Tapi kok lo engga kayak biasanya sih? Jujur deh sma kita kita” desak chaca. “iya cerita dong” kata tiara dan nabilla. “beneran, gue cumin capek aja semalem kurang tidur jadi agak lemes sama ngantuk” kata mega meyakinkan. “yaudah lo cuci muka aja biar seger, kan latihan kita bisa jadi lebih focus latihan.” Kata nabilla. “iya deh” kata mega. Mega pun pergi ke toilet untuk cuci muka, setelah itu mereka melanjutkan latihan kembali. Latihan hari itu pun selesai. Keesokan harinya mega tidak masuk sekolah, tiara, chaca dan nabilla bingung kenapa mega tidak masuk hari itu. Nabilla coba menghubungi mega. “hallo, ga kenapa hari ini enggak masuk?” Tanya nabilla, “tadi gue kesiangan bangun bil, jadi engga masuk deh. maaf y ague enggak ngasih kabar ke kalian.”, “iya engga apa apa. Eh sekarang lo kerumah chaca ya, biasa latihan” ajak nabilla. “duh maaf bil hari ini gue engga bisa ikut latihan, gue harus jagain adek gue soalnya nyokap sama bokap lagi pergi. Maaf yah” kata mega. “yaudah deh. Besok aja latihannya.” Kata nabilla sambil mengakhiri pembicaraannya dengan mega. Hari hari berikutnya mega juga tidak masuk sekolah chaca coba menghubungi mega tetapi handphone mega tidak aktif . chaca, tiara dan nabilla bingung Ada apa dengan mega? Kenapa mega jadi sering tidak masuk sekolah tanpa kabar? Apa dia ada masalah? Tapi kenapa di tidak cerita ke kita? Beberapa pertanyaan mengitari kepala chaca, tiara dan nabilla. Saat pulang sekolah chaca, tiara dan nabilla memutuskan untuk kerumah mega, tetapi setelah mereka sampai di rumah mega tidak ada yang menyaut rumahnya begitu sepi dan terlihat tidak ada orang. “assalamualaikum” sapa tiara sambil mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang menjawab. “kayaknya engga ada orang deh ra” kata chaca. “iya sepi banget rumahnya, mobilnya juga engga ada, pergi mungkin.” Kata nabilla. Akhirnya chaca, tiara dan nabilla pun pulang tanpa mengetahui kabar dari mega, latihan pun dibatalkan karna tidak ada mega. Sejak mega tidak masuk latihan band mereka tidak di laksanakan. “mega kemana yah? Apa dia ada masalah? Tapi kok dia engga cerita sama gue,tiara dan nabilla biasanya kan dia cerita. duh mana bentar lagi PENSI kita baru latihan 2 kali” Kata chaca dalam hati, chaca pun coba menghubungi mega lagi tetapi, hp mega tidak bisa dihubungi. keesokan harinya saat chaca mau berangkat kesekolah, chaca menemukan sebuh kotak didepan pintu rumah chaca, chaca menengok sekitarnya “hmm tidak ada orang, siapa yang taruh ini ya?” kata chaca. Karena penasaran chaca langsung membuka kotak itu, dan isinya adalah surat dan ternyata surat itu dari mega, isinya. “chaca, tiara, nabilla maaf banget yah udah beberapa hari ini aku engga ada kabar sama kalian. Bukan maksud aku untuk menjauh dari kalian tapi, sekarang aku lagi ada masalah yang penting banget dan aku butuh waktu untuk sendiri, aku engga bisa cerita sama kalian karna aku engga mau kalian terlibat dalam masalah aku. Sekali lagi aku minta maaf yah. Oh ya satu lagi aku engga bisa ikut PENSI, jadi kalian cari aja pengganti aku buat PENSI nanti. Untuk yang terakhir kali aku minta maaf yah.”. chaca meneteskan air mata dan segera dia pergi kesekolah untuk memberi tahu nabilla dan tiara. Sesampainya disekolah chaca langsung menemui nabilla dan tiara yang berada dikantin. “eh baca nih surat dari mega” kata chaca. Lalu nabilla dan tiara membaca surat tersebut, merka berdua kaget dan tidak menyangka. “lo depet dari mana cha?” Tanya tiara, “tadi pas gue mau berangkat sekolah, gue nemuin kotak ini di depan puntu rumah gue, dan pas gue baca ternyata surat itu dari mega.” Jawab chaca. “terus sekarang mega dimana dong?” Tanya nabilla “ya gue juga engga tau bill” jawab chaca. “eh gamana kalu entar pulang sekolah kita kerumah mega lagi?, siapa tau dia pas ada dirumah. Gimana?” usul tiara. Nabilla dan chaca pun setuju dan mereka sepakat kalau nanti setelah pulang sekolah mereka akan kerumah mega, dan berharap kalau mega ada dirumah dan mau bercerita dengan mereka, agar semua masalaha bisa cepat terselesaikan dan mereka bisa latihan band lagi nutuk PENSI nanti. Saat bel pulang berbunyi nabilla,chaca dan tiara langsung bergegas ke rumah mega. Sesampainya dirumah mega mereka langsung mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “assalamualaikum” sapa chaca dan ternyata ada yang menjawab, lalu pintu pun terbuka dan yang membuka pintu adalah mega sendiri. Mega kaget dan langsung menutup pintu tetapi ditahan oleh tiara, nabilla dan chaca. Setelah didesak oleh chaca,nabilla dan tiara akhirnya mega pun mau bercerita. “jadi gini, gue lagi ada masalah keluarga, nyokap sama bokap gue kemaren bertengkar hebat sampai sampai mereka bicara ingin bercerai dan mereka bilang gue mau ikut nyokap atau bokap. Gue engga jawab karna gue ingin tinggal bersama nyokap dan bokap gue, gue langsung lari ke kamar dan mengunci diri. Sejak saat itu gue engga masuk sekolah.” Kata mega sambil menangis. Chaca cobe menenangkan mega “ya tapikan lo bisa cerita ke kita, kita kan sahabat kita pasti bantu masalah lo kok.” , “ya tapi saat itu gue bener bener sedih banget.” Tambah mega. “oh ye kemarin lo pergi ya? Kita kemarin kesini tapi engga ada orang yang jawab.” Tanya nabilla. “engga kok gue ada dirumah, gue sengaja engga keluar, karna gue masih belum siap. Maafin gue ya semua” kata mega. Chaca,nabilla dan tiara menjawab “iya kita maafin lo kok, tapi lain kali kalu lo punya masalah cerita ke kita ya. Kita pasti bakalan Bantu lo ko.” Lalu mama dan papa mega pulang, anehnya mereka pulang berdua sambil tersenyum dan bergandengan tangan. “mama papa?” Tanya mega heran. “iya saying? Oh ya mama sama papa udah baikan. Kita sama sama sadar kalau kemarin kita egois hanya mementingkan diri sendiri tanpa mementingkan perasaan kamu. Mama minta maaf yah” kata mamanya mega sambil memeluk mega. “ya papa juga minta maaf ya” kata papanya mega mereka pun berpelukan, dan masalah mga pun selesai. Besoknya mega sudah masuk sekolah lagi, dan mereka pun mulai latihan band kembali. Saat PENSI pun tiba, mereka tampil dengan maksimal dan dapat sambutan yang baik dari penonton. Dan mereka pun dapat pelajaran dari kejadian kemarin kalau sesama sahabat itu harus saling terbuka, karena sahabat itu akan selalu ada disaat kita membutuhkannya.

Pencarian Terakhir by Shanty Kusuma Jayanti

Suatu hari ada seorang anak yang bernama Rendy,dia mempunya kakak yang bernama Shinta.Mereka hanya dua bersaudara dan mereka hanya tinggal berdua,karena orang tuanya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan Pesawat.”kak gue mau pergi sama temen-temen naik gunung,mau ngisi liburan”kata Rendy sambil gaya juteknya.Kakaknya hanya diam dan mengizinkan dia pergi,karena walau kak Shinta melarang dia,dia tetap akan pergi.Rendy akhirnya menyiap-nyiapkan barang yang mau di bawanya.Rendi langsung menelpon teman-temannya agar besok sudah kumpul di terminal jam 6 pagi. Tak terasa sudah pagi,dia langsung bergegas mandi dan mengecek barang bawaanya. Akhirnya dia berangkat di antar kakaknya ke stasiun,setiba di sana ternyata teman-teman Rendy sudah bekumpul.Bus pun datang mereka langsung memasuka barang mereka ke bus dan mereka berpamitan dulu dengan kak Shinta,setelah berpamitan mereka langsung berangkat.3 jam lah waktu yang mereka tempuh untuk menuju gunung.Sesampai disana mereka melapor ke pos pertama untuk mendaftarkan nama mereka dan dipos 1 mereka di beri petunjuk untuk setiap perjalanan mereka wajib melapor ke tiap pos.Tapi tak di sangka mereka tidak menghiraukan prosedur yang harus di lakukan selama perjalanan agar mereka tidak tersesat.Selesailah prosedur itu di bacakan oleh Pembina,mereka langsung melakukan perjalanan.Teman-teman Rendy berjumlah 6 yaitu Tasya,Manda,Nila,Vero,Dano dan Putra. Selama perjalanan mereka mebagi tugas merek masing-masing Tasya meninggalkan bendera di tiap-tiap pohon yang merek lewati,Manda sebagain bagian konsumsinyaa,Nila membawa peralatan seprti keker/teropong supaya bisa melihat langit dari gunung dan 4 cowok sebagian menjaga depan dan belakang dan 1 di antaranya memegang kompas.1 jam perjalanan mereka tempuh,dan mereka yang seharusnya melapor ke pos 2,mereka malah mengabaikanya,padahal penjaga di pos 2 sudah menunggu dan akan mengabari ke pos 1.Mereka langsung melanjutkan perjalanan,dan tak terasa matahari mulai tenggelam. Akhirnya mereka beristirahat,bagian yang cowok memasang tenda,yang putri bagian membuat makanan.Setelah selesai memasang tenda dan membuat makanan,mereka langsung beristirahat,tetapi salah satu dari mereka ada yang mengajak untuk acara minum,dia bawa 3 botol bir,dan mereka mabuk-mabukan di sana.Tanpa terasa pagi pun tiba,mereka langsung berkemas-kemas dan siap untuk melanjutkan perjalanan.Pos 2 merasa kebingungan karena mereka belum kunjung juga ke pos itu,akhirnya pos 2 langsung mengabari pos 1 bahwa mereka belum sama sekali terlihat.Pos 1 pun langsung mengabari ke pos-pos lainya,bahwa siapa yang melihat Rendy dan teman-temanya untuk melapor ke pos ke pos 1. Selama perjalanan mereka sama sekali tidak melapor,yang pada saatnya mereka melapor ke pos 3,mereka malah mengabaikanya dan terus jalan sambil bersenang-senang.Pos 3 langsung mengabari ke pos 1 bahwa mereka tidak mengunjungi ke pos 3.Hujan pun turun dan perjalanan mereka di tunda dan mereka berteduh.Sambil mereka berteduh,ada 2 jalan yang harus mereka jalani dari salah sati itu,waktu Vero mengecek kompas,tiba-tiba kompasnya rusak,berputar-putar entah ke selatan,utara,barat,timur.Karena saking mereka kebingunan mereka pun berdebat untuk voting memilih salah satu jalan,kanan atau kiri?dan mereka pun saling berdebat,4 memilih sebelah kanan yaitu Vero,Tasya,Rendy,Nila dan 2 memilih kiri yaitu Manda dan Dano.Akhirnya mereka berpencar,dan satu sama yang lainya saling tak yakin,tapi akhirnya mereka tetap melanjutkan perjalanan,dan sampai akhirnya mereka tidak menemukan pos selanjutnya.Jalan yang benar sebenarnya ke arah kiri.Manda dan Dano terus berjalan yang sampai akhirnya mereka menemumkan gubuk yang did dalam gubuk itu berisi sesajen.Dan Dano pun terasa lapar dan ingin memakan sesajen itu yang berisi daging dan buah,akhrinya Dano mengambil dan menawarkan pada Manda,Manda menolak karena dia takut ada penghuni di dalam gubuk itu. Manda tak berani masuk ke gubuk hanya Dano saja yang masuk dan memakan sesajen itu.Dengan bujukan Dano,akhirnya Manda mau masuk ke dalam gubuk itu.Disana mereka beristirahat selama 2 jam.Waktu Manda bangun Manda ingin melihat apakah Dano masih ada di samping dia?tapi ternyata

Gara-gara Basket by Rachmawati O James

Di pagi hari, Angel,Ayra, dan Jessy berada di koridor depan kelasnya. Mereka berbicara tentang murid-murid di sekitarnya. Mereka bertiga adalah genk yang paling terkenal di sekolahnya itu. “eh, kamu liat cowok itu enggak?”,Ayra bertanya. “enggak, aku enggak enggak liat apa-apa,kenapa emang?”, Angel menjawab dengan wajah yang kebingungan. “itu loh yang lagi main sama temannya. Masa kamu enggak liat sih?”, jawab Ayra. “oh, yang itu ya?”, Angel sambil melihat-lihat yang lainnya. “iya, benar sekali.” Jawab Ayra. Dengan santainya Jessy diam-diam menghabisi makanan yang dibeli oleh Angel. “Jessy, kenapa kamu ambil makanan aku?”, jawab Angel sambil memarahi Jessy. “apa Angel? Kan aku ambilnya enggak di deket kamu. Jadi aku kira bukan punya kamu.”, Jessy sambil tertawa dan mengunyah makanan. “dasar kamu ngel.”, Angel mengkepalkan tangannya karena kesal. Bel pun berbunyi mereka bergegas masuk ke kelas. Sebelum kelas di mulai, kepala sekolah mereka masuk dan berbicara mengenai latihan basket. Ayra dengan senang hati mengangkat tangannya dan ingin sekali mengikuti latihan basket. “Ayra, kamu catat siapa saja yang ikut latihan basket besok ya!”, kepala sekolah berkata. “iya bu, nanti saya akan catat.”,jawab Ayra dengan senang Ayra langsung bergegas mencatat siapa saja yang ikut latihan basket. Pada saat istirahat, Ayra sibuk sekali mencatat siapa saja yang ikut. Hingga akhirnya Jessy dan Angel melihat laki-laki yang tadi pagi mereka lihat. “ra,sini deh! Ada cowok yang tadi kamu liat tuh. Pas banget lagi sendirian. Buruan deh kamu samperin. Ntar keburu ada yang lain loh!”, Angel berkata sambil mendorong Ayra. “aduuh,apa si? Enggak usah dorong aku dong! Kan sakit tau. Iya-iya aku kesana sekarang!”, Ayra menjawab kesakitan. “ra, hati-hai ya?hehe”,sambil menertawakan Ayra, jessy dan Angel pergi. Dan akhirnya Ayra menghampiri laki-laki misterius itu. “kayaknya aku baru ngeliat kamu disini! Kamu anak baru ya?”,Ayra bertanya dengan malu-malu. “iya, aku anak baru di sekolah ini. Kayaknya enak juga ya sekolah disini. Anak-anaknya friendly banget. Oh iya, aku belum tau namamu, siapa namamu?”, jawab laki-laki itu. “namaku Ay,Ayr,Ayra. Nama kamu siapa?”, Ayra menjawab. “namaku joe. Kamu yang sekelas sama aku bukan? Aku mau ikut basket dong! Sebenarnya daritadi aku cari kamu tapi enggak ketemu.”, joe menjawab. “oh, iya-iya. Sebentar ya!”,Ayra menjawab dengan lemah lembut dan mencatat nama Joe. “kamu abis ini mau kemana?”, Tanya joe. “aku mau balik ke kelas. Kenapa emangnya?”, jawab Ayra kebingungan. “mau balik ke kelas bareng enggak?”, Joe bertanya lagi. “oh, boleh-boleh.”, Ayra dengan senang menjawabnya. Selama di jalan mereka saling menatap satu sama lain. Hingga sesampainya di kelas mereka tetap saling menatap. Keesokan harinya, pada saat latihan basket, Ayra menunggu Joe tapi dia tidak datang. Saat latihan di mulai, Ayra sangat kecewa dengan Joe karena dia tidak datang saat latihan basket. Gara-gara Joe tidak datang ke tempat latihan basket, Ayra terjatuh dan akhirnya Ayra tidak bisa ikut latihan basket lagi. Ayra sangat takut untuk bermain basket lagi. Karena itulah Ayra menjadi trauma. “kenapa kamu ra?”, Angel bertanya. “iya,kenapa kamu diem aja sih?”, Jessy kebingungan. “itu loh, kemarin ka nada latihan basket,nah si Joe enggak datang. Aku sebel banget sama dia. Padahal kan dia udah janji mau datang sama aku. Ternyata dia enggak datang. Dia kemana sih? Kok dari tadi aku enggak lihat dia ya? Kalian berdua ada yang lihat?”, Ayra bertanya dan menjawab dengan sangat panjang dan kesal. “lah, mana aku tahu. Dari tadi aku juga enggak melihat dia. Siapa peduli.”, dengan kesal Jessy menjawab. “jangan begetu kamu jess. Siapa tau aja dia lagi ada masalah sama keluarganya. Jangan negative thinking dlu dong.”, jawab Angel. “enggak mungkin ngel.dia kan udah janji sama aku. Harusnya dia sama aku atau telephone. Kasih kabar aja enggak.”,Ayra menjawab dengan marah dan kesal. “iya aku tau. Yaudahlah enggak usah di pikirin lagi, oke?”, jawab Jessy. Selama setahun Ayra tidak bermain basket lagi. Dan selama setahun juga Ayra, Jessy, dan Angel tidak penah melihat Joe lagi. Dan hari itu juga, di kelas mereka ada murid baru lagi yang senang sekali bermain basket. “hey, lagi ngapain? Udah punya pacar belum?”, Ayra bertanya. “iya nih, lo suka sama cewek Yang kayak gimana sih?:, Jessy bertanya. “gue lagi diem aja. Belum, gue belum punya pacar. Gue suka sama cewek yang bisa main basket. Jadi gue enggak sendirian lagi main basketnya. “gue suka main basket loh. Kan dulu gue pernah ikut basket.tapi sekarang gue jarang main basket,mau ajarin enggak?”, Ayra menjawab dan terpesona kepada Kevin. “ra,bukannya kamu trauma main basket gara-gara jatuh waktu itu? Kamu jangan main basket lagi deh!”, jawab Angel membisikkan Ayra. “ih, itu kan dulu. Sekarang ya sekarang. Jadi kamu enggak usah takut ya!”, jawab Ayra dengan tingkah laku yang aneh. “terserah kamu aja deh ra.”, Angel berkata dengan kesal. “oh iya vin, besok ajarin gue main basket ya?”, Ayra berkata. “oh, iya-iya. Besok gue tunggu di lapangan ya! Abis pulang sekolah.”, Kevin menjawab dengan lantang dan pergi meninggalkan Angel,Ayra, dan Jessy. Ayra tidak mengalihkan matanya ke yang lain. “ra? Ko diem aja sih? Udah yuk kita ke kelas aja!”, Jessy menjawab dengan lantang dan tegas karena kesal. Ternyata Kevin sekelas juga dengan mereka. Ayra, Jessy, dan Angel kaget melihat Kevin berada di kelas mereka. Angel dan Jessy sangat kesal karena Ayra terus menatap Kevin padahal Kevin tidak menatap Ayra sama sekali. “vin, duduk sini aja sama gue.”, Ayra berkata. “ra,aku kan duduk disini!”, Angel menjawab kesal. “iya aku tau, please ya ngel. Aku mau duduk deket Kevin.”, Ayra menjawab sambil memohon. “aku duduk dimana dong?”, Angel kebingungan. “di deket Jessy aja ya! Kan dia lagi sendiri tuh! Makasih ya ngel.”, Arya tetap menyuruh Kevin duduk di sebelahnya. “makasih ya ra. lo baik banget deh.”, Kevin tanpa basa basi bergegas duduk di dekat Ayra. Selama pelajaran berlangsung Ayra selalu memperhatikan Kevin hingga pelajaran selesai. Tetapi Kevin hanya diam dan tidak berbicara ke Ayra. Memperhatikan dia saja tidak. Akhirnya Ayra selalu mencari perhatian ke Kevin. Jessy dan Angel semakin kesal dengan Ayra. Semakin hari tingkah laku Ayra semakin aneh.sehingga setiap Ayra menghampiri Jessy dan Angel, Jessy dan Angel selalu menghindar dari Ayra. Ayra kebingungan karena teman-temannya menjauhi dia. “jess, ngel, kalian kenapa sih? Kok kayak menghindar dari aku? Emangnya salah aku apa? Apa aku berbuat kesalahan?”, Tanya Ayra. “enggak tau deh. Kamu piker aja sendiri.”, Jessy dan Angel pergi meninggalkan Ayra. “pada kenapa sih mereka? Aneh banget.”, Ayra kebingungan dan merasa aneh. Saat itu ada murid baru yang mempunya genk yang sangat terkenal mereka selalu mencari masalah. Mereka merasa kalau mereka yang paling cantik dan penguasa di sekolah itu. Mereka bernama Lucy, Kezia, dan Echa. Mereka kenal dengan Kevin. Ayra sangat kesal karena Kevin sangat dekat dengan Lucy. “Kevin kamu sekolah disini juga? Enggak nyangka ya kita bisa ketemu.”, Lucy berkata. “Lucy, kamu disini juga? Wah, iya aku juga enggak nyangka.”, dengan rasa kaget Kevin menjawab. “vin, dia siapa? Lo jadi ngajarin gue main basket kan?”, jawab Ayra dengan kesal karena keberadaan Lucy. “iya ra. jadi kok.”, Kevin dengan santai berkata. “Kevin kita makan bareng yuk. Akn udah lama kita enggak ketemu. Kamu duduk disana aja. Ada yang aku mau omongin sama Ayra.”, Lucy berkata. “oke deh.”, Kevin menjawab dan bergegas pergi. “eh, jangan harap lo bisa dapetin Kevin. Karena Kevin Cuma milik gue. Enggak boleh ada yang ngedeketin Kevin. Ngerti lo!”, dengan sinis Lucy berbicara kepada Ayra. “liat aja nanti. Gue yang akan ngedapetin Kevin.”, Ayra berkata dengan kesal. Saat pulang sekolah. Ayra menunggu Kevin di lapangan, tidak lama kemudian kevinpun datang dan Lucy mengikutinnya dari belakang. Ayra sangat kesal. Apa yang diinginkan Lucy, Kezia, dan Echa. Mereka selalu jahat kepada Ayra. “Kevin, lo ngapain ngajak mereka?”, Ayra berkata. “maaf ra. tadi Lucy dan kawan-kawannya mau ikut belajar basket sama gue. Lo engga apa-apa kan?”, Kevin berkata. “iya, enggak apa-apa kok vin.”, Ayra menjawab dengan rasa kecewa. “ra, gue ikut enggak apa-apa kan? Soalnya gue mau ikut basket juga. Cuma gue aja kok. Kezia dan Echa enggak ikut.”, Lucy berkata dengan tampang yang jahat. “oh, iya.”, dengan sinis Ayra berkata. “kalo begitu ayo kita mulai!”, Kevin mengajak Ayra dan Lucy. Ayra merasa di diamkan. Lucy menghalangi Ayra agar Kevin tidak dekat dengan Ayra. Akhirnya Ayra pergi dan duduk di tangga dekat lapangan itu. Dan Kevin berhenti bermain basket karena Ayra tidak ada di lapangan. Kevin mencari tetapi tidak bertemu dengan Ayra. Tetapi Kevin bertemu dengan Jessy dan Angel. Mereka sedang berada di kantin. “jess, ngel, ngeliat Ayra enggak?”, Kevin bertanya kebingungan dan kelelahan. “enggak. Kenapa emang?”, jessy menjawab. “daritadi dia enggak ada di lapangan. Gue mau curhat sama lo dong. Lo kan temannya Ayra. Pasti lo tau dong tentang dia!”, Kevin memohon terus menerus. “iya. Lo boleh cerita sama kita.”, Angel menjawab. Dan akhirnya Angel dan Jessy tahu bahwa ternyata Kevin menyukai Ayra. Hari itu juga, Kevin, Angel, dan Jessy.mencari-cari Ayra. Tetapi tidak ketemu juga. Dan mereka berpikir kalau Ayra sudah pulang. Keesokan harinya, saat masuk sekolah, Kevin menemui Ayra. Bertanya-tanya. “kemarin lo kemana ra?”, gue udah di suruh pulang vin. Maaf ya gue enggak bilang-bilang dulu.”, Ayra menjawab dengan merasa bersalah. “iya, enggak apa-apa kok ra. nanti pulang sekolah mau gue ajarin lagi?”, Kevin bertanya. “kalo ada Lucy gue enggak mau. Gue enggak mau didiemin lagi.”, Ayra menjawab. “iya ra. gue enggak ajak dia kok.”, Kevin menjawab dengan senyumnya. Saat istirahat, Kevin dan Ayra saling bertatap-tatapan. Setiap bertemu selalu menyapa. Lucy dan teman-temannya kesal dan sekarang dia yang di jauhkan oleh semua temannya. Saat pulang sekolah Ayra dan Kevin ke lapangan. “udah siap nuat latihan?”, Kevin bertanya. “siap dong. Ayo kita mulai!”, jawab Ayra. Saat itu di pertengahan saat Ayra ingin melempar bola, Ayra tergelincir hingga kakinya terkilir. “aduh, maaf Kevin kaki gue sakit.”, Ayra berkata kesakitan. “gue cari bantuan dulu ya. Eh kebetulan temen lo ada di situ.”, Kevin menjawab. “ra, kenapa kamu? Pasti kamu jatuh lagi ya?”, jessy bertanya. “kamu sih, udah aku bilangin. Kamu kan trauma main basket.”, Angel berkata dengan lantang. “jadi lo trauma main basket ra?”, Kevin cemas mendengarnya. “iya vin.”, Ayra merasa bersalah waktu itu. Pada saat itu Ayra bersumpah tidak akan bermain basket lagi. Dan saat itulah Kevin menyatakan perasaan ke Ayra yang sebenarnya. Mereka hidup bahagia dan mereka adalah sahabat yang kokoh.

Be A Millionaire by Libery Ramadhana Arian

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang betapa perihnya dan sengsaranya menjalani hidup dengan keterbatasan biaya. Seorang anak kecil yang tinggal di perkampungan kumuh bersama kakaknya da ibunya. Hidupnya sangat terbatas dan susah.Keluarganya sangat susah sekali mendapatkan makanan,bahkan makanan apapun yang ada disana seperti binatang dan batu yang hanya direbus dengan kayu bakar saja pasti akan dimakannya kalau sudah kelaparan. Perkampungan kumuh itu hidupnya sangat susah sekali hidupnya dan jarang sekali ada kendaraan-kendaraan yang lewat. Perkampungan kumuh itu tempatnya di India. Anak kecil itu bernama Shaleh dan kakaknya bernama Malik. Mereka berdua hidupnya sangat rukun sekali dan ibunya sangat menyayangi mereka berdua. Kedua anak itu mempunyai cita-cita yang sangat besar,yaitu adalah menjadi seorang Millionaire. Namun mereka selalu berkata,dengan keterbatasan hidup kita,kalau kita mau berusaha dan bekerja keras pasti cita-cita yang kita impikan itu akan terwujud. Mereka itu adalah anak yang bertahan hidup dan tidak pernah menyerah untuk mencapai kesuksesan. Apapun tantangannya pasti akan kita lewati bersama dengan niat yang besar dan penuh keikhlasan hati nurani. Mereka berdua dan ibunya beragama Islam. Suatu hari seluruh perkampungan kumuh tempat mereka tingal mengharapkan ada bantuan dari pemerintah India untuk memberikan makanan dan pakaian. Dan mereka juga berharap ada pemerintah India yang dating kesana untuk melihat keadaan di perkampungan kumuh ini. Karena terlalu kecilnya perkampungan kumuh itu hingga sudah satu tahun lamanya tidak ada satu orang pun yang datang atau memberikan makanan. Dan akhirnya hampir seluruh orang-orang disana banyak yang mati kelaparan. Mereka semua terus menangis tetapi tidak putus asa untuk tetap berdoa. Lalu suatu hari doa mereka dikabulkan juga,tetapi semua itu percuma bagi Malik dan Shaleh karena ibu mereka telah meninggal dunia karena kelaparan. Shaleh menangis dan menjerit memanggil ibunya. Lalu Malik berkata kepada adiknya,jangan menangis Shaleh,kalau kamu masih terus menangis ibu kita tidak akan tenang di alam sana. Lalu setelah ibu mereka meninggal dunia,kehidupan mereka berdua semakin susah terutam Maolik karena sekarang dialah yang akan menjadi pengganti orang tua untuk adiknya. Setelah itu beberapa bulan kemudian ada suatu kejadian yang membuat mereka menangis tiada hentinya dan ketakutan. Karena perkampungan kumuh itu akan digusur dan dihancurkan oleh pemerintah India untuk dijadikan Apartement. Mereka sangat sedih sekali melihat tempat mereka dilahirkan harus rata oleh tanah. Tetapi mereka tidak menyerah dan terus bertahan hidup tanpa tempat tinggal. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk merantau ke kota besar di India dengan menaiki kereta barang yang menuju ke India. Lalu setelah itu akhirnya mereka sampai juga di kota India. Kota besar yang tak pernah mereka lihat sepanjang hidupnya. Kota itu adalah kota yang mereka impikan dari dulu untuk menjadi seorang Millionaire yang sukses. Disana mereka tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal serta tidak punya saudara atauteman untuk membantunya. Lalu mereka terpaksa menjadi pengemis jalanan untuk membiyayai hidup mereka. Mereka tinggal di jalanan karena masih beelum punya tempat tinggal yang layak untuk mereka. Suatu hari adiknya sakit karena kedinginan di malam hari. Lalu mereka akhirnya mereka mencari tempat tinggal untuk menyembuhkan adiknya. Malik terus berusaha dan bekerja keras untuk adiknya. Tiba-tiba malam setelah Malik selesai bekerja,mereka berdua melihat ada sebuah rumah kecil yang di tempati oleh para pengemis jalanan dan preman-preman. Terpaksalah mereka meminta pertolongan pada mereka untuk diperbolehkan tinggal disini. Lalu preman itu menjawab kepada mereka bahwa,kalian boleh tinggal disini dengan sebuah syarat kalian harus bekerja menjadi pengemis jalanan untuk mencarikan kami uang. Ya,sudahlah tidak ada pilihan lain,Malik terpaksa menuruti perintah preman-preman itu demi menyelamatkan adiknya yang sedang sakit. Besoknya Malik dan pengemis lainnya mulai bekerja untuk mencari uang,sedangkan Shaleh tetap diam dan beristirahat disana. Setelah dua hari kemudian Shaleh sudah sembuh juga. Lalu pada malam hari mereka semua dikumpulkan oleh preman itu untuk memperlihatkan kemampuan mereka bernyanyi. Lama kelamaan satu-satu anak pengemis jalanan itu disuruh bernyanyi. Hanya ada tiga orang saja yang masih tersisa untuk menunggu giliran bernyanyi. Tiga orang itu adalah Shaleh,Malik dan Julia,mereka bertiga sudah bersahabat sejak pertama mereka tinggal disana. Tiba-tiba sebelum Malik bernyanyi ,ada satu orang lagi yang masih tersisa. Suara anak laki-laki itu sangat merdu sekali dan lembut pada saat dia bernynyi. Anak lelaki itu bernama Sahrul,dia adalah pengemis jalanan yang baru tinggal disini. Setelah itu Malik langsung kaget dan ketakutan ketika melihat anak itu di bius dengan menggunakan sapu tangan yang berisi obat bius. Anak itu lalu dibaringkan di tikar. Tiba-tiba Malik langsung muntah karena melihat anak itu matanya disiram air panas yang mendidih supaya matanya buta tidak melihat. Setelah itu badan Malik langsung diam terpaku dan tidak bergerak melihat nasib seorang temannya yang malang dan tidak berdosa. Perilaku para preman-preman yang kejam itu untuk membuat orang-orang merasa kasihan melihatnya. Shaleh,Malik dan Julia untuk secepatnya melarikan diri dari tempat kejam ini sekarang juga. Lalu perlahan-lahan mereka bertiga terus mencoba untuk melarikan diri dari tempat ini. Tiba-tiba mereka ketahuan oleh preman itu karena mau melarikan diri. Mereka bertiga berlari dengan sekuat tenaga untuk menuju kereta sayur yang sdan melaju dengan cepat agar bisa melompat ke kereta tersebut. Setelah mereka berlari dengan kencang tiba-tiba Julia sahabat mereka jatuh terpleset ranting pohon dan tertangkap oleh para preman itu. Malik dan Shaleh sudah berhasil melompat ke kereta tersebut,tetapi sahabat mereka Julia tertangkap dan terpisah dengan mereka berdua. Dan akhirnya Julia terpisah dengan Malik dan Shaleh selama sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun kemudian Shaleh sudah mempunyai pekerjaan. Tetapi Malik telah menjadi orang jahat karena dia sudah bosan dengan kemiskinan yang dia alami sepanjang hidupnya. Malik sudah berumur 20 tahun dan Shaleh adiknya sudah berumur 18 tahun. Mereka berdua sempat terpisah karena Shaleh tidak mau ikut kakaknya yang sudah menjadi pembunuh bayaran dan pemabuk. Adiknya berkerja sebagai tukang penjual Koran dan majalah. Setelah beberapa tahun kemudian Shaleh merindukan kehadiran kakaknya Malik,walaupun kakakku sekarang sudah menjadi orang yang jahat tetapi kakakku tetap kakakku Malik,kata Shaleh sambil merenung dan bebicara sendiri. Setelah beberapa menit kemudian tiba-tia Shaleh dikagetkan oleh orang yang ingin membeli korannya. Shaleh langsung kaget dan merasa malu pada bapak yang ingin membeli Koran dagangannya. Besoknya Shaleh memutuskan untuk tidak berdagang Koran lagi karena ia ingin mencari kakaknya dan ia juga ingin mencari Julia sahabatnya. Suatu hari ketika Shaleh sedang berjalan mencari kakaknya,tiba-tiba Shaleh bertemu dengan seorang pengemis yang matanya buta. Pada saat itu Shaleh teringat masa lalunya ketika ia tinggal di sebuah rumah yang berisi pengemis jalanan dan preman-preman yang kejam. Ia teringat pada saat mereka sedang diuji kemampuannya dalam bernyanyi oleh preman tersebut. Salah satu temannya yang bernama Sahrul matanya di siram air panas yang mendidih dan sampai matanya buta oleh preman-preman yang sangat kejam itu. Pengemis ini pun juga sama suarnya sangat merdu dan lembut ketika bernyanyi untuk meminta uang,kata Shaleh dalam hatinya. Lalu setelah Shaleh bengong melihati dan mendengarkan suara pengemis buta itu. Tiba-tiba pengemis itu langsung memegang badan Shaleh dan ia berkata,Shaleh…ini kau. Dengan gembiranya Shaleh lalu berkata,ya Sahrul ini aku teman lamamu waktu kita menjadi pengemis. Akhirnya kita dipertemukan kembali oleh tuhan, kata Sahrul. Lalu Shaleh berkata, bagaimana keadaanmu rul. Yah seperti apa yang sekarang kau lihat,aku masih menjadi orang buta yang hanya bisa mengemis meminta uang kepada orang-orand dengan bernyanyi. Kasihan sekali nasibmu rul,aku turut prihatin dengan keadaanmu sekarang,kata Shaleh sambil mengeluarkan air mata. Jangan menangis leh,aku tidakpapa sekarang,mungkin aku hanya kurang beruntung saja nasibnya tidak seperti kau yang beruntung bisa melarikan diri dari tempat itu,kata Sahrul dengan muka yang sedih. Setelah itu Shaleh bertanya kepadanya,bagaiman keadaanya Julia. Sahrul menjawab,seperti yang aku rasakan dia semakin cantik dan baik. Tetapi…dia sekarang sudah diperkerjakan oleh preman itu menjadi wanita bayaran,kata Sahrul sambil memasang muka yang cemberut. Sahrul langsung marah dan kesal ketika mendengar pembicaraan dari Sahrul. Lalu Shaleh bertanya kepadanya di mana alamat mereka dan Julia tinggal sekarang. Sahrul langsung memberitahukan kepada Shaleh tentang alamat mereka tinggal. Setelah itu Shaleh dengan cepatnya berjalan menuju rumah mereka tinggal. Dan akhirnya Shaleh telah sampai pada tempat itu. Setelah sampai disana tiba-tiba Shaleh bertemu dengan preman itu,dan langsung bertanya di mana kau sembunyikan Julia. Preman itu menjawab,hei…hei…hei jangan marah-marah seperti itu tidak sopan datang ke rumah orang dengan kasar seperi itu. Kau sudah besar Shaleh dan pasti kau juga masih ingat aku kan,kata preman itu sambil tertawa-tawa. Tiba-tiba Shaleh merasa sangat kaget sekali ketika Julia dan kakaknya Malik keluar dari kamar itu. Ternyata Julia sedang melayani kakaknya di kamar tersebut sebagai wanita bayaran. Malik berkata,Shaleh… bagaimana bisa kau ada disini. Itu bukan urusanmu Malik,kenapa kau tidak pernah sadar apa yang telah kau perbuat selama ini itu salah,perbuatanmu semua dilarang agama dan bagaimana dengan perasaan ibu di alam sana,pasti ibu akan sangat sedih sekali melihat kelakuanmu seperti sekarang ini kak, kata Shaleh sambil marah. Aku sadar dan ikhlaf Shaleh,memang apa yang aku perbuat selama ini salah dan dilarang oleh agama kita. Tetapi ini semua aku lakukan karena aku sudah sangat bosan dengan kehidupan kita yang miskin ini,kata Malik sambil menangis. Tetapi sekarang aku sangat senang sekali karena bisa bertemu dengan kamu lagi Shaleh,kau sekarang sudah besar de. Apakah kau masih mau memaafkan kakakmu yang hina ini de. Shaleh menjawab,aku pasti akan memaafkanmu kak karena sejahat-jahatnya dan sehina-hinanya,kaulah tetap kakaku yang menggatikan ibu sebagai orang tuaku,kata Shaleh sambil berpelukan dengan kakaknya Malik. Mulai sekarang kita akan selalu bersama-sama untuk selamanya dan aku janji padamu,aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi dalam situasi apapun, kata Malik sambil tersenyum. Terima kasih kak Malik,kata Shaleh. Tiba-tiba preman itu menghasut Malik agar jangan mendengarkan omongan Shaleh dan supaya menjadi orang jahat. Dengan marahnya Malik langsung memukul orang itu dan mengarahkan pistolnya ke preman itu. Lalu preman itu langsung mundur dengan perlahan-lahan langkah demi langkah dan berkata, santai sajalah Malik aku hanya bercanda. Terserah kau sajalah Malik, kalau kau tidak berkerja sebagai orang jahat dari mana kau akan mendapatkan penghasilan, karena keahlian kau hanya bisa seperti ini, kata preman itu sambil tersenyum. “Diam kau!”, Malik langsung berteriak dan menembak orang itu dengan pistolnya. Setelah itu preman-preman yang lainnya langsung berlari kabur dari tempat itu. Shaleh dan Julia jantungnya langsung berdebar dan sangat kaget mendengar suara peluru tembakan dari pistol Malik. “Ayo semuanya kita pergi dari sini dan kita akan memulai hidup baru seperti dulu lagi, oke brother”, kata Malik. Akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu dan kembali melihat dagangan korannya Shaleh. Tiba-tiba mereka bertiga kaget melihat dagangan korannya hilang dibawa oleh petugas polisi untuk ditertibkan. Tetapi Shaleh tidak putus asa dan tetap berkerja keras untuk mencari pekerjaan yang lain. Malik berkata, “semua ini pasti ada himahnya dan tuhan akan memberikan jalan yang terbaik bagi kita semua”, Julia berkata, “benar kata kakakmu Shaleh dari kejadian ini kita ambil saja hikmahnya dan aku yakin semua ini pasti akan ada jalan keluarnya”. “Mendingan sekarang kita semua tinggal saja di rumahku, aku sudah mempunyai rumah sendiri walaupun semua itu aku dapat dari hasil pekerjaan yang keji dan hina ini”, kata Malik. “Jangan berkata seperti itulah kak,aku tahu semua yang kau lakukan pasti ada alasan yang kuat”, kata Shaleh. “biar waktu saja yang menjawab semua ini”, kata Julia. Tetapi akhirnya Julia pergi meninggalkan mereka berdua karena Julia harus kembali dengan suaminya yang jahat itu. Suaminya bernama Abdul. Shaleh dan Malik merasa kaget mendengar kalau ternyata Julia sudah mempunyai suami. “Maafkan aku sobat,aku terpaksa jujur pada kalian bahwa kenyataannya aku sudah mempunyai suami”, kata Julia. “Julia sebenarnya dari pertama aku bertemu dengan kau, aku sudah jatuh hati padamu”, kata Shaleh. “Sebenarnya aku juga sayang padamu dari pertama aku melihat wajahmu yang tampan dan baik hati”, kata Julia. “Biar waktu yang menjawab cinta kalian berdua ini”, kata Malik. Tiba-tiba suaminya dating dan menghampiri mereka bertiga dan berkata, Julia apakah kau mau melanjutkan hubunganmu dangan ku, kata Abdul. “Tidak Abdul aku sudah capek menjadi istrimu yang sering kau siksa dan kau manfaatkan untuk menjadi wanita bayaran untuk mencari uang”, kata Julia. “Owh jadi semua ini kau yang menyuruh Julia untuk menjadi wanita bayaran”, kata Shaleh. Dengan marahnya, Shaleh langsung memuku Abdul dengan tangannya yang sudah dikepal kuat. Dan setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan Abdul dan Julia sudah berencana ingin menikah dengan Shaleh. Dan pada hari itu juga Julia sudah menceraikan Abdul dan Abdul menerimanya karena dia sudah sadar, kalau hubungan mereka sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Pada suatu hari akhirnya mereka sudah menikah dengan restu dari Malik kakaknya Shaleh. Selanjutnya Shaleh mencoba mengikuti acara yang berhadiah sepuluh milliyard. Pada awalnya Shaleh tidak ingin mengikuti acara itu, tapi karena permintaan dari istri tercintanya akhirnya Shaleh menuruti permintaan istrinya. Shaleh sempat berkata, “apakah aku bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu, aku ini hanya orang miskin yang tinggal di perkampungan kumuh”. Lalu istrinya berkata, “jangan menyerah seperti itu suamiku, apakah kau tidak ingin cita-cita besar yang kau impikan itu terwujud?”. Shaleh menjawab, “aku mau dan aku yakin aku pasti bisa”. Setelah dua bulan kemudian Shaleh telah dipanggil oleh pihak acara untuk mengikuti acara ini. Pada hari itu Shaleh sudah bertanding untuk mendapatkan hadiah yang dia impikan. Suatu keajaiban yang sangat besar Shaleh bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hingga menuju titik akhir sepuluh milliyard. Namun pembawa acara itu meraa sangat curiga karena seorang miskin yang tinggal di perkampungan kumuh itu bisa mnjawab pertanyaan ini. Shaleh disangka berbuat curang. Setelah acara selesai Shaleh langsung diculik dan ditangkap polisi. Karena waktu sudah habis acara dilanjutkan besok. Di malam hari Shaleh dimintai keterangan oleh polisi tentang, dari mana kau bisa menjawab semua itu. Istrinya dan kakaknya pun stress mendengar bahwa Shaleh ditangkap oleh polisi karena difitnah melakukan kecurangan. Julia dan Malik tidak percaya dengan apa yang dibilang polisi. Dengan gemetarnya Shaleh langsung menjawabnya, “saya bisa menjawab pertanyaan itu karena semua pertanyaan itu berdasarkan pengalaman-pengalaman dan kejadian yang saya alami di masa kecil saya”. Lalu polisi bertanya, “apakah kau bisa menjelaskan pengalaman masa kecil yang kau alami”. Shaleh menjawab, “saya bisa dan Shaleh menceritakan bagaimana pengalaman masa kecilnya yang berhubungan dengan semua pertanyaan itu”. Dan setelah itu polisi percaya padanya bahwa Shaleh tidak melakukan kecurangan. Besoknya Shaleh kembali melanjutkan acara itu. Seluruh penomton disana sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Shaleh calon juara dunia. Setelah sampai disana Shaleh langsung disambut sangat meriah oleh penonton karena ini merupakan sebuah sejarah dunia. Dan akhirnya Shaleh bisa menjawab pertanyaan yang terakhir dengan hadiah sepuluh milliyard. Seluruh masyarakat dunia gembira dan kaget terutama Julia dan Malik. “Akhirnya cita-citamu terwujud adikku,dan sekarang aku mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya karena kamu sudah BE A MILLIONAIRE”, kata Malik sambil tersenyum bahagia.

Untuk yang Terindah by Krisna

Awan hitam menggantung di langit pada pertengahan bulan desember ini. Angin dingin menelusup ke seragam sekolah yang aku pakai. Aku berjalan menelusuri kelas – kelas yang hiruk pikuk dipenuhi oleh ocehan anak – anak SMA.
Beberapa anak tersenyum mengusik kebisuan hati tatkala aku melewati kelas mereka. “Hai, selamat pagi”,kataku pada mereka sambil terus melangkahkan kaki. Tujuanku ialah kelas paling sudut yang pada pintunya tertulis Kelas III A.
Sampai dikelas kuletakkan tas setengah melempar lalu melihat ke sekeliling. Teman – teman sudah banyak yang datang. Ya, seperti biasa ada yang ngerumpi, kejar – kejaran (mungkin gak sempat jogging kale!). Memang kelas kami sudah terkenal hiper aktif dan kelebihan energi apalagi kalau tidak ada guru di kelas.Pokoknya ribut deh.
“Hoi, ada orang gak” Syam berteriak ke telingaku. Aku bengong dan buat dia prihatin lihat tampangku yang sedikit kusut. Syam adalah kawan satu meja denganku. Orangnya memang suka bercanda tapi baik dan suka menolong orang lain.
“Oh,iya ada apa ?” kataku. “Loh, kok tanya lagi”, katanya setengah berbisik “jadi gak nembak Dyta”.
Aku diam. Teringat saat pertama kali ketemu dara manis yang namanya Dyta. Cewek yang ketemu waktu daftar ulang masuk SMA tiga tahun yang lalu. Wajah melankolisnya punya tempat tersendiri dalam hatiku.
Pada saat itu kami berkenalan dan berlanjut menjadi teman baik sampai saat ini. Kami sering jalan berdua dan bercerita tentang pengalaman kami masing – masing. Tak kusadari kalau aku ternyata suka sama dia. Tapi aku hanya bisa menyimpannya dalam hati saja.
Dan memang aku berencana nembak dia untuk jadi pacarku. “Hah, mulai lagi nih, bengong melulu !”,kata Syam sembari mendorongku.
“Indra, kamu itu harus cepat – cepat nembak dia. Kalau tidak nanti disambar orang, tahu rasa !” komentarnya.
“Iya, tapi bagaimana caranya ?”, tanyaku. “Sudah tenang saja”,katanya “Aku dengar dari temannya Dyta suka ditembak melalui
surat”.
Ehem, jadi begitu, pikirku. “Bagus juga kalau gitu. Tapi Aku gak tahu nulis
surat cinta. Eh, Kau bisa bantu aku
kan”, kataku sambil sedikit memaksa.
“Iya, tapi pulang sekolah nanti”, katanya “ itupun, kalau ada Jus alpukat yang gratisan, hehehe”. Syam mencubitku.
Keberuntungan berpihak bagi kami. Mata pelajaran kimia yang terakhir tidak masuk karena ada rapat guru. Jadi, cepat pulang, hehehe.
Awalnya, sulit menulis kata – kata dalam
surat cinta. Apalagi lihat Syam mondar – mandir sambil mendikte kayak guru TK saja. Syam layaknya pujangga kondang lagi puisi nich. Sudah habis 10 lembar kertas terkoyak karena salah isi suratnya. “Gak romantis banget!”, kata Syam. Usaha dan kerja keras kami berdua pun selesai.
Nah,
surat cintaku sudah selesai diatas kertas terbaik yang kumiliki (dimodif sedikit oleh Syam) dan kutaruh dalam amplop spesial. Kami sepakat letakkan
surat itu di laci meja Dyta yang kelasnya tidak begitu jauh kelasku.Dan kami pun pulang setelah menutup pintu kelas itu.
Hatiku jadi lega. Cuma sedikit takut kalau
surat itu jatuh ke tangan orang lain. Rasanya waktu lama sekali berlalu.
Hari kamis yang kunantikan datang juga.Aku cepat pergi ke sekolah. Aku lihat
di kelas Dyta sudah ada siswa yang datang. Selang waktu 10 menit sebelum apel pagi kulihat kelasnya ribut karena ada siswa yang melihat
surat itu lalu memberikannya pada Dyta. Semua temannya ingin baca
surat itu. Aku dan Syam jadi lega melihat dia memasukkan
surat itu ke kantung.
Jam istirahat aku dengar dari teman kalau Dyta panggil Riko tentang isi
surat itu. Dia pikir
surat itu dari Riko.
“Busyeeet,pantas saja ! soalnya kita kan lupa buat namamu,ndra”, kata Syam sambil mengingat isi
surat itu. Aku bingung dan dadaku galau ingin rasanya berteriak keras bahwa akulah yang nulis
surat itu.
Riko, cowok yang aku tahu suka sama Dyta dan sering pasang aksi kalau lagi ada Dyta. Riko mengaku kalau dialah yang menulis
surat itu.Seminggu kemudian aku dengar mereka sudah jadian. “Biar aku saja yang beri tahu Dyta kalau kamulah yang nulis
surat itu,Ndra”,kata Syam.
“Jangan biar saja nanti gak enak sama orang – orang”,pintaku “Tenang saja aku gak apa apa kok”.Aku pernah ditelpon Dyta. Dia mengajak ketemuan tapi aku menolak karena lagi asyik mengerjakan tugas. “Ndra, kamu tahu
kan aku baru jadian sama Riko”,katanya lewat telpon “aku senang sekali. Dia nembak aku pakai

surat, romantis banget!”. Jiwaku bergelora ingin berteriak tapi aku menahannya. Kujauhkan gagang telpon saat dia berbicara mencoba untuk menutup diri dari kenyataan ini. Setelah hari itu, Dyta jadi berubah.
Kami tidak pernah lagi jalan bareng seperti dulu. Dan aku menghabiskan waktu dengan tugas – tugas sekolah yang menumpuk. Di sekolah aku selalu ingin menyendiri dan memang aku telah jauh terhanyut olehnya. Waktu ternyata cepat berlalu.
13 Mei 2007. Sekolah kami buat acara perpisahan untuk anak – anak kelas III yang sebentar lagi akan ujian nasional.Aku sama sekali tidak tertarik untuk melihat acara perpisahan itu.Tapi karena Syam mengajakku, jadilah aku ada sana.Aku melihat Dyta memakai baju warna hitam dengan celana jeans panjang.
Aku tahu dia dan teman – temannya jadi pengisi acara perpisahan.Syam yang juga melihatnya menyeretku ke tempat Dyta berkumpul dengan teman – temannya. “Hai, Indra, apa kabar?”, tanya Dyta “sudah lama kita gak ketemu ,ya”.
“Oh, aku baik – baik saja”, kataku. “Sebenarnya aku ingin bicara sesuatu sama kamu tapi tunggu setelah kami tampil, bisa
kan ?” kata Dyta. “ Bisa, aku tunggu di depan aula, ya”, jawabku.“Eits, ada apa nih ?”, celoteh Syam sambil menyikut perutku.
Setelah menungggu beberapa menit di depan aula sekolah. Dyta mengajakku ke kantin sekolah. Cuma ada beberapa anak yang berada di kantin itu. Mungkin yang lainnya lagi asyik lihat acara perpisahan. Kami duduk di meja yang berdekatan dengan dinding kantin itu.
“Bagaimana penampilan tari kami tadi”, Dyta memulai pembicaraan. “Bagus, bisa untuk nampil di istana negara” kataku sambil tertawa. Suasana akrab cepat sekali muncul saat itu. “Kemarin aku dan Riko baru saja putus” kata Dyta. Keadaan jadi hening sesaat.
“Riko ternyata sudah punya pacar sebelumnya.Dan
surat cinta itu bukan dia yang buat”,lanjutnya. Wajahku jadi pucat pasi, aku tahu itu walaupun tanpa bercermin. “Dan sebenarnya aku suka kamu, Indra” katanya lagi “meskipun
surat itu dia yang buat atau tidak”. Aku hanya diam mendengarnya.
“Tapi Aku tahu kok kalau kamu hanya menganggap Aku sebagai teman saja”, kata Dyta. Aku jadi terharu. “Dyta, apa kamu tidak tahu siapa yang nulis
surat itu ?”, tanyaku.
“Eem, tidak !”,katanya “kamu tahu ?”.
“Iya, aku sebenarnya yang nulis
surat itu”, jawabku. Kulihat air mata mulai membendung di kelopak matanya. “Kenapa tidak kamu bilang waktu itu ?”,katanya sambil mencoba menahan tangisnya. Aku jadi repot untuk menenangkannya.
Siswa yang juga berada di kantin melihat kejadian itu. “Dyta aku minta maaf soal itu”,kataku pelan “aku gak ingin merusak kebahagiaan kamu waktu itu”.
“Jadi, aku sudah tahu sekarang”, kata Dyta “apa kamu tidak cinta lagi padaku ?”. Aku diam. “Jawab, Ndra”, pintanya.
“Tidak”, kataku “sekarang aku ingin mewujudkan cita – cita dan impian orang tuaku”.
“Aku punya tanggung jawab yang besar sekarang ini”, lanjutku “maafkan Aku”. Kami saling pandang, kurasakan ada getaran aneh yang mengharuskan aku memeluknya. “Aku harus pergi setelah lulus UN ini”,kataku sambil mendekapnya.
Hari itu, aku merasa senang bercampur sedih. Senang, karena Dyta sudah tahu bahwa aku mencintainya dengan setulus hatiku. Sedih, karena harus meninggalkannya dan semua kenangan indah selama ini.
Memang sulit untuk melupakan semua kenangan indah itu. Tetapi, satu hal yang kutahu pasti yaitu cinta kita tetap ada walau kita tidak saling memiliki.
Kusampaikan cinta ini lewat angin malam hanya untukmu dan namamu satu yang terindah dalam hati ini.
Sepintas aku berpikir bahwa mungkin dia memang untuk orang lain, dan aku mungkin dapat yang lebih baik dari dirinya itu. Dan aku berpikir bahwa kita jangan terlalu memikit\rkan yang sudah-sudah.
Dia adalah sahabat kusekarang dan tak lebih dari itu aku menganggapnya. Aku senang jikalau memang dia senang aku bahagia jika memang dia bahagia.

AKU MULAI MENGETAHUI HIDUP INI, BAHWA KITA HANYA MAHLUK CIPTAAN TUHAN APA YANG DIBERIKAN UNTUK KITA ADALAH YANG TERBAIK UNTUK HIDUP KITA.